PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Yang Bahagia Dan Yang Merana


__ADS_3

"Karena aku tau Becky berbohong, dia minta maaf dan ingin di beri kesempatan untuk terus bersamaku. Tapi ada yang harus aku pertanggung jawabkan bukan?" Justin tersenyum menatap Elis lembut. Tangannya meraih tangan Elis dan memegangnya erat. Elis masih belum percaya melihat Justin di hadapannya.


"Elis, walau aku belum ingat padamu tapi aku ingin bersamamu. Aku yakin hubungan kita istimewa. Bantu aku untuk ingat semuanya." Justin berkata tulus. Elis hanya bisa mengangguk karena haru di hatinya.


"Apa rencanamu?" tanya Lucca ingin tau.


"Awalnya aku bingung mengapa aku berhenti dari kantorku jika karirku bagus. Tapi kini semua terjawab. Aku akan pulang bersama Elis ke Dakota. Kita akan bicara pada keluarga kita masing-masing. Tampaknya kami harus menikah karena ada bayi yang sedang bertumbuh. Setelah itu Elis bisa menyelesaikan sekolahnya. Aku akan ikut bersamanya menetap di Italy hingga sekolahnya selesai Aku akan beristirahat dahulu sambil menata karirku di masa depan. Kau setuju?" tanya Justin pada Elis. Mendengar itu Elis langsung bangkit dan memeluk Justin.


"Calon istriku sudah tidak sabar rupanya." kata Justin menggoda Elis. Lucca tertawa. Dia lega masalah ini berakhir baik.


"Jadi kau dan Elis akan ke Dakota. Aku akan kembali ke Italy." Lucca bangkit berdiri, dia mempercayakan Elis pada Justin. Melihat itu Justin dan Elis juga berdiri.


"Sebentar aku akan mengambil koperku." Justin berjalan keluar cafe menghampiri sebuah mobil.


"Maaf membuat anda menunggu." kata Justin pada supir mobil itu.


"Tidak apa-apa tuan, selamat jalan." kata supir itu. Rupanya Justin sudah siap untuk pergi bersama Elis.


"Kita berpisah di sini. Kalian ke Dakota aku ke Italy." kata Lucca pada Justin.

__ADS_1


"Terima kasih Lucca, kau sudah menjaga Elis." Justin berkata tulus pada Lucca. Elis memeluk Lucca.


"Aku tunggu kau di Italy. Jangan menangis lagi." kata Lucca sambil mengusap pipi Elis.


"Terima kasih, kau sahabatku yang baik. Aku akan segera kembali." kata Elis penuh perasaan. Justin pun menggandeng Elis meninggalkan Lucca. Seraya pasangan itu menjauh Lucca membuka handphonenya. Dia menghubungi Diona. Tidak sabar untuk bercerita pada gadis itu. Lucca ikut senang dan bahagia akan apa yang terjadi pada Elis.


Seperti yang sudah di duga Aran, Mhina tidak mau menandatangani surat perceraian. Fatar sudah membujuknya. Dia sudah kehilangan muka atas perbuatan Mhina. Tapi melihat kondisi Mhina Fatar tidak tega memarahinya. Apa lagi Mhina tengah mengandung. Tiap kali Fatar membujuk Mhina, anaknya berteriak histeris. Mhina tidak mau kehilangan Aran. Fatar juga marah pada Luthan. Hampir di pukulnya sebelum dia ingat, Luthan ayah dari bayi yang di kandung Mhina. Fatar tidak tau kalau Luthan menyukai Mhina. Dia pikir Luthan memandang Mhina sebagai adiknya dan senang menghiburnya. Apa boleh buat, Fatar akan menikahkan Luthan dengan Mhina setelah Mhina bercerai nanti.


"Luthan, kamu bujuk Mhina untuk tanda tangan surat cerai itu. Jangan sampai terjadi hal-hal yang lebih memalukan." kata Fatar pada Luthan dengan marah. Luthan mengangguk. Dia pun menemui Mhina di kamarnya.


