PADA DUA HATI

PADA DUA HATI
Bersabar


__ADS_3

"Jadi kalau aku tidak punya perusahaan, kamu ga cinta sama aku yang?" tanya Danu sewot.


"Memangnya mas punya perusahaan?" bisik Wilma pada Danu. Perusahaan kan milik Diona.


"Oh iya lupa." bisik Danu pada Wilma. Mereka tertawa berdua. Tinggal Paul dan Diona bingung melihat pasangan itu. Akhirnya mereka tiba di rumah Irene. Mereka akan beristirahat sebentar sebelum makan malam. Diona sangat menyukai kamarnya, ada jendela yang mengarah pada laut. Diona menatap pemandangan itu dalam hening. Walau dia berupaya untuk bahagia, menyibukkan dirinya. Tapi tetap ada sosok yang di rindukannya. Seorang yang belum bisa di lupakannya. Entah sampai kapan.


Aran sudah mengetahui pria yang mendatangi Mhina. Berkat cctv yang di pasangnya Aran bisa melihat pria itu datang. Luthandio. Mhina benar-benar diam di rumah, tidak berani melanggar larangannya. Maka Luthan datang dan menemaninya di rumah. Mhina berpikir jika Aran tidak akan mengetahuinya. Mhina tidak tau jika Aran telah memasang cctv di rumah. Sehingga Aran bisa memantau kegiatan Mhina. Aran memutuskan untuk membiarkan mereka dulu. Toh di rumah dia bisa mengawasi mereka. Aran sebetulnya merasa serba salah. Kondisi Mhina membuatnya tidak leluasa bergerak. Tetap di rumah pasti dia bosan. Sebagai suami Aran sibuk bekerja. Apalagi sejak menikah tuntutan ayahnya semakin besar. Selain itu ada perasaan yang belakangan muncul. Kesadaran bahwa dia belum bisa mencintai Mhina. Bagaimana mau mencintai, bersama Mhina beberapa waktu saja hatinya menolak. Itu sebabnya pekerjaan menjadi alasan Aran. Selama ini Aran hanya menjaga Mhina. Memastikan dia baik-baik saja. Cintanya hanya untuk Diona. Aran sekarang menyadari perkataan Bayu. Untuk memilih dengan benar. Iba hati menuntunnya memilih Mhina. Tapi ternyata dia tidak bisa membahagiakan istrinya. Justru perasaan cintanya semakin jelas pada Diona.


"Tuan, saya dengar tuan Danu dan istrinya berangkat ke luar negeri." lapor Rian pada Aran.


"Keluar negeri? Apa itu perjalanan bisnis?" tanya Aran curiga. Dia memang memutuskan untuk mengawasi Danu.


"Menurut para bawahannya liburan tuan." Rian berkata yakin.


"Kemana?" pasti menengok Diona. Sudah bisa di pastikan Diona di luar negeri." Aran yakin hal itu.


"Ke Singapure tuan." jawab Rian lagi.


"Harusnya kita menyewa orang untuk mengikuti mereka. Lain kali jangan sampai kecolongan seperti ini." kata Aran kesal. Wajahnya murung.


"Bagaimana dengan Bayu?" Aran lama tidak melihat Bayu.


"Sepupu anda sedang sibuk di kantornya." Rian melaporkan hasil pantauannya.

__ADS_1


"Ya sudah. Aku ingin kamu mencari tau tentang orang ini. Namanya Luthandio. Cari tau seluruhnya tentang dia." Aran memberikan foto Luthan pada Rianto.


"Baik tuan, segera saya lakukan." Rian keluar dari ruangan Aran. Walau kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya, tapi pikiran Aran melanglang buana. Dia harus tau Diona di mana. Dia harus mengikuti Danu untuk bisa bertemu Diona.


Saat ini Diona sedang berada di kelas seni. Mereka di beri tugas melukis sebuah guci. Guci itu polos. Mereka boleh berimajinasi melukis gambar pada guci itu. Mata Diona menatap guci itu sambil melukis. Tapi matanya sesekali melirik Claire. Di kepala Diona ada pertanyaan, betulkah Claire punya sugar Daddy?


