PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
PEREMPUAN MENYEBALKAN


__ADS_3

Setelah mengganti semuanya Evan langsung keluar ruangan tersebut meninggalkan Aluna yang matanya masih mengekori Evan hingga Evan hilang dari balik pintu kamarnya.


Evan butuh menenangkan pikirannya setelah menghadapi tingkah anak bosnya. Ia pergi menuju restoran hotel bagian dapur. Salah satu koki di sana merupakan seorang pria paruh baya yang sangat cakap dan juga asyik jika di ajak mengobrol. Evan suka menghabiskan waktunya bersama pria paruh baya yang sangat berpengalaman itu.


Evan sampai di dapur, bau wangi masakan tercium sangat menyengat. Tampak semua orang tengah sibuk menyiapkan menu makanan pesanan pelanggan hotel ataupun pengunjung lainnya.


Dia menatap kedatangan Evan di sela kesibukannya. Evan yang baru datang itu langsung berdiri di dekatnya seraya membanting sebuah map di meja besi tersebut. Ada senyum yang terpatri di bibirnya saat melihat kedatangan Evan dengan wajah di tekuk itu. Dia tahu pasti Evan tengah kesal, dia datang menghampiri Evan dengan membawa menu makanan yang sudah siap, seraya mengambil sebuah catatan pesanan yang menggantung tidak jauh dari Evan. Seorang waiters datang mengambil makanan yang baru selesai di masak itu.


Tubuh koki terlihat sudah berkeringat, mungkin karena suasana yang panas di ruang tersebut karena hawa panas dari masakannya. menatap Evan dan penasaran kenapa dia terlihat begitu kesal.


"Ada apa, bos!" sapanya akrab pada Evan yang baru datang seraya tetap fokus dengan kesibukan nya memasak untuk para tamu hotel.


"Dapat tamu si ratu kerajaan Inggris," ucap Evan sambil menenggak minumannya.


"Hahaha! Siapa? Emang ratu Elizabeth datang kesini?!" tanya si koki lagi sambil santai seraya tertawa.


"Anak pak Richard, dia mintak ganti semua peralatan kamarnya cuman karena perkara nggak mau pakek bekas. Merepotkan" lenguh Evan terlihat sangat kesal. Si koki pun mengelus pundak Evan sambil tersenyum.


"Udah, Jangan diambil hati. Paling dia di sini semingguan. Kamu contoh donk Andri, dia semangat buat menyambut tamu ratu kita itu. Semua hal di siapkan nya tanpa banyak mengeluh. Jadi, semua pekerjaan nya pun terlihat ringan dan menyenangkan. Kamu pasti bisa juga," semangat si koki lagi sambil terkekeh, Evan menatap koki tersebut seraya tertawa.


"Saya nggak punya waktu dan tenaga buat ngurusin masalah tolol kayak dia. Buang-buang waktu, tenaga dan uang. Si Andri itu habisin uang hotel banyak cuman buat penyambutan gila nya tadi. Kalo bukan atasan sudah saya hajar juga dia," ucap Evan kesal. Si koki hanya terkekeh.


Saat sedang Asyik mengobrol mereka di kagetkan panggilan telepon dari pak Ari General Manager mereka.


"Ke kamar Aluna sekarang kamu!" perintah pak Ari lalu mematikan teleponnya.


"Mau apa lagi sih dia?" gumam Evan seraya bangkit dari kursinya. "Duluan, ya!" ucap Evan pamit pada si koki. Si koki mengangguk sambil tersenyum, Evanpun berlalu.

__ADS_1


Dia berjalan menuju kamar hotel dengan langkah cepat dan buru-buru. Saat sampai di kamar Aluna dia membuka pintu itu, Aluna menatap kedatangan Evan, tampang keren dan pemberontaknya membuat Aluna mulai tertarik dengannya.


"Ada apa pak?" tanya Evan saat sudah sampai.


"Kamu temani nona Aluna, ya! Dia mau keliling Bali katanya, dia tidak punya teman untuk pergi," ucap pak Ari.


"Saya tidak bisa pak, saya banyak kerjaan!" ucap Evan tegas menolak, wanita ini benar-benar menyebalkan bagi Evan dia bersikap seenaknya, seolah semua orang yang ada di hotel ini adalah kacung pribadinya.


"Pak Richard yang nelpon tadi, beliau meminta langsung," ucap pak Ari.


"Lebih baik Andri saja pak. Dia pasti suka," jawab Evan seenaknya seraya menatap Aluna yang tidak terima.


"Nggak! Perjaka tua itu resek," ucap Aluna tidak suka.


"Saya bisa lebih parah dari dia," ancam Evan dengan tatapan nyalang.


"Kalo lo macam-macam gue laporin sama daddy!" ancam Aluna balik dengan gayanya yang seperti biasa, ayahnya selalu jadi tamengnya lagi "Andri itu resek. Gue bisa malu kalo pergi sama dia. Sama lo aja seenggaknya lo nggak malu-maluin kayak si Andri," ucap Aluna sambil tersenyum yang membuat Evan semakin kesal dengan tingkah Aluna.


"Gue mau lo. Lo galak, jadi gue bisa ngerasa kayak punya Helder buat jaga gue. Rasanya lebih aman. Ayok, cepetan kita pergi sekarang!" ucap Aluna seraya menenteng tas kecilnya yang harganya pastinya tidak sekecil itu.


