
Pukul tiga pagi Wen Liu membuka matanya dan melihat Simon yang duduk dilantai. Setelah melakukan hal yang melelahkan selama seharian penuh, badanya menjadi sangat lelah.
Wen Liu tidak menyangka stamina Simon sangat luar biasa, perlahan dia menyentuh rambut dari Simon dan bermain denganya.
"Pagi Nona... ada yang bisa aku bantu ?" Simon tersenyum dan memegang tangan Wen Liu.
"Sayangku... kau harus bertanggung jawab, setidaknya ambilkan aku air minum dan pijat tubuhku !" Wen Liu tersenyum dan satu tanganya menopang kepalanya.
Tubuhnya telanjangnya yang hanya ditutupi jaket milik Simon, memancarkan pesonanya sendiri.
Simon tersenyum dan mengambilkan air untuknya. Wen Liu duduk dan meminumnya dengan cepat, meletakan gelasnya dan kembali ke posisi tidur. Saat ini dia terlalu malas untuk bergerak.
"Hei... apa yang kau tunggu, cepat pijat ?" Wen Liu berkata dengan santai.
"Sepertinya kau belum puas dengan hal yang baru kita lakukan sebelumnya !" Simon tersenyum penuh arti.
Simon perlahan mengangkat Wen Liu dan menempatkanya dalam posisi yang cukup canggung. Saat ini Wen Liu berada dipangkuanya, tubuhnya yang terlihat indah bersentuhan dengan Simon.
"Aku sudah lelah... jadi lepaskan aku !" Wen Liu sedikit memberontak.
"Sekali lagi... bukankah kau sangat menyukai hal ini." Simon berkata dengan santai, tanganya mulai meraba seluruh tubuh Wen Liu.
"Sekali lagi dan selesai." Wen Liu menyetujui permintaan Simon.
Simon menciumnya dengan lembut dan sekali lagi mereka bercinta seperti sepasang kekasih.
Perlahan Matahari mulai terbit dan mereka berdua sudah membersihkan diri mereka masing-masing.
Simon menatap Wen Liu dan berkata, "Bisakah kau mengantarku kembali ?"
"Dimana Mobilmu ?" Wen Liu bertanya kepada Simon.
"Aku tidak membawanya." Simon tersenyum dan berkata dengan santai.
"Baiklah." Wen Liu berdiri dan mengantar Simon kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu perjalanan Simon menunjukan arah rumahnya dan Wen Liu sangat terkejut milihat Simon tinggal di Villa nomer satu dipuncak.
"Ini tempatmu ?" Wen Liu bertanya dengan penasaran.
"Tentu saja... apa kau pikir ini rumahmu." Simon sedikit menggoda Wen Liu.
"Ehm..." Wen Liu sedikit berpikir dan tersenyum, "Sudah kuputuskan... besok aku akan memindahkan barangku dan tinggal bersama denganmu !"
Wajah Simon berubah menjadi pucat dan berkata, "Bukankah ini sedikit kelewatan, aku berencana membawa Orang Tuaku kemari. Apa yang mereka katakan jika aku tinggal bersama dengan seorang Gadis !"
"Sayangku... kau tidak perluh terlalu banyak berfikir. Nikahi aku dan katakan kau tinggal bersama dengan istrimu, bukankah itu mudah." Wen Liu tersenyum dan berkata, "Lagi pula tidak baik untuk mereka jika terkena angin dingin ditempat ini, kau hanya perluh meminta kepada Tuan Weng dan dia akan memberikan Mansion yang bagus untukmu !"
Simon mengerutkan keningnya dan berkata dengan pasrah, "Terserah kau saja !"
"Hehehe... Terimakasih." Wen Liu mendekatkan wajahnya dan mencium Simon dengan nakal.
Simon turun dari mobil dan Wen Liu segera pergi dari tempat itu. Saat ini Simon merasa dirinya dipermainkan oleh Wen Liu dan berjanji akan membalasnya.
"Hahaha... Lain kali aku tidak akan melepaskanmu !" Simon tertawa dengan gila dan tidak sabar untuk memberi Wen Liu pelajaran.
