PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Kejujuran Paul.


__ADS_3

Paul sudah mengira, yang berdiri di hadapannya Om Danunya Diona. Galak banget.


"Ini Paul om yang punya apartemen ini." kata Diona menjelaskan. Danu terkejut.


"Kalian berdua duduk. Ceritakan pada om apa yang terjadi." perintah Danu. Paul dan Diona pun duduk dalam diam. Wilma yang baru habis mandi keluar dan bingung melihat situasi yang ada. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia mau mempelajari situasi dulu. Diona pun menceritakan kronologisnya dia bisa tinggal bersama Paul. Juga alasan kalau dia sebenarnya takut di tinggal sendiri. Tapi juga tidak mau pulang dan melupakan mimpinya. Danu marah, jelas. Dia kira selama ini Diona tinggal sendiri. Ternyata tinggal dengan pria, ganteng lagi. Pria Italia pula. Tau kan maksudnya. Tapi Danu mencoba bersabar. Ingat Diona tengah patah hati.


"Kalau begitu Di pindah apartemen." kata Danu memutuskan.


"Tidak mau." kata Diona menolak. Dia rugi besar bila pindah apartemen. Dia akan kehilangan chef, supir pribadi dan teman curhat. Danu menatap Diona heran. Sekarang keponakannya sudah berani membantah. Yang lebih seram lagi, lebih memilih pria Italia itu di banding omnya. Kalah pamor dong.


"Mas coba tanya Bayu. Pasti Bayu tau tentang ini." kata Wilma menyarankan.


"Bayu tau, kemarin kita bertiga ke Milan." kata Diona membela diri. Danu setuju. Dia pun menghubungi Bayu.


"Kenapa om, ada yang bisa Bayu bantu?" tanya Bayu sopan. Paul tersenyum dalam hati. Bayu tidak tau mau di tembak mati.


"Kamu kenapa tidak cerita, Diona tinggal bersama Paul?" tanya Danu galak. Senapan mulai terarah, pikir Paul.


"Maaf om Bayu lupa cerita. Maklum sibuk banget." Bayu terkejut dengan pertanyaan Danu. Tepat seperti yang di pikirkan Paul. Serasa di todong senjata api.


"Katanya kamu sempat datang dan jalan-jalan sama mereka ke Milan?" Danu mulai menyentuh pelatuk senapan.


"Cuma sehari, Bayu ada pertemuan di Milan. Sekalian melihat keadaan Diona. Terus terang Bayu ke pikiran ninggalin Di sendiri. Tapi gimana, Bayu sibuk. Untung ada Paul yang bisa jagain Di. Kalau di suruh memilih Bayu mending ninggalin Di sama Paul dari pada Di tinggal sendiri." kata Bayu bicara tentang kenyataan.


"Tapi om mau pindahkan Di ke apartemen lain." Danu berkeras.

__ADS_1


"Om Danu, apartemen Paul itu yang paling aman. Keamanan di bawah juga sudah kenal Paul dan baik-baik orangnya. Lagi pula Paul hanya sementara, nanti dia di panggil lagi ke Paris." Bayu ngeles. Entah siapa yang manggil Paul ke Paris. Yang penting senjata api turun dulu.


"Betul begitu Paul, kamu akan ke Paris lagi?" tanya Danu.


"Iya uncle." jawab Paul. Iya saja dulu, urusan belakangan.


"Ya sudah. Bayu nanti kita bicara lagi. Banyak yang mau saya bicarakan dengan kamu." Danu lalu memutus kontak.


"Untuk sementara begini saja dulu, nanti kita pikirkan lagi bagusnya bagaimana. Lagi pula kita ada di sini selama beberapa hari." kata Danu sambil merangkul Wilma. Paul dan Diona lega. Diona memang yakin Bayu dapat mengatasi keadaan.


"Paul memangnya apa pekerjaan kamu?" tanya Danu ingin tau.


