PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
RASANYA MASIH SAMA


__ADS_3

Sorenya Tari datang ke apartemen Evan. Dia membawa banyak barang untuk di simpan di kulkas. Karena Evan selalu malas membeli barang, jadi Tari selalu sigap memenuhi kulkas di apartemen Evan. Itu untuk menjaga agar saat Evan lapar, dia punya sesuatu di kulkas untuk di makan. Evan adalah tipe orang yang tidak banyak makan. Walau dia tidak pilih-pilih makanan, tapi makannya sedikit.


Sesampainya di apartemen, Tari langsung menyusun semuanya di tempatnya dengan rapi. Evan yang baru turun melihat Tari sedang beres-beres. Tari memang sering masuk apartemen Evan tiba-tiba, dia sudah hafal Password pintunya.


Evan menatap Tari dengan perasaan bersalah. Semakin lama dia menjalin hubungan dengan Tari, maka semakin sulit dia melepaskan Tari. Tari selalu baik padanya, bahkan sangat baik dan pengertian.


Evan pun menghampiri Tari di dapur. Dia duduk di kursi di pantry seraya mencari momen tepat untuk bicara dengan Tari.



(Dapur di apartemen Evan)


"Sampai kapan kita akan seperti ini? Aku benar-benar tidak bisa begini Tari. Aku takut kita akan menjadi dua orang musuh jika kita terus paksakan hubungan kita," ucap Evan "Jangan menungguku. Kau akan kecewa. Aku tidak bisa," gumam Evan. Tari terdiam, tiba-tiba dia merasa lemas tepung yang ia pegang pun terjatuh dan tumpah. Evan kaget, dia menatap Tari yang tampak mulai bergetar menahan perasaannya.


"Kau tidak pernah mau membuka hatimu untukku, Van," gumam Tari beriringan dengan tetesan air matanya. Evan tercekat dan tertunduk, dia merasa sangat kejam kepada Tari. Dia tidak bermaksud melukai perasaan Tapi. Tapi dia juga tidak ingin membuat Tari menunggunya terlalu lama, karena jelas perasaannya hanya untuk Aluna.


Tari semakin tidak dapat menahan perasaannya lagi, ia pun langsung pergi pulang meninggalkan Evan yang masih duduk terpaku.


Evan memejamkan matanya sesaat. Dia tahu ini terlalu jahat untuk di ucapkan, menundanya terus juga mungkin akan membuat masalah ini semakin rumit nantinya untuk di selesaikan. Apalagi sekarang dia sudah sangat dekat dengan Aluna, tentu kenyataan ini akan membuat Tari semakin kecewa nantinya jika dia terlambat mengetahuinya.


...***...


Malam itu ada pertemuan para kolega. Evan di minta Richard untuk menjemput Aluna. Karena dia akan langsung dari bandara ke tempat pesta, jadi dia tidak bisa menjemput Aluna. Karena itu akan merepotkan untuknya yang sudah di kejar waktu.

__ADS_1


Evan pun Melaksanakan perintah Richard, dia menjemput Aluna ke kediamannya. Pelayan di sana tersenyum melihat kedatangan Evan. Mereka tampak gembira saat melihat Evan kembali bersama Aluna. Sebelum pergi Evan tersenyum menyapa mereka, mereka selalu menyukai keramahan Evan. Yang dinilai mereka sangat rendah hati itu.


Setelah Aluna siap, mereka pun pergi berdua, sedangkan Richard sudah menunggu di sana. Evan masuk bersama Aluna. Walau tidak bergandengan tangan, tetap saja mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Semua mata tertuju pada mereka, selain karena tampilan mereka memukau, juga karena Aluna adalah anak Richard Brahmana dan ini untuk pertama kalinya Aluna hadir di acara seperti ini. Mereka yang tahu siapa Richard Brahmana segera mendekati Aluna yang di sambut dengan ramah oleh Aluna, sedangkan Evan sibuk dengan rekannya. Mereka mulai terlihat sibuk masing-masing.



(Aluna Jeanela dengan gaun pestanya)


(Evan Pratama dengan Stelan jasnya)


Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri Aluna. Dia mencengkram lengan Aluna, sontak itu membuat Aluna kaget dan menepisnya secara spontan. Aluna menoleh pada sosok itu.


"Morris!" gumam Aluna kaget, karena tidak menyangka akan bertemu dengan Morris di sini.


Evan mulai terlihat tidak menyukai itu, melihat Aluna di sentuh laki-laki asing membuat Evan sangat terganggu. Evan pun segera menghampiri mereka. Dan mencengkram kuat tangan laki-laki itu seolah-olah akan mematahkannya. Sontak itu membuat Morris dan Aluna kaget. Itu membuat mereka menjadi pusat perhatian di pesta tersebut.


