PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
AKU AKAN DATANG


__ADS_3

Tidak terasa 3 minggu sudah sejak kejadian itu berlalu. Aluna masih tidak mau bicara bahkan mulai tidak mau makan. Membuat semua orang khawatir dan tekat ayah Aluna untuk segera menemukan Evan semakin tidak terbendung lagi.


Dia mencari dan terus mencari keberadaan Evan. Hasilnya masih nihil sejauh ini. Evan seolah-olah benar-benar lenyap dari muka bumi.


Aluna di kamar hanya terbaring tanpa gairah apapun, dia hanya ingin Evan segera menemuinya dan meminta maaf. Dia sudah ikhlaskan semua yang terjadi padanya, dia hanya menginginkan Evan datang padanya, hanya itu.


Tiba-tiba dia merasa mual, semakin lama semakin terasa dan ia pun berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Memang sudah beberapa hari ini dia merasa aneh dengan tubuhnya, dia merasa lemas. Mungkin karena dia kurang makan, atau karena hal lain. Sejak kejadian itu sampai sekarang dia masih belum ada tanda-tanda akan datang tamu bulanannya.


"Apa aku hamil?" gumamnya seraya menyentuh mulutnya dengan tatapan khawatir, sedangkan tangan kanannya menyentuh perutnya.


Dia segera meminta pelayannya diam-diam untuk membelikannya testpack untuknya. Si pelayan walau bingung dia tetap melaksanakan perintah nyonya mudanya itu tanpa banyak tanya lagi.


Beberapa saat kemudian, si pelayan kembali dengan sebuah testpack. Aluna pun segera ke kamar mandi untuk melakukan tes.


Dia keluar dari kamar mandi dengan sebuah testpack di tangannya. Dia memejamkan matanya tidak berani melihatnya. Jantungnya berdegup kencang, nyaris tidak bisa ia kendalikan, tangannya bergemetar antara takut dan khawatir. Aluna membuka matanya berlahan menatap hasil testpack nya. Dan....


"Apa ini?" gumam Aluna pada testpack yang bergaris merah dan juga ada garis pudar yang tak begitu jelas. "Positif nggak, ya? kok gini, sih?" bisiknya pada dirinya sendiri. Dia bingung harus bertanya pada siapa.


Setelah berfikir beberapa saat, dia pun teringat seseorang. Dia segera mengambil ganggang telpon untuk menelpon seseorang.


"Panggil bu Mila, suruh dia ke kamar saya sekarang juga," perintah Aluna pada salah seorang pelayannya di seberang telpon sana.


"Baik, Non!" jawab seseorang pelayan dari seberang sana dengan sopan.


Aluna segera meletakkan ganggang telponnya ketempat semula.


Dia terus menunggu dengan perasaan khawatir. Tidak lama si kepala pelayan Mila pun datang, setelah mengetuk pintu ia pun masuk kamar Aluna. Aluna segera beranjak dari posisinya dan menghampiri si pelayan dengan tidak sabar.


"Mila, kalo tes testpack terus hasilnya ada garis pudar kayak gini artinya apa?" tanya Aluna seraya menyerahkan hasil testpack nya kepada si pelayan yang tampak sudah paruh baya itu.


Si pelayan mengambilnya dengan perasaan bingung. Karena mengingat majikan mudanya ini belum menikah dan sekarang bertanya tentang testpack padanya. Dengan perasaan ragu dia melihat hasil testpack itu. Dia pun membelalakkan matanya.


"Gimana?" tanya Aluna tidak sabar.


"Ini artinya hamil, Non. Mungkin hamil muda!" jawab si pelayan masih bingung dengan si pemilik tes itu. "Ini punya Non Luna?" tanya nya hati-hati. Aluna mengangguk pelan. Si pelayan langsung membelalakkan matanya tidak percaya.


"Jangan kasih tau daddy dulu. Luna takut, nanti Daddy marah," ucap Aluna berlahan. Si kepala pelayan yang sudah seperti ibunya itu pun mengangguk. Aluna pun tersenyum.



Evan pratama, putra pengusaha Wisnu Pratama.



Aluna Jeanela, putri tunggal pengusaha konglomerat Richard Brahmana



Richard Brahmana ayah protektif yang sangat menyayangi Aluna, tapi sangat kejam pada orang lain.


__ADS_1


Marissa Angelica Adik Richard yang single setelah gagal dengan 4 pernikahannya.


...***...


