
Wilma bertanya tentang Bayu.
"Bayu ada urusan mendesak, dia pergi dulu. Tapi dia akan datang lagi." Diona tidak mungkin berbohong.
"Jadi kamu sendiri di sana?Mengapa Bayu tidak bilang. Tapi kamu ga apa kan Di?" Danu sedikit kesal.
"Tidak apa, Di baik-baik saja. Bayu kan sibuk." Diona tidak mau Danu marah pada Bayu.
"Iya kita tidak bisa merepotkan Bayu terus. Lalu kamu makan bagaimana? kamu kan ga bisa masak?" Wilma bertanya.
"Bayu sudah belanja untuk Di, lalu meninggalkan nomer makanan siap antar. Lagi pula nanti pulang sekolah Di bisa beli makanan dulu." Diona tidak menyebut teman Seatapnya.
"Ok deh, nanti kalau bisa kita ke sana nengok kamu. Belajar yang benar ya, ini pilihan kamu loh. Jaga diri baik-baik." Danu berpesan pada Diona.
"Iya, terima kasih sudah telepon." Diona menutup telponnya. Paul menghampirinya.
"Itu om dan tantemu? Lalu papa dan mamamu belum telepon?" tanya Paul ingin tau.
"Aku hanya punya mereka, karena orang tuaku sudah meninggal dunia." jawab Diona jujur. Paul terkejut. Bayu memang tidak mengatakan secara rinci tentang Diona.
"Maaf ya Di aku tidak tau." Paul menyesal. Dia menatap Diona dengan segenap rasa simpatinya. Gadis itu tidak punya orang tua lagi tapi dia tegar.
__ADS_1
"Jadi selama ini kau tinggal dengan merek" Paul jadi penasaran tentang Diona.
"Awalnya iya, orangtuaku meninggal ketika aku SMP. Lalu aku tinggal dengan adik papaku dan istrinya Tante Wilma. Sampai SMA. Aku dapat beasiswa untuk kuliah di Jakarta, jadi aku tinggal sendiri di sana. Sesekali aku pulang ke Surabaya. Saat ini aku dapat beasiswa untuk belajar melukis selama satu tahun. Setelah itu aku harus pulang." jelas Diona. Dia tidak tau sebenarnya Danu yang membiayai sekolah melukisnya.
"Berarti kamu pintar ya Didi. Kamu kuliah apa di Jakarta?" Paul jadi semakin suka pada Diona.
"Bisnis, karena nanti aku harus membantu om Danu di Surabaya." Diona menjelaskan bahwa hidupnya sudah di haruskan oleh Danu.
"Benar kau tidak apa aku tinggal nanti malam?" tau gadis ini tidak punya orangtua Paul jadi perhatian. Sekarang Paul mengerti mengapa Bayu perhatian pada Diona. Dia saja tergerak untuk menjaga gadis itu.
"Tidak apa yang penting kau pulang nanti malam." Apa pun yang Diona mau Paul akan mengabulkannya. Malam ini Paul melakukan pekerjaannya dan ingat pesan Diona. Maka Paul pun pulang walau malam cukup larut dan Diona sudah tidur. Besok paginya Paul membangunkan Diona untuk sarapan dan bersiap untuk sekolah. Karena hari ini Diona mulai belajar. Diona jadi merasa punya seorang kakak. Walaupun jika malam Diona masih suka teringat Aran dan perasaan sedihnya, tapi siang hari Diona terlalu sibuk untuk memikirkan sakit hatinya.
"Tuan, tuan Bayu sudah kembali." kata Rianto orang kepercayaan Aran.
"Dari Singapure." jawab Rinto singkat. Aran berpikir sejenak. Singapure? Berarti benar yang di lihatnya waktu itu, Bayu dan Diona. Padahal mereka ada di satu tempat yang sama dengannya. Aran harus meninggalkan Mhina waktu itu ke Singapure untuk tanda tangan kontrak mewakili ayahnya. Pantas saja Diona tidak ada. Bayu membawanya ke Singapure.
"Dengan siapa Bayu kembali?" tanya Aran pada Rian.
"Sendiri tuan, bahkan Mike tidak bersamanya." Rianto tau pasti karena mereka mengawasi Mike.
