PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Janji


__ADS_3

"Pagi dek, maaf mbak mengganggu." sapa Dewanti setenang mungkin.


"Ya mbak, tidak apa-apa. Apa ada yang penting? Sepertinya suara mbak resah begitu?" tanya Wilma yang terkejut dengan telpon dari Dewanti.


"Begini dek, Aran sedang dinas ke luar negeri. Ternyata dia mendapat informasi tentang keberadaan Diona." kata Dewanti pelan. Dia belum tau reaksi Wilma mendengar ini.


"Apa mbak, Aran tau? lalu bagaimana?" Wilma panik.


"Aran berjanji pada mbak untuk tidak menemui Diona. Dia hanya ingin tau bagaimana keadaan Diona." Dewanti membagikan rasa percayanya.


"Semoga begitu mbak." Wilma tidak tau harus berkata apa. Tapi dia mengerti, mereka berdua sama-sama bingung.


"Mbak sedang tunggu Aran pulang. Mbak telpon dek Wilma supaya tidak ada salah paham. Mbak percaya Aran bukan orang yang menyepelekan suatu hubungan." Dewanti yakin putranya tidak akan macam-macam.


"Baik mbak, memang sebaiknya kami tau apa yang Aran lakukan. Supaya kami juga tidak berpikiran buruk." Wilma menghargai upaya Dewanti untuk memberi tau.


"Nanti mbak hubungi lagi ya. Terima kasih untuk waktunya." Dewanti memutus kontak. Dia lega telah bicara pada Wilma. Dewanti hanya khawatir keluarga Diona berpikir Aran pria yang berengsek. Di seberang sana Wilma tampak bingung. Dia pun bercerita pada Danu.


"Tenang sayang, kita lihat saja perkembangannya. Semoga Aran menepati janjinya pada bundanya. Aku lihat Aran bukan anak yang suka mengecewakan orangtuanya." kata Danu menenangkan Wilma.


"Tapi bisa saja Aran jadi lupa ketika melihat Diona." Wilma masih ragu. Dia paham bagaimana jika mencintai seseorang dan berdiri di depan orang tersebut.


"Aran bisa saja melakukan itu dulu. Dia bukan orang yang berjanji lalu tidak memenuhinya. Dia bisa saja meninggalkan istrinya. Tapi dia tidak lakukan itu." Danu mulai bisa meraba seperti apa pribadi Aran. Wilma pun menuruti perkataan Danu untuk percaya. Aran bertemu Dewanti yang telah menunggunya.

__ADS_1


"Aran kamu benar kan seperti yang kamu katakan pada bunda." tanya Dewanti khawatir.


"Benar bunda, Aran hanya melihatnya. Bunda jangan takut seperti itu. Aran tau batasannya." Aran memeluk Dewanti hangat. Dia rindu pada ibunya.


"Jadi kamu sudah melihatnya?" Dewanti penasaran.


"Sudah bunda, dia tambah cantik. Tubuhnya lebih berisi dari pada dulu." Aran tersenyum senang. Dewanti ikut tersenyum.


"Hidupnya jauh lebih baik bunda. Tidak seperti diriku." kata Aran tiba-tiba sedih, kenyataan yang baru di sadarinya.


"Jangan bicara begitu nak. Bunda jadi sedih mengengarnya." hati Dewanti sesak.


"Benar bunda, dia tidak butuh diriku untuk bahagia." Aran berusaha menerima kenyataan. Dewanti terdiam. Jika dia mengatakan Diona butuh dan mencintai Aran itu hanya menimbulkan masalah. Tapi melihat putranya sedih begini dia juga tidak tega. Dewanti menghela napas.


"Sabar ya nak. Semua ada jalannya. Yang penting kamu tetap melakukan apa yang benar." Dewanti hanya bisa menghibur Aran.


"Terus terang aku terlalu sibuk bekerja. Dia baik-baik saja di rumah. Sikapnya juga semakin manis padaku." Aran menjelaskan tentang Mhina yang baik padanya akhir-akhir ini. Dia tidak tau di balik sikap Mhina yang baik pada suaminya tersimpan sesuatu yang akan meledak kemudian.


