
Diona berusaha ramah. Walau .dia belum tau bagaimana sikap dan sifat Elis. Diona merasa trauma dengan persahabatan yang dulu. Lucca melihat Elis sepertinya tulus maka dia diam saja.
"Aku dengar di hari pertama kau dari Indonesia ya. Aku pernah mendengar tentang negaramu, indah. Aku dari Dakota. USA." Elis berkata ramah.
"Utara atau Selatan?" tanya Lucca.
"Selatan." Elis mendominasi percakapan, tapi caranya menyenangkan. Membuat Diona dan Lucca merasa nyaman dengannya. Tiba-tiba Claire masuk. Tapi dia mendapat tempat bersama pria-pria yang menyapanya. Sepertinya dia mencari seseorang tapi teralihkan karena para pria itu mengajaknya bicara.
"Itu kan Claire, kemarin dia meminta bangkuku ya. Dia suka padamu Lucca. Sepertinya sejak pertama kita masuk." kata Elis terus terang.
"Gadis kacangan." jawab Lucca singkat.
"Luc." Diona menegur. Mereka belum tau tentang Elis.
"Maksudmu kelas kacang?" Elis tertawa.
"Tapi memang dia sering membicarakan tentangmu bersama teman-temannya. Tapi anehnya dia suka menerima ajakan pria-pria di sana untuk di antar pulang atau mencari keperluannya. Tapi mungkin saja bisa lebih dari itu." Elis menilai Claire.
"Kita belum tau faktanya." tegur Diona. Apa betul Claire senakal itu.
"Tapi kalau dari gayanya sih kurasa Elis benar." kata Lucca membela Elis.
"Elis, kau tinggal di mana?" tanya Diona mengalihkan percakapan.
"Aku tinggal bersama paman dan bibiku. Dekat dari sini. Lain waktu kalian main ya." Elis tulus menawarkan.
"Berarti hanya aku yang tinggalnya jauh ya." kata Lucca.
__ADS_1
"Kau kan punya kendaraan, jauh juga tidak apa." Diona merasa Lucca yang paling mudah hidupnya. Punya pekerjaan, apartemen pribadi, mobil. Mobilnya juga bagus. Diona mengira gaji Lucca pasti besar karena penampilannya keren. Pantas saja Claire tertarik padanya.
"Diona, bukannya kau yang paling beruntung. Punya supir pribadi." Lucca meledek Diona.
"Wah kau gadis kaya ya?" Elis terkejut mendengar keterangan palsu itu. Diona marah pada Lucca. Pria itu hanya tersenyum. Mereka kembali ke kelas. Kali ini mereka duduk bertiga di bagian belakang. Claire menatap mereka tidak suka. Tapi mereka mengabaikan gadis itu. Pelajaran hari ini menarik, mereka belajar tentang warna. Miss Peni meminta mereka untuk membuat variasi warna yang harus mereka buat dan menampilkan keindahan. Tugas itu bisa mereka buat setelah kelas berakhir dan di tampilkan esok hari. Jadi setelah kelas berakhir mereka tidak langsung pulang. Diona, Lucca dan Elis memutuskan untuk membuatnya saat itu juga. Lucca hanya membuat perpaduan beberapa warna, tapi menarik. Dia memperhatikan Diona. Gadis itu memadukan warna yang tidak biasa. Tapi cara memadukannya membuat itu menjadi indah. Diona memang berbakat. Elis memadukan warna-warna faforitnya, dia memadukannya menjadi bola-bola warna yang tersambung. Hasilnya menjadi seperti bunga-bunga yang bertebaran di kanvasnya. Mereka pun menyimpan karya mereka dan memutuskan untuk pulang. Di tempat parkir Paul sudah menunggu.
"Oh jadi itu supir pribadimu." kata Elis lantang. Diona segera membekap mulut Elis. Dia tidak mau Paul mendengar itu.
"Aku duluan ya." Diona cepat-cepat menghampiri Paul untuk segera pulang.
"Itu temannya, aku hanya bercanda." kata Lucca pada Elis. Gadis itu terkejut dan membekap mulutnya sendiri.
"Apa dia mendengarnya?" tanya Elis khawatir.
