PECUNDANG SEJATI

PECUNDANG SEJATI
Bab 29 - Bisnis Kecil-Kecilan


__ADS_3

Setelah Simon mengantar kembali Rey kerumahnya, dia langsung pulang dan kembali beristirahat. Hari ini merupakan hari yang berat dan melegakan untuknya, seolah dia baru saja melepas beban dihatinya.


Simon mengambil Ponselnya dan menelpon Keluarganya.


"Tut... tut... Halo Nak... kenapa malam-malam kau menelpon ?" Tanya Ayah Simon.


Simon tersenyum dan berkata, "Apakah aku tidak bisa menelpon Ayah!"


"Kau bisa... tetapi kau harus tahu waktu." Bentak Ayah Simon.


"Ho... ho... Apakah Ayah sedang melakukan sesuatu dengan Ibu, sepertinya anggota Keluarga kita akan bertambah lagi." Simon sedikit menggoda Ayahnya.


"Bocah busuk... Kau berani kurang ajar." Teriak Ayah Simon dengan marah.


"Tidak-tidak... aku hanya bercanda. Ayah aku berhasil diterima di Universitas Cemerlang." Simon memberikan kabar baik untuk Keluarganya.


"Baguslah, lalu apa masalahnya ?" Tanya Ayah Simon.


Simon sedikit kesal dengan respon Ayahnya, "Begini... Aku mendirikan usaha kecil-kecilan dan terlalu banyak pesanan yang datang dari konsumen. Jadi kelihatanya aku tidak bisa pulang dan harus menyelesaikan pesanan ini, tidak apa-apakan ?"


"Apakah benar... Kau tidak mencoba membodohi Orang Tuamu kan ?" Ayah Simon sedikit curiga.


Sejak dulu Simon adalah orang yang malas, jadi tidak mungkin dia disana bekerja. Ayah Simon berfikir mungkin putranya hanya ingin bersenang-senang dengan teman-temanya dan tidak ingin kembali ke rumahnya.


"Aku tidak berbohong... besok aku akan mengirimkan uang 20 juta untuk kalian. Itu adalah hasil kerja keras Anakmu." Simon mencoba meyakinkan mereka.


"20 juta ?" Ayah Simon terkejut dan berkata, "Nak... kau tidak mencurikan ?"


"Untuk apa aku mencuri... Bisnisku sebentar lagi akan berkembang. Setelah 3 Bulan aku akan membawa kalian untuk melihatnya, aku bersumpah tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum." Simon berkata dengan jujur.


"Memangnya apa yang kau jual ?" Tanya Ayah Simon dengan penasaran.

__ADS_1


Simon terlihat bingung dan berkata, "Batu Bata."


Simon tidak mungkin untuk memberitahu Ayahnya yang sebenarnya. Bukan karena dia takut, tetapi jika dia mengatakan kebenaranya Ayahnya tidak mungkin akan mempercayainya.


Seorang Komandan Militer dan mendirikan Perusahaanya sendiri. Jika Simon mengatakan kedua hal itu, dia hanya akan diteriaki pembohong oleh Ayahnya, jadi dia hanya perluh mengatakan bisnis kecil-kecilan.


"Batu Bata? apakah disana Batu Bata sangat dicari oleh orang-orang." Ayah Simon berkata dengan santai.


"Yah... beberapa hari terakhir terlalu banyak Pembanguna rumah, jadi Batu Bata sangat laku di tempat ini." Simon berbohong dengan santai.


"Yah... baiklah... lakukanlah tanggung jawabmu. Jika kau sudah berniat untuk bekerja, jangan kecewakan pelangganmu dan jangan biarkan itu mengganggu proses belajarmu." Ayah Simon memberikan nasihat.


"Yah... kalau begitu aku akan tidur dan beristirahat untuk besok !" Simon menutup panggilanya dan segera tidur.


Keesokan paginya dia mendengar keributan didepan Rumahnya dan terbangun dari tidurnya. Simon berjalan keluar dan melihat Gilan dan Anggotanya, dihentikan oleh penjaga.


Gilan melihat Simon dan berteriak, "Bos... aku sudah sampai !"