"Sudah ikuti saja. Setidaknya kamu bisa liburan. Iya, kan?!" ucap Pak Ari mencoba membujuk Evan. "kerjaan kamu tidak usah di pikirkan, nanti banyak yang bisa Handel," ucap pak Ari meyakinkan. Evan menarik napas dengan kasar, walaupun akhirnya dia pergi dengan langkah malasnya. Jika tidak mengingat ini demi pekerjaan, mungkin sudah Evan lempar jauh gadis ini kelaut agar tidak lagi menyusahkan banyak orang. Apa lagi dia di sebut sebagai anjing penjaga oleh Aluna, itu membuat Evan semakin kesal saja dibuatnya.


***


Evan berjalan mengekori langkah Aluna dari belakang. Evan menatap tampilan Aluna, heels nya yang super tinggi itu terlihat menyiksa di mata Evan. Tas kecil dengan tali kecil membuat nya sering melorot dari bahu mulus Aluna. 'Apa dia nggak bosan narik talinya mulu dari tadi? Kuku palsu yang panjang itu apa dia bisa bebas gerak dengan kuku kayak gitu? Bulu mata palsu setebal itu apa nggak susah buat bukak mata? heh, 80% namanya ini penyiksaan diri.' batin Evan seraya tersenyum.


Aluna melirik kearah Evan yang tiba-tiba terdengar seperti tertawa kecil, Evan langsung mengalihkan pandangannya tepat saat Aluna menatapnya, yang mana ia tengah berdiri di belakang Aluna. Tidak lama pintu lift pun terbuka, mereka segera keluar menuju salah satu mobil Lamborgini milik Aluna. Evan di tugaskan menyetir mobil mewah tersebut. Mereka masuk mobil itu dan berlalu meninggalkan hotel.

__ADS_1


Andri hanya bisa menatap dengan tatapan cemburu kearah Evan. Seharusnya Aluna memilih dia bukan Evan. Karena dia lah yang sudah sibuk mengurus ini itunya untuk kedatangan Aluna.


"Saya yang kerja keras, malah cecunguk itu yang panen hasilnya, sialan!" rutuk Andri lirih. Dia mendengus kesal sambil terus menatap mobil tersebut berlalu hingga keluar area hotel.


Evan dan Aluna terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi. Yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik jelita. Memikirkan itu membuat Andri semakin kesal. Ingin rasanya dia berteriak, tapi apa lah daya. Padahal dia sudah lama mengincar Aluna, dia jatuh cinta kepada Aluna sejak pandangan pertamanya, walau Aluna tidak pernah meliriknya selama ini.


...***...


Aluna menatap Evan yang tengah menyetir dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi sedang menekan keningnya yang terasa pusing dengan tingkah Aluna. Aluna kagum dengan wajah keren dan tampan Evan, seandainya laki-laki ini sedikit lebih ramah pasti jauh lebih menarik. Sikap dingin dan galaknya membuat Aluna menjadi kesal padanya. Tapi dia tetap saja terlihat tampan walau pun dia jutek. 'nyebelin, tapi bikin penasaran!' batin Aluna.


Sedangkan Evan terus menyetir, mengantar tuan putri kemanapun dia suka.


...***...


Evan Benar-benar merasa seperti kacung gadis ini. Harga dirinya terasa di robek oleh Aluna. Membawa tas belanjaannya yang seabrek, berjalan hampir 2 jam lebih dan masih belum selesai juga dia belanjanya.


Evan terus mengikutinya dengan tatapan tajam dan tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya sedari tadi, tapi batinnya selalu mengumpat Aluna sepanjang perjalanan acara belanja mereka.


'Apa yang pak Richard pikirkan mendidik anaknya sebegitu buruk, apa dia nggak bisa lihat tingkah anaknya yang nyebelin ini. Apa lagi cara berpakaiannya udah mirip nggak pakek baju. rok pendek sampe nggak nutupin separuh pahanya sekalipun, bajunya yang kalo gerak dikit aja langsung keliatan perut. Lebih parah dari pakaian manusia pedalaman hutan. Dan pakaian yang kekurangan bahan ini pasti nggak murah, yang jual gila yang beli nggak kalah gilanya' Segala macam pikiran liar Evan bergerilya di benaknya sambil terus mengekori langkah Aluna.


"Laper nggak!?" tanya Aluna seraya menatap Evan yang sedang berjalan di belakangnya. Evan hanya diam, dia malas membalas ucapan Aluna. Dia malas terlibat obrolan dengan Aluna.


Tanpa menunggu jawaban dari Evan, Aluna segera berjalan menuju mobil mereka, Evan pun bernafas lega karena akhirnya mereka pulang juga.


"Kita ke kafe dekat pantai kuta ya. Gue sekalian mau nikmatin sunset." Ucapnya, membuat Evan membulatkan matanya tidak percaya, setelah jalan seharian ternyata masih belum selesai. 'ya tuhan sampai kapan lagi ini.' Keluh Evan membatin.


Dia malas berdebat, mereka segera menuju kafe yang terdekat dengan pantai Kuta. Disana Aluna memesan makanan, Evan tidak mau memesan apapun. Dia hanya meminum minumannya saja. Agar Aluna bisa mempercepat makannya, jika dia ikutan makan tentu itu akan memperlambat waktu makannya. Dia sudah tidak tahan ingin pulang dan mandi.

__ADS_1


Aluna terlihat makan dengan santai, Evan kesal dengan gaya makan Aluna yang seperti sengaja di perlambatnya. dia melirik sekilas lalu kembali melempar pandangannya ke laut yang tampak jelas dari kafe tersebut.


BERSAMBUNG...


__ADS_2