
Setelah keluarga Tari pulang dan Tama pulang. Evan menatap tajam pada ibunya. Saat ibunya sudah duduk di ruang keluarga. Evan mulai mencari tahu tentang kejadian tadi. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa ini rencana mami!?" tuding Evan langsung tanpa basa-basi lagi.
"Apaan sih, Van!? Mami nggak ngerti kamu ngomong apa!?" sanggah Rima pura-pura tidak paham.
"Mami ngundang keluarga Tari ke rumah sama Mas Tama, buat nyudutin aku, buat ngomongin pertunangan itu, iya kan!" timpak Evan lagi, yang membuat Rima sulit untuk mengelak, Evan terlalu pintar untuk ditipunya.
"Mami ngundang mereka buat silahturahmi. Ucapan terima kasih karena Tari udah bantu banyak dalam acara pernikahan Tama kemarin. Jangan mikir yang nggak-nggak kamu," sanggah Rima lagi mencoba mencari alasan.
"Jangan bohong. Kalo cuman ucapan terimakasih, kenapa nggak Tari aja yang di undang. Kenapa harus ibu dan ayahnya juga ikut!? Itu artinya ada hal serius yang akan kalian bicarakan," tukas Evan mencoba menyudutkan Rima agar mengaku.
"Mami... Mami...!" Rima mulai kehilangan kata-kata "Iya. Itu buat bikin kamu mau tunangan sama Tari. Apa salahnya!? Toh Tari juga dari keluarga yang terpandang, ibunya dokter terkenal, bekerja di rumah sakit besar di Jakarta. Ayahnya bisnisman sukses, dan dia sendiri selain cantik dan pintar, dia juga telaten mengurus rumah tangga, cocok buat pendamping kamu." Akhirnya Rima mengaku juga. Dia tidak dapat menipu Evan lagi dan memilih untuk jujur.
"Mih. Jangan ikut campur sama urusan pribadi aku. Aku udah gede, aku tau apa yang harus aku lakuin," cetus Evan.
"Van. Apa lagi yang kamu tunggu!? Kamu masih nungguin Aluna!? Van. Sadar. Dia nggak cocok sama kamu. Kalo kamu rujuk lagi sama dia. Maka kamu akan terus mulai dari nol karena tingkah kekanak-kanakan dia," tutur Rima mulai menentang Aluna.
"Mih. Aku yang tau mana yang terbaik buat aku. Aku yang menjalani hidup aku. Kalian jangan ikut campur terlalu banyak," tukas Evan mulai tidak dapat menahan emosinya.
"Mami itu ibu kamu, Van. Apa salah nya mami bantu kamu pilihin orang terbaik untuk kamu. Mami cuman mau yang terbaik untuk kamu, Van," bujuk Rima lembut.
__ADS_1
"Kalian tau apa tentang hidup aku. hanya beberapa tahun melihat bukan berarti kalian tau segalanya," tukas Evan mulai tidak terkendali. Rima mulai tersinggung dengan ucapan Evan barusan.
"Apa maksud ucapan kamu 'Hanya beberapa tahun melihat!' Maksudnya apa!" Rima mulai terlihat tersulut emosi. "Apa kamu mau bilang, kalo kami bukan orang tua yang baik selama ini!" tuding Rima.
"Aku cuman nggak mau hidup aku di atur, aku nggak biasa di perlakukan kayak gitu. Aku terbiasa semuanya aku yang atur," ucap Evan mencoba menjelaskan.
"Terus kami tidak berhak atur kamu!? Karena Mami dulu buang kamu ke kamar belakang, karena dulu kamu sekolah dengan usaha kamu sendiri, karena dulu kamu tidak pernah mami urus, jadi sekarang pun Mami tidak berhak untuk mengatur hidup kamu!? BILANG, VAN!" teriak Rima mulai terlihat tak dapat menahan dirinya. "Mami adalah ibu yang jahat, selamanya di mata kamu Mami jahat. Mami tidak berhak atas hidup kamu yang tidak pernah Mami urus dari kecil. MAMI BUKAN IBU KAMU," cerca Rima dengan mata berkaca-kaca. Membuat Evan terdiam seribu bahasa. Ia terpaku di posisinya dengan emosi Rima yang tampak mulai tak terkendali
"Apa itu yang mau kamu sampein, Van," ucap Rima dengan derai air mata. Evan pun ikut berkaca-kaca mendengarnya, dia tertegun menelan ludahnya yang pahit terasa. Sedangkan Rima yang sudah tak tahan segera berlari ke kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras. Di susul oleh Wisnu yang sedari tadi diam.
