PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
TRAUMA


__ADS_3

Di hari pernikahan mereka semua orang tampak bahagia. Semua berjalan lancar dan tampak di hadiri oleh anggota keluarga terdekat dan sahabat terdekat Aluna Dea dan Silvi. Mereka adalah sahabat saat Aluna masih Kuliah. Walau kaget dengan pernikahan yang mereka ketahui 2 hari sebelum pernikahan. Tapi mereka tetap merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan pernikahan sahabat mereka ini.


"Gue baru tau 2 hari sebelum lo nikah. Gue pikir bercanda." ungkap Dea.


"Gue juga. Kapan kalian pacarannya sih? Tiba-tiba aja nikah." tanya Silvi heran.


Aluna hanya tersenyum mendengarnya sedangkan Dea dan Silvi terus mengintrogasi Aluna karena Evan benar-benar bukan tipe Aluna. Di tambah lagi selama ini mereka belum pernah mendengar Aluna menceritakan tentang Evan. Lalu bagaimana bisa tiba-tiba Aluna memutuskan menikah dengannya.


Hari ini adalah resepsi pernikahan mereka setelah ijab Kabul tadi pagi. Mereka mengadakan pesta yang sederhana di malam hari. Hanya sebagai ungkapan kebahagiaan mereka atas pernikahan mereka. Mereka sengaja tidak menggelar pesta besar mengingat keadaan kedua nya yang tidak memungkinkan.



Setelah pesta sampanye dan pemotongan kue pernikahan. Mereka tampak akrab mengobrol dengan anggota keluarga mereka. Setelah itu Aluna mengajak Evan berkenalan dengan sahabatnya Dea dan Silvi.


Saat pertama kali mereka melihat Evan, mereka merasakan kesan dingin, tenang dan kaku Evan. Mereka merasa ini bukan tipe Aluna yang suka pria hangat dan romantis.


"Van! Ini sahabat aku sekaligus sepupu aku. Dea sama Silvi!" ungkap Aluna memperkenalkan Evan sebagai suaminya. Tidak bisa di pungkiri bahwa Evan adalah laki-laki yang sangat tampan. Mereka sangat terpesona, tapi melihat karakter Evan yang dingin dan pendiam tetap saja dia terlihat aneh untuk seorang Aluna yang suka tipe lelaki romance. Sedangkan Evan sangat tenang dan sangat berwibawa untuk di sebut lelaki romantis.


Sesaat kemudian Evan di panggil Richard untuk di perkenalkan dengan rekan bisnisnya. Evanpun permisi untuk pergi.


"Eh, kok Evan kayaknya bukan tipe lo, deh!" ungkap Silvi masih merasa aneh.


"Kalian di jodohin, ya?" timpal Dea. Mereka masih mencurigai Aluna, mereka merasa Aluna benar-benar tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Udah di bilangin kita pacaran juga. Udah!Anggap aja takdir." Aluna mencoba berhenti membahasnya. Silvi dan Dea mencurigai ada sesuatu yang Aluna sembunyikan dari mereka.


...***...


Setelah pesta yang melelahkan Aluna masih sibuk dengan Silvi dan Dea di kamar. Sedangkan Evan sibuk dengan handphone nya di sofa seraya tiduran masih dengan pakaian taxido lengkapnya. Dia tidak begitu peduli dengan yang di lakukan trio itu. Evan memasang headphone nya dan mulai membuatnya berlahan tertidur. Dia masih memakai celana bahan dan baju kemeja putihnya. Jas dan dasinya sudah ia lepaskan. Dia lelah, tapi Aluna masih terlihat Asyik mengobrol dengan sahabatnya. Dia ingin istirahat, tapi cerita seru 3 sahabat itu terlihat masih panjang. Evan pun tertidur di sofa dengan headphone nya terpasang di telinga.


Silvi memperhatikan Evan yang tengah tertidur di sofa, dia tau Evan sudah lelah ingin istirahat. Tapi Aluna seperti ingin menahan mereka bertiga di kamarnya dari tadi. Dia selalu mencari bahan pembicaraan yang membuat mereka kesulitan untuk pergi. Silvi mulai merasa tidak enak hati.


...***...


Karena sudah larut Dea dan Silvi sudah tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama di kamar pengantin itu. Mereka segera pamit pada Aluna, walau terlihat raut berat Aluna melepaskan mereka.

