PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Rencana Paul


__ADS_3

Lucca menjawab santai. Diona memukuli Lucca sambil tersenyum kesal. Dia tau yang di maksud Lucca adalah dirinya. Mereka tiba di kelas dan berhenti bercanda. Paul kembali ke apartemen, Bayu sudah bangun dan sudah rapih. Dia menikmati sarapan yang Paul tinggalkan.


"Setelah kau sarapan kita akan ke rumah ayahku." kata Paul dengan raut wajah bingung.


"Kau ini seperti ingin mengenalkan pacarmu saja." goda Bayu.


"Ish, aku tidak suka dengan yang sejenis. Pantas sampai hari ini kau tidak punya pacar. Aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan." kata Paul kesal.


"Pikirkan bersama ayahmu. Dia yang tau bagaimana ibumu." Bayu menyudahi sarapannya. Dia tidak mau Paul bertambah gelisah.


"Benar juga. Ayo kita berangkat." ajak Paul. Dia meraih lagi kunci mobilnya. Bayu mengambil mantelnya, lalu mengiringi langkah Paul menuju keluar. Mereka tidak bicara lagi karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Paul dengan ibunya sedang Bayu teringat kabar yang dia terima, kalau Aran telah bercerai. Bayu putuskan untuk bertemu Aran setelah dia kembali dari Italy. Miguel tengah membaca buku, walau hatinya tidak tenang menunggu kabar tentang Del.


"Ayah, ada Bayu datang." sapa Paul pada Miguel.


"Bayu, lama tidak melihatmu." Miguel tersenyum melihat Bayu. Dia tidak tau jika Bayu mondar-mandir Indonesia Italy karena mengurus Diona. Bayu menghampiri Miguel dan memeluknya.


"Paman, apa kabarmu?" walau Bayu tau keadaan Miguel tapi dia tetap bertanya.


"Begini saja." jawab Miguel menutupi masalah. Tapi Bayu melihat Miguel tampak pucat dan lebih kurus.


"Ayah, Bayu tau di mana ibu berada." kata Paul tidak sabar.


"Apa, benar begitu?" Miguel jadi punya harapan, tampak jelas dari sinar matanya.


"Benar paman." Bayu menepuk tangan Miguel menenangkan pria itu.


"Syukurlah, di mana dia?" Miguel penasaran.


"Di Bali." jawab Paul singkat.

__ADS_1


"Tempat kelahirannya." kata Miguel, paham mengapa Del ada di sana.


"Kau bertemu dengannya?" tanya Miguel, pertanyaan yang sama dengan yang Paul ajukan.


"Tidak. Tapi bisa di pastikan Tante Del ada di sana." kata Bayu yakin.


"Jika ayah pergi ke sana, apa ibu mau bertemu ayah?" tanya Paul ingin tau pendapat ayahnya.


"Dia keras kepala." Miguel tidak yakin Del mau menemuinya.


"Nah aku punya rencana untuk menguji apa ibu masih cinta pada ayah. Aku yang akan pergi bersama Bayu ke Bali." Paul mengutarakan rencananya.


"Lalu?" Miguel tambah penasaran.


"Maaf ya ayah, bukan aku ingin terjadi yang buruk pada ayah. Walau aku tidak tau bagaimana hasilnya aku akan bilang pada ibu kalau ayah sakit keras dan tidak bisa bangun." kata Paul ragu, takut ayahnya marah. Tapi beberapa waktu yang lalu memang itu yang terjadi. Hanya Miguel sudah lebih baik sekarang.


"Jika ibumu tidak peduli bagaimana?" tanya Miguel sedih.


"Kita coba saja. Nanti kita pikirkan lagi jika tidak berhasil. Tapi apa Tante sekeras itu?" usul Bayu. Miguel tau Del hatinya lembut, dia hanya sangat kecewa padanya.


"Kalau ayah setuju aku akan berangkat." kata Paul menegaskan.