"Mungkin." Lucca menjawab jail.
"Ayo aku antar pulang." ajak Lucca pada Elis, puas hatinya sudah mengerjai dua teman gadisnya.
"Aku baru saja datang." kata Paul, dia justru khawatir Diona lama menunggunya.
"Didi kita berbelanja dulu sebelum pulang." kata Paul kemudian.
"Ok, bahan di rumah sudah habis." Diona senang mereka jalan-jalan dulu. Paul membawa Diona ke Sain't Ambrogio Market. Paul membeli apa yang dia butuhkan. Diona mengikutinya saja sambil melihat-lihat. Setelah itu mereka pulang.
"Tom, bantu aku bawa belanjaan ya " kata Paul pada Tom penjaga keamanan di sana.
"Beres bos." Tom segera membantu. Paul baik hati sering membawakan makanan yang lebih di restauran ya untuk Tom dan teman-temannya. Bahkan kadang Tom membawanya pulang.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu nona Diona? Kau betah bukan di sini?" tanya Tom mengambil hati Diona.
"Betah Tom, sekarang aku tidak takut lagi." jawab Diona riang. Tom ramah dan ringan tangan.
"Hei jangan merayu Didi." seru Paul pada Tom.
"Bos saya kan sudah punya istri di rumah. Untuk apa merayu nona Diona?" Tom protes. Justru Paul yang di pertanyakan oleh Tom dan teman-temannya. Tidak pernah terlihat punya pacar. Tiba di apartemen Paul merogoh dompetnya.
"Ini untuk anakmu jajan." kata Paul pada Tom sambil menyodorkan uang.
"Wah terima kasih bos, anakku butuh sepatu baru." Tom dengan senang kembali ke posnya. Tom senang kalau Bayu atau Paul menyuruhnya. Dia punya rejeki lebih. Besoknya di sekolah Diona menatap karyanya dengan aneh. Rasanya ini bukan miliknya. Tapi memang warna ini yang di pilihnya dan cara memadukannya hanya dia yang lakukan itu.
"Kenapa Di?" tanya Elis yang sudah mulai akrab.
"Kau lihat deh, seperti bukan punyaku." kata Diona sangsi.
"Menurutku yang kemarin lebih indah. Tapi itu kan warnamu." kata Elis, dia juga heran mengapa karya Diona tidak seindah kemarin. Akhirnya Diona terdiam karena kelas di mulai. Miss Peni bertanya, siapa yang akan menampilkan karyanya lebih dulu. Claire langsung mengusulkan nama Diona. Miss Peni setuju. Diona terkejut. Claire tersenyum sinis padanya. Dengan berat hati Diona maju dan membawa karyanya. Miss Peni memperhatikan dan memperlihatkan pada yang lain.
"Diona memadukan warna yang tidak umum. Cara memadukannya sangat unik. Aku yakin Diona, kau bisa membuat yang lebih indah lagi dari ini." komentar Miss Peni. Diona pun duduk. Claire menatapnya dengan penuh kebencian. Dan itu tidak luput dari tatapan Lucca. Kelas hari ini membahas karya dari siswa-siswa lain. Dari sini Miss Peni sudah bisa menilai , mana siswanya yang berbakat. Setelah itu kelas bubar.
"Ikut aku." kata Lucca pada Diona. Gadis itu mengikuti Lucca di iringi Elis yang penasaran. Lucca membuka lokernya dan memperlihatkan sesuatu pada Diona.
"Ini punyamu." kata Lucca. Diona terkejut.
"Ya ini punyaku, tapi kenapa begini?" tampak karyanya yang kemarin tapi telah ternoda dengan coretan kuas hitam.
"Aku menemukannya tadi pagi sudah begitu. Lalu aku membuat tiruannya untukmu. Maaf Di, tanganku tidak sepintar tanganmu." Lucca berkata dengan penuh penyesalan. Untung dia memperhatikan Diona kemarin. Sehingga bisa membuat tiruannya. Tapi memang tidak seindah milik Diona.
__ADS_1
"Lalu siapa yang melakukan ini pada Diona?" tanya Elis penasaran. Menurutnya ini perbuatan jahat.
"Aku tidak tau." kata Lucca terus terang.