__ADS_1


"Eh, Udah jam segini! Kita pulang, ya! Tuh laki lo udah ke capean dia. Dia itu lagi sakit, butuh istirahat, Lun!" Silvi menasehati aluna seraya melirik ke arah Evan yang tengah tertidur di sofa panjangnya. Aluna menatap Evan dan Silvi secara bergantian, dia tampak merasa bersalah pada Evan. Tapi tetap saja dia berat melepaskan sahabatnya itu pergi. Rasanya ingin dia tidur bersama sahabatnya itu malam ini, tapi itu tidak mungkin. Sudah ada Evan sekarang.


...***...


Sebenarnya dari tadi mereka ingin pulang dari kamar hotel itu, tapi Aluna selalu menahan mereka dengan berbagai alasan. Sedikit aneh, tapi mereka mencoba menepisnya. Mungkin Aluna hanya gugup, selama yang mereka tahu, senakal dan seseksi apa pun tampilan Aluna. Dia tetap lah wanita terhormat yang sangat menjaga dirinya di hadapan laki-laki. Apa lagi ayahnya yang protektif selalu membuat laki-laki ketar-ketir mendekati Aluna, membuat mereka takut untuk macam-macam dengan Aluna. Mana ada yang berani, bisa habis mereka di hajar ayah Aluna.


Akhirnya setelah sedikit drama mereka bisa keluar dari kamar Aluna dan Evan. Dea dan Silvi sudah sampai di parkiran mobil.


"Dasar lugu! Kita di tahannya sampe semalam ini." Ucap Silvi terkekeh.


"Kalo belum siap nggak usah merid, susah amat temen lo itu!" Seru Dea menertawakan tingkah Aluna.


"Temen lo!" Seru Silvi. Mereka pun terkekeh dan lalu masuk mobil kembali pulang.


...***...


Di kamar hotel Aluna tampak aneh, sibuk tak menentu, dan gelisah. Evan yang baru bangun terus di liriknya.


Sebenarnya tanpa sepengetahuan Evan, Aluna menyimpan trauma pada Evan. Membayangkan mereka akan mengulang kejadian di Bali membuat dia panik tak menentu. Tiba-tiba dia seperti paranoid sendiri. Ini aneh, karena dia menyukai Evan, tapi kenapa dia begini.


DEG


Aluna menatap Evan yang baru bangun itu, dia tampak sedang mengumpulkan kesadarannya beberapa saat dan dia segera ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi, Evan segera mengambil pakaiannya di kopernya dan mengganti pakaiannya di hadapan Aluna. Tubuhnya yang tampak polos dengan hanya seutas handuk yang masih melingkar di pinggangnya itu membuat Aluna kembali teringat kejadian itu. Aluna terus memperhatikan Evan dengan perasaan campur aduk tak menentu.


Aluna langsung membayangkan Evan di malam itu, bagaimana Evan datang malam itu. Melepas pakaiannya di hadapan Aluna dan menjamahnya dengan paksa di malam itu. Setiap detik di malam itu berputar lagi di benak Aluna. Nafas Aluna mulai memburu dengan cepat. Dan tangannya yang bertumpu di kasur meremas kasur itu dengan kuat.


Aluna mulai tidak tahan dan tangisnya pun pecah. Segera saja Evan menoleh kearah Aluna yang tengah menangis dan menatapnya dengan tatapan aneh. Dia mengernyitkan keningnya melihat Aluna yang tiba-tiba menangis.


"Kamu kenapa? " tanya Evan yang baru selesai berpakaian seraya menghampiri Aluna.


Aluna langsung menangis histeris, membuat Evan bingung dan langsung mendekap Aluna ke pelukannya. Bukannya tenang Aluna semakin histeris. Evan pun segera melepaskan pelukannya dan menatap Aluna masih dengan perasaan bingung.


"Nggak, Van! Nggak. Jangan, Van!" isak Aluna seketika seraya menolak Evan, Evan hanya dapat terpaku menyaksikan tingkah Aluna yang membingungkan nya ini.


"Van! Aku belum siap!" isak Aluna. Evan pelan-pelan mulai paham sekarang "Aku takut lihat kamu tanpa pakaian. Kamu terlihat seperti malam itu, Van! Aku takut, aku nggak bisa!" isak Aluna mencoba menjelaskan keadaannya. Evan semakin paham. Dia terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Karena ini kamu tahan Dea dan Silvi di kamar kita seharian ini!?" tanya Evan mencoba memahami semua. Aluna mengangguk pelan. Evan kembali terdiam.


"Kalau kamu trauma sama aku. Kenapa kamu meminta pernikahan ini!?" Evan tidak mengerti dengan pola pikir Aluna. "Pernikahan bukan permainan, Aluna!" sergah Evan yang juga bingung harus bersikap bagaimana.