Simon segera keluar dan menaiki mobilnya, segera dia keluar untuk pergi menemui Gilan yang sudah mengumpulkan semua anggota.
Simon pergi ketempat yang lumayan terpencil, dia harus berkendara kesebuah bukit yang merupakan Markas dari Grup yang baru-baru ini ditundukan.
Sumon melihat sebuah rumah yang cukup besar dan melihat beberapa orang kekar yang menjaganya. Salah seorang menghentikanya dan berkata, "Apa tujuanmu datang kemari ?"
"Katakan kepada Gilan untuk datang menemuiku." Simon berkata dengan tegas.
"Baik." Salah seorang itu masuk dan berniat menyampaikan pesan Simon.
Setelah beberapa saat Gilan berlari kearahnya, Gilan melihat kearah penjaga dan berkata, "Buka pintunya dan biarkan Bos masuk !"
"Baik." Penjaga itu membukakan Gerbang dan Simon masuk memarkirkan mobilnya.
"Bos." Gilan memberi hormat kepada Simon.
__ADS_1
"Bagaimana dituasinya ?" Simon bertanya dengan penasaran.
Sebelumnya Gilan menghubungi Simon, karena beberapa Kelompok ingin bertemu denganya secara langsung. Kemungkinan akan terjadi sedikit hal diluar dugaan, tetapi Simon tidak terlalu peduli. Didepan kekuatan Absolut mereka semua tidak akan bisa bertindak.
"Seperti biasa... mungkin akan ada sedikit hal yang merepotkan Bos !" Gilan menjawabnya dengan santai.
"Serahkan saja padaku." Simon tersenyum dan tidak sabar untuk segera melihat wajah dari orang-orang tua itu.
Gilan dan Simon memasuki sebuah ruangan dan didalamnya terdapat 50 orang yang merupakan petarung elit. ditengah-tengah terdapat meja dan duduk 3 orang yang memandang Gilan.
"Apakah Anak ini Komandan Naga yang diberita waktu itu !" Salah seorang berkata dengan santai.
Simon mengabaikanya dan duduk dengan santai, Gilan berdiri dibelakangnya dengan percaya diri.
"Hahaha... Anak muda memang memiliki gayanya !" Salah seorang Pria Tua tertawa.
Simon tersenyum dan berkata, "Lupakan... aku disini untuk mendengarkan keputusan kalian !"
Tiga Pria Tua itu adalah pemimpin dari masing-masing Geng yang paling berpengaruh, tetapi Simon tidak memberi wajah kepada mereka dan langsung ke inti masalahnya. Mereka bertiga bernama Joker, Feng, dan Tang.
"Apa kau pikir kau layak menjadi Pemimpin ?" Joker menatap Simon dengan dingin dan dua lainya mengangguk setuju.
"Yah... jika kalian tidak ingin bergabung juga tidak masalah, kita hanya perluh saling membunuh setelahnya." Simon tersenyum seperti Iblis.
"Hahaha... kau hanya memiliki sedikit pencapaian. Apa kau pikir bisa keluar dari sini hidup-hidup !" Joker menggertak Simon.
Tempat ini adalah wilayahnya jadi tidak ada alasan baginya untuk takut. Banyak Anak buahnya yang menunggu diluar untuk penyergapan dan membantai mereka semua.
"Joker... apa maksudmu ?" Teriak Feng dan Tang dengan marah.
"Hahaha... kalian Orang Tua bodoh, ketika kalian berani datang kemari apa kalian pikir bisa kembali hidup-hidup ?" Joker tertawa dengan gila.
Simon masih tetap tenang dan tidak khawatir sama sekali. Sebelumnya dia sudah menebak hal ini, tetapi dia tidak menyangka kalau Joker akan seserakah ini dan berniat membunuh mereka semua.
Feng, Tang dan Gilan sangat terkejut dengan hal ini, sebelumnya mereka sudah berjanji untuk tidak bertarung dan memutuskan hanya berdiskusi.
__ADS_1
Tetapi mereka tidak menyangka Joker akan mempersiapkan rencana ini dan berniat membunuh mereka semua.