Minah menatap pertengkaran ibu dan anak itu dengan perasaan kecewa. Dia tidak ingin ibu dan anak itu bertengkar. Dia sudah bahagia melihat Evan bisa di terima di rumah ini, tapi sekarang malah kacau.
Evan masih terpaku. Dia tidak menyangka ibunya akan mengungkit itu. Dia terdiam seribu bahasa. Dan dengan langkah lunglai dia berjalan ke kamarnya. Saat di depan kamar ibunya, dia dapat mendengar tangis ibunya.
Pagi-pagi Evan terbangun. Evan segera mencari ibunya, Mendapati Rima tengah masak bersama Minah di dapur. Saat Rima menyadari keberadaan Evan, Rima pura-pura tidak melihatnya. Evan mendekati ibunya pelan.
"Mih" panggil Evan. Ibunya pura-pura tidak mendengar.
"Mih" Panggil Evan lagi lebih keras. Rima segera menghentikan kegiatan masaknya, yang segera di ganti Minah. Dia menatap tajam ke arah Evan.
"Baik! Aku mau tunangan sama Tari," tutur Evan pelan. Rima langsung tersenyum bahagia. Dia memeluk putranya itu.
__ADS_1
"Beneran?!" tanya Rima masih tidak percaya. Evan mengangguk seraya tersenyum dengan raut terpaksa.
"Makasih sayang. Kamu benar-benar anak mami yang paling baik," gumam Rima. Lalu melepas pelukannya dan menggenggam tangan Evan seraya tersenyum dan menatap Evan dengan hangat.
"Kalo kamu nggak cocok. Kalian bisa saling kenal dulu buat mutusin nikah atau nggak. Kalo kalian tunangan orang lain akan segan buat ganggu hubungan kalian. Mami nggak paksa kamu harus nikah sama Tari, kok. Nggak kayak gitu. Mami cuman mau kalian saling mengenal aja dulu," tutur Rima menjelaskan. Membujuk Evan agar ia Setuju.
Evan tersenyum mendengarnya, senyuman yang penuh keterpaksaan. Evan hanya berusaha mengambil jalan tengah nya saja, agar tidak terjadi keributan. Jauh di relung hatinya, Aluna masih terlalu kuat di sana.
"Yaudah. Mami mau masak dulu, ya. Kamu nggak tidur nyenyak kayaknya semalam. Tidur lagi aja gih. Kan hari ini libur," ucap Rima. Evan tersenyum dan kembali ke kamarnya.
***
Siang nya Rima kembali menemui Nindi di toko Tari, ada juga Tari di sana.
"Dia setuju, Nin. Semalam kita bertengkar. Aku sampe ngambek ke kamar. Dia diam. Pagi-pagi dia bangun terus nemuin aku. Dia bilang 'Mih... Aku mau tunangan sama Tari.' Gitu dia ngomongnya. Aku seneng, donk. Makanya ngajak kamu ngomongin ini. Kita harus cepat sebelum dia berubah fikiran lagi," ucap Rima sangat antusias. Tari dan ibunya terlihat bahagia mendengarnya.
"Syukur lah kalo gitu, Ri," imbuh Nindi bersyukur dan Tari pun terlihat bahagia.
"Ingat Tari. Perlakukan Evan dengan baik. Dia itu sangat sensitif. Mungkin karena kejadian kemaren bikin dia jadi orang yang nggak mudah nerima orang lain dalam hidupnya," terang Rima seraya menggenggam tangan Tari.
"Iya tante. Tari akan jaga Evan," tutur Tari tulus. Rima pun tersenyum bahagia.
__ADS_1
***
Di kamar tampak Evan yang masih berfikir. Dia takut ini keputusan yang salah. Dia takut menyakiti Tari, jika seandainya dia belum bisa menerima Tari dan masih memikirkan Aluna. Apa Tari tidak akan terluka nantinya. Evan memejamkan matanya, menarik nafas dalam dan melepasnya dengan kasar.