
Simon menaiki Mobilnya bersama dengan Nancy mengikuti Ridas pergi ke Hotel Fatastic miliknya.
"Hei... bukankah kau terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dariku !" Tanya Nancy sambil menundukan kepalanya.
Pada kenyataanya Simon yang sekarang adalah seorang Komandan dari Militer, Nancy tidak berharap lebih untuk kebahagian Simon tetapi sekarang perbedaan mereka terlihat sangat jelas dimatanya.
"Aku tidak pernah berubah." Simon berkata dengan santai, "Bukankah aku sudah memberitahu sebelumnya ketika di Universitas, sekarang aku bekerja menangkap *******."
"Ugh... kau memang tidak tertolong." Nancy berkata dengan kesal tetapi didalam hatinya Nancy merasa lega.
Dia tahu Simon tidak berubah, sikap yang selalu membuat Nancy kesal itu masih ada padanya. Simon selalu suka bermain-main dan tidak pernah serius dalam pekerjaanya, tetapi kegigihanya yang kuat membuatnya terlihat tampan.
Nancy sangat yakin kalau tidak ada orang yang lebih mengenal Simon dari dirinya. Perasaan ini sedikit membawa Nostalgia.
Setelah beberapa saar mereka sampai di Hotel Fantastic miliknya. Simon sedikit tidak percaya dengan memiliki Hotel ini, Luasnya sangat mengagumkan dan pemandanganya langsung mengarah ke laut yang luas. Suasana tempat ini sangat bagus dan layak menjadi no 1 di Negara Beihan.
Nancy turun dari mobil mengikuti Simon dan Ridas. Ketika mereka memasuki pintu, Simon dikejutkan dengan semua Pegawai Hotel yang berbaris menyambutnya.
"Selamat datang Tuan Muda !" Teriak semua Pegawai Hotel.
Nancy menatap Simon dan sedikit bingung dengan adegan ini. Simon mengusap keringat didahinya dan tetap menjaga ketenangan, walupun didalam hatinya dia mendapatkan kejutan yang besar.
"Bos... Bagaimana menurutmu ?" Ridas bertanya dengan percaya diri.
"Jadi ini ulahmu." Simon sedikit kesal, "Lain kali jangan lakukan ini, aku benar-benar tidak terbiasa dengan hal ini."
"Baik." Ridas menatap kearah Pelayan dan berkata, "Berikan Bos Ruanganya dan layani dengan baik !"
"Mari Tuan Muda !" Kata salah seorang Pelayan.
Simon dan Nancy mengikutinya menaiki Lift ke lantai 25, Ini adalah kali pertama Simon pergi ketempat ini dan dia masih terkejut dengan tempat mewah ini.
__ADS_1
Mereka memasuki ruangan yang sangat besar dengan desain yang luar biasa. Tempat makan dan Kamar Tidurnya terlihat sangat mewah, dalam hati Simon berfikir berapa banyak yang dibutuhkan jika harus menyewa tempat semacam ini.
Beberapa Pelayan masuk menyiapkan Makanan dimeja makan dan membawa setelan Jas dan Gaun. Semuanya adalah hidangan mewah yang dibuat Koki yang hebat, Simon tetap menjaga ketenanganya.
"Tuan Muda... jika ada sesuatu yang Anda butuhkan. Tolong bunyikan saja Bel dan kami akan segera datang !" Pelayan itu berkata dengan sopan.
"Yah... kalian bisa kembali." Semua Pelayan keluar dan menutup Pintunya.
Nancy melirik Simon dan berkata, "Jika kau ingin berteriak... kau bisa melakukanya sekarang !"
"Ha... Kenapa aku harus melakukan itu. Kau pergilah dan bersihkan dirimu, kau terlihat sangat jelek !" Simon berkata dengan jujur.
"Kemarilah... aku akan membersihkan luka ditanganmu terlebih dahulu." Nancy menarik tangan Simon dan menyuruhnya untuk duduk.
Nancy mengambil beberapa obat luka dan perban di kotak obat. Mengambil Air bersih dan perlahan membersihkan tangan Simon, hal ini seperti nostalgia untuk Simon.
Sewaktu disekolah ketika Simon terluka karena perkelahian, Nancy akan marah dan membantu mengobati luka memar ditubuhnya. Setelah itu Simon pergi membersihkan dirinya dan bergantian dengan Nancy.
"Halo.. Paman Nan !"
"Nak... terimakasih karena membantu Gadis Kecil itu !" Nan Gu berterimakasih dengan tulus.
"Tidak masalah... Paman tenang saja saat ini aku membawanya untuk menghindari hal yang merepotkan besok aku akan mengantarnya kembali." Simon berkata dengan jujur.
Nancy keluar memakai baju tidur yang disediakan oleh Pelayan Hotel dan duduk disamping Simon. Dia mendengar pembicaraan Simon dengan Ayahnya dan diam mendengarkan disamping.
"Hahaha... Sayang sekali !" Nan Gu menghela nafas dan berkata, "Kalau begitu beristirahatlah dan termakasih."
Nan Gu menutup telponya dan Simon menatap Nancy disampingnya yang terlihat sangat sedih.
"Maafkan aku !" Nancy menangis dan berkata dengan pelan.
__ADS_1
"Kau tidak bersalah... Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu." Simon menepuk kepala Nancy.
"Kau salah apa... akulah yang salah !" Nancy membentak Simon.
"Ya... kau salah." Simon mengusap air matanya.
Lebih baik mengalah jika dia terus melanjutkan hal ini, dia kan terus berdebat dengan Nancy dan tidak akan ada akhirnya.
"Ayo kita makan lebih dulu !" Simon membawa Nancy duduk dan melayaninya seperti seorang Putri.
Nancy sendiri sangat bahagia dengan hal ini, dia sudah lama merindukan persaan seperti sekarang.
"Aku akan berhenti menjadi Artis !" Nancy berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa ?" Simon sedikit terkejut, "Bukankah itu impianmu !"
"Aku memiliki alasanku !" Nancy berkata dengan tegas, "Aku sudah muak dengan hal itu !"
Namcy benar-benar membenci menjadi seorang Artis. Bukan masalahnya dengan Cheng, tetapi Impianya telah merenggut semua kebahagianya yang seharusnya bersama Simon.
Saat ini dia benar-benar mengerti apa yang ditanggung Simon setelah dia memutuskan hubungan mereka dan memilih kariernya yang tidak jelas. Dia sudah memutuskanya tetapi bukanya membencinya, Simon lebih memilih mengalah dan melindunginya dikondisi yang berbahaya.
Kebaikan seperti ini bagaimana dirinya bisa menutup mata dan mengabaikanya. Lebih baik dia mengorbankan impianya, dari pada menyakiti Simon.
"Aku sudah mengenalmu untuk waktu yang cukup lama. Apa kau pikir aku tidak bisa menebak apa isi pikiranmu !" Simon berkata dengan dingin.
Nancy hanya diam dan menundukan kepalanya, menghindari kontak mata, Simon mengambil rokoknya dan menikmatinya dengan perlahan.
"Dari pada berusaha untuk merubah hidup, adaptasikan saja dirimu untuk mengubah keadaan sebagai jalan untuk kebahagiaan. Tidak peduli apa keputusanmu, aku akan selalu berada dibelakangmu !" Simon berkata dengan sungguh-sungguh.
"Ya." Nancy tersenyum dan menangis bahagia setelah mendengar perkataan Simon.
__ADS_1