PECUNDANG SEJATI

PECUNDANG SEJATI
Bab 60 - Amarah Yang Tidak Bisa Ditahan


__ADS_3

"Hahaha... maaf-maaf... aku hanya bercanda. Kalian tidak perluh menganggapnya serius, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian berdua !" Simon berdiri dan berjalan keluar.


"Aku akan membantu." Zella berdiri dan merapikan dirinya.


"Tidak perluh." Simon tersenyum dan berkata, "Lebih baik kau membersihkan dirimu... Ini tidak akan memakan waktu yang lama !"


Zella mengangguk dengan patuh dan pergi mencari handuknya. Simon meninggalkan mereka berdua dan pergi ke dapur, mengambil sisa daging tadi malam dan memasaknya.


Simon sudah terbiasa hidup sendirian, jika hanya sebuah makanan sederhana. Simon masih mampu untuk membuat sesuatu yang enak.


Lagi pula ini hanya sebuah daging, tidak terlalu rumit untuk memasaknya. Setelah selesai memasaknya untuk mereka, Simon meletakan semua makananya di meja makan.


Setelah beberapa saat Zhen Qiu dan Zella turun dan bergabung bersama Simon. Mereka memakanya dengan lahap dan tidak memiliki pendapat dengan rasanya.


"Apakah kau akan pergi ?" Zhen Qiu bertanya kepada Simon.


"Ya... Aku ingin mengecek beberapa Pekerjaan, mungkin sore aku akan kembali." Simon ingin membuat beberapa pengaturan.


"Kalau begitu aku akan pergi berbelanja dengan Zella dan membeli beberapa barang keperluanya !" Zhen Qiu dan Zella ingin pergi berbelanja.


"Lakukanlah... gunakan saja Kartu miliku dan beli apapun yang kamu mau." Simon memberikan salah satu kartu kreditnya.


"Terimakasih." Zella mengambil Kartu Kredit milik Simon dan berterimakasih.


Setelah mereka selesai makan Zhen Qiu dan Zella berangkat, Simon sendiri tidak keberatan mereka ingin berjalan-jalan. Segera dia menaiki mobilnya dan keluar.


Simon ingin melihat pembicaraan Wen Liu dengan Cheng dan Cai Ru tentang Pabrik Senjata yang akan mereka buat.


Mungkin Wen Liu membutuhkan sebuah ide darinya. Simon tidak meragukan Wen Liu hanya saja ini sesuatu yang baru untuknya, jadi Simon tidak bisa menggampangkanya.


Simon sampai di Perusahaanya dan masuk ke dalam. Saat ini Wen Liu berada diruang rapat bersama dengan anggota eksekutif dari Perusahaan, dengan santai Simon masuk kedalam ruang rapat dan duduk dengan santai.


Semua orang memandang Simon dan memberi hormat dengan sopan. Walaupun Simon jarang berada di Perusahaan, tetapi Wen Liu sudah memberikan fotonya agar mereka tidak bersikap lancang didepanya.


"Terimakasih atas Kerja Keras kalian dan tidak perluh terlalu sopan. Duduklah !" Simon berkata dengan santai.


"Baik Ketua." Mereka semua duduk dengan patuh.

__ADS_1


"Sayangku... bagaimana menurutmu tentang desain tempat yang dibuat Arsitek milik kita ?" Wen Liu memperlihatkan sebuah gambar didepan dan itu merupaka desain bangunan yang akan digunakan untuk membangun Pabrik Senjata.


"Kita tidak memerluhkan semua itu." Simon menggelengkan kepalanya.


Arsitek itu menunduk dan sedikit kecewa karena Simon tidak menyukai gambarnya. Wen Liu berkata, "Sayangku... setidaknya kau harus menghargai karya Orang Lain !"


"Aku belum selesai berbicara !" Simon berkata dengan santai, "Aku mendapatkan hadiah sebuah Pulau dan disana ada sebuah Gedung Utama. Yang kita perluhkan hanya beberapa Pabrik dan landasan Pesawat, mungkin beberapa tempat Olahraga juga tidak masalah."


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi malam." Wen Liu sedikit kesal, tetapi juga terkejut mendengar hal ini.


"Kau tidak bertanya." Simon mengangkat bahunya dan merasa tidak bersalah.


"Ugh." Wen Liu sedikit kesal dan membuang mukanya.


