PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
ALICE DAN ALUNA


__ADS_3

Siang itu Aluna pergi ke kampus dengan langkah gontai. Dia memang mulai melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti dulu. Pikirannya kalut memikirkan permasalahannya dengan Evan. Apa lagi soal foto itu, Aluna merasa sangat bersalah kepada Evan. Bisa-bisanya Soni mengambil kesempatan dengannya. Aluna memejamkan matanya merasa sangat bersalah, dia tidak ingin Soni menyentuhnya. Hanya Evan laki-laki yang di cintainya. Hanya Evan yang boleh menyentuhnya, dia milik Evan. Selalu itu yang di fikirkan nya.


Mengingat kejadian itu membuat dia semakin kacau. Tiba-tiba aluna di kaget kan oleh teman di sampingnya.


"Lun! Isi kuisnya. Bentar lagi waktu habis. Kamu belum jawab lo," ucap nya. Aluna melihat kertas jawabannya yang masih kosong. Dia pun segera mulai menulis. Temannya yang baik hati menyerahkan lembar jawabannya kepada Aluna. Aluna tersenyum dan mulai menyalinnya. (Nyontek... 🤦‍♀️ Bukan contoh yang baik ya... 😅)


Setelah selesai kuliah Aluna segera pulang, dia menuju mobilnya. Sebelum sempat dia membuka pintu mobilnya, dia sudah di hentikan. Seseorang menahan pintu mobil Aluna dengan tangannya. Aluna menoleh, tampak ibu Soni dengan tatapan sangarnya.


"Eh, Aluna. Gara-gara kamu semalam anak saya Soni di tonjok suami kamu. kamu itu sudah bersuami. Jadi jangan deket-deket sama Soni. Kamu yang mancing Soni. Sekarang malah Soni yang di salahin," ucap Ibunda Soni membela anaknya. Tiba-tiba ada seseorang memegang bahu bu Manda Ibunda Soni. Dia menoleh, terlihat wajah wanita cantik yang anggun.


"Anak ibuk itu juga diajarin sopan santun, jangan main nyosor aja sama istri orang. Pakek kirim ke suaminya segala. Itu nama nya anak ibuk yang mintak di tonjok," ucap Seseorang tiba-tiba. Aluna dan buk Manda menoleh. Ternyata Alice Tunangan Brian. Dia berjalan anggun ke arah mereka.


"Soni kirim foto dia sama suami Aluna. Maksud anak ibuk itu apa?!" ucap Alice lagi.


"Kamu jangan ikut campur. Ini urusan saya sama Aluna," ucap bu Manda kesal.


"Aluna ini teman saya. Jadi ini juga urusan saya. Tunangan saya juga sahabatnya suami Aluna," ucap Alice menegaskan hubungan mereka.


Bu manda tidak peduli dengan keberadaan Alice, baginya melabrak Aluna itu yang penting. Untuk meluahkan kekesalannya ke pada Aluna karena pernah menolak anaknya dulu.


"Heh, Aluna! Saya cuman mau ingatin jangan deketin Soni lagi. Jangan karena suami kamu tidak sehebat Soni lalu kamu beralih menggoda anak saya lagi. Saya tidak tertarik menikahi anak saya dengan janda ke gatelan seperti kamu," sinis bu Manda dengan gaya pongahnya. "Oh ya, Kamu sudah janda apa belum sih?!" hina bu Manda lagi. Dengan tatapan penuh tanya dengan status Aluna.


"Bu Manda jangan keterlaluan, deh," ucap Alice lagi. Dia mulai menangkap gurat tersinggung dari wajah Aluna. Karena memang Evan belum pernah menalak dirinya secara langsung, tapi mereka juga sudah hampir 6 bulan tidak pernah bersama lagi.

__ADS_1


"Kamu juga. Sekarang udah miskin, kan?! Jadi diam saja. Lebih baik kamu pikirkan biaya rumah sakit ibu kamu. Jangan sampai kamu jual diri buat ngobatinnya. Kasian bapak kamu yang nanggung dosanya!" ucap Bu Manda balik menyerang Alice. Itu membuat mereka berdua murka.


"Udah lah bu Manda, jangan nambahin masalah saya. Saya nggak tertarik dengan anak manja yang di bawah kuasa maminya kayak Soni. Nggak di minta pun saya akan jauhi dia sejauh mungkin!" ucap Aluna tajam.


