
Hari menjelang malam Simon segera pergi dari tempat itu. 2 hari lagi dia akan bersiap-siap untuk pergi ke acara Reuni teman sekolahnya.
Simon sudah memberikan kabar sebelumnya kepada Zhen Qiu kalau dia akan pulang minggu 4 hari lagi dan memberitahunya kalau dia memiliki acaranya sendiri.
Untuk beberapa saat Simon berhenti disebuah tempat Makan dan membeli banyak makanan untuk Keluarganya di rumah.
Setelah dia sampai Simon dikejutkan dengan sebuah Mobil yang cukup bagus didepan Rumahnya. Simon masuk dan melihat Nancy dan Nan Gu duduk bersama Orang Tua mereka.
"Paman ?" Simon berkata dengan gugup.
"Oh... Nak... kau sudah datang, Aku hanya mengantar Gadis Kecil ini untuk datang bersamamu di Acara Reuni Sekolah kalian !" Nan Gu berkata dengan santai.
"Simon... apakah kau pergi mengurus masalah Ayah ?" Ayah Simon memegang sebuah Amplop yang berisi uang.
Sebelumnya beberapa Polisi datang kemari dan menyerahkan semua uang dari hasil penggelapan Mandor Pabrik. Ayah Simon berpikir kalau ini pasti ulah dari Putranya.
"Ya... Setelah mereka berani menghajar dan mematahkan kaki Ayah, apa mereka pikir bisa lolos begitu saja. Ayah tidak perluh khawatir, aku tidak membunuh mereka dan hanya menyerahkan mereka kepada Polisi. Mereka akan diadili oleh mereka dan mungkin akan masuk Penjara karena Korupsi !" Simon berkata dengan jujur.
"Kalau begitu terimakasih... dengan begini teman-teman Ayah bisa menerima hasil jerih payah mereka." Ayah Simon cukup bersyukur karena Putranya tidak bertindak gegabah.
"Jika Teman Ayah tidak memiliki pekerjaan, katakan saja pada mereka kalau aku bisa memberikan mereka Pekerjaan !" Simon berkata dengan sungguh-sungguh.
"Benarkah... kalau begitu aku akan memberitahu mereka !" Ayah Simon langsung pergi keluar dan ingin memberitahukan kabar baik ini.
Simon memberikan semua bingkisanya kepada Ibunya dan memintanya untuk menyiapkanya untuk mereka.
"Apakah Kaki Paman sudah kembali normal ?" Simon bertanya dengan santai.
"Hahaha... semua ini berkat bantuanmu." Nan Gu berterimakasih atas pertolongan yang Simon berikan, "Aku tidak menyangka kau berhasil kembali hidup-hidup dan membawa kemenangan besar untukmu !"
"Yah... walaupun ada sedikit kecelakaan, tetapi aku masih sanggup mengatasinya." Simon tersenyum dan berkata dengan percaya diri.
"Kau memang hebat... Hadiahmu juga tidak sedikit, mendapatkan Pulau dan satu orang Wanita cantik." Nan Gu sedikit menggoda Simon.
Nancy terlihat kesal setelah mendengar Simon memiliki Wanita baru disisinya. Simon menggaruk kepalanya dan sedikit malu tentang hal ini.
__ADS_1
"Hehehe... Jika Paman tahu tentang hal ini, harusnya Paman juga tahu tentang apa yang aku hadapi waktu itu. Jika aku tidak melakukanya, Keluarga dari Zella akan dibunuh. Jadi aku hanya bisa pasrah dan bertanggung jawab dengan sisanya." Simon berkata dengan santai.
"Tentu aku tahu hal itu." Nan Gu tersenyum dan berkata, "Kalau begitu aku akan pergi... aku memiliki banyak hal yang harus diurus. Ketika kau kembali ke Distrik Pusat, bawalah Gadis ini !"
Simon mengehela nafas dan berkata, "Baiklah."
Nan Gu mengangguk dan berpamitan dengan Ibu Simon. Segera dia keluar dan pergi, saat ini hanya ada Simon dan Nancy didalam ruangan.
Suasana sangat hening Simon dengan santai menatap Nancy dan sebaliknya Nancy hanya menundukan kepalanya, dia sangat bingung ingin berbicara tetapi Nancy sama sekali tidak bisa menemukan topik yang bagus.
Alasan Nancy datang kemari sebenarnya hanya ingin memastikan keadaan Simon, tetapi dia terlalu malu untuk berbicara. Simon sendiri hanya diam dan satu tanganya menyangga kepalanya, melihat Nancy yang terlihat bingung.