"Baiklah kita coba. Kalau Del tidak mau pulang aku yang akan ke sana dan tinggal di sana sampai dia mau pulang. Aku akan terus menampakan diriku di depannya sampai dia berubah pikiran." kata Miguel yang gemas pada istrinya. Bayu tersenyum, senang melihat orangtua yang masih saling cinta. Semoga bisa berkumpul kembali. Karena ayahnya setuju dengan rencananya Paul tinggal mengatur keberangkatannya. Mereka pun pamit pada Miguel. Paul harus ke restauran dan bekerja. Bayu akan menjemput Diona. Dia akan menghabiskan waktunya bersama gadis itu sebelum nanti pergi dengan Paul.


"Kami akan ke Bali Di. Kau mau ikut?" tanya Bayu ketika bertemu Diona. Mereka duduk di taman sambil makan es krim.


"Ke Bali, untuk apa?" Diona heran.


"Paul akan bertemu ibunya." jelas Bayu.

__ADS_1


"Oh begitu. Sayang aku tidak bisa ikut, karena ada ujian. Tapi bulan depan kan om Danu datang. Biar bulan depan saja aku jalan-jalan." Diona paham, sekolahnya lebih penting.


"Baiklah kalau begitu." Bayu menatap Diona. Tapi yang ada di pikiran Bayu ketika menatap Diona adalah Aran. Bayu sangat ingin tau perasaan Aran sekarang pada Diona. Apa lagi dengan berpisahnya Aran dan Mhina. Bayu ingin segera tau secara detil, apa yang sebenarnya terjadi.


"Di, jujur apa kau masih teringat Aran?" tanya Bayu hati-hati. Diona menatap Bayu sejenak. Mencari kata-kata yang tepat.


"Lama bersama tidak mudah untuk lupa. Apa lagi ada perasaan cinta. Aku tidak bisa melupakannya, belum mungkin." maksud Diona melupakan cintanya.


"Apa kau yakin Aran baik-baik saja di sana?" pancing Bayu.


"Untuk apa memilih sesuatu yang membuat kita jadi merasa buruk." Diona berpikir Aran pasti memilih yang terbaik untuk dirinya.


"Benar, itu bodoh namanya." Aran sudah merasakan akibat dari kebodohannya, pikir Bayu. Hari itu Bayu jadi ingin mempertemukan Aran dengan Diona. Kalau itu cinta sejati pasti tidak mudah untuk di lupakan bukan. Diona sudah mencintai Aran empat tahun. Hari ini hampir lima tahun. Perasaan itu masih ada. Beberapa pria yang singgah dalam hidupnya tidak bisa menggoyahkan hatinya. Paul sendiri yang begitu perhatian dan menjaganya tidak dapat mengubah hati Diona.


Sementara di Jakarta terjadi pertemuan dua keluarga. Rustam dan Dewanti bertemu Danu dan Wilma yang datang ke Jakarta. Mereka saling mengenalkan diri.


"Kami ikut sedih dengan apa yang terjadi pada Aran." kata Wilma tulus.


"Terima kasih, tapi saya lebih suka seperti ini. Maksudnya bukan Aran yang melakukan kesalahan tapi pihak wanita yang membuat jadi begini." Dewanti tidak mau menyebut nama Mhina.


"Istri saya tidak pernah suka pada mantan istri Aran." jelas Rustam agar Danu dan Wilma maklum.


"Tapi saya juga merasa dia aneh mbak, kalau mendengar cerita Di dulu berteman dengannya." Wilma mendukung Dewanti.


"Perasaan wanita kadang lebih tajam ya." komentar Danu.


"Betul. Saya saja yang buta selama ini." kata Rustam menyesal.


"Niat baik kita kadang tidak di hargai orang mas. Sabar saja." Danu menghibur Rustam. Dia tau maksud Rustam baik pada Aran dan Mhina.

__ADS_1


"Sekarang ini yang saya inginkan hanya kebahagiaan putra saya." kata Dewanti.


"Itu yang kami lakukan pada Diona. Kami menjaga Diona karena tidak ingin Diona salah memilih. Tapi sepertinya Diona tau batasannya " kata Danu menjelaskan alasan mereka menyembunyikan Diona selama ini. Mereka tidak ingin Diona merusak hubungan Aran dan Mhina.


__ADS_2