PECUNDANG SEJATI

PECUNDANG SEJATI
Bab 66 - Nostalgia


__ADS_3

Setelah beberapa waktu Ayah Simon datang bersama puluhan teman-temanya. Sebelumnya Simon mengatakan kalau dia akan memberi mereka pekerjaan dan berpikir akan menempatkan mereka di perkebunan miliknya.


Mereka semua tidak keberatan dengan hal ini, yang paling penting untuk mereka saat ini adalah mendapatkan Pekerjaan. Mereka memiliki keluarga dan harus mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.


Simon memberikan Pekerjaan dan Gajinya cukup besar, jadi tidak ada dari mereka yang akan menolaknya.


"Hahaha... Nak Simon... Paman sangat berterimakasih padamu." Semua orang bersyukur dengan hal ini.


"Paman tidak perluh sungkan... Aku akan mengatur tempat tinggal untuk kalian, jadi kalian tidak akan binggung mencari tempat dan tidak akan mengeluarkan Biaya untuk tidur." Simon berkata dengan sungguh-sungguh.


"Kalau begitu Paman hanya bisa berterimakasih." Semua orang berterimakasih dan sedikit iri dengan Ayah Simon.


Anaknya pergi ke Distrik Pusat dan ketika pulang sudah menjadi orang besar. Prestasi seperti ini adalah kebahagian terbesar bagi para Orang Tua.


Simon mengundang mereka semua untuk masuk dan makan bersama. Semua orang tidak keberatan dengan hal itu dan mengobrol dengan santai.


Simon melihat Ayah dan Ibunya tertawa bahagia, dia cukup puas melihat kebahagian mereka dan tidak banyak berkomentar. Setelah selesai makan bersama, satu persatu dari mereka keluar dan kembali kerumah masing-masing.


"Nak... terimakasih karena telah mengulurkan tanganmu dan membantu mereka !" Ayah Simon sangat berterimakasih.


"Apa yang Ayah katakan... itu hanya masalah kecil." Simon tersenyum dan berkata dengan santai, "Aku akan pergi ke Warung dan mencari Kopi, apakah Ayah ingin ikut ?"


"Tidak... Ayah ingin tidur dan beristirahat."


"Aku ikut denganmu." Nancy merasa tidak nyaman kalau Simon pergi dan meninggalkanya bersama kedua Orang Tuanya.


Mereka berdua pergi ke Warung Kakek itu, Nancy cukup mengenal tempat ini karena dekat dengan Sekolahan lamanya dan sering mampir untuk bersantai.


Tempat ini dulunya digunakan Simon untuk berkumpul bersama dengan teman-temanya dan terkadang Simon suka mencari kesempatan untuk merokok ditempat ini.


Guru-Guru sering sekali datang kemari untuk mencari Murid yang membolos pelajaran dan Simon adalah salah satunya. Nancy sedikit bernostalgia dan sangat bahagia waktu itu.


"Kenapa kau senyum-senyum seperti orang gila ?" Simon melihat Nancy yang terlihat senang.

__ADS_1


"Apakah aku tidak boleh tersenyum !" Nancy bertanya dengan kesal.


"Tidak." Simon tersenyum dan berkata, "Senyumu itu membawa bencana... bagaimana kalau ada Pria yang melihatnya. Para Pria akan mengutuku karena berjalan bersama denganmu."


Nancy sedikit senang dan berkata, "Kalau begitu aku hanya akan tersenyum untukmu !"


"Jangan !" Simon menggelengkan kepalanya, "Aku tidak layak menerima berkah semacam itu."


"Kau selalu berkata layak atau tidak layaknya dirimu. Hidupku bukan aturan darimu, aku yang memutuskan apa kau layak atau tidak." Nancy sedikit menyinggung Simon.


Simon sedikit terkejut dengan hal ini, tetapi dia tidak bisa marah. Apa yang dikatakan Nancy memang sebuah kebenaran, jadi dia tidak menyangkalnya.


"Hahaha... baik-baik... terserah kau saja." Simon berkata dengan santai.


Nancy sangat puas dengan tanggapan yang diberikan Simon, dia sangat membenci Simon yang selalu memandang rendah dirinya sendiri ketika berbicara denganya.


Simon masuk kedalam Warung memesan sesuatu, Nancy menunggu diluar dan duduk dengan tenang.


"Oh... Gadis kecil... kau kembali kemari ?" Kakek itu melihat Nancy dan masih mengingatnya.


