PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
CINCIN PENGIKAT


__ADS_3

Di Belanda Aluna tengah duduk di taman bersama Dea dan Silvi. Dia melihat sebuah ayunan dan dia pun bermain ayunan seperti anak kecil dengan gembiranya. Sedangkan Silvi yang tengah berkutat dengan laptopnya, karena sedang mengerjakan tugas, dia tidak begitu peduli dengan tingkah Aluna. Hanya Dea yang dari tadi memperhatikan tingkah Aluna, sambil memakan Lollipop nya Dea mencoba menalar tingkah Aluna.



"Dia pakek cincin kawin setiap saat, panik kalo ilang. Biar apa cobak? Ada cowok yang deketin, dia pamer cincin kawinnya. Kalo dia pulang terus Evan punya pacar, apa dia masih bisa waras?!" gumam Dea yang kelihatannya sedang kumat lagi.



(Dea Ananta, sahabat sekaligus sepupu Aluna. Suka pecicilan dan ngomong asal. )



(Silvi Gunawan. Sahabat sekaligus sepupu Aluna yang paling pintar di antara mereka bertiga, dan yang paling bisa bersikap dewasa di antara mereka bertiga)


"Biarin aja. Itu yang bikin dia semangat belajar dan kuliah. Evan pernah bilang, dia mau istri yang berpendidikan. Kalo sampe dia berhenti kuliah, kita juga bisa nggak kuliah. Yang biayain kita kuliahkan daddy nya Aluna kan. Jadi, lo jangan betingkah kalo masih mau selesein kuliah lo," ucap Silvi pada Dea.


"Kalo masih sayang, ngapain cerai?" gumam Dea.


"Tanyain aja sama dia, kenapa berulah waktu itu. Terus waktu Evan marah, nyesel," ucap Silvi yang masih tidak di ketahui Aluna dan tetap fokus dengan laptop dan bukunya.


Puas bermain ayunan, Aluna segera menghampiri Dea dan Silvi.


"Udah, Sil?" tanya Aluna pada pekerjaannya Silvi.


"Udah apaan?! Lo udahan gilanya?!" seloroh Dea tanpa beban, sontak membuat Aluna menatap tajam kearahnya.


"Lo, ya. Mintak gue hajar!" seru Aluna kesal seraya mengangkat sebotol minuman, seakan akan di lempar pada Dea, Dea pun segera bangkit menghindar. Silvi hanya tertawa melihatnya.


"Eh, Lun. Lo pakek cincin kawin padahal udah cere, belajar mandiri, selesein kuliah tinggi-tinggi. Semua demi Evan!" ucap Dea terputus dan segera membenahi duduknya untuk menghadap ke arah Aluna langsung. "Kalo lo balik Indonesia terus Evan punya pacar, atau lebih parah udah punya istri, Gimana?!Jangan sampe lo sibuk memantaskan diri, Evan malah sibuk cari yang pantas," sambung Dea lagi dengan gaya penuh provokasinya. Silvi langsung membelalakkan matanya marah saat Dea menatapnya dengan tatapan usil.


Aluna pun ikut berfikir. Selama ini dia berubah demi Evan, benar kata Dea bagaimana jika Evan di sana sudah punya penggantinya, Atau bahkan istri.

__ADS_1


"Gue cuman mau ngingetin lo. Jaga ke warasan itu jauh lebih penting. Jangan sampe lo gila kalo ngeliat Evan sama cewek lain," nasehat Dea yang membuat Aluna mulai khawatir. Dea tersenyum tipis karena mulai merasa jika ucapan usilnya bisa mempengaruhi Aluna. Sedangkan Silvi yang takut Aluna benar-benar terpengaruh dengan keisengan Dea, mulai memegangi tangan Dea seraya menggelengkan kepala seolah meminta Dea untuk stop mengusili Aluna. "Eh, Evan itu ganteng, miskin aja dia banyak yang nyamperin. Apa lagi ini dia mau gantiin bokap lo. Beuhh, bukan ganteng lagi. Lee Min Hoo mah lewat kalo kayak gitu ceritanya," hasut Dea lagi memanas-manasi Aluna. Kali ini Aluna tampak mulai benar-benar terpengaruh, itu terlihat dari tatapan Aluna Aluna yang mulai menajam dan nafasnya yang tampak naik turun, menandakan jika dia sudah mulai tak bisa menahan pergolakan dalam dirinya Aluna.


Silvi yang merasa Dea sudah tak terkendali dan tak bisa di hentikan dengan kode lagi, langsung mendekap mulut Dea agar berhenti berkicau. Dea yang kaget langsung memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Silvi.


"Udah, Lun. Jangan di dengerin. Lo fokus aja sama kuliah. Kalo soal jodoh itu urusan tuhan, jodoh itu udah mau ijab kabul sekalipun kalo dia beneran jodoh lo, dia bakal balik lagi kok," ucap Silvi yang mulai takut Aluna akan berfikir berhenti kuliah, dan itu artinya dia juga terancam akan berhenti kuliah hanya karena ulah usil Dea yang memang sering kelewatan ini.


Silvi terus berusaha mendekap mulut Dea, agar tidak berkoar lagi dengan Dea yang terus mencoba memberontak. Sedangkan Aluna tampak berfikir dengan bola matanya yang terus berputar. Hingga akhirnya senyuman manis kembali terbit di bibir indahnya.


