
Simon tersenyum dan berkata, "Ada lagi yang mau mencobanya ?"
"Kau sudah keterlaluan... orang yang kau bunuh adalah Tetua dari Kuil Emas di Thailand, jika mereka tahu kau membunuhnya maka mereka akan datang kepadamu." Teriak salah seorang dari mereka.
"Kalian yang memprovokasiku hilang kemana keberanian itu. Jika mereka ingin datang balas dendam maka lakukan saja, cukup kirimkan hari dan tanggalnya. Dimanapun tempatnya aku tidak akan lari !" Simon memprovokasi mereka semua dan sedikit liar.
Tidak ada yang berani menjawab pernyataan berani dari Simon, jika mereka memprovokasinya lagi maka itu akan menjadi hari kematian mereka semua.
*Swosh.*
Suara helikopter terdengar dan Simon melihat kearah langit, dia menatapnya dengan tajam dan ekspresinya berubah menjadi sangat khawatir. Helikopter itu membawa sebuah Bom besar dan jika itu dijatuhkan kearah Kapal maka kecuali dirinya semuanya akan mati.
"Gawat... kalian jika tidak ingin mati masuk kedalam, helikopter itu membawa Bom dan akan dijatuhkan ditempat ini !" Teriak Simon dengan keras.
Kim Yong dan semua orang panik bahkan para Grandmaster Beladiri lainya tidak ragu melompat dari atas kapal yang besar. Mereka berjalan diatas air dan berlari untuk menyelamatkan diri dari serangan mendadak ini.
(Apakah Master ingin mengaktifkan pertahanan ?)
__ADS_1
"Lakukan !" Simon setuju.
(Lima ratus ribu poin dikurangi.)
Dengan bantuan Lux sebuah kubah Pelindung yang terbuat dari Spiritiual Qi murni terbentuk, Bom itu jatuh dari ketinggian dan menciptakan ledakan besar hingga membuat ombak mengamuk. Simon memeluk Zella dan melindunginya dengan Qi Spiritual miliknya, bahkan mereka yang berlari ikut terkena dampak dari daya hancur Bom itu.
Dari dalam Helikopter yang tidak lain adalah Nan Dingwu tertawa dengan keras, dia tahu bahwa Kim Yong mengumpulkan banyak orang untuk berurusan dengannya dan dia sedikit mengambil sikap tegas.
"Hahaha... ini adalah akhir bagi mereka yang berani menantang..." Sebelum Nan Dingwu menyelesaikan perkataannya sebuah kilatan cahaya keluar dari dalam ledakan.
Kilatan cahaya itu tidak lain adalah Pedang Terbang yang Simon kendalikan, Pedang itu menyambar langsung kearah Helikopter dan meledakkannya. Pedang Terbang itu menusuk perut Nan Dingwu dan membawanya kembali menuju kearah Simon.
Simon memaku Nan Dingwu diatas dek Kapal dan berkata, "Keberanianmu tidak kecil... dalam hidupku ini adalah momen yang paling tidak pernah aku bayangkan."
"Sialan... siapa kau ?" Nan Dingwu berteriak dengan marah sambil menghentikan pendarahannya.
Semua orang keluar dan walaupun telinga mereka sakit karena ledakan yang besar namun mereka sangat bersyukur karena bisa selamat. Simon mendapatkan banyak rasa terimakasih dari semua orang namun perhatiannya tertuju kepada Nan Dingwu.
__ADS_1
"Aku sudah menahannya dan membuatnya lumpuh, selesaikan dendammu dengan kedua tanganmu sendiri Kim Yong. Adapun kekuatan dibelakangnya aku akan melindungimu dan Keluargamu karena mulai sekarang kau adalah orangku." Simon berkata dengan tegas.
Kim Yong mengangguk dan mengambil sebuah Kapak, "Istri dan Anakku yang sudah kau bunuh... Aku akan membuat mereka tenang disurga dengan darahmu sebagai pengorbanannya."
Kim Yong berjalan kearah Nan Dingwu dan mengayunkan Kampaknya, namun energi spiritual yang sangat kuat meledak dan satu sosok berambut putih melayang diatas langit. Kekuatan jiwanya terasa mengagumkan dan Simon tersenyum dingin kearahnya.
"Nan Du !" Kim Yong sedikit ketakutan seolah melihat sosok Dewa yang sebenarnya.
"Siapa yang memberimu keberanian untuk membunuh salah satu Keturunanku ?" Tatapan Nan Du penuh dengan hawa membunuh yang kuat.
Simon melepaskan Zella dan memintanya untuk menunggu sebentar, dia keluar dari penghalang dan berhadapan satu lawan satu dengan Nan Du diatas langit. Keduanya saling bertatapan satu sama lain dan saling menilai bahwa kekuatan mereka sama kuatnya.
"Aku yang memberinya keberanian... apakah kau punya masalah dengan itu ?" Simon berkata dengan tegas.
"Kaisar Naga Simon... kau memang hidup dengan nama besarmu. Diumur yang semuda ini bahkan kau sudah berada di Alam Dewa, kau sudah banyak membuat Dosa dengan membunuh dua Dewa lainya. Jika kau mengakui kesalahanmu mungkin fraksi kami tidak keberatan untuk mengampunimu dan membuatmu bergabung." Kata Nan Du dengan tegas.
"Lalu cobalah untuk berlutut dan membuatku mengakui kesalahan." Simon menantang Nan Du dan tidak ingin dipandang rendah sama sekali.
__ADS_1
"Kita sama-sama berada di Alam Dewa dan jika bertarung akan ada banyak kehancuran besar nantinya. Lepaskan Keturunanku dan aku berjanji dia tidak akan membuat masalah denganmu dimasa depan." Kata Nan Du dengan ekspresi dingin.
"Jangan bicara omong kosong... kau hanya tidak bisa memastikan dapat mengalahkanku atau tidak. Entah itu sekarang atau dimasa depan kau dan aku pasti akan bertemu lagi sebagai musuh, ketika Keturunanmu itu berani membunuh seseorang maka dia juga harus siap untuk dibunuh." Simon mengangkat satu jarinya dan Pedang terbang yang diperut Nan Dingwu berputar mencabik-cabiknya menjadi daging cincang.