"Apakah kau ingin pergi ke Kamar Mandi, jangan menahanya terlalu lama. Aku tidak ingin melihatmu buang air besar ditempat ini !" Simon berkata dengan santai.
"Aku tidak ingin ke Kamar Mandi... siapa juga yang ingin buang air besar." Nancy terlihat kesal setelah diejek Simon.
"Lalu... kenapa kau hanya diam, kau lapar ?" Simon sedikit menggodanya.
"Tidak."
"Tidak." Nancy mulai sedikit kesal.
"Mau permen karet ?" Simon menawarkan apa yang sangat disukai oleh Nancy.
"Ya." Nancy menyodorkan tanganya.
"Maaf... aku tidak punya." Simon sebenarnya hanya asal bicara dan tidak memiliki permen karet.
"Kenapa kau menawarkanya kepadaku kalau tidak memilikinya !" Nancy berteriak dengan kesal.
"Aku hanya bercanda." Simon tersenyum dan berkata, "Nona... kau masih sangat muda. Jika kau terlalu sering marah-marah, tidak akan ada Pria yang menginginkanmu !"
"Aku tidak butuh seorang Pria." Nancy berkata dengan kesal.
"Hah... sayang sekali... Nona ini tidak bisa merasakan kenikmatan Dunia dari seorang Pria." Simon berkata dengan santai.
__ADS_1
Nancy wajahnya berubah menjadi merah dan berpikir kalau Simon ini sangat mesum, tetapi dia sama sekali tidak membencinya. Berkat hal ini akhirnya dia menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
Tiba-tiba sebuah tangan memukul kepala Simon dan membuat Nancy tertawa. Simon terlihat sangat kesal dan melihat Ibunya yang sudah ada dibelakangnya.
"Kenikmatan Dunia apa yang kau bicarakan ?" Ibu Simon bertanya dengan marah.
"Hehehe... ini... maksudku jika memiliki pasangan bisa berlibur bersama dan melihat kenikmatan Dunia yang berupa pemandangan Alam, memangnya apa yang kalian pikirkan !" Simon sedikit mencari alasan dan menghindar dari Ibunya.
"Alasan... jika kau menginginkanya... kenapa tidak menikah saja kalian berdua." Ibu Simon menyarankan Anaknya untuk segera menikah.
"Ibu bercanda... aku masih ingin menikmati masa mudaku. Lagi pula aku masih belum cukup umur untuk melakukanya." Simon sedikit tidak siap dengan omong kosong ini.
"Belum cukup Umur ?" Ibu Simon tersenyum dan berkata, "Apakah Seorang Komandan Militer yang berusia 18 tahun bisa dikatakan belum cukup umur ?"
"Bibi... Simon masih memiliki tiga kekasih disampingnya. Jadi dia ingin memanjakan dirinya terlebih dahulu sebelum menikah !" Nancy berkata dengan santai.
"Serius !" Ibu Simon menatap Nancy dan berkata, "Lalu bagaimana denganmu ?"
"Kami..." Sebelum Nancy menjawabnya Simon memotong pembicaraan terlebih dahulu.
"Aku memutuskanya... saat ini aku tidak memiliki hubungan denganya." Simon berkata dengan santai.
Nancy sedikit kesal dengan hal ini, Simon selalu memberikan perlindungan untuk dirinya dan mengakui apa yang tidak pernah dia perbuat untuk menjaga nama baiknya.
"Kenapa ?" Ibu Simon bertanya dengan cemas.
"Tidak... bukan..." Nancy berniat menjelaskan tetapi sekali lagi Simon memotongnya.
"Bukankah Ibu sudah melihatnya sendiri... saat ini dia sudah menjadi Wanita yang gemuk dan jelek. Bagaimana mungkin Anak laki-laki yang tampan, baik hati, dan tidak sombong ini cocok denganya." Simon tersenyum kearah Ibunya.
Ibu Simon menatap Anaknya dan bingung, "Apakah kau buta... bukankah Nancy terlihat sangat cantik dan langsing. Lebiha baik kita mengobati matamu ke dokter."
Simon menatap Nancy dengan serius, "Benarkah... coba kau telanjang dan tunjukan padaku !"
Wajah Nancy berubah menjadi sangat merah dan dia sangat malu. Simon dengan santainya menyuruh dia telanjang, Nancy berpikir kalau Simon terlalu Vulgar.
__ADS_1
Ibu Simon memelototi Anaknya dan terlihat kesal. Dia terus memukuli kepala Simon dengan brutal.