
"Nak... tadi seseorang datang kemari dan dia mengaku sebagai Teman satu Kelas denganmu. Dia memberikan undangan Reuni Kelas dan memintamu untuk datang !" Ibu memberikan sebuah Undangan untuk Simon.
"Baiklah." Simon sendiri sudah pernah mengalaminya dan dulu dia dipermalukan oleh teman-teman satu kelasnya.
Memori itu tidak akan pernah hilang dari ingatanya. Setiap wajah yang menertawakan dan menghinanya masih sangat jelas sampai saat ini.
Jika mereka ingin bermain Simon tidak akan ragu untuk menemani mereka. Pada saat itu sebenarnya Simon tidak ingin datang, jika bukan karena Nancy yang datang kerumah dan mengajaknya Simon tidak akan pernah datang.
Tetapi sekarang berbeda dirinya yang sekarang tidak akan bisa dicapai oleh orang-orang seperti mereka. Biarkan mereka sombong dan Simon akan membalas mereka dengan perlahan.
Simon pergi kekamarnya dan beristirahat dengan baik. Siang hari dia sudah mendapat panggilan dari Tang, memberikan kabar kalau dia sudah menyelesaikan tugas yang Simon berikan dan menunggu Simon di Bar miliknya.
Segera Simon keluar dan melihat Ayahnya, "Ayah... aku akan pergi keluar untuk menyapa teman-temanku. Mungkin aku akan pulang nanti malam atau besok pagi."
"Apa yang ingin kau lakukan ?" Ayah Simon bertanya dengan penasaran.
"Biasa... Anak muda akan keluar dan makan-makan." Simon berkata dengan santai.
"Baiklah... Jangan lupa belikan untuk kami juga." Ayah Simon juga tertarik dengan makanan enak.
"Oke." Simon pergi keluar, segera dia berangkat menuju Bar milik Tang.
Setelah beberapa waktu Simon sampai ditempat Tang dan beberapa bawahanya menyapa Simon.
"Bos sudah menunggu Tuan... saya akan mengantar Anda !" Anak Buah itu berbicara dengan sopan.
Simon mengangguk dengan pelan dan masuk kedalam Bar. Tempat ini sangat besar dan ramai, bahkan waktu siang masih sangat banyak orang yang menari dan minum.
Anak Buah Tang menaiki tangga dan menunjukan sebuah Ruangan kepada Simon.
Simon dengan santai masuk melihat 6 orang berbaris dengan rapi dan banyak wanita didalam. Tang melihat Simon masuk dan memberi hormat.
__ADS_1
"Bos !" Tang menunduk dengan sopan.
Semua Wanita itu terkejut melihat Pria Tua yang sangat sombong dan mendominasi seperti Tang menundukan kepalanya. Yang lebih mengejutkan mereka adalah Pria itu masih terlihat sangat muda dan Tang memanggilnya dengan sebutan Bos.
Simon mengangkat tanganya dan duduk disamping disofa dengan santai. Tang memelototi salah satu Wanita dan memintanya untuk melayani Simon dengan baik.
Wanita itu menuangkan segelas anggur untuk Simon dan sedikit manja padanya, tetapi Simon tidak memperdulikanya dan menatap 6 orang itu dengan dingin.
"Siapa Mandor dari Pabrik itu ?" Simon berkata dengan dingin.
"Saya." Salah seorang Pria dengan umur 25 tahun maju dan sedikit takut.
"Apakah kau tahu kenapa kau berada disini ?" Simon menatapnya dengan dingin.
Mandor itu menunduk dan berkata denga takut, "Saya tidak tahu... apakah saya sudah membuat sebuah kesalahan !"
"Hahaha... Kesalahan !" Simon tertawa dengan gila, "Memangnya kesalahan apa yang kalian lakukan ?"
"Tidak ingat... aku akan membantumu mengingatnya !" Simon menatap mereka dan berkata, "Patahkan kakimu dan serahkan semua uangmu."
Mandor dan Preman dibelakangnya mulai mengingat sesuatu dan wajahnya berubah menjadi pucat. Tetapi sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, sebuah Gelas kaca melesat kearah wajahnya.