"Sayang, ayo tanda tangan surat ini setelah itu kita akan jalan-jalan ketempat yang kamu mau." bujuk Luthan lembut. Dia akan membawa Mhina ketempat yang bisa membuat Mhina lupa pada Aran.


"Mhina kita akan merawat bayi itu bersama sayang." Luthan menguatkan hati. Dia harus membuat Mhina bercerai dari Aran.


"Aku mau Aran, suruh dia datang ke sini. Aku baru akan tanda tangan." Mhina berbohong. Dia hanya ingin bertemu Aran dan membujuknya untuk memaafkannya.


"Baiklah, kalau itu maumu." Luthan menyerah, untuk saat ini. Luthan pun berusaha menemui Aran, untuk mengajaknya bertemu Mhina. Tapi Aran yang sudah benci pada Luthan tidak mau menemuinya. Luthan pun menyampaikan perkataan Mhina pada Aran lewat Rianto. Tapi Aran tidak perduli.


"Katakan pada Luthan, jika Mhina tidak mau tanda tangan aku akan sebarkan rekaman mereka. Atau bertemu saja di pengadilan." kata Aran marah pada Rianto. Pilihan yang sama buruknya. Luthan pun pergi meninggalkan Aran. Kalau Aran sampai melakukan keduanya Fatar akan semakin marah. Luthan tidak mau kehidupannya yang sudah enak di rampas darinya. Dia harus menikahi Mhina. Luthan tidak tau lagi apa yang harus di lakukan. Menurutnya dia yang menang sudah merebut Mhina tapi mengapa dia merasa Aran yang menang karena bisa menekannya. Karena tidak bisa membujuk Mhina, maka Luthan nekat memalsukan tanda tangan Mhina. Maka Aran dan Mhina resmi bercerai. Mhina murka mengetahui hal itu. Dia merasa tidak menandatangani surat cerai, tapi dia bercerai juga dengan Aran. Mhina semakin sedih, kehilangan Aran merupakan pukulan besar baginya. Luthan terus menghiburnya. Dia yakin tidak lama lagi Mhina akan menjadi miliknya sepenuhnya.

__ADS_1


Lucca pulang seorang diri ke Italy. Dia menemui Diona di sekolah. Hari itu Diona minta Paul untuk tidak menjemputnya. Diona ingin menghabiskan waktu dengan Lucca. Dia tidak sabar ingin dengar tentang Elis. Mereka duduk di cafe tanpa peduli orang sekitar.


"Mereka kembali ke Dakota bersama." kata Lucca pada Diona.


"Kasihan, kamu di tinggalkan." kata Diona menggoda Lucca.


"Mereka terlalu bahagia." balas Lucca kesal tapi juga senang.


"Memang apa rencana mereka?" Diona belum mendengar kabar dari Elis.


"Walau ingatan Justin belum kembali, tapi dia tau kalau dia harus bertanggung jawab pada Elis. Mereka kembali ke Dakota dulu untuk bicara dengan orangtua mereka. Mungkin Justin akan melamar Elis dan menikah." jelas Lucca, itu yang dia dengar dari Justin.


"Benar ya Elis itu terlalu bahagia, sampai lupa padaku." Diona mengomel.


"Sabar, dia juga mungkin baru tiba di Dakota. Terus terang kami terkejut Justin pada akhirnya datang. Tadinya kami sudah sepakat, aku akan menikahi Elis agar bayinya punya ayah." Lucca menceritakan solusi mereka.


"Wah lucu juga kalau kalian menikah." Diona tertawa. Bukannya terharu melihat kerelaan Lucca, walau Diona akui Lucca berani. Lucca berani memikul tanggung jawab yang bukan miliknya demi sahabatnya.


"Makanya ini pelajaran bagimu, jangan macam-macam. Walau aku bersedia melakukan hal yang sama untukmu tapi lebih baik kalau kita buat berdua saja." Lucca menggoda Diona. Tapi kalau gadis itu mau Lucca akan senang.

__ADS_1


__ADS_2