
Mereka tiba di Surabaya dan menuju rumah Danu setelah melakukan pemberitahuan lebih dulu. Danu dan Wilma menyambut kedatangan mereka.
"Wah ada apa nih sekeluarga mengunjungi kami?" Danu bertanya-tanya. Perasaannya mengatakan pasti ada sesuatu.
"Kami hanya mengantar Aran ke sini." ucap Rustam yang mengartikan putranya yang harus menjelaskan.
"Om, Tante saya baru kembali dari Italy. Saya dan Diona berwisata dan ini ada titipan dari Di untuk Tante." Aran menyerahkan gelang yang Diona titipkan pada Wilma.
"Apa ini? jadi kalian habis jalan-jalan." kata Wilma yang sempat melirik Danu. Perlahan Wilma membuka kotak dan tampaklah sebuah gelang cantik.
"Bagusnya." puji Wilma yang langsung memakainya.
"Saya juga dapat dek, Diona yang pilihkan." Dewanti tidak mau kalah, memamerkan gelangnya.
"Rupanya dari Italy, sekeluarga pergi ke sana mas?" tanya Danu pada Rustam.
"Hanya Aran, saya sibuk tidak ke mana-mana." jelas Rustam. Dia sendiri belum bertemu Diona.
"Niat hati bertemu Di untuk menyampaikan perasaan saya dan permintaan saya untuk masa depan kami. Tapi Di belum bersedia. Jadi saya ikat dengan pertunangan dan nantinya menuju pernikahan." kata Aran hati-hati.
"Bertunangan? Hebat betul anak itu tidak bilang apa-apa pada kami. Mau dia simpan sampai kapan?" Danu terkejut juga kesal pada Diona.
"Justru itu Aran datang kesini, untuk memberitahu dan meminta restu. Tidak mau melewatkan orangtua katanya." Dewanti ingin melancarkan upaya anaknya.
"Aran khawatir kehilangan Diona dan sudah tidak sabar. Maka itu dia mengikat Diona." Rustam menjelaskan tindakan Aran.
"Saya pastikan Diona tidak akan pergi lagi. Apalagi kamu sudah mengikatnya. Kami merestui Diona juga menerimanya bukan?" Danu bersikap bijak. Dia paham keduanya saling mencintai.
__ADS_1
"Jadi kamu melamar Di?" tanya Wilma pada Aran.
"Betul Tante, awalnya saya ingin kami menikah setelah Di selesai sekolah. Tapi Di belum mau. Dia ingin bertunangan dulu. Itu sebabnya saya mengikat Di." jelas Aran sambil berharap keinginannya di dukung.
"Tuh, jadi Di yang minta di ikat." kata Danu pada Wilma sambil menarik hidung istrinya. Danu tidak bisa melampiaskan rasa gemasnya pada Diona, Wilma yang jadi sasarannya.
"Jelas dong, pria seperti Aran itu tidak boleh di lewatkan." Wilma rasa keponakannya itu pintar juga. Tidak sadar pujiannya itu membuat Danu cemberut karena cemburu.
"Mereka saling menangkap dek, agar tidak terlewat lagi satu sama lain." gurau Dewanti. Aran tersipu, ramai di bicarakan.
"Tapi kami senang kalian datang hari ini. Semua jadi jelas kan. Saya setuju dengan keputusan Di untuk tidak cepat-cepat menikah. Tapi juga tidak melewatkan kesempatan untuk lebih saling mengenal. Bagi kami melepas Di untuk segera menikah rasanya belum siap. Sekian lama mendampingi Di berat juga jika Di segera menikah. Apalagi kami sudah di tinggal Di sekolah selama setahun. Sabar ya Aran." Danu mengungkapkan perasaannya.
"Saya mengerti om." jawab Aran, walau hatinya berkata lain. Tapi dia tidak mau memaksa.
"Apa tidak ingin di rayakan ?" tanya Danu lagi.
"Untuk pertunangan biarlah begini saja. Tapi untuk pernikahan akan saya serahkan pada Diona. Mau pesta sebesar apa saya tidak keberatan. Bagaimana ayah, bunda?" tanya Aran pada orangtuanya.