*Pyar.*
Gelas itu mengenai wajahnya dengan keras dan pecah. Darah menetes ditanah dan semua Wanita berteriak dengan ketakutan, tetapi Simon dengan dingin menyuruh mereka untuk tetap diam.
Tang sendiri sangat terkejut dengan hal ini, dia sangat mengerti tentang tempramen Simon yang sebenarnya. Baru pertama kali dia melihat Simon sangat marah, bahkan ketika dia bertarung melawan Joker. Simon hanya tersenyum dan membantai seperti Iblis.
Mereka yang merupakan orang yang tidak layak menjadi lawan berani membuat Simon marah, Tang sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan sampai membuat Simon seperti ini.
Keheningan terjadi didalam ruangan dan Simon menatap mereka dengan marah. Mandor dan Preman-Preman merasa takut dengan hal ini.
__ADS_1
"Pamanku adalah Seorang Komisaris dari Kepolisian di Distrik Timur. Kau berani melakukan hal ini kepadaku !" Mandor itu berteriak dengan marah dan berharap Simon akan melepaskanya.
"Oh... panggil dia kesini sekarang... aku ingin melihat apa yang bisa Pamanmu itu lakukan !" Simon tersenyum dan memandang Mandor itu dengan jijik.
Tang ingin tertawa setelah mendengar Mandor itu ingin memanggil Komisaris. Bahkan jika dia memanggil Pemimpin Kepolisian, mereka tidak akan berkutik didepan Simon yang merupakan seorang Komandan Naga dan Kaisar Naga Dunia Bawah.
Mandor itu mengambil Ponselnya dan menelpon Pamanya. Senyum terlihat jelas diwajahnya dan berteriak kearah Simon.
"Kalau kau berani tunggu disini... Pamanku akan segera datang dan menangkap kalian." Mandor itu berkata dengan percaya diri.
"Baiklah." Simon berdiri dan berjalan kearah Mandor itu, "Mari kita buat lebih menyenangkan, aku ingin tahu apa reaksi dari Pamanmu ketika melihat dirimu yang cacat."
"Apa maksudmu...Argh...."
Simon dengan keras menginjak lutut dari Mandor itu dan mematahkan kakinya. Simon bergerak dengan cepat dan mematahkan semua kaki Preman yang ada dibelakangnya.
Mereka semua terlihat menyedihkan dan erangan kesakitan terdengar sangat keras. Semua Wanita dan Anak Buah dari Tang memandang mereka berenam dengan kasihan.
Simon mengambil Ponselnya dan menelpon Pemimpin Xie untuk mengurus sisanya. Pemimpin Xie meminta orang untuk datang dan mengurus sisanya, Simon kembali duduk dan meminum minumanya.
"Bos... kalau boleh tahu... sebenarnya apa yang mereka lakukan kepada Bos ?" Tang memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Mereka menghajar Ayahku dan mematahkan satu kakinya. Bukan hanya itu bahkan Ayahku yang bekerja ditempatnya tidak diberikan bayaran dan Bajingan itu menyimpan semua uang untuk dirinya sendiri. Uang bukan masalah untuku, tetapi ketika mereka berani menyentuh Keluargaku..." Simon berkata dengan marah.
Tang dan yang lainya mengerti kenapa Simon melakukan hal ini. Sebenarnya ini masih sangat terlalu baik, jika itu dirinya Tang tidak akan ragu untuk membunuhnya.
"Bos... bukan lebih baik untuk membunuh mereka dan membuangnya dari pada kita harus bersusah payah mengurusi orang-orang tidak berguna dibelakang mereka." Tang berkata dengan jujur.
"Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan membunuh mereka... aku lebih suka membuat mereka merasakan apa yang dirasakan oleh Ayahku. Biarkan mereka menjadi cacat dan tidak berguna." Simon tersenyum seperti Iblis.
Tang mengangguk dan tidak membantah perkataan Simon. Metode yang dilakukan Simon bahkan lebih kejam dari membunuh mereka semua.
__ADS_1
Jika mereka menjadi cacat dan tidak berguna, perlahan-lahan mereka akan merasakan penderitaan dan keputusasaan yang mengguncang Jiwanya. Lebih baik mati daripada harus menderita.