
Dea melihat bagaimana Evan akhir-akhir ini sering melamun dan diam. Dea yang tengah di dapur bersama Aluna segera menghampiri Aluna.
"Lun, pergi healing gih bareng laki lo. Anak-anak biar gue yang jagain. Buat Kyu lo pompa aja ntar gue sama sus yang jagain," ungkap Dea kepada Aluna.
Aluna menghentikan kegiatannya di dapur dan menatap sahabatnya itu. Mungkin ini waktu yang tepat untuk bicara dengan Evan. Pikir Aluna.
"Gue emang sering kesel sama dia. Tapi, gue juga nggak tega liat dia kek gitu," tutur Dea yang kelihatannya dalam mode bijak. Aluna tersenyum dan segera melepas celemeknya menghampiri Evan yang tengah duduk diam di taman belakang. Tampak ia dengan sebuah buku bacaan di tangannya. Tapi sepertinya dia tidak tengah membaca buku itu. Pikirannya seolah kini tengah berada di tempat lain.
Tiba-tiba dengan lembut Aluna memeluk suaminya dari belakang sesaat Evan kaget dan spontan menoleh. Seutas senyum terkembang dari bibirnya saat menyadari jika itu adalah Aluna.
Sebuah ciuman hangat Aluna berikan di wajah suaminya. Ada senyum tipis di bibir Evan mendapati perlakuan manis seperti itu.
"Lagi apa, sayang?" tanya Aluna dengan masih memeluk suaminya dari belakang. Evan menunjukkan bukunya.
"Kita jalan, yuk bentaran. Aku bosen di rumah terus. Kamu jarang ada di rumah belakangan ini. Aku pengen jalan-jalan berdua sama kamu kayak kita pacaran dulu," pinta Aluna manja. Evan mengernyitkan keningnya dan memutar wajahnya kearah Aluna.
"Aku pengen kita quality time," bisik Aluna sekali lagi satu kecupan ia daratkan di wajah Evan. Membuat Evan kembali tersenyum.
"Anak-anak?" tanya Evan tentang anak-anak mereka.
"Kita tinggalin sama Dea sebentar. Dia mau tadi. Kita perginya diam-diam," gumam Aluna lagi. Evan pun mengangguk setuju. Terus terang dia juga rindu momen berdua saja bersama Aluna seperti dulu.
***
Dengan sedikit mengendap-endap akhirnya Aluna bisa kabur dari anak-anaknya yang tengah bermain bersama Dea dan susternya di kamar. Dea melihat kepergian Aluna dengan senyuman tulus dan berharap Aluna bisa membuat suaminya kembali ceria seperti dulu lagi.
***
"Kita mau kemana?" tanya Evan setelah mereka keluar dari pekarangan kediaman mereka.
__ADS_1
"Kita ke pantai waktu itu, yuk. Pantai yang tempat kabur dulu sebelum kita nikah," kenang Aluna pada pantai dimana Evan pernah membicarakan tentang Daddynya untuk membujuknya pulang. Sekarang ia akan ke sana lagi untuk alasan yang berbeda.
***
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka sampai di sebuah pantai dengan pemandangan yang indah. Tampak lautan tenang dengan angin sejuk yang berhembus. Aluna segera melepas heelsnya dan menyerahkannya kepada Evan. Itu mengingatkan Evan kejadian beberapa tahun lalu saat di pantai Bali di sunset waktu itu. Saat untuk pertama kalinya dia dan Aluna pergi berdua. Waktu itu dia merasa kesal kepada Aluna bahkan terkesan membencinya, tapi hari ini perasaannya terhadap Aluna sudah berbeda. Aluna sekarang malah menjadi satu-satunya cinta yang sempurna baginya. Wanita yang telah memberikannya tiga orang anak dalam hidupnya. Wanita yang memperjuangkannya dan wanita yang diperjuangkannya.
