PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
KEANGKUHAN


__ADS_3

Pagi itu Aluna terbangun dan di sambut sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya. Dia menggeliatkan tubuhnya dan mulai melangkah ke balkon hotel. Dia di sambut dengan sinar mentari pagi yang hangat, tercium aroma pagi yang segar. Aluna sangat menikmati paginya ini.


Aluna mengedarkan pandangannya, tiba-tiba matanya terpaku pada sosok Evan yang sedang berjalan di halaman hotel seperti sedang mengatur sesuatu, lelaki itu selain tampan dan berbakat dia juga tekun dan rajin. Ada senyum tipis terpancar dari bibir merahnya Aluna melihat pria tampan itu bekerja. Gaya serius nya menunjukkan sikap bertanggung jawabnya. Setiap kali melihat Evan entah kenapa dia merasa sangat senang dan jantungnya berdebar tidak menentu, padahal Evan sama sekali tidak pernah memperhatikannya, dia sangat cuek dan dingin.


Saat sedang asyik dengan khayalan nya tiba-tiba lamunan Aluna langsung buyar, ketika Andri melambaikan tangan kearahnya. Aluna langsung menekuk wajahnya tidak suka. Aluna pun segera masuk kamar, mood nya rusak seketika. Dia merasa jijik jika melihat bagaimana pria berusia 35 tahun itu terus mencoba mencari perhatiannya dan mendekatinya. Dari pada dia terus memikirkan Andri gila itu lebih baik dia mandi. Aluna langsung pergi dan mengabaikan lambaian Andri dengan wajah terlihat kesal.


Dia pun menuju kamar mandinya, selesai mandi dia langsung berdandan. Saat sedang asyik bermake-up ria terdengar seseorang mengetuk pintunya. Tadi dia memang meminta makanannya diantar ke atas. Mungkin itu sarapan pesanannya yang datang. Saat dia membuka pintu, benar saja seorang pelayan hotel datang mengantarkan makanannya.


"Tarok di meja!" ucap Aluna. Lalu dia masuk kamar mandi sebentar.


Dan saat dia keluar, alangkah kagetnya Aluna melihat pakaiannya yang ia letakkan diatas sandaran kursi tertumpah kuah sop oleh pegawai tersebut. Sontak itu membuatnya naik pitam seketika. Dia menampar wajah pelayan itu. Pegawai itu hanya bisa diam pasrah, apa lagi yang bisa dia lakukan. Dan menerima makian dari Aluna. Pelayan itu tidak bisa berbuat apa-apa, di suruh gantipun belum tentu dia sanggup. Jadi dia hanya diam tertunduk dengan wajah ketakutan menerima cacian Aluna.


Berita itu pun sampai juga ke telinga Evan, dengan langkah buru-buru Evan menuju kamar Aluna. Dia melihat pemandangan yang tidak asing, seorang wanita muda tersudut menerima hinaan dan makian dari Aluna. Si wanita tampak diam pasrah menerima setiap makian dari Aluna.


Itu persis seperti keadaan Evan di keluarganya dulu. Si wanita di dorong berkali-kali oleh Aluna hingga terjatuh, itu mengingatkan bagaimana dia di dorong oleh ibunya di kamar mandi hingga terjatuh dan menerima omelan ibunya. Hinaan itu juga mengingatkan Evan bagaimana rasanya dia di hina dulu oleh ibu dan ayahnya.


Dada Evan terasa bergemuruh menahan gejolak di dadanya, nafasnya memburu dan tangan nya terkepal penuh amarah. Saat tangan Aluna akan menampar wanita muda yang sudah tidak berdaya itu sekali lagi. Dengan sigap Evan menahan tangan Aluna.


"JANGAN!" Seru Evan. Aluna menatap mata Evan, terlihat sangat mengerikan. "Kamu menggaji kami disini bukan untuk dihina. Ayah kamu memperkerjakan kami untuk jasa kami bukan harga diri kami!" ucap Evan lantang. "Jangan bersikap semaumu hanya karena kamu merasa berkuasa. Kami memang tidak punya apa-apa, hanya dengan harga diri kami bisa hidup sampai saat ini di dunia ini berdampingan dengan kalian yang bertahta. Jangan renggut harga diri nya hanya karena baju yang tidak seberapa ini bagimu. Kamu marah karena baju ini atau karena merasa punya kesempatan untuk merenggut semua yang ada pada orang seperti kami. HAH!?" ucap Evan lantang seperti berteriak penuh amarah.


Matanya tajam memerah menatap Aluna. Nafasnya cepat tidak beraturan. Begitu pula wajahnya, merah sampai ke daun telinganya. Terus terang itu membuat Aluna menjadi sangat ketakutan melihat kemarahan Evan. Apa lagi genggaman tangan Evan cukup keras menggenggam pergelangan tangan Aluna yang tadi akan menampar pelayan tersebut.


"Lepasin tangan gue. Sakit bangsat!" gerutu Aluna.

__ADS_1


Evan pun melepasnya dengan membantingnya keras, hingga membuat Aluna mengerang kesakitan seraya mengusap pergelangan tangannya yang sakit.