Seseorang muncul di sekolah. Danford Miles, atau di panggil Dann. Dia mencari Claire, pihak sekolah mengatakan bahwa Claire sudah berhenti dari sekolah. Dan yang mengantarkan surat pengunduran dirinya adalah Lucca. Dann pun mencari Lucca. Maka kini Lucca berhadapan dengan Dann.


"Aku dengar kau yang menyampaikan surat pengunduran diri Claire. Kau pasti tau di mana dia." kata Dann dengan raut wajah serius dan tajam. Dia sedang menilai apakah Lucca pacar Claire. Seberapa dekat Lucca dengan Claire.


"Terakhir aku bertemu ketika Claire mengundurkan diri dari sekolah. Dia menitipkan surat itu padaku. Lalu aku tidak bertemu lagi dengannya." Lucca tidak berbohong. Dia pun sedang menilai berapa serius Dann mencari Claire. Sosok tampan berkharisma, terlihat jelas jiwa bosnya. Pantas saja Claire menyukainya Dari namanya Lucca tau Dann pengusaha ternama. Pantas saja Claire takut, pria ini punya kuasa.

__ADS_1


"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya Dann memburu Lucca. Hanya Lucca yang menjadi harapannya.


"Di restauran Red Sea, aku makan malam dengan temanku di sana. Claire tampaknya bekerja di tempat itu." Lucca kembali jujur. Cari saja, pikir Lucca. Kau tidak akan menemukannya. Tampak wajah Dann terpana. Dia tidak menduga Claire akan bekerja di restauran. Dia curiga Claire akan mencari kekasih baru.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Dann penasaran.


"Untuk apa kau tanyakan itu? Memang apa hubungannya denganmu?" Lucca memancing Dann. Pria itu terdiam. Dia tengah menimbang apakah perlu bercerita pada Lucca. Tapi menurut kata hatinya Lucca tau Claire di mana.


"Aku akan memeriksa tempat itu. Kau jangan pergi dulu." Dann menghubungi orangnya untuk mencari tau keberadaan Claire. Pintar, pikir Lucca. Tadinya dia berpikir Dann akan pergi meninggalkannya untuk mendatangi restauran itu. Tampaknya Dann tidak akan melepaskan Lucca.


"Apa kau dekat dengan Claire?" tanya Dann curiga.


"Aku tidak dekat dengannya, kau boleh tanya yang lain. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya di sana." jawab Lucca dengan berani. Dann tau itu benar, dia sudah bertanya pada Toby. Tidak lama Dann mendapat kabar dari orangnya kalau Claire sudah berhenti bekerja. Sekarang harapannya hanya Lucca. Situasinya semakin sulit bagi Lucca untuk meloloskan diri.


"Baiklah mungkin harus kukatakan padamu. Aku mencintai Claire. Dia berarti untukku dan tidak akan aku lepaskan. Masalahnya Claire meragukanku, dia lari dariku." kata Dann pada akhirnya.


"Lalu apa urusannya denganku?" Lucca tetap pada pendiriannya.


"Kau bisa sampaikan pada Claire dia bisa mengandalkan ku. Aku akan melindunginya." Dann bersungguh-sungguh.


"Yang aku bingung, kalau kau bisa melindunginya mengapa dia lari darimu?" tanya Lucca memancing.


"Istriku mengganggunya. Claire tidak bilang padaku jika dia mendapat teror dari istriku." kata Dann berterus terang. ini yang Lucca tunggu. kejujuran Dann.

__ADS_1


"Kau punya istri, tapi kau bersama Claire. Bukankah itu tidak adil." Lucca meluapkan kekesalan yang sejak tadi di simpannya.


"Aku memang sudah menikah dan memiliki seorang putra. Tapi istriku tidak setia. Jadi aku tidak lagi mencintainya. Aku ingin bercerai, tapi dia mengancam akan menyakiti putraku. Sedangkan putraku sayang pada ibunya. Lalu aku bertemu Claire dan aku jatuh cinta padanya. Aku yang memenuhi semua kebutuhan Claire. Selama ini Claire patuh dan tidak macam-macam. Sampai istriku tau dan mulai menyusahkan Claire. Belakangan ini Claire bersembunyi istriku marah. Dia pikir Claire bersamaku di suatu tempat. Maka dia menyiksa putraku. Istriku mengalami gangguan mental."


__ADS_2