Simon menatap Arsitek itu dan berkata, "Bisakah kau membantuku menggambar rancanganya ?"


"Siap Ketua." Arsitek itu menjawab dengan semangat.


"Kau lihatlah dulu Pulaunya dan pikirkan lokasi yang bagus." Simon mengambil alih rapat dan menjelaskan semuanya dan menunjuk Rey sebagai Pengurusnya.


Simon tersenyum dan mengunci pintunya, perlahan dia mendekati Wen Liu dan memeluknya. Wen Liu mencoba melepaskan pelukan dan Simon tidak membiarkanya.


"Apakah kau marah ?" Simon tersenyum dan berkata dengan lembut.


"Menurutmu !" Wen Liu berkata dengan dingin.


"Maafkan aku." Simon berkata dengan santai.


Wen Liu sedikit tersenyum dan berkata, "Kau harus membayar untuk itu."


Simon tersenyum dan menggendong Wen Liu, duduk disofa dan mulai bercumbu denganya untuk waktu yang lama. Mereka berdua sedikit menikmati kemesraanya dengan melihat pemandangan dari atas ketinggian.


Walaupun ini adalah hal yang biasa, tetapi ketika bersama dengan orang yang mereka sayangi terasa sangat menyenangkan. Wen Liu cukup menyukai ketenangan seperti ini dan merasa sangat rileks.


*Kring... Kring...*


Ponsel Simon berbunyi menyingkirkan Wen Liu sebentar dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo... Simon... Hiks... Hiks..." Ibu Simon menangis tersedu-sedu.


"Halo... Ibu... ada apa denganmu ?" Simon bertanya dengan panik.


"Ayahmu mengalami kecelakaan dan masuk Rumah Sakit." Ibu Simon berkata dengan sedih.


Wajah Simon berubah menjadi pucat dan berkata dengan panik, "Ibu tenanglah... aku akan segera kembali !"


Simon menutup telponya dan mengenakan jaketnya. Wen Liu sedikit bingung dan bertanya, "Ada apa... kenapa kau terlihat gelisah ?"


"Tidak apa-apa. Katakan kepada mereka berdua kalau aku akan bertemu Orang Tuaku dan tidak akan kembali malam ini." Simon buru-buru pergi meninggalkan ruangan dan turun kebawah.


Wen Liu menatap kepergian Simon dan berfikir Keluarganya mengalami sedikit masalah. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Simon dan menuruti perkataanya.


Simon menaikinya dan segera berangkat kembali ke rumahnya. Butuh waktu tiga jam untuk sampai, Simon sangat terkejut dengan hal ini dan mulai menebak apa yang terjadi sebenarnya.


Waktu sore hari dan Simon sudah sampai diRumah Sakit, dia masuk kedalam Ruangan dan melihat Ayah dan Ibunya.


"Nak... kau kembali !" Ibu Simon mengusap air matanya.


"Yah... Putramu ini kembali." Simon menangis dan melihat Ayahnya yang terbaring pingsan ditempat tidur.


Kaki kananya saat ini diperban menurut penglihatan Simon kaki kananya patah dan sedikit memar dibadanya.


"Bu... ceritakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi ?" Simon memeluk Ibunya dan menupuk pundaknya.


"Aku tidak tahu dengan pasti... beberapa orang melihat Ayahmu dicegat beberapa Preman dan dihajar mereka." Ibu Simon berkata dengan jujur.


"Ibu tidak perluh khawatir... Ayah akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa padanya." Simon mencoba menenangkan Ibunya.


Saat ini dia mencoba menahan amarahnya, dengan bantuan dari Sistem mungkin dia bisa memulihkan kondisi Ayahnya. Tetapi Simon tidak akan terima jika keluarganya diperlakukan seperti ini.


Didalam hatinya dia bersumpah akan memotong kedua kaki pelakunya. Ayah dan Ibunya adalah orang baik dan tidak pernah membenci orang lain, Simon tidak akan terima jika mereka diperlakukan tidak adil.


Semua usahanya akan berakhir sia-sia jika dia tidak bisa menebus semua kesalahnya dimasa lalu. Simon melepaskan pelukanya dan berjalan kekamar mandi, melihat wajahnya dicermin yang terlihat sangat marah.


"Hehehe... Kalian tunggu saja... aku pasti akan mencari keberadaan kalian." Simon tersenyum seperti seorang Iblis.

__ADS_1


__ADS_2