
Sepatu putih dan tas putih yang Elis kenakan sebelumnya di rasa Diona cocok di gunakan Elis. Ketika Lucca datang menjemputnya Elis sudah siap dengan lipstik pink mudanya.
"Wah kau makan malam denganku saja kalau cantik begini." Lucca mulai menyukai penampilan Elis yang seperti itu. Memakai gaun, berhias. Selama ini Elis setia dengan celana jeans dan kausnya. Elis tersipu mendengar perkataan Lucca.
"Ayo berangkat, aku ikut denganmu." kata Diona pada Lucca.
"Syukurlah, aku jadi tidak sendiri." Lucca menggandeng Elis yang sudah cantik. Lucca tau Elis gugup, dia hanya ingin menenangkan gadis itu. Dengan cepat mereka tiba di tempat pertemuan, itu menurut Elis karena dadanya yang terus berdebar.
"Masuklah, aku yakin Justin sudah menantimu di dalam." kata Lucca lembut.
"Kami menunggu di sini Elis." Diona meyakinkan sahabatnya. Dia tau ini moment manis sekaligus sedih untuk Elis. Andai Justin belum bertunangan pasti berbeda. Elis menarik napas panjang agar gugupnya hilang. Lalu perlahan dia turun dari mobil dan berjalan memasuki restauran. Lucca dan Diona memperhatikannya dalam diam.
"Di, ayo kita turun. Di sebelah ada kedai penjual pizza. Kau tidak lapar?"tanya Lucca. Ide bagus, pikir Diona. Dia juga lapar. Diona pun turun dari mobil bersama Lucca. Mereka berjalan dan duduk di kedai pizza. Mereka akan menunggu Elis sambil makan malam. Sementara Elis masuk ke dalam dan pelan-pelan mencari Justin. Pria itu tetap tampan ketika Elis melihatnya. Dengan menahan debaran hatinya Elis menghampiri Justin perlahan. Jika saja waktu bisa di hentikan, dia pasti akan menghentikannya. Justin melihat Elis, dia terpana. Perlahan dia bangkit berdiri tapi matanya tetap pada Elis.
"Elisabeth Morgan, kau cantik malam ini." kata Justin dengan sinar mata kagum ketika Elis tiba.
"Terima kasih, kau juga tampan." balas Elis sopan. Justin menarikan bangku untuk Elis duduk. Setelah itu dia pun duduk di hadapan Elis. Tatapannya masih tetap lekat pada Elis.
"Sudah lama kita tidak bertemu, kau sangat berubah " kata Justin sambil tersenyum. Itu berkat Diona, kata Elis di dalam hatinya.
"Kau juga berubah, aku rasa kau berhasil mencapai impianmu." Elis merasa perbedaan mereka jadi jauh. Justin pria tampan yang mapan sekarang.
"Begitulah, setelah upaya kerasku." ada nada tidak puas dalam jawaban Justin.
__ADS_1
"Ayo kita makan dulu, aku kira makanan kesukaanmu tidak berubah." Justin menebak saja. Elis mengangguk. Sebenarnya dia tidak mau banyak bicara karena dia tidak mau Justin tau dia gugup. Walau ada banyak yang ingin Elis tanyakan. Justin memesan makanan untuk mereka berdua, lalu fokus lagi pada Elis. Gadis itu cantik, berbeda dari ingatannya yang dulu. Dan itu menarik hati Justin.
"Kau sudah punya kekasih ya. Lucca itu apa dia sungguh mencintaimu?" Justin menatap tajam, menuntut jawaban.
"Hubungan kami biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tapi memang Lucca baik padaku." jawab Elis apa adanya. Justin tampak tersenyum, dia senang dengan jawaban Elis.
"Kau sendiri bagaimana? Kudengar kau sudah bertunangan. Maaf aku dengar dari gosip para pekerja." sekarang Elis yang ingin tau.
"Benar, aku sudah bertunangan." Justin malas menjawabnya.
"Semoga kau bahagia dengannya. Apa dia bersamamu?" Sebenarnya hati Elis sakit mengatakan itu.