"Aku chef uncle, tadinya aku akan bekerja di Paris di sebuah restauran ternama. Tapi batal, padahal bekerja di sana impianku." kata Paul sedih. Danu jadi ingat wajah senang Diona ketika bisa meraih mimpinya. Berbeda dengan Paul yang tidak dapat meraih mimpinya.


"Memangnya mengapa tidak jadi, kau di tolak atau apa?" Danu mulai kasihan.


"Jadi sekarang kau membantu ayahmu. Ayahmu sakit apa?" Danu menginterogasi Paul.


"Ayahku patah hati. Ibuku pulang ke Indonesia . Aku tidak suka pada ayah karena dia mengekangku. Itu sebabnya aku membeli apartemen ini dan hidup sendiri. Aku juga bekerja di tempat lain, tapi melihat ayahku sakit


seperti itu aku jadi kasihan." kata Paul sendu.


"Sudah sewajarnya kau membantu ayahmu. Saya juga ingin Diona suatu hari nanti membantu saya." Danu bukan memaksudkan Diona harus balas budi, namun karena itu semua milik Diona.


"Apa saja kegiatan kalian berdua di rumah?" Danu was-was.

__ADS_1


"Tidak banyak. Pagi aku bekerja dan Didi sekolah. Siang Didi di rumah tapi aku pulang malam. Seperti tadi." jelas Paul.


"Akhir pekan kau bekerja juga?" Danu melihat Paul bekerja tidak kenal waktu.


"Restauran justru penuh di akhir pekan. Didi libur tapi harus tetap di rumah. Itu sebabnya aku dan Bayu mengajak Didi jalan-jalan ke Milan Minggu lalu. Nanti jika ayahku sudah sehat mungkin akhir pekan aku bisa ajak Didi jalan-jalan." janji Paul pada Diona. Yang di sambut Diona dengan senyum manis. Wilma yang sedari tadi diam melihat Paul baik pada Diona. Kalau Bayu percaya pada Paul, mungkin mereka juga harus begitu.


"Baiklah sudah malam, kita bicara besok lagi. Kau pasti lelah pulang bekerja." kata Danu mengajak Wilma untuk beristirahat. Diona mengambilkan baju Paul, karena kamar Paul di gunakan Danu dan Wilma. Tidak lupa Diona juga membawakan bantal dan selimut karena Paul akan tidur di sofa.


"Didi kau mengejutkan aku." protes Paul pada Diona. Dia habis mandi, wajahnya segar padahal mau tidur.


"Maaf Paul, mereka tidak bilang mau datang. Aku juga lupa menelponmu." Diona menyesal.


"Ya sudahlah, tapi sekarang lega kan mereka sudah tau kita tidak perlu menutupinya lagi." kata Paul sambil merebahkan tubuhnya di sofa. Sebentar saja Paul sudah terlelap. Diona tersenyum menatap Paul. Dia mematikan lampu dan masuk ke kamarnya.


"Didi bangun, kau harus sekolah." Paul membangunkan Diona esok harinya. Wilma terbangun mendengar suara Paul. Dilihatnya Danu masih tertidur tidak terganggu dengan suara Paul. Wilma penasaran, dia pun keluar dari kamar. Di dapur tampak Paul sedang membuat sarapan.


"Paul kau memasak?" tanya Wilma, aneh saja melihat pria di dapur. Di rumah hanya dia yang ke dapur.


"Ya Aunty, setiap pagi aku yang membuat sarapan." jawab Paul sopan. Diona keluar dari kamarnya. Sudah rapih untuk ke sekolah.


"Ayo sarapan dulu." kata Paul pada Diona. Dia menyodorkan sepiring pasta dengan sausnya. Paul sudah tau apa yang Diona suka.


"Paul aku mau bawa roti untuk Elis." kata Diona manja.


"Untuk Elis saja, Lucca tidak?" tanya Paul heran. Tangannya membungkuskan roti.

__ADS_1


"Lucca itu irit makan. Dia menjaga tubuhnya dengan mengatur pola makannya." kata Diona.


"Pantas tubuhnya bagus. Mungkin aku juga harus begitu." Paul berkata sambil membayangkannya.


__ADS_2