"Kamu ingat kejadian waktu kita di Bali?" tanya Evan. Aluna menoleh kearah Evan yang berjalan di belakangnya dengan heels Aluna di tangannya yang tengah ia tenteng. Aluna melihat pemandangan yang sama saat bersama Evan beberapa tahun lalu. Sesaat seulas senyum manis tersematkan di wajah cantiknya.
"Ini kayak kencan pertama kita dulu. Walau dulu kamu kesel sama aku," tutur Aluna mengingatnya. Evan tertawa kecil saat menyadari Aluna mengingatnya.
"Waktu itu kamu nyebelin, ya. Aku capek seharian bawain barang belanjaan kamu tapi masih kamu paksa aku nemenin kamu liat sunset," ujar Evan yang membuat Aluna terkekeh bersama Evan.
Sesaat dia menghentikan langkahnya dan menatap Evan dalam. Mereka menghentikan langkah mereka sesaat. Dan kembali tertawa berdua. Kini Aluna berjalan dengan menggandeng tangan suaminya itu.
Mereka terus mengenang momen itu bersama. Hingga mereka berhenti di sebuah kayu yang sama saat Evan membawanya ke sana dulu ketika mereka kabur ke pantai. Tepatnya saat Aluna mengandung Alif waktu itu.
Evan kembali tersenyum.
"Betapa tertekannya kita waktu itu, Van. Aku hamil dan kamu di musuhin daddy. Kamu lagi sakit dan aku ngidam. Kita kuat waktu itu karena kita memiliki satu sama lain, kan?" kenang Aluna Evan tersenyum dan mengangguk dengan pikiran kembali ke kenangan waktu itu.
"Saat itu aku mulai merasa aku jatuh cinta sama kamu, Lun. Kamu perjuangkan aku sekuat itu sampai-sampai kamu lupain daddy. Waktu itu aku janji aku nggak akan sia-siain kamu dan akan berjuang buat dapatin kamu juga," tutur Evan membuat Aluna merasa terharu. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Evan.
"Itu momen yang nggak mudah buat kita lalui tapi aku merasa senang dan itu jadi salah satu momen indah kita kan, sayang," tutur Aluna seraya memeluk lengan Evan dan menyandarkan kepalanya di bahu Evan lebih dalam lagi.
Mereka sama-sama larut di momen itu.
"Waktu itu kita nikah muda, ya. Kamu belum genap 25 tahun dan aku masih 21 tahun. Banyak hal yang kita hadapi yang buat kita gagal mempertahankan hubungan kita." Evan tersenyum miris mengenang kegagalan mereka saat itu.
"Van!" seru Aluna lagi.
__ADS_1
"Hmmm ....," sahut Evan menoleh kearah Aluna.
"Kamu tau? Butuh waktu buat aku lupa perbuatan kamu saat itu walau pada kenyataannya aku jatuh cinta sama kamu. Aku takut tapi aku tetap inginkan kamu. Van, apa kamu tidak bisa lakukan hal yang sama? Memaafkan ibumu dan dengarkan alasannya, walau aku tau itu berat buat kamu. Beri dia kesempatan, cobalah bersamanya sehari saja. Peluk dia sebentar saja agar kamu tau, dia sangat baik seperti kamu, Van. Dia tidak berniat mencampakkan kamu, mungkin keadaan memang sangat berat buat dia saat itu. Seorang wanita berusia 19 tahun melahirkan sendirian tanpa suami, tanpa keluarga yang mendukungnya, dan karirnya pun nyaris hancur. Apa ada orang yang bisa tetap waras dengan tekanan sebegitu beratnya? Apa kamu pikir dia masih bisa membesarkan kamu dengan baik saat itu?" ungkap Aluna panjang lebar.
Evan tertunduk dan menelan ludahnya yang terasa pahit. Betapa Aluna tak tahu bagaimana dia menjalani masa kecilnya yang berat tanpa seorang ibu. Evan kecil seringkali harus menahan laparnya karena tak sepersen uang jajan pun dia miliki. Tak ada sosok ibu yang ikut bertepuk tangan saat dia mendapatkan piala pertamanya. Tak ada seorang ibu yang bisa memarahi teman yang usil dengannya, hanya Anto yang dia miliki saat itu sebagai pelindungnya.