"Terima kasih, dia tidak ikut. Ada di London. Aku ke sini karena ada urusan dengan klienku." topik yang Justin tidak suka untuk di bicarakan. Entah mengapa.
"Aku menyelesaikan sekolahku di New York, lalu aku bekerja di kantor pengacara besar di London. Sampai sekarang aku masih tinggal di sana." itu menjawab pertanyaan Elis, kemana Justin menghilang. Makanan mereka datang Obrolan terhenti
"Kau sekolah di sini sampai kapan?" Justin ingin tau sampai kapan Elis di Italy.
"Aku sekolah hanya satu tahun. Sekarang sudah hampir setengah tahun. Setelah lulus aku akan secara kembali." Elis sambil menikmati hidangannya. Dia ingin pertemuan ini segera berakhir. Mengetahui dengan pasti Justin sudah bertunangan membuat dirinya tidak bersemangat.
"Kau tidak suka di sini? Lucca kan bekerja di sini?" Justin heran sekaligus mencari celah. Namun tujuannya apa dia belum tau.
"Aku berjanji pada keluargaku hanya satu tahun. Lagi pula aku hanya sekolah melukis, itu bisa ku lakukan di rumah." Elis tidak punya alasan untuk tetap di Italy. Lucca kan bukan kekasihnya.
__ADS_1
"Kau tidak punya keinginan lain atau cita-cita yang ingin kau raih?" tanya Justin memburu. Entah mengapa dia tidak suka Elis pulang.
"Kau kan tau aku orang yang sederhana, mungkin orang yang tidak berani bermimpi. Tapi aku sudah punya sesuatu yang dapat kulakukan di duniaku nanti." Elis memang gadis sederhana. Tapi tetap menarik. Justin merasa suka pada kesederhanaan Elis. Justin terdiam, ada yang di pikirkannya. Kesempatan itu di gunakan Elis untuk memperhatikan pria itu. Belum tentu dia akan bertemu lagi dengan Justin.
"Elis, boleh aku minta nomermu?" tanya Justin berharap. Elis memikirkannya sejenak. Hanya nomer. Toh dia bisa mengabaikannya jika dia malas bicara pada Justin. Elis pun memberikannya. Justin sangat senang. Dia bisa menghubungi Elis kapan saja. Setelah memberikan nomernya Elis mengirim pesan pada Lucca, dia ingin pulang. Elis merasa tidak sanggup lagi bersikap seolah dia baik-baik saja.
"Sepertinya Elis ingin pulang." kata Lucca pada Diona.
"Aku mau numpang ke toilet ya, kau jemput saja Elis. Nanti aku langsung ke mobil." kata Diona. Mereka jalan menuju restauran. Diona pergi ke toilet sedangkan Lucca menjemput Elis.
"Elis, kau sudah selesai?" tanya Lucca pada Elis.
"Ya aku sudah selesai. Maaf Justin aku harus pulang. Lucca sudah menjemputmu." kata Elis dengan manis agar Justin tidak marah.
"Maaf, aku harus bawa Elis pulang." kata Lucca sopan.
"Tidak apa. Aku senang Elis mau bertemu denganku." Justin berkata ramah dengan menahan kejengkelan di dalam hatinya. Dia sebenarnya masih ingin bersama Elis. Tapi si brengsek Lucca sudah menjemputnya. Dari pembicaraan dengan Elis Justin menyimpulkan Lucca bukan pacar Elis, tapi pria itu punya pengaruh besar pada Elis. Setelah Lucca dan Elis keluar Justin masih diam di tempatnya. Baru kemudian dia memutuskan untuk pergi. Tidak seperti dugaan Justin, Elis mengabaikan pesannya dan tidak mengangkat panggilannya. Terpaksa Justin bertemu lagi dengan Lucca.
"Maaf aku menyita waktumu lagi. Aku mau jujur padamu. Aku ingin mendekati Elis lagi." kata Justin dengan berani. Ini yang Lucca tunggu, akhirnya terjawab juga.
"Tapi kau sudah punya tunangan. Elis juga tau itu." Lucca jadi memandang remeh Justin.
"Apa itu sebabnya Elis mengabaikan aku?"
__ADS_1