
Setelah selesai bicara dengan Soni, Evan pun segera pamit untuk pulang. Saat perjalanan pulang Evan bertemu Dodi dan Ari. Evan pun menghampirinya untuk menyapanya sebentar.
Mereka menyambut Evan dengan senyuman yg sumringah. Melihat rekan mereka sudah sukses dan sangat berkharisma dengan stelan jas mahalnya itu, membuat mereka ikut merasa bangga.
"Hey ... Apa kabar kalian?!" sapa Evan.
"Weisss... Dah jadi bos nih kayaknya. Di pecat jadi karyawan kontrak, dia malah jadi direktur utama sekarang," canda Ari.
"Nggak lah. Ini gantiin pak Richard sementara. Kebetulan beliau lagi ke Bali cek hotelnya di sana, jadi gue gantiin dia hari ini," terang Evan merendah.
"Hebat, Van. Lo pantes, kok. Orang pinter kek lo emang ini jabatan nya yang pas," puji Dodi. Evan hanya tersenyum mendengar pujian Dodi.
"Eh... Buru-buru, nih. Ada klien dari Jepang lagi. Ini klien agak ribet. Telat 5 menit kita, dia langsung pulang," ucap Evan buru-buru.
"Kerja sama kompeni. Emang kayak gitu lah," seru Dodi.
"Emang Jepang kompeni. Bukannya Belanda ya Kompeni," celetuk Ari bingung.
"Udah. Sama-sama penjajah mereka berdua. Jadi sama-sama Kompeni," seloroh Dodi seraya terkekeh.
Setelah berpamitan dengan Dodi dan Ari, Evan segera menyusul stafnya yang lain ke mobil. Evan di antar oleh ayah Soni dan Soni langsung saat pulang. Mereka memberi penghormatan terakhir sebelum mereka pulang.
"Dia anak yang baik, ya," puji ayah Soni.
"Iya, pi. Dia itu orang yang paling tulus yang pernah Soni temuin," Gumam Soni dengan senyum yang hangat, menggambarkan sudah tidak ada permasalahan apa-apa lagi antara Evan dan Soni mulai sekarang.
***
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam, Evan merasa sangat lelah. Jam segini pekerjaannya baru selesai. Karena di tinggal Richard, Evan harus menyelesaikan semuanya sendirian. Hingga malam tiba, baru semua rampung.
Hans memperhatikan kegigihan Evan dalam bekerja, pantas lah kalau Richard memilih dia sebagai pengganti nya. Ternyata Evan orang yang berkualitas. Mungkin ini juga karena pengalaman Evan yang sering ikut dosen nya waktu di Oxford, membuat Evan paham dengan dunia kerja lebih cepat. Memang waktu kuliah S2 di Oxford, Evan sering ikut dosennya ke acara-acara penting. Mereka banyak yang menyukai Evan, karena Evan anak yang pandai dan mau belajar.
Setelah semua selesai Evan bersiap Akan pulang. Dia membereskan semuanya dan segera pergi untuk beristirahat lagi.
***
__ADS_1
Saat pulang Evan melewati toko roti Tari yang masih buka. Tiba-tiba dia ingin mencoba roti buatan toko nya itu. Saat dia memakannya di hari pembukaan toko nya itu, terasa cukup lezat. Evan pun segera mencari tempat parkir.
Setelah memarkirkan mobilnya, Evan segera memilih roti yang dia inginkan. Tari melihat kedatangan Evan, dia segera menghampiri Evan.
"Eh, Evan. Mau pesen roti?!" tanya Tari.
"Iya. Tadi kebetulan lewat, liat toko kamu masih bukak. Makanya aku kesini," terang Evan.
"Ooo, Yaudah. Kita punya yang masih panas. Kamu pilih aja mau yang mana, nanti kita ambil yang di belakang," ucap Tari.
Evan pun mengangguk setuju, dan ia duduk di salah satu bangku di sana. Tari segera mengambil daftar menunya. Evan memilih beberapa Roti. Sambil menunggu rotinya selesai di siapkan, Evan menunggu di salah satu kursi bersama Tari.
"Kamu bukak sampe jam berapa?!" tanya Evan.
"Sampe jam 9," jawab Tari seraya meminum teh hangat, Tari biasa meminum itu di malam hari untuk menyegarkan dirinya setelah lelah bekerja. Itu adalah sejenis teh hijau.
"Berarti hampir tutup, ya. Kok masih bisa masak yang baru, sih. Kan udah mau tutup," tanya Evan.
"Nggak papa. Itu spesial buat kamu, kebetulan juga adonannya masih ada sisa," terang Tari seraya tersenyum hangat.
Sebentar kemudian, pesanan Evan pun selesai. Evan pun segera mengambilnya. Tepat saat semua karyawannya sudah bersiap akan pulang. Sekarang hanya ada Evan dan Tari di sana. Evan sengaja menunggu Tari pulang karena hanya ada dia di toko dan hari sudah malam.