"Gue yakin Evan masih jodoh gue. Kalo nggak, gue siap jadi pelakor di rumah tangga nya kelak," gumam Aluna dengan senyuman manis yang terlihat sangat optimis. Sontak membuat Silvi tanpa sadar melepaskan dekapannya terhadap Dea yang ternyata juga ikut kaget mendengar pernyataan Aluna barusan.


"Sah. Udah nggak waras lagi temen lo, Sil," Gumam Dea pada Silvi dengan tatapan tak percaya keduanya, Silvi tanpa sadar malah ikutan mengangguk setuju seraya kedua tangannya kini menyentuh kedua bahu Dea.


"Sindrom baby blues nya dia udah lewat, kan?!" tanya Silvi yang mulai takut karena menangkap sikap tidak biasa dari sahabatnya itu dengan posisi yang tak berubah.


"Tau', Dia keseringan Sindrom deh kayaknya," gumam Dea. "Jadi ada yang rusak saraf otaknya mungkin," tambah Dea lagi kembali terdengar menyebalkan. Kini gantian Aluna menatapnya tajam dan Dea membalasnya dengan senyuman kudanya yang menampakan deretan giginya.


...***...



Setelah rapi dia segera ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarganya. Saat pertama kali melihat Evan dengan stelan jasnya, anggota keluarga di buatnya pangling.


"Widiiihhh. Ganteng banget," seru Tama memuji penampilan Evan. Rima yang baru datang membawa makanan dari dapur pun ikut terpukau, dia segera menghampiri putranya itu untuk membenahi dasi Evan.


"Ganteng banget anak mami hari ini. Kerja yang baik ya nak, ya," ucap Rima dengan senyum merekah dan segera menghampiri Evan seraya merapikan lagi dasi putranya itu. Setidaknya sekarang Evan sudah mulai bersemangat lagi menata hidupnya yang sempat berantakan. Ayahnya pun ikut senang dengan Evan yang terlihat sudah bersemangat lagi itu.


"Kerja yang baik, Van," usap ayahnya.


"Iya, pah," jawab Evan seraya duduk bersiap untuk sarapan.


Pagi itu mereka sarapan dengan hangat. Rima melepas anak-anak dan suaminya pergi bekerja, hingga ketiganya benar-benar menghilang dari balik pintu gerbang.

__ADS_1


"Semoga kamu sukses ya, nak," ucap Rima tulus untuk Evan.


***


Sesampainya di kediaman Richard, Evan duduk menunggu di ruang tamu. Tidak lama Richard pun datang, Evan langsung menoleh kearahnya. Richard tersenyum melihat kedatangan Evan.


"Gimana? Sudah siap?!" tanya Richard bersemangat. Evan tersenyum seraya mengangguk. Mereka pun segera pergi menuju perusahaan Richard.


Evan dan Richard pergi dengan satu mobil yang sama. Dia sengaja membawa Evan bersamanya agar semua orang tahu bahwa Evan adalah orang terdekatnya. Dia tengah membuat perlindungan terhadap Evan. Dia tahu Evan masih mentah di dunia bisnisnya, jadi dia ingin membuat posisi aman dulu di perusahaannya. Agar Evan mudah untuk di terima kalangan perusahaannya.



(Lobby di perusahaan Richard)


Evan di perkenalkan dengan pejabat-pejabat di perusahaan tersebut, mereka menyambut Evan dengan ramah. Richard membuat pertemuan untuk menyambut Evan di perusahaannya.


"Dia adalah orang penting bagi saya. Jadi jika kalian macam-macam dengan dia. Kalian tahu bagaimana cara kerja saya menyelesaikannya. PAHAM SEMUANYA!" tegas Richard penuh tekanan. Mereka pun jadi ikut bergidik mendengar peringatan itu.


"Dia lulusan terbaik Oxford. lulusan MBA dengan nilai Comloude. Jadi kalau soal pendidikan, dia yang terbaik. Tapi karena dia baru di sini, saya harap Kalian bisa bekerja sama dengannya. Saya sedang mempersiapkan dia sebagai pengganti saya. Sekarang dia juga tangan kanan saya, Selain pak Hans tentunya," terang Richard. Para pegawai banyak yang terpesona dengan penampilan Evan yang tampan dan terkesan cool itu. Tidak ada yang tahu bahwa Evan adalah mantan suami Aluna. Menantu bos mereka.


Saat Evan lewat untuk menuju ruangannya, sontak Evan menjadi pusat perhatian. Apa lagi gaya cuek Evan yang tidak terlihat seperti sindrom star. Dia hanya fokus dengan penjelasan Richard dan orang-orang Richard. Itu malah menambah nilai tambahnya. Lelaki yang tidak haus akan perhatian.


Para karyawan mulai berdesas-desus mengenai Evan. Apa lagi para wanita, mereka memuji fisik Evan yang terlihat sempurna di mata mereka. Dengan tubuh tinggi jenjang, dan kulit putih serta wajah yang maskulin, membuat Evan menjadi sangat menarik.


***


Tanpa sepengetahuan Evan Richard mengirim foto Evan saat di perusahaannya kepada Aluna. Aluna menerimanya dengan senyum senang.


"Ganteng banget," lirih Aluna seraya mengusap dan mencium potret mantan suaminya itu di handphonenya. Dia terus memandang foto itu dengan senyum.


Tanpa Aluna sadari, Dea yang baru keluar dari kamar mandi terus memperhatikannya dengan tatapan aneh melihat Aluna senyum-senyum sendiri seraya memandangi handphone nya. "Udah beneran gila dia," gumam Dea sendirian dan berlalu dari sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2