"Hahaha... kau tidak perluh terlalu sopan kepadaku. Aku sangat sehat dan sepertinya kau sudah tumbuh menjadi Gadis yang cantik." Kakek itu memuji penampilan Nancy yang sekarang.


"Kakek terlalu memuji, aku hanya sedikit lebih tinggi dari terakhir kali datang kemari." Nancy berkata dengan sopan.


Simon yang berada didalam warung sedikit menambahkan, "Sedikit lebih tinggi dan beberapa bagian yang sudah tumbuh besar."


Nancy wajahnya memerah dan malu, Kakek itu tertawa mendengar perkataan Simon yang kurang ajar. Simon keluar dengan santai membawa roti dan 2 cangkir kopi.


Simon melihat tatapan Nancy yang terlihat kesal, "Kenapa... bukankah badanmu yang sekarang bertambah lebih besar. Oh... aku tahu, kau pasti memikirkan sesuatu yang kotor !"


Nancy merasa sangat malu dan mengutuk Simon didalam hatinya. Kakek itu masih tertawa dan berkata, "Hahaha... kalian berdua masih saja tidak berubah dan terlihat akur. Aku bingung kenapa kau bisa mau dengan Anak ini ?"


"Astaga... memangnya apa yang kurang dariku. Aku adalah Pria yang jujur, baik hati dan tidak sombong. Bahkan beberapa orang mengatakan kalau aku adalah Laki-Laki paling tampan di Dunia." Simon sedikit menggoda mereka.

__ADS_1


Nancy berpikir kalau Simon ini tidak tahu malu dan Kakek itu berkata, "Memangnya siapa yang mengatakan hal semacam itu ?"


Simon tersenyum dan berkata, "Tentu saja Orang Tuaku yang mengatakanya."


Nancy dan Kakek itu tertawa, mereka tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Terserah kau saja... aku akan masuk terlebih dahulu, kalian berdua silahkan nikmati waktu kalian." Kakek itu berjalan masuk dan beberapa orang datang untuk membeli sesuatu.


Simon memberikan secangkir kopi kepada Nancy dan mereka meminumnya. Simon menyalakan Rokoknya dan menikmatinya dengan tenang sambil memikirkan Pekerjaanya.


"Hei... apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan ?" Nancy bertanya kepada Simon yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Bukan sesuatu yang spesial... hanya rencana untuk pengembangan Grub Naga miliku." Simon menjawabnya dengan jujur.


"Apakah kau masih ingin mengembangkanya, bukankah saat ini Grub Naga sangat terkenal. Bahkan Kosmetik Blue saja sudah sangat luar biasa." Nancy berkata dengan jujur.


"Hahaha... pemikiranmu masih terlalu sempit. Dunia akan terus berputar, seiring berjalanya waktu hal seperti itu akan dianggap biasa saja. Jika kau hanya memikirkan keuntungan sesaat, maka tidak butuh waktu lama untuk kau menyesalinya." Simon berkata dengan sungguh-sungguh.


Perkembangan Teknologi semakin meningkat setiap tahunya. Walaupun Produk miliknya sangat luar biasa, tetapi dimasa depan pasti akan ada yang melampauinya.


Untuk itulah Simon membuat Pabrik Sejata, hal ini akan bertahan selama puluhan tahun dimasa depan. Jadi dirinya tidak perluh khawatir dengan pendapatanya dimasa depan.


"Yah kau benar." Nancy tersenyum canggung dan berkata, "Bukankah aku contoh yang bagus untuk itu !"


Simon terkejut dan tidak sadar sudah mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan Nancy.


"Maaf... aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu." Simon meminta maaf dengan tulus.


"Tidak apa-apa... aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu." Nancy tahu Simon tidak bermaksud seperti itu.


Tetapi tetap saja kejadian itu seperti sebuah mimpi buruk yang selalu mengahantuinya. Walaupun dia tidak benar-benar berhubungan dengan Cheng dan hanya berpura-pura untuk menyakinkan media.


Penyesalan terbesarnya adalah hal itu, dia memutuskan Simon dan memilih untuk berpisah denganya. Jika dia bisa mengulang waktu, Nancy tidak akan melakukan hal seperti itu dan tetap memilih bersama dengan Simon.

__ADS_1


Tidak peduli dia akan menjadi orang yang kaya atau miskin, asalkan dia bersama dengan Simon maka dirinya tidak akan keberatan untuk hidup sederhana.


__ADS_2