PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
MELEPAS KEPERGIANNYA


__ADS_3

Malam itu Evan tidak langsung tidur, dia sibuk dengan laptopnya. Ada pekerjaan yang harus di selesaikan, begitu alasannya. Evan memang berusaha menghindari Aluna. Jadi saat tidur dia tidak tidur duluan, dia selalu menunggu Aluna tidur terlebih dahulu. Setelah Aluna tertidur baru dia akan tidur.


Aluna menyadari tindakan Evan yang selalu membiarkannya tidur sendirian, walau selarut apapun Aluna menunggunya. Evan akan tidur lebih larut dari itu untuk tidur.


Dia merasa sedikit kecewa dengan sikap Evan. Aluna pun segera tidur dengan membelakangi Evan agar tidak mengganggu suaminya itu. Dia merasa hubungan mereka tidak lah hangat seperti sebelum menikah, apa karena ketidak siapan dia melayani Evan sebagai seorang istri? Sehingga Evan selalu menghindarinya? Tanpa Evan sadari Aluna menangis.


Dia merasa sedih dan kecewa, tapi Aluna sadar dia harus kuat demi bayinya. Dia berusaha untuk tidak memikirkan apapun selain bayinya. Evan menatap Aluna yang tengah tidur dengan membelakanginya, hingga hanya punggungnya yang terlihat. Evan masih tidak menyadari bahwa Aluna sedang menangis. Dia hanya melihat sekilas lalu kembali pada pekerjaannya yang harus segera di selesaikan itu.


Evan memang sekarang ada pekerjaan bersama Tama. Tama menyerahkan beberapa proyeknya kepada Evan. Karena Tama sedang di sibukkan dengan pekerjaan yang lain di perusahaan, jadi dia menyerahkan kepada Evan sebagian untuk di tangani.


...***...


Selesai dengan laporannya Evan segera tidur, dia mendapati Aluna sudah tertidur. Dia menatapnya, gadis cantik itu masih tidur membelakanginya. Evan menarik selimutnya dan segera bersiap untuk tidur. Dia juga membelakangi Aluna.


Evan berusaha bijak menanggapi Aluna. Tapi sepertinya tidak begitu dengan Aluna. Dia tampak tidak sabar, selalu terbawa oleh emosi dan ketakutannya sendiri.


...***...


Keesokkan harinya di kamar. Evan membicarakan tentang rencananya akan pergi ke Kalimantan untuk urusan pekerjaan.


"Besok aku berangkat ke Kalimantan. Ada kerjaan yang harus aku urus menyangkut proyek mas Tama yang sedang aku tangani," terang Evan.


"Kok mendadak?" tanya Aluna heran.


"Nggak mendadak, cuman aku baru kasih tau kamu. Kemaren aku nggak sempat kasih tau. Kamu udah ketiduran."


Aluna terdiam, ia merasa hubungan mereka semakin jauh dan berjarak. Dia tidak bisa terus begini, dia merasa tidak berguna sebagai seorang istri. Dia merasa sangat kacau. Aluna menunduk seraya meremas ujung gaunnya dengan air mata yang tidak sanggup ia tahan lagi, ia pun terisak.


Mengerti kegundahan Aluna, Evan pun menghampiri Aluna dan memeluknya dengan hangat. Setelah beberapa saat ia melepaskannya dan menangkup wajah Aluna dengan kedua tangannya. Matanya menatap wajah Aluna yang tengah terisak itu.


"Aku usaha-in pulang cepat," tutur Evan yang tengah duduk berhadapan dengan Aluna di pinggir ranjang.

__ADS_1


Evan menggenggam tangan Aluna dan tersenyum padanya untuk meyakini Aluna bahwa semua baik-baik saja, Aluna menatap senyum itu. Terlihat sangat hangat dan bijak. Entah kenapa Aluna merasa lelaki yang sudah menjadi suaminya ini adalah pria baik yang sangat tulus. Akan tetapi kenapa dia di malam itu terlihat berbeda dengan dia yang sedang di hadapannya saat ini.


"Maaf, Van. Aku nggak kayak istri yang lain buat kamu," kesah Aluna dengan wajah yang basah karena air mata. Evan menyeka air mata itu dengan lembut.


"Nggak papa, kita punya banyak waktu untuk menyelesaikan ini," ucap Evan. "Pikirkan saja tentang dia. Dia yang terpenting sekarang di hidup kita," gumam Evan seraya menyentuh perut Aluna yang sekarang masih tidak terlihat buncit walau sudah memasuki usia 4 bulan.


Aluna pun tersenyum dan merasa sedikit tenang setelah meluahkan semua isi hatinya kepada Evan.


...***...


Evan juga membicarakan rencananya kepada ayah mertuanya saat sarapan pagi itu.


"Kalo kamu sering ninggalin Aluna karena pekerjaan. Mending kamu kerja di perusahaan Daddy. Sekalian Daddy mau pensiun," ungkap Richard menawarkan.


"Nggak bisa gitu, Dad. Aku nggak bisa langsung memimpin perusahaan itu gitu aja. Aku harus dari bawah. Aku harus tau tentang perusahaan itu dulu," sergah Evan.


