
"Halo bunda, Aran mau minta tolong pada bunda. Boleh Aran pinjam Leana?" Aran berkata sopan. Betul, pikir Bayu. Leana , ternyata sepupunya pintar.
"Baik bunda, nanti Aran ceritakan pada bunda. Tapi sebaiknya Leana berangkat sekarang. Aran akan kirimkan tujuannya pada bunda." pembicaraan pun berakhir. Aran segera mengirimkan pesan pada Dewanti kemana Leana harus pergi.
"Leana akan datang dan menemani Di, Leana juga akan mendampingi dan menemani Di kemana pun Di pergi." Ini solusi yang Aran berikan.
"Ya, Leana memang dapat di andalkan." Bayu setuju.
"Pindahkan semua barang Di ke sini. Dia akan tinggal di sini bersama Leana. Hingga sekolahnya berakhir. Kau tunggulah sampai Leana datang Bayu, baru kau pulang. Aku akan pergi dulu, ada beberapa hal yang harus aku lakukan." Aran berkata sambil menatap Diona. Ingin rasanya dia memeluk Diona. Tapi dia takut tidak sanggup meninggalkan gadis itu. Aran beralih menatap Bayu.
"Aku pergi dulu kau jaga Di." Aran segera berbalik dan mengeluarkan kunci mobil dari saku jasnya. Bayu dan Diona menatap Aran hingga hilang di balik pintu. Tidak lama kemudian mereka mendengar suara mobil yang pergi.
"Bayu, bagaimana Aran bisa menemukanku?" tanya Diona yang sedang menikmati roti lapisnya.
"Astaga. Benar, bagaimana ya? Aku lupa bertanya padanya." Bayu merasa dia sangat bodoh.
"Apa mungkin dia mengikuti Luthan? Aku yakin Aran sekarang mengejar Luthan." kata Bayu lagi. Diona diam mencerna perkataan Bayu. Dia menghabiskan roti lapis buatan Aran. Rasanya sangat enak bagi Diona.
__ADS_1
"Kita harus memberi tau Paul Di, kalau kau pindah ke sini. Besok lebih baik kau tetap di rumah. Nanti jika Leana sudah datang baru bisa pergi ke sekolah." Bayu mengambil ponselnya dan menghubungi Paul. Dengan singkat Bayu menceritakan pada Paul tentang penyerangan yang Diona alami. Paul terkejut. Selama ini apartemennya aman. Paul juga menyesal meninggalkan Diona sendiri. Harusnya dia mengajak Diona ke Amalfi. Toh Diona libur. Paul mengatakan dia akan pulang besok. Bayu lalu minta Paul untuk membereskan barang-barang Diona dan membawanya ke alamat yang akan Bayu kirimkan. Paul berjanji akan melakukannya. Bayu pun memutus hubungan.
"Bayu, handphoneku tertinggal." kata Diona baru sadar.
"Nanti aku bilang pada Paul untuk membawanya ke sini. Di kau sudah baik-baik saja?" tanya Bayu lembut.
"Aku baik-baik saja. Tapi mungkin aku belum berani di tinggal sendiri." Diona khawatir di tinggalkan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Tadi Aran bilang akan mengirimkan barangku ke sini." Bayu melihat Diona sudah menghabiskan roti lapisnya. Bayu mengambil piringnya dan meletakkannya di dapur.
"Jadi kau dan Aran satu hotel." Diona teringat kata-kata Aran tadi.
"Di apa kau akan mengatakan hal ini pada om Danu?" Bayu yakin Danu dan Wilma akan segera datang jika tau apa yang terjadi pada Diona.
"Menurutmu bagaimana?" Diona ragu.
"Aku rasa biar Aran menyelesaikan ini dulu. Sebaiknya aku yang datang pada om Danu dan bicara padanya, agar om Danu tidak terlalu khawatir. Aku takut kau malah di minta pulang." Bayu mengutarakan pemikirannya.
__ADS_1
"Kau benar. Sebaiknya kau saja yang bicara pada om Danu. Sekolahku sebentar lagi selesai, sayang kalau aku harus pulang." Diona akan sangat kecewa kalau dia harus pulang sekarang.
"Di sebaiknya kau tidur di kamar, istirahatlah sebentar." Bayu mengantar Diona kembali ke kamar. Diona mau tidur tapi dia tidak mau pintu kamar di tutup. Maka pintu kamar di biarkan terbuka. Aran tidak pernah datang lagi. Yang datang kemudian adalah Leana menggunakan mobil Aran.
"Tuan Aran sudah kembali ke Indonesia." kata Leana menjawab pertanyaan Bayu dan Diona. Pasti Aran mengejar Luthan, pikir Bayu. Diona kecewa Aran telah kembali ke Indonesia tanpa pamit padanya.
"Pasti Aran sedang sibuk saat ini." kata Bayu ingin membuat Diona tidak sedih.
"Benar tuan Bayu, tuan Aran memang sedang sibuk sekali. Untuk selanjutnya saya yang akan menjaga nona Diona. Sampai nanti tuan Aran memberi perintah baru " jelas Leana.
"Panggil saja saya Diona." kata Diona merendah.
"Tidak bisa nona, tuan Aran akan menegur saya nanti. Saya membawa barang-barang Anda tuan Bayu. Juga beberapa bahan makanan untuk nona Diona." ternyata Leana telah di persiapkan oleh Aran dengan baik. Bayu bisa percaya pada Leana. Diona terhibur mengetahui Aran masih memperhatikannya. Sebenarnya Leana juga pengaturan dari Aran. Diona menepis rasa kecewanya. Dia kira Aran malas bertemu dengannya lagi.
"Jadi aku akan tinggal di sini sampai sekolahku selesai?" tanya Diona pada Bayu.
"Benar Di, penanggung jawab atas dirimu sekarang Aran. Bukan aku lagi. Kau tidak perlu cemas, temanmu Aran sekarang duda penyendiri bukan pria beristri." kata Bayu menggoda Diona. Bayu tau Diona tidak benci pada Aran. Diona menyingkir dari hidup Aran karena sahabatnya itu menikah. Bayu berkata demikian untuk memberitahu Diona, agar dapat terus mencintai Aran. Di tengah rasa susahnya Diona mendapat harapan. Bisa terus mencintai sosok yang di rindukannya. Tapi apa Aran mau mencintainya? Aran baru saja terluka, Diona sepertinya harus tetap diam dalam cintanya. Minat kegalauan di wajah Diona Bayu menghampirinya.
__ADS_1
"Di, Aran akan jadi milikmu. Bersabarlah sebentar lagi." Bayu menepuk bahu Diona penuh keyakinan. Diona hanya tersenyum. Leana menurunkan barang di mobil. Bayu memadukan barang-barangnya ke sebuah kamar. Sekarang tiga kamar di rumah itu telah terisi. Leana sangat cekatan. Di juga pandai memasak. Paul baru tiba di apartemennya. Paul melihat apartemen yang berantakan dengan sedih. Begitu ke dapur dia melihat makan siang yang Diona buat. Ponsel Diona juga ada di situ. Paul segera menyimpannya. Dia beranjak ke kamar Diona. Perlahan di bereskannya barang-barang Diona. Paul dulu mengira dia akan sedih ketika Diona lulus dan kembali ke Indonesia. Tapi ternyata hal itu lebih cepat terjadi. Diona pindah dari apartemennya. Walau dia masih bisa bertemu dengan Diona tapi itu tidak sama lagi. Bayu sudah mengatakan Diona sekarang dalam perlindungan Aran. Pria yang di cintai Diona. Paul belum pernah bertemu Aran.