Evan menatap tajam ke arah laki-laki itu. Sekarang Morris baru sadar, bahwa itu adalah Evan. Orang yang selama ini Aluna sebut sebagai suaminya. Morris tersenyum sinis pada Evan. Sudah lama dia ingin bertemu sosok laki-laki yang selama ini selalu Aluna puja-puja, dan sekarang laki-laki itu berdiri di hadapannya langsung. Dari sorot matanya dia terlihat sangat berwibawa. Dan dari penampilan Evan, Morris dapat simpulkan, Evan adalah laki-laki yang sangat menarik. Jadi ini yang membuat Aluna tidak bisa berpaling darinya.


"Bukankah kalian sudah pisah!? Jadi jangan ikut campur dengan urusan kami," seru Morris mencoba tidak terintimidasi. Evan balik tersenyum sinis menatap Morris.


"Jangan sentuh dia. Kalau kau tidak ingin aku patahkan tanganmu. Enyah dari sini atau kau akan tau akibatnya," ancam Evan. Aluna tersenyum tipis melihat dia di bela Evan. Evan tidak suka dia di sentuh orang lain, Aluna mengerti itu.


Tidak lama Richard pun datang menghampiri mereka. Dan mencoba menenangkan Evan yang tampak sangat emosional itu. Dia menghentikan aksi Evan, Evan pun segera melepas cengkramannya, tapi tidak dengan tatapannya. Tatapannya masih tampak marah, tajam menghunus ke arah Morris. Richard paham dengan kemarahan Evan, dia pun tidak suka Aluna di perlakukan begitu, baginya Aluna adalah permatanya yang sangat berharga. Menganggu nya berarti kehancuran.

__ADS_1


"Jangan buat keributan di sini. Apalagi menyentuh putriku, kau bisa mati di tanganku. Pergilah, sebelum saya buat perusahaan ayah kamu menjadi sejarah yang hanya tersisa namanya saja." Ancam Richard, walau tatapan Richard tampak tenang, tapi tidak dengan tekanan suaranya. terdengar sangat mengerikan. Morris langsung pergi ketakutan dengan tangannya yang terasa sakit karena cengkraman Evan tadi.


Richard menepuk bahu Evan yang segera menyadarkan Evan dari kemarahannya. Evan menoleh pada Richard dan menunduk sungkan.


"Antar Aluna pulang," perintah Richard, Evan hanya mengangguk dan menarik tangan Aluna untuk pulang bersamanya tanpa mengatakan apapun. Aluna hanya bisa mengikuti langkah Evan.


Langkah Evan yang jenjang membuat Aluna seperti orang berlari mengikutinya. Di parkiran mobil Evan berhenti dan menatap Aluna. Saat dia akan membukakan pintu mobil untuk Aluna, tiba-tiba Aluna langsung memeluknya erat.


"Terimakasih," bisik Aluna penuh perasaan.


Evan kaget dengan reaksi tiba-tiba Aluna, tapi langsung tersenyum saat mendengar ucapan terimakasih dari Aluna. Perlahan Aluna melepaskan pelukannya dengan malu dan ia menatap Evan dalam, pada detik selanjutnya Aluna mencium lembut bibir Evan yang membuat Evan terdiam seribu bahasa, dan terdorong selangkah ke belakang. Dia tidak tahu harus berkata apa atas aksi Aluna. Aluna melepas ciumannya dan menatap Evan tajam.


"Rasanya masih sama seperti 4 tahun lalu. Masih mampu membuat aku berdebar dan merindukannya setiap saat," gumam Aluna Evan hanya diam menyaksikan ini semua. Aluna menjawab pertanyaan nya di pantai waktu itu. Saat dia mencium bibir Aluna dan bertanya 'apa rasanya masih sama?' Hari ini Aluna menjawabnya. Evan mengerti maksud Aluna. Evan tersenyum tipis hampir tak terlihat.


"Masuk lah. Biar aku antar kamu pulang," ucap Evan seakan tidak terjadi apa-apa dan Evan hanya mencoba bersikap profesional. Walau tidak bisa di bohongi bahwa ciuman Aluna barusan mampu membuat amarahnya terhadap aksi Morris barusan menjadi redam.


Aluna menatap Evan yang tidak berani menatapnya. Aluna tersenyum, dan merasa lega, karena telah mengungkapkan isi hatinya pada Evan. Walau Evan tampak cuek, tapi dia tahu Evan juga masih menyayanginya, terlihat jelas saat dia marah Morris menyentuhnya tadi.


Setelah mengantar Aluna pulang, Evan langsung pulang. Aluna menatap kepergian Evan dengan senyuman bahagia, dia menatap mobil Evan hingga keluar gerbang rumahnya, lalu ia pun masuk ke rumah besarnya itu.


...***...


Evan tengah tersenyum di mobilnya, karena mengingat kejadian tadi. Aluna benar, rasanya masih sama seperti 4 tahun lalu. Masih ada hasrat diantara mereka. Masih ada rasa yang tak bisa mereka ingkari. Sekeras apapun mereka mencoba melupakan, cinta mereka terlalu kuat untuk di dustai.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2