"Itu kan perusaan Daddy. Kamu bisa belajar sekalian waktu kamu jadi meminpinya, kan? Lagian kamu kan lulusan MBA terbaik di Oxford." Richard mencoba meyakinkan. "Daddy pengen cepetan pensiun. Pengen istirahat lagi," tambahnya lagi.


"Hah ... Padahal Daddy sudah membayangkan, dapat menantu lulusan MBA Oxford, bisa buat Daddy pensiun dini tadinya." Richard tampak sedikit kecewa. Aluna dan Evan hanya tertawa mendengarnya.


Mereka sarapan bertiga karena Marissa memang kadang jarang di rumah. Ia suka pelesiran ke luar negeri sebagai seorang sosialita.


...***...


Aluna melepas kepergian Evan ke Kalimantan dengan berat hati. Dia menatap kepergian Evan sampai ia masuk ke pintu keberangkatan pesawat. Sebelum masuk Evan berbalik dan melambaikan tangannya pada Aluna dan di sambut Aluna dengan lambaian tangan juga.


Aluna mengantar Evan bersama 2 sahabatnya yang kebetulan datang mengunjungi Aluna tadi. Aluna masih melambaikan tangan kepada Evan, sampai Evan benar-benar hilang di balik pintu.


"Hmmm! Dia yang lepasin lakinya pergi, kita yang sedih," desah Dea seraya memeluk Silvi.


Silvi mengangguk setuju dengan expresi wajah manyun ikutan sedih. Mereka menghampiri Aluna yang masih berdiri. Dea melingkarkan tangannya di pinggang Aluna seraya merebahkan kepalanya di pundak Aluna yang kebetulan memang lebih pendek dari Aluna. Begitu pula Silvi yang juga memeluk pinggang Aluna.

__ADS_1


Aluna beruntung memiliki 2 sahabat yang setia dan baik seperti Dea dan Silvi. Sehingga saat-saat seperti ini dia tidak merasa sendirian. Dia memiliki 2 sahabatnya yang selalu menguatkannya.


Selesai mengantar Evan, mereka pergi ke mall untuk menghibur Aluna yang sedih. Mereka jalan-jalan hingga mereka lelah dan berhenti di salah satu restoran yang ada di mall tersebut.


"Udah donk sedihnya. Laki lo pergi cari duit. Bukannya pulang ke rumah istri muda. Jangan di ratap-in terus, donk," ucap Dea.


"Iiihhh... Jangan ngomong yang nggak-nggak," Aluna merasa takut dengan ucapan Dea. Dea hanya terkekeh dengan reaksi Aluna.


"Buat cowok sekeren Evan mah. Punya istri 1 selingkuhan 5-6 pasti mampu," ledek Silvi.


"KALIAN! Jangan bikin gue takut," teriak Aluna seraya mendekap wajahnya.


"Iyaa, nggak-nggak. Makanya di sarvice dengan baik. Biar dia kangen pulang," goda Dea lagi.


Itu membuat Aluna makin sedih. Bahkan menangis. Dea dan Silvi saling pandang bingung dengan reaksi Aluna.


"Eh, Lun. Sorry, Sorry! Kita bercanda, kok," ucap Silvi merasa bersalah saat melihat Aluna benar-benar menangis. Mereka semakin kelabakan saat tangis tidak kunjung mereda.


"Iya, Lun. Mana mungkin Evan mau selingkuh, kalo dia punya istri sesempurna Aluna Jeanela. Cantik dan baik hati kayak gini," hibur Dea seraya merangkul sahabatnya itu. Tapi tetap saja tidak membuat Aluna berhenti menangis. Aluna memeluk Silvi yang duduk di sampingnya.


"Evan pergi sebentar kok. Udah jangan nangis," hibur Silvi juga seraya mengusap punggung Aluna pelan.


"Aku nggak pernah layanin Evan sebagai seorang istrinya. Aku nggak bisa, Vi. Gimana kalo Evan beneran selingkuh dengan alasan itu!? Aku nggak mau kehilangan Evan. Aku sayang sama dia," ucap Aluna yang membuat silvi dan Dea semakin bingung.


"Maksudnya apa nih?!" tanya Silvi mengernyitkan alisnya bingung seraya garuk-garuk kepalanya.


Aluna pun menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Setelah 2 minggu pernikahan mereka tidak sekalipun mereka melakukan hubungan selayaknya suami istri karena ke takutan Aluna untuk melakukannya.


"Terus gimana lo bisa hamil, kalo lo takut ngelakuinnya?" tanya Dea bingung.


Aluna langsung pucat di tanyakan hal itu. Dea dan Silvi menunggu jawaban Aluna dengan tatapan penasaran. Aluna menatap Silvi dan Dea dengan tatapan ragu. Dia takut menceritakan faktanya. Tapi dia juga butuh solusi dari sahabatnya ini. Aluna bingung harus bagaimana. Sedangkan Silvi dan Dea masih menunggu jawaban Aluna.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2