"Coba kamu pastikan, apa Bayu pada tanggal yang sama dengan pertemuanku ada di sana." Aran penasaran. Tidak lama Rian memberi laporan.
__ADS_1
"Benar tuan, tuan Bayu menginap di sana selama tiga hari. Bahkan tuan Danu Wirya dan istrinya juga menginap di sana walau hanya satu hari. Setelah itu mereka keluar dari hotel entah kemana." Mendengar penuturan Rian, beribu pertanyaan di kepala Aran. Apakah benar Diona di Surabaya? Lalu bila Bayu kembali bisa saja Diona juga sudah kembali.
"Coba kamu periksa apa Danu Wirya di Surabaya." kata Aran pada Rian.
"Baik tuan." jawab Rian. Ternyata Danu Wirya dan istrinya ada di Surabaya. Aran akan ke Surabaya.
"Rian, atur keberangkatan ke Surabaya. Kita akan mengunjungi perusahaan di sana." kata Aran pada Rian.
"Baik tuan." jawab Rianto. Aran pun mempersiapkan keberangkatannya ke Surabaya. Mhina bingung mengetahui Aran akan pergi ke Surabaya.
"Aku ikut ya." kata Mhina pada suaminya.
"Tidak bisa, keadaanmu tidak memungkinkan untuk ikut ke Surabaya. Tinggal saja di sini. Aku akan cepat kembali." kata Aran pada istrinya. Jelas Aran tidak mau Mhina ikut dengannya. Dia memang kurang sehat. Tapi di tinggal Aran ke luar kota dia merasa berat. Aran semakin sibuk saja bekerja. Mhina pikir setelah mereka menikah, mereka akan semakin dekat. Tapi justru Mhina tidak merasa demikian. Seperti ada yang di pikirkan Aran, tapi entah apa. Mhina sedih, hubungannya dengan Aran tidak berubah. Mhina memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya selama Aran ke Surabaya. Dia tidak mau sendirian di rumah.
Bayu sendiri kesal dengan pekerjaannya yang tidak ada habisnya. Beberapa kendala di perusahaannya sudah dia atasi. Ayahnya memujinya dan bertanya mengapa Aran mencarinya. Bayu tidak berterus terang pada ayahnya. Dia ingin benar-benar menutup fakta tentang Diona. Bayu kesal pada Aran. Menurut Bayu Aran pria yang bodoh. Tidak bisa membedakan antara berlian dan kerikil. Tapi Bayu mulai merasa Aran kehilangan. Itu sebabnya pria itu berulah. Terus berusaha mencari tau keberadaan dirinya. Karena Aran mencari Diona. Bayu ingin tau sampai di mana upaya Aran. Setelah tau Paul bersama Diona, Bayu merasa lebih tenang. Dia bisa fokus pada pekerjaannya. Walau Bayu tetap mencari waktu yang tepat untuk menengok Diona lagi. Bayu mendengar keberangkatan Aran ke Surabaya. Perusahaan Aran di Surabaya memang jarang di kunjungi. Alasan tepat jika Aran mengunjunginya. Mengetahui Aran ke Surabaya, Bayu jadi lebih leluasa di Jakarta.
Diona baru selesai pelajaran pertama tapi mereka akan ke kelas seni setelah istirahat makan siang. Diona lapar. Tapi kantinnya tampak penuh. Tidak ada tempat. Diona masih menatap bingung.
"Ayo ikut aku. Kita ke cafe sebelah. Kau mau makan kan." Lucca tiba-tiba bicara padanya. Sudah beberapa hari dia dan Lucca saling melirik. Diona menatap Lucca sangsi. Ingat pesan Paul untuk tidak mudah percaya. Tapi dia lapar. Lucca memberi isyarat mengajaknya lagi. Diona pun mengikutinya. Mereka tiba di sebuah cafe yang terletak di sebelah sekolahnya. Tidak begitu ramai. Mereka dengan mudah mendapat tempat duduk.
"Kau mau makan apa?" tanya Lucca pada Diona.
__ADS_1
"Aku pasta saja." Lucca pergi memesan makanan pilihan mereka, lalu duduk di hadapan Diona.