"Kenapa matamu meliriknya terus?" tanya Elis pada Diona curiga. Ah ketahuan deh, pikir Diona. Tapi dia ragu untuk menceritakan pada Elis apa yang di dengarnya dari Paul.


"Aku ingin tau hasil lukisannya." Diona beralasan.


"Dia sedang di gunjingkan para cowok." kata Elis berbisik.


"Kenapa?" tanya Diona terkejut. Elis menaikan bahunya tanda tidak tau.


"Ayo dong Luc, cerita apa yang di gunjingkan." Elis sang nona kepo beraksi.


"Para cowok itu menggunjingkan kalau Claire gampangan. Dia bisa di bawa tidur." kata Lucca santai. Diona dan Elia terkejut. Mereka kira selama ini Claire ramah dan para cowok menyukainya karena itu.


"Kau tau dari mana?" tanya Elis, hal yang sama yang ingin Diona tanyakan.


"Aku mendengarnya di toilet pria." kata Lucca sambil tersenyum.


"Jadi mereka itu suka bergosip di toilet ya." Diona baru tau para pria juga bisa seperti wanita. Bergosip di toilet.

__ADS_1


"Kadang-kadang. Aku sih tidak dekat dengan mereka. Makanya aku tidak terlibat. Kebetulan aku dengar saja hari itu mereka membicarakan Claire." kata Lucca menjelaskan. Dia lebih dewasa usianya di banding para cowok tadi, oleh sebab itu Lucca malas bergaul dengan mereka.


"Tapi apa benar Claire seperti itu?" tanya Elis penasaran.


"Itu kan gosip, kita tidak tau yang benar." Lucca menampik. Diona jadi ingat cerita Paul. Tapi dia tetap tidak mau bercerita pada dua sahabatnya ini. Ketika pulang mereka melihat seorang pria berdiri di sebelah mobilnya yang bagus. Pria itu yang ada di foto Paul. Usianya sama dengan Danu. Tapi mungkin karena Danu sering olah raga dia tampak lebih gagah. Pria itu lumayan tampan. Dari penampilannya pasti berduit. Diona penasaran.


"Lucca, kau kan orang bisnis. Bisa kau cari tau orang itu siapa?" kata Diona pada Lucca. Dia mengisyaratkan pria itu dengan matanya pada Lucca.


"Dia Meu bertemu siapa? rasanya baru lihat." kata Elis yang mulai memperhatikan pria itu. Lucca mengambil fotonya diam-diam. Tidak lama Claire keluar dan menghampiri pria itu. Mereka pun pergi.


"Loh itu kan Claire, dengan siapa dia?" tanya Elis heran.


"Sudah jangan urusin orang lain. Di Paul menjemputmu?" tanya Lucca. Pertanyaan yang menyadarkan mereka jika Paul tidak kelihatan.


"Dia tidak berperan tidak bisa jemput." kata Diona sambil memeriksa ponselnya.


"Kalau begitu kita tunggu saja sebentar." Lucca mengajak mereka duduk. Sambil menunggu Paul mereka berbincang tentang hasil karya mereka tadi melukis sebuah guci. Lalu Paul datang.


"Sorry, tadi aku isi bensin dulu. Ternyata antriannya panjang. Mau kutinggalkan tapi nanti tuan putri harus dorong mobil." Paul menjelaskan ketika mereka sudah di jalan.


"Tidak apa, justru tadi aku lihat pemandangan menarik. Kau ingat pria yang marah di restauranmu, tadi dia datang menjemput Claire." kata Diona dengan seru.


"Dia tidak khawatir ya orang melihatnya. Atau mungkin cowok Claire yang baru murid di sekolahmu?" tanya Paul curiga. Sayangnya di foto itu tidak jelas wajah si cowok itu. Diona menghentikan pembicaraan tentang Claire. Dia jadi merasa seperti Elis, kepo. Selain itu tidak mau Paul khawatir dengan lingkungan pertemanannya di sekolah. Mereka pun tiba di rumah. Ada kejutan menanti mereka.

__ADS_1


__ADS_2