Sesaat Evan mengalihkan wajahnya karena air matanya mulai menganak sungai dan siap untuk runtuh.
"Apa jika masa kecilku baik-baik saja aku akan lakukan itu padamu, Luna? Apa aku akan pergi? Apa aku akan merana?Apa aku akan membenci semua orang?Kamu tidak besar seperti aku di besarkan, Luna. Betapa aku terus berharap setidaknya ada ibu peri yang tak terlihat yang bisa bertepuk tangan untuk ku saat ibu guru memanggil nama Evan Pratama sebagai juara kelas bahkan juara umum. Ku lakukan apapun agar aku di cintai mami, belajar sendirian dengan buku usang, selalu bekerja keras untuk mendapatkan uang entah dari beasiswa ataupun hasil kerjaku, asal mami dan papa tidak merasa aku merepotkan mereka. Ku tunggui papa tiap pulang kerja hanya berharap dia memelukku sekali saja. Sebegitu luka hatiku saat itu. Betapa haus aku akan cinta hingga aku putus asa dan berhenti berharap. Bahkan saat papa menjerit di London memanggilku untuk kembali dengan angkuh dan kerasnya aku bisa pergi tanpa perasaan. Sebegitu rusaknya perasaan aku saat itu karena dia yang pergi tanpa pesan. Lalu dia datang meminta aku membagi waktu bersamanya?" sinis Evan dengan penuh emosional.
Aluna pun turut menangis mendengarnya. Dia mengangguk paham dan menarik suaminya itu kembali kepelukannya.
"Semua masih terasa sakit buat aku, sangat sakit buat aku terima," kesah Evan di pelukan Aluna dengan air mata tak sanggup ia bendung lagi. Cukup lama Aluna memeluk suaminya hingga ia benar-benar tenang.
"Kamu orang pertama yang mempertahankan aku dengan rasa sakitmu. Satu-satunya orang yang tak berpaling dengan semua kekuranganku," imbuh Evan membuat Aluna mengembangkan senyumnya di antara tangisnya.
"Kamu sempurna buatku, Van," gumam Aluna, dan mereka pun tersenyum bersama. Perlahan Evan mendekatkan wajahnya kepada Aluna dan perlahan menyentuh bibir itu dengan lembut seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Perlahan Aluna merasakan pria ini masih sama seperti dulu. Dia masih sangat mencintai Aluna. Bodohnya dia sempat meragukan itu. Tidak, dia tidak akan pernah ragu lagi tentang cinta Evan kepadanya.
Mereka terus bercumbu hingga sebuah sentuhan di dadanya yang Aluna rasa Evan sudah cukup jauh. Dia segera mendorong tubuh Evan yang kuat. Hingga Evan kaget dan menatap Aluna.
"Udah, ah. Nanti kita kebablasan di sini lagi," ucap Aluna seraya melangkah pergi meninggalkan evan yang masih terpaku dengan seulas senyum.
"Aku nggak bisa ngapa-ngapain di kamar, masih ada si kampret Dea di kamar kita," teriak Evan. Aluna hanya tertawa mendengarnya seraya geleng-geleng kepala.
"Nanti aku usir. Udah pulang yuk," ajak Aluna seraya terus melangkah menjauh meninggalkan Evan yang tertawa malas karena Aluna tidak bisa di ajak kerjasama. Sesaat Evan merasa dia jauh tertinggal hingga ia separuh berlari mengejar Aluna dan melingkarkan tangannya di pinggang Aluna sambil terus berjalan.
Aluna tahu, tidak mudah bagi Evan membuka hatinya untuk menerima seorang wanita yang telah meninggalkannya itu. Biarlah waktu yang akan melunakkan hatinya. Semoga saat hatinya melunak dia tidak terlambat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1