"Udah bu manda. Pergi sekarang. Apa perlu kami panggil security buat ngusir ibuk," ucap Alice mulai malas berdebat.


Bu Manda kehilangan kata-kata. Sebelum pergi dia masih mengomel dan terlihat masih sangat kesal.


Aluna memandang Alice. Dia tersenyum kearah Alice, begitu pula Alice.


"Lun!" seru Alice seraya memeluk Aluna. Dan Aluna pun memeluknya.


Mereka pun mengobrol di salah satu kafe.


"Nggak papa kok, Alice. Kita bisa berteman mulai sekarang. Makasih ya udah belain aku di depan buk Manda tadi," ucap Aluna tulus. "Kok, kamu bisa tau sih masalah itu tadim?!" tanya Aluna kepada Alice.


"Brian yang cerita sama aku. Makanya aku nyariin kamu. Eh, nggak tau nya kamu lagi di labrak ibuk Soni. Evan juga ngundurin diri dari perusahaan Soni. Dia bayar uang tebusan kontrak kerjanya, sebab melanggar kontrak kerja. Mending gitu sih. Dari pada dia kerja terus di situ," ucap Alice. Aluna semakin merasa bersalah. Karena kecerobohannya Evan juga menanggung akibatnya.


"Semua salah aku alice. Aku selalu buat Evan kena masalah. Aku bukan istri yang baik buat Evan," ucap Aluna sedih. Alice menggenggam tangan Aluna yang terlihat sedih. Aluna tersenyum seraya menyeka air matanya. Tidak ada gunanya selalu menyesalinya.


"Gimana kamu sama Brian. Udah balikan lagi?!" tanya Aluna.


"Udah. Nunggu mama sembuh kita rencananya mau nikah," ucap Alice. Aluna senang akhirnya dua sejoli ini bisa bersatu kembali setelah terpisah karena salah paham.

__ADS_1


"Aku kagum sama kamu Alice. Kamu bisa seyakin itu sama Brian. Bahkan saat dia nipu kamu sekalipun, kamu yakin dia akan kembali," ungkap Aluna kagum.


"Karena cinta itu punya nuraninya sendiri Aluna. Jangan pakai prasangka, coba kamu pakek nurani kamu sama dia. Nurani selalu menunjukkan kebenaran yang tidak terlihat oleh mata!" ucap Alice. Aluna mengerti, dia selalu mengenali Evan dengan prasangkanya bukan nuraninya. Karena itu dia selalu salah menilai Evan.


***


Di sisi lain. Evan tampak sangat kacau. Dia menaruh barang-barangnya di atas meja. Dia merasa menjadi orang yang selalu gagal. Tidak Ada yang benar yang dia lakukan belakangan ini. Dia sangat tertekan dengan keadaannya. Dia ke kamar mandi, dan mulai mengguyur tubuhnya dengan shower di kamar mandi. Dia mencoba mencari ketenangannya sendiri. Dia melihat pisau cukurnya. Dia mengambil itu dari rak di kamar mandi.


Pikirannya mulai penuh dengan pikiran buruk. Sesaat dia kehilangan akal sehatnya. Dia bisa lari dari permasalahan ini dengan pisau ini. Jika dia tidak ada maka semua akan baik-baik saja. Evan berlahan mengarahkan pisau tersebut ke nadi tangannya. Dan ... dia menjatuhkannya. Tidak dia tidak boleh lemah, dia sudah berjuang sejauh ini, dia tidak boleh lemah. Dia masih bisa melanjutkannya. Dia tidak boleh mengecewakan kedua orang tuanya. Dia harus kuat untuk mereka. Evan mencoba meluruskan pikirannya lagi. Dia tertunduk dan terduduk lemas bersandar di dinding kamar mandi masih dalam keadaan mengenakan pakaian lengkapnya.


Tiba-tiba ibunya memanggilnya dari luar.


"Van! Ada temen kamu nyariin," seru Rima dari luar.


"Iya Siapa, Mih?!" seru Evan dari kamar mandi.


"Mami kurang tau. Kayaknya temen kantor kamu," ucap Ibunya dari luar lagi.


"Iya, Mih. Bentar!" sahut Evan dari kamar mandi lagi.


Panggilan ibunya barusan membuyarkan pikiran buruknya yang sempat melintas di benaknya. Dia kembali meletakkan pisau cukur itu ke tempatnya. Dia mengusap wajahnya dan segera menyelesaikan mandinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2