"Ada baiknya memang pernikahan di rencanakan sejak sekarang. Biar Di yang memutuskan, karena ini hari bahagianya." Danu pun setuju. Dia pun tidak menampik pesta besar jika Diona menginginkannya.
"Senang rasanya jika semua sudah tersampaikan. Jadi putra-putri kita sudah resmi memiliki ikatan. Hanya tinggal menunggu pernikahan saja. Biar Diona membereskan urusannya. Pikirannya jadi tidak bercabang." Rustam mengajak yang lain untuk bersabar, menjalani tanpa terburu-buru.
"Di pergi selama setahun, pulang membawa calon suami." Danu berkata pada Wilma sambil tersenyum.
"Calon suaminya yang pintar mencari keberadaannya." balas Wilma.
"Saya beruntung, Di masih jodoh saya." Aran merendah. Dia memang bersyukur bisa memiliki Diona di atas kepahitan yang dirasakannya. Rustam mengusap bahu Aran lembut. Merasa menyesal atas apa yang menimpa putranya. Aran balas menepuk tangan ayahnya, sebagai isyarat bahwa semua sudah lewat. Mereka pun menutup pertemuan itu dengan makan bersama. Mengakrabkan diri sambil sesekali Danu bertanya pada Aran tentang hidupnya nanti bersama Diona. Misalnya tempat tinggal, pekerjaan dan lainnya. Danu harus tau kehidupan Diona setelah menikah nanti.
__ADS_1
Sedangkan Diona masih asik melirik cincin di jari manisnya. Lucca sudah sebal melihatnya. Dia yakin cincin itu pemberian Aran.
"Di dari mana cincin itu, apa kau memungutnya di Venezia?" tanya Lucca kesal. Dia tau Diona ke Venezia.
"Memungutnya? cincin sebagus ini?" Diona tidak percaya dengan pertanyaan Lucca. Sangat terlihat kekesalan Lucca, tapi Diona tidak tau mengapa.
"Cincin?" tanya Elis baru tersadar. Dia lalu menatap jari Diona.
"Oh bagusnya. Lucca pasti tidak sehat bilang cincin seperti itu di buang. Itu pasti harganya mahal." kata-kata Elis semakin membuat Lucca jengkel.
"Ini dari Aran, kami sudah bertunangan." jelas Diona malu-malu. Terjawablah sudah rasa penasaran kedua temannya.
"Wow aku senang mendengarnya. Kapan kalian akan menikah?" Elis menyambut dengan positif.
"Kau yakin Di? Aku sih senang saja kalau kau bahagia." Lucca bertanya tulus.
"Ya aku yakin ini memang jalanku. Kami sudah terlalu lama terpisah. Aku tidak tau kapan aku siap menikah dengan Aran. Tapi kurasa ini awal yang tepat untuk kami." kata Diona jujur. Dia tidak mau kehilangan Aran lagi. Lucca paham Diona serius dengan pilihannya.
"Dia sudah menjagamu sedemikian rupa, pasti dia tidak mau kehilanganmu." Lucca berkesimpulan. Diona setuju, karena Aran awalnya ingin mereka menikah.
"Aku senang jika kau bahagia, kau patut mendapatkannya." Elis tulus pada Diona. Bersahabat selama ini dengan Diona, Elis mengerti Diona gadis baik.
"Nanti aku akan bilang pada Justin, kau memuji-muji cincin Di." kata Lucca mengganggu Elis.
"Jangan, nanti dia kira aku tidak suka pada cincin pemberiannya." Elis ketakutan. Lucca tertawa senang bisa membuat Elis takut.
"Lalu kau akan memakaikan cincin pada siapa?" pertanyaan Elis telak pada Lucca. Diona menatap Lucca, menunggu jawaban.
__ADS_1
"Untungnya aku tidak perlu menyematkan cincin pada kalian berdua." Lucca berkelit. Diona dan Elis yang kesal mendengarnya.
"Mengapa tidak pada dia?" tunjuk Elis terus terang pada seorang gadis yang kerap melirik Lucca. Langsung saja Lucca melorotkan matanya pada Elis. Jangan coba-coba deh, menjaga dua wanita aneh ini saja sudah repot. Lucca belum mau melabuhkan hatinya, jika boleh dia ingin tetap bersama Diona. Sejak pertama bertemu dia merasa nyaman dengan Diona.