Di sisi lain Evan memutuskan menceritakan semua kepada pamannya. Alangkah terkejutnya pakde dam bukde nya. Mereka terpaku tidak bisa percaya, itu seperti bukan Evan. Karena Evan laki-laki terhormat di mata mereka, mana mungkin Evan keponakannya ini bisa melakukan hal sebejat itu.


"Betulan Evan? Kamu jangan main-main," seru pakde-nya sekali lagi. Evan pun mengangguk pelan seraya tertunduk. Untuk pertama kalinya Evan merasa menjadi orang yang sangat jahat. Dia merusak hidup seseorang karena amarahnya yang tidak bisa ia tahan.


"Pakde! Sampai kan salam aku buat mami, papah. Bilang juga aku minta maaf. Aku mau nemuin orang tua Aluna, aku akan bertanggung jawab," ucap Evan tegar sambil terus meremas kedua tangannya.


"Kamu bisa di bunuh sampe di sana, nak. pergi sama orang tuamu saja, ya!" bujuk budenya khawatir dengan menyentuh bahu Evan pelan.


"Nggak apa-apa, Bude. Semakin sedikit orang yang terlibat, semakin baik. Ini kesalahan aku, aku yang harusnya bertanggung jawab," ucap Evan nekat dengan seulas senyuman yang di paksakannya.


...***...


Akhirnya Evan pun pamit pergi. Pakde dan bude nya tidak bisa berbuat banyak. Mereka melepas kepergian Evan seorang diri. Mereka menatap kepergian Evan hingga busnya tidak terlihat.


Sesampainya di rumah mereka bingung, sebaiknya menelpon ayah Evan atau tidak. Mereka takut Evan akan menolak keluarganya nanti. Mengingat Evan belum bisa memaafkan keluarga tersebut.


"Besok saja lah ya kita telfon. Biar Evan nyampe Jakarta dulu." Ucap budenya. Pakde-nya pun mengiyakan.


***


Setelah melepas kepergian Evan. Keesokkan harinya pakde dan bude nya menelpon kepada Ayah Evan perihal kepulangan Evan beserta masalah Evan.


"Kenapa kalian baru telpon sekarang? Evan bisa mati! Richard itu gila." seri Wisnu panik. Rima yang berdiri di samping Wisnu pun ikut panik.


"Dia itu gila! Dia tidak akan segan-segan melenyapkan orang-orang yang tidak sevisi sama dia. Dia itu orang paling arogan yang tidak bisa di bantah. Mana ada orang yang berani bermasalah sama dia. Ini dengan nekat Evan malah cari masalah sama dia. Apa sih yang di fikirkan anak itu!?" seru Wisnu mulai takut sekaligus khawatir.



Wisnu Pratama, ayah Evan yang berusaha mendapat pengampunan Evan atas segala kesalahan di masa lalunya.



Rima Maharani ibu tiri Evan. Istri pertama Wisnu yang tidak menyukai Evan.


...***...


Di sisi lain Evan sudah bersiap akan ke rumah Aluna menemuinya dan ayahnya. Di pintu gerbang rumah besar itu Evan menarik nafas panjang. Dan melangkah dengan Bismillah...



...(Kediaman Richard Brahmana)...


Saat di pintu gerbang rumah besar itu Evan bertemu dengan 2 orang satpam penjaga.


"Mau ketemu siapa pak?" tanya salah satu satpam.


"Pak Richard nya ada?" tanya Evan.

__ADS_1


"Pak Richard lagi keluar tuh, pak!" jawab si satpam.


"Aluna putrinya, ada?" tanya Evan canggung.


"Ada! Tapi tunggu kita tanya dulu. Bapak ini siapa ya?" tanya si satpam.


"Saya Evan! Aluna pasti kenal saya," ucap Evan dengan senyum tipis. Si satpam pun segera kedalam untuk menghubungi Aluna.


Di rumah Aluna masih mengurung diri di kamar. Dia masih banyak melamun, walau tidak menangis lagi. Dia masih terlihat sangat depresi dan shock. kejadian itu begitu menghantuinya. Dia memandang keluar jendela dari kamarnya yang menghadap ke taman belakang rumahnya. Seandainya Evan datang dan meminta maaf. Tapi apa mungkin dia mau lakukan itu.


Tiba-tiba ada ketukan pintu kamar yang mengagetkan Aluna, dan seorang pelayan pun masuk dan menghampirinya.


"Non ada yang nyariin di depan. Katanya namanya Evan," lapor si pelayan.


Wajah Aluna seketika menjadi pucat pasi, jantungnya pun ikut berdegup kencang. Dia takut juga khawatir, sudah berminggu-minggu ayahnya mencari Evan dan sekarang dia datang dengan suka rela.