"Kamu pulang pakek apa?!" tanya Evan yang melihat tidak ada mobil Tari yang terparkir.
"Pakek taksi. Mobil aku lagi di bengkel," terang Tari dengan senyuman.
"Yaudah. Biar aku antar kamu aja. Ini udah malam," ucap Evan.
"Nggak. Nggak usah, Van. Kita nggak searah. Nanti kamu harus putar balik lagi kalo kamu ngantar aku... " tolak Tari, karena arah pulang mereka yang berlawanan.
"Nggak papa. Biar aku antar aja," ucap Evan agak memaksa. Tari pun tidak bisa menolak.
Akhirnya Evan mengantar Tari pulang. Di mobil mereka mengobrol.
"Van, Emang bener ya. Kamu udah pernah nikah?!" tanya Tari tiba-tiba.
__ADS_1
Evan menolah kearah Tari. Dia kaget Tari tau tentang masa lalunya. Tidak banyak orang yang tau tentang pernikahan Evan. Kecuali orang terdekat. "Kalo nggak mau cerita juga nggak papa. Aku cuman bingung. Kamu kan masih muda. Jadi kapan kamu nikahnya," ucap Tari bingung.
"Iya. Aku nikah sama anak pak Richard, pemilik perusahaan tempat aku kerja. Kami menikah sekitar 1,5 tahun, lalu kami bercerai. Mungkin karena masih muda dan saat itu juga banyak masalah.bJadi kami pilih buat pisah," kenang Evan.
"Waw! istri kamu anak Richard yang tajir itu?!" tanya Tari kaget. sesaat dia sadar menyebut mantan istri Evan sebagai istri. "Eh, maksud aku mantan istri kamu," ucap Tari meralat ucapannya.
"Iya, tapi nggak lama. Kami sempat punya anak, tapi meninggal. Karena itu juga yang memperumit keadaan, sampe kami putusin buat cerai. Semua keluarga nggak ada yang setuju, tapi... kayaknya hubungan kami waktu itu susah buat di pertahanankan," ucap Evan.
"Hmmm... Pasti berat harus kehilangan anak pertama," ucap Tari.
"Waktu itu keadaannya bener-bener kacau. Aku sampe pengen bunuh diri aja rasanya, karena sangking tertekannya aku waktu itu," ucap Evan dengan senyuman yang hampa, karena ada rasa sakit saat dia mengingat kematian anaknya dan Aluna.
"Kamu terus bilang 'waktu itu'. itu seolah mau bilang, waktu itu, beda sama sekarang. Apa kamu masih berharap sama mantan istri kamu?!" tebak Tari.
"Hahaha.... Karena memang waktu itu kacau banget. Aku sampe nggak tau harus kayak gimana," ucap Evan. Tari menangkap gurat cinta Evan terhadap mantan istrinya masih kuat. Dia tersenyum, seolah Evan memberitahunya bahwa posisi mantan istrinya sulit untuk di gantikan.
"Karena itu kamu nggak mau deket sama perempuan. Apa karena kamu menyesal sudah bercerai?!" tebak Tari.
"Nggak... Bukan karena itu. Tapi karena aku masih mau fokus sama kerjaan dulu. Aku bener-bener udah nggak punya apa-apa lagi sekarang. Jadi harus nabung lagi. Mana ada cewek yang mau sama cowok kere kayak aku," ucap Evan merendah. Tari tertawa mendengar pernyataan Evan.
"Kalo cowoknya seganteng, dan seulet kamu kerja. Dari nol rupiah pun pasti mereka mau. Uang itu cuman masalah waktu buat orang-orang kayak kamu. Bentar lagi juga ke kumpul. Ini aja kamu posisinya udah hampir ke direktur utama," ucap Tari menyemangati. Evan hanya tersenyum mendengarnya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah Tari. Rumah yang cukup besar dan mewah itu. Terletak di perumahan elite. cukup asri dan nyaman. Selesai mengantar Tari, Evan langsung permisi untuk pulang. Tari menatap kepergian Evan hingga dia hilang di belokan. Tari pun segera masuk rumahnya.
***
Di sisi lain, Aluna tampak habis menyetrika
"Semua udah sesuai pesanan. kerahnya berdiri, lipatannya nggak doble. Dan panas setrika menyesuaikan bahan pakaiannya," ucap Aluna seraya menepuk tangannya puas. Dea mengacungkan jempolnya seraya menerima setumpuk pakaian rapinya. Sedangkan Silvi menerimanya seraya mengucapkan terimakasih.
setelah Aluna pergi, Dea dan Silvi pun nampak mengobrol berdua.
"Sil, gue takut dia gila beneran kalo Evan beneran nikah sama orang lain," bisik Dea kepada Silvi.
__ADS_1
"Husstt... Ah. Nggak usah ngomong yang nggak-nggak," sanggah Silvi kepada Dea seraya membawa tumpukan pakaian rapinya ke kamar. Hanya Dea yang masih di posisinya.
BERSAMBUNG....