"Baik." Para Penjaga itu segera meminta maaf dan pergi kedepan.


Simon menyuruh Gilan dan Anggotanya untuk masuk dan mengobrol denganya.


"Bagaimana dengan lukamu, apakah masih terasa sakit ?" Simon tersenyum dan berkata dengan santai.


"Bukan luka yang serius. Sesuai perjanjian kita, aku datang kesini untuk bekerja denganmu. Bisakah aku tau apa yang direncanakan Bos ?" Gilan bertanya dengan penasaran.


"Sederhana... menguasai Dunia Bawah Negara Beihan." Simon berkata dengan santai.


Gilan terkejut dengan perkataan Simon dan berkata, "Bos... dulu aku memang memiliki pemikiran sepertimu, tetapi hal itu sangat mustahil untuk dilakukan. Kau tau sendiri... walaupun kami juga mempunyai reputasi di Dunia Bawah, tetapi kami kurang dalam pasukan dan senjata !"


"Lalu bagaimana jika aku memberikan kalian senjata dan menjadikan kalian seorang Grandmaster Beladiri yang sesungguhnya." Simon berkata dengan santai.

__ADS_1


"Jika kami bisa melakukan hal itu, mungkin kami bisa menguasai Dunia Bawah Negara Beihan. Tetapi apakah Bos sungguh-sungguh bisa melakukan hal itu ?" Tanya Gilan dengan penasaran.


"Yakinlah... aku bisa mekakukanya. Jujur saja aku ingin menghancurkan Organisasi Big Father yang merupakan seorang Kaisar yang nengedarkan Narkoba dengan sekala besar !"


"Bos... apa kau menyuruh kami untuk melawan mereka. Walaupun kami berjanji mengikutimu dan tidak ragu mati untukmu, tetapi kami tidak ingin mati dengan konyol ditangan mereka !" Gilan berkata dengan jujur.


Menantang Organisasi seperti Big Father dengan pasukan kecil seperti mereka, bukankah itu hal yang sangat konyol.


"Kalian tidak perluh khawatir, tugas kalian hanya merekrut mereka semua dibawah kepemimpinan kita. Jadi kita sepenuhnya bisa menguasai, bisnis Negara ini dan tidak akan perluh khawatir dengan ancaman yanh tidak diperluhkan."


Simon melanjutkan, "Untuk Organisasi Big Father... kalian tidak perluh ikut campur dan serahkan semuanya kepadaku. Aku sudah memiliki rencanaku sendiri !"


Gilan terkejut mendengar Simon yang ingin menghadapi mereka sendirian. Walaupun Simon sangatlah hebat, dia tidak akan mungkin menang melawan mereka.


"Bos... kau adalah orang yang pintar, aku ingin bertanya padamu. Seberapa yakin kau bisa mengalahkan mereka dengan rencanamu ?" Gilan bertanya dengan serius.


Simon hanya tersenyum dan berkata, "Setidaknya 80 persen, aku yakin untuk menghancurkan mereka."


"Baiklah... kami akan melakukan perintahmu dan menunggu semua perintahmu." Galan sendiri percaya dengan Simon.


Demi kesejahteraan kelompoknya, Galan tidak akan ragu untuk mengikuti perintah Simon.


"Untuk saat ini... kalian berlatih terlebih dahulu." Simon mengeluarkan kertas, "Itu adalah daftar latihan yang harus kalian lakukan. Aku tidak bisa mengawasi kalian, aku akan menyerahkan sisanya kepadamu !"


"Bos.. tenang saja. Ketika kami selesai, kami akan segera menemuimu." Gilan berkata dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah... Aku akan menunggu dan untuk senjata aku akan segera mengirimkanya !" Simon tersenyum dan berkata dengan santai.


"Kami semua akan menunggunya. Kalau begitu kami akan pamit." Gilan pergi dan segera mempersiapkan dirinya untuk latihan.


Simon tidak sabar melihat hasil dari latihan mereka, mungkin mereka akan menjadi tumpuan bagi Simon dimasa depan.

__ADS_1


__ADS_2