"Siapa, bik? " tanya Aluna sekali lagi untuk memastikan pendengarannya tidak salah.


"Evan, non katanya. Dia masih di pintu gerbang. Apa boleh dia masuk?" tanya pelayan itu lagi. Aluna menelan ludahnya bingung, bagaimana ini. Mana ayahnya tidak ada di rumah. Apa yang harus dia lakukan. Seketika mata Aluna terbelalak, ia ingat dengan aunty Marissa nya.


"Aunty mana?" tanya Aluna lagi dan segera buru-buru turun dari ranjangnya.


"Ada, non!Lagi di taman belakang ngerawat bunganya." Terang si pelayan. Aluna sedikit tenang, setidaknya dia ada teman di rumah. Aluna pun segera menemui Marissa di taman belakang.


"Aunty! Aunty!!!" Panggil Aluna buru-buru. Marissa kaget melihat kedatangan Aluna tang terburu-buru.


"Ada apa sayang?" Tanya Marissa bingung.


"Evan! Evan ada di depan. Gimana ini aunty!?" Tanya Aluna panik. Sontak itu membuat mata Marissa terbelalak membesar dengan mulut ternganga ditutupnya dengan tangan kirinya.


"Ya udah suruh dia masuk. Biar aunty hajar itu si brengsek," ucap Marissa geram tidak sabar dan langsung membuang penyiram bunga itu ke sembarangan arah. Ia bergegas masuk rumah dengan langkah buru-buru tidak sabar untuk menghajar lelaki bejat yang sudah menghancurkan keponakan kesayangannya.


***


Di depan Evan masih menunggu, dia berdiri dengan setia menunggu persetujuan si empu rumah. Tidak lama si satpam pun datang lagi dan segera membuka pintu gerbang besar itu.


"Masuk! Nona Aluna sudah nunggu di dalam," ucap si satpam.


Saat pintu terbuka jantung Evan langsung berdetak kencang. 'Sudah lah! Terserah padamu tuhan. aku yang salah. Terserah hukuman apa yang akan di berikan aku akan terima dengan ikhlas.' batin Evan.


Dia menarik nafas panjang, setiap langkahnya di langkahkan dengan ikhlas darinya. Setiap inci mendekat ke pintu utama rumah besar tersebut, Evan tetapkan dengan tekat bulat dan niat tulus untuk memperbaiki kesalahannya. Evan berusaha tenang dan ikhlas, dia hanya berusaha memperbaiki kesalahannya. Dia akan terima jika dia harus di hajar sampai mati sekalipun. Sebelum dia kesini dia sudah shalat istikharah dan shalat taubat seandainya terjadi sesuatu yang buruk dia sudah mencoba untuk meminta ampun kepada tuhannya, dan sekarang kepada manusianya lagi. Sepertinya meminta maaf kepada Allah jauh lebih mudah dari pada kepada keluarga ini.


***


Sampai lah Evan di depan pintu utama, pintunya pun segera di buka oleh para pelayan. Yang pertama kali Evan lihat adalah wajah Marissa yang sangar dan siap akan menerkam nya. Dia tengah bersidekap dada dengan tatapan angkuh dan penuh dendam kepada Evan. Evan menelan ludahnya, mundurpun sudah tidak bisa lagi sekarang. Evan hanya bisa terima nasibnya.


Marissa menatap pemuda Tampan yang tengah mengenakan jaket dan celana jeansnya. Dia tidak seperti pria brandalan. Dia terlihat seperti laki-laki berpendidikan. Itu terlihat dari sorot matanya dan gesture tubuhnya. Marissa menelisik penampilan Evan. Pria ini bahkan sama sekali tak terlihat bangsat sedikitpun. Marissa masih tidak habis pikir jika dia bisa melakukan itu kepada Aluna keponakannya.


Di belakang Marissa sudah ada Aluna yang mengintip di balik punggung Aluna dengan raut ketakutan. Si gadis yang cantik jelita itu mengintip menatap Evan dengan tatapan penuh arti. Tapi ada rasa kasihan di mata Aluna pada Evan saat ini. Saat melihat pemuda itu seperti benar-benar bersungguh-sungguh untuk meminta maaf. Ada rasa senang di hati Aluna dengan kedatangan Evan menemuinya. Tapi bagaimana dengan keluarganya.


Evan melangkah masuk dengan mantap. Dia telah siap dengan semua resikonya sedangkan Marissa masih menatap kedatangan Evan dengan tatapan nyalang dan arogan...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2