Evan segera membantu stafnya untuk berdiri. Dia menatap tajam kearah aluna yang masih terpaku. Lalu dia memapah stafnya untuk keluar dari kamar Aluna.


Aluna tercenung saat dia tahu jika Evan sangat menakutkan saat marah. Dia seperti serigala kelaparan yang siap untuk menerkam mangsanya. Sangat mengerikan, membuat jantung Aluna tidak berhenti berdebar keras karena kaget dengan kemarahan Evan tadi.


...***...


Sedangkan di tempat lain, di ruang peristirahatan para staf hotel . Si pelayan mulai takut jika Evan akan mendapat kan masalah karena dia nanti. Evan melawan putri tunggal kesayangan pemilik hotel. Tentu itu akan menimbulkan masalah besar untuk Evan.


"Pak, Bapak bisa kena masalah nanti karena saya." ucapnya tertunduk merasa bersalah.


"Jangan fikirkan itu. Kamu nggak apa-apa?!" tanya Evan lembut dan penuh khawatiran.


"Nggak papa, saya nggak peduli di pecat sekalipun. Saya sudah muak dengan sikap arogansinya," ucap Evan yang kembali kesal jika mengingat Aluna lagi.


Di tempat lain di kamarnya Aluna tengah menelpon ayahnya dalam keadaan menangis dan ketakutan. Itu mengundang reaksi dari ayahnya dengan segera Richard tanpa menunggu apa pun lagi langsung terbang ke Bali.


3 jam kemudian ayah Aluna pun datang dengan di ikuti oleh seluruh staf hotel. Dia tampak marah besar. Dengan langkah terburu dia menuju kamar Aluna. Di sana ada Aluna yang langsung menyambut ayahnya dengan pelukan dan tangis.


Dia pun segera menceritakan detail ceritanya pada ayahnya. Tentu dengan mendramatisir nya sehingga terdengar betapa teraniaya nya dia. Itu membuat Richard semakin murka. Dia segera meminta Evan dan pelayan tersebut ke kamar Aluna sekarang. Heboh lah para staf hotel.


Sesampainya di kamar hotel Evan menghadapi pak Richard yang tengah bersama putrinya, dia menatap tajam ke arah Evan.

__ADS_1


"Kamu tau!? Seekor nyamuk sekalipun tidak saya izin kan menyakiti putri saya, apa lagi ini kamu yang merupakan pelayan di tempat saya. Siapa yang izinkan kamu menyakiti putri saya? Tidak ada yang berani menyakiti dia selama ini apa lagi berlaku kurang ajar seperti kamu." Amuk pak Richard pada Evan. Tidak sedikitpun membuat Evan gentar.


"Anda mendidik anak anda seolah anda akan hidup selamanya bersama dia. Anda tidak pernah mengajari dia tentang harga diri orang lain, hanya tentang dia saja yang anda ajari. Percaya lah, saat anda tidak ada maka putri anda akan seperti bangkai hidup yang akan di sakiti oleh siapapun yang pernah di sakitinya!" Ucap Evan tidak kalah lantang.


"Tau apa kamu tentang harga diri dan perlindungan seorang ayah!? Bagi saya di dunia ini, dia lah yang terpenting. Ini cara saya menjaganya. Kalau kamu tidak suka silahkan angkat kaki dari hotel saya. Saya tidak butuh orang-orang tidak tau diri seperti kamu. Dan juga berlaku pada pelayan itu!" Ucapnya pada Evan dan pelayan tersebut.


" Silahkan pecat saya. Dan saya bersedia mengganti pakaian putri anda. Tapi jangan pecat dia. Dia butuh pekerjaan ini untuk menghidupi anak dan ibunya yang sedang sakit. Dia butuh menghidupi orang lain di hidupnya." Ucap Evan tidak mau kalah.


"Pecat mereka berdua!!!" Ucap pak Richard lagi pada stafnya dengan tatapan tajam dan menantang pada Evan. Dia tidak peduli dengan apapun itu jika itu menyangkut tentang putrinya.


"Saya akan buat anda merasakan sakit seperti saat ini saya rasakan!" Ancam Evan lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan amarah dan dendam membara.


Aluna terdiam seribu bahasa melihat Evan yang semakin marah. Dia tidak ingin hal ini menjadi sebesar ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin dia mencegah Evan pergi, tapi itu tidak mungkin.


Tadi nya dia hanya ingin menakuti Evan agar bisa tunduk dengannya, tapi ternyata malah membuat semuanya semakin kacau. kekacauan ini sungguh di luar dugaannya.


Evan berjalan menuju lift, dia membuka kancing lengan bajunya dan menariknya keatas. Tiba-tiba pakaiannya terasa sangat sempit di tubuhnya, matanya semakin tajam menatap. Nafasnya terengah-engah dan debaran jantungnya meningkat karena gejolak emosinya.


Si pelayan tadi hanya menangis di samping Evan. Membayangkan sekarang dia sudah tidak punya pekerjaan lagi. Bagai mana cara dia menghidupi anak dan ibunya yang butuh biaya perawatan dan obat.


Evan merasa bersalah pada pelayan tersebut. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia penuh dendam dan amarah. Dia muak dengan Aluna, benar-benar muak dengan gadis tersebut. Hanya karena baju dia merusak hidup orang lain.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2