"Aku sayang kamu, Van. Aku nyaman sama kamu. Aku senang kita nikah sekarang, tapi aku nggak tau kalo hal itu membekas di ingatan aku lagi malam ini." Aluna masih tampak menangis seraya tertunduk dan meremas gaun pengantinnya yang masih dia kenakan. Evan terdiam, ternyata dia masih brengsek di mata Aluna selama ini. Dia terdiam beberapa saat, melihat tangis Aluna yang tak henti. Tanpa bisa dia hentikan juga. Itu membuat dia tidak tahan, lalu ia pun pergi meninggalkan Aluna di kamar sendirian.


Aluna hanya mematung di ranjang menatap kepergian Evan dengan isak tangis dan wajah yang basah karena air mata. Dia masih bingung dengan dirinya, kenapa dia begini malam ini. Di saat yang seharusnya menjadi malam bahagianya. Evan pasti sangat kecewa dengannya sekarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang, semua kacau.


...***...


Pikiran Evan berkecamuk sepanjang perjalanannya keluar hotel. Melihat trauma Aluna membuat dia merasa kacau. Pikirannya kembali pada kenangan malam itu di Bali. Saat pertama kalinya Evan menjadi jahat dan meluahkan semua amarahnya bertahun-tahun pada Aluna. Dia menjamah Aluna seperti seekor binatang liar yang tak berakhlak, ia pikir ia akan merasa puas melakukan itu, setidaknya dengan orang yang sama-sama pernah bersikap sama padanya di masa lalu. Tapi ternyata tidak, setelah itu dia merasa sama kotornya dengan Aluna dan tak henti-hentinya merasa bersalah pada Aluna.


Apa lagi saat melihat tangis Aluna malam ini, dia semakin merasa bersalah. Dulu bahkan dia sampai menemui pakdenya karena penyesalannya menyakiti dan menghancurkan hidup Aluna. Itu pula yang membawa langkahnya nekat menemui Aluna. Rasa bersalah yang besar tidak dapat ia tahan lagi.


Tapi jika Aluna takut padanya kenapa dia bersikap seolah-olah dia menyukainya. Apa hanya untuk menentang ketakutannya? Lalu sekarang dia tidak sanggup menghadapinya, sedangkan mereka berdua sudah terjebak dalam ikatan pernikahan.


Ada kah dia punya alasan lain? Apakah ini hanya tuntutan egonya saja? Atau hanya sekedar tak ingin kalah dari Jamia? Ada alasan lain.Evan terus memikirkan permasalahan ini.


Ya! Ada bayi mereka yang menjadi alasannya. Itu cukup kuat menjadi alasan pernikahannya sekarang. Tapi... Ada kah cinta diantara mereka sekarang? Kenapa baru sekarang dia memikirkan tentang itu? Saat dia sudah resmi terikat dengan pernikahannya. Apakah Aluna mempermainkan pernikahannya? Apakah mereka sanggup berkomitmen dengan pernikahannya? Entah lah, Aluna tipikal seseorang yang suka melakukan sesuatu tanpa tau apa yang dia lakukan.


"Kekanak-kanakan!" Gerutu Evan sendirian di bar seraya menegak minuman sodanya.


Sekarang dia tengah menikmati minuman nya di salah satu bar di dekat hotel sendirian. Dia membuang bungkus rokoknya yang kosong begitu saja di mejanya.


Tanpa Evan sadari Soni sedari tadi memperhatikan sikap depresi Evan. Dia tersenyum penuh arti. Lalu ia pun pergi.


***


Selesai menenangkan hatinya, Evan kembali ke kamar hotel. Dia mengebel pintu kamar dan segera di buka oleh Aluna yang sudah menunggunya sedari tadi. Evan masuk dengan wajah yang datar dan dingin. Aluna mengekori langkah Evan. Dan segera memeluk Evan dari belakang, itu membuat Evan menghentikan langkahnya.


"Jangan marah, Van! Aku cuman butuh waktu. Kasih aku waktu. Aku sayang sama kamu!" Aluna menangis.


Evan membalikkan tubuhnya dan menatap Aluna dalam. Evan merasakan ketulusan Aluna. Mata indah itu mungkin benar telah membuatnya jatuh cinta, bukan sekedar rasa bersalah saja. Evan pun luluh, dia memeluk Aluna dan mendekapnya ke dadanya Aluna pun tersenyum. Mereka berpelukan dengan hangat. Mungkin cinta ada diantara mereka tanpa mereka sadari.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2