
Pagi itu Evan hanya duduk santai di Gazebo belakang rumahnya. Tiba-tiba Rima datang menghampirinya.
"Van!" sapa ibunya, membuat Evan segera menoleh.
"Ya, Mih!" jawab Evan.
"Kamu sibuk, nggak?!" tanya ibunya lagi, seperti agak segan.
"Nggak. Lagi nyantai aja. Kenapa, Mih!" jawab Evan masih sibuk dengan gamenya di handphone.
"Mami boleh mintak tolong anterin ke supermarket buat belanja bulanan, nggak?!" tanya Rima.
"Boleh. Tapi tunggu aku ganti baju dulu, ya," ucap Evan seraya menghentikan gamenya dan langsung mengganti pakaiannya.
Setelah rapi dia segera berangkat menemani ibu nya ke supermarket. Di sana mereka belanja banyak untuk kebutuhan bulanan mereka hingga butuh 2 ranjang troli untuk mengangkut semuanya.
Selesai berbelanja mereka mulai lapar. Ibunya ingat ada restoran dekat sana yang terkenal dan enak.
"Kita mampir makan dulu, ya. Mami lapar!" seru ibunya.
"Makan di mana, Mih" tanya Evan.
"Nanti depan belok kanan. Mami pernah dinner di sana bareng papa. Restorannya enak banget. Kamu mesti coba deh," ucap ibunya dengan senyuman.
Mereka pun segera masuk ke restoran tersebut. Di sana cukup ramai, bahkan mereka hampir tidak mendapat tempat karenanya. Kebetulan ada pengunjung yang baru selesai makan, jadi mereka segera menepati bangku pengunjung tersebut.
"Tuh kan, rame banget. Ini udah terkenal. Papa dulu aja booking jauh hari baru bisa dapet buat malam minggu," ucap Maminya seraya mengenang makan malam romantis mereka, Evan hanya tersenyum mendengarnya. Sambil menunggu pesanan mereka datang. Evan kembali memainkan handphone nya.
Rima hanya duduk sambil menunggu tidak sabar, sesekali dia kembali menanyakan pesanannya. Tidak lama pesanan merekapun datang. Evan segera menyimpan handphone nya. Dan melihat banyak makanan Seafood terhidang dengan lezat.
"Kamu nggak alergi, kan?!" tanya Rima khawatir.
"Nggak, kok," jawab Evan dengan senyuman.
Saat mereka sedang asyik makan, Rima melihat seseorang yang sepertinya dia kenal dan sedang kehabisan tempat.
__ADS_1
"Nindi?! Eh, itu beneran Nindi kan, ya," gumamnya belum begitu yakin, dan setelah agak dekat baru dia yakin. "Eh, iya. Itu beneran dia," gumamnya. Dia segera melambaikan tangannya pada sahabatnya itu.
"Hey, Nin. Sini!" serunya memanggil seseorang. Evan menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, seumuran dengan ibunya. terlihat masih cantik dan anggun. Kelihatannya bukan dari kalangan sembarangan.
"Eh, Ri. Kamu di sini juga?" sapanya ramah.
"Iya. Kenapa?! Kehabisan tempat? Makan sini aja kalo gitu," ajak Rima.
"Nggak papa, nih?!" tanya nya agak tidak enak.
"Ya, nggak papa, lah, yuk" ajaknya.
"Aku bareng anak aku juga 2," ucapnya memberi tahu bahwa dia tidak sendirian.
"Oya! Nggak papa ajak aja sekalian, masih muat, kok," ucap Rima meyakinkan.
"Iya tunggu dia lagi di mobil sama adiknya tadi," ucapnya. Sambil menunggu dia melihat Evan yang sedang mengupas kepiting untuk ibunya.
"Ini anak kamu ya, Ri?!" tanya nya ramah.
"Iya. Ini anakku yang bungsu. Ganteng, kan?!" ucap Rima dengan senyuman bangga. Evan pun segera memberi salam perkenalannya pada Nindy dengan sopan.
"Iya. Baik lagi. Tadi dari nemenin aku belanja, terus nih aku makan dia yang ku pasin. Enak lah punya anak cowok dia ini," ucap Rima seraya memeluk bangga Evan yang tengah membuka kulit kepiting itu.
"Hmmm... Aku juga ada anak cowok 1,cewek 1. Tapi kadang kurang akur, padahal jaraknya lumayan jauh. Yang cewek lebih besar 10 tahun dari adeknya, tapi kalo ketemu kayak anjing sama kucing. Ribut mulu. ini lama pasti lagi berantem dulu di mobil. Panas di luar, makanya aku tinggalin aja tadi mereka ribut," ucap Nindi sahabat Rima masih kesal pada anak-anak nya.
"Biasa lah anak-anak, ini udah gede, udah pada kerja juga sering gitu. Gumul-gumulan kayak anak kecil di rumah. Ini yang ini yang sering ngambek, sebab yang tua sama yang tengah sering jadiin yang ini korbannya," tunjuk Rima pada Evan. Evan hanya tertawa mendengarnya.
"Makanya dia lengket sama maminya. Sama Kakak-kakaknya sering di gangguin. Ini dua juga gitu. Aduh! pusing aku kadang. Ini udah lama, masih belum dateng juga. Kemana lagi nih anak dua," ucap Nindi tidak sabar menunggu anak-anak nya. "Tuh. Baru nyampe kan. Tuh, masih ribut tuh kayaknya," tunjuk Nindi pada seorang gadis dan seorang remaja.
"Eh, kok kayak kenal, ya. Aku sama yang cewek," gumam Rima mencoba mengingat-ingat. Evan ikut menoleh kearah yang di tunjuk.
"Tari?!" gumam Evan.
"Oh, iya. Itu temen Evan kerja dulu," seru Rima baru ingat.
"Kalian kenal sama Tari?!" tanya nya tidak percaya.
__ADS_1
"Eh ,Van! Kamu kok ada di sini?!" tanya Tari saat sampai.
"Kalian sudah saling kenal?!" tanya Nindi.
"Iya, Bund. Evan ini sekantor sama Tari dulu. Baru beberapa yang lalu dia mengundurkan diri," cerita Tari.
Heboh lah cerita mereka. Hingga tidak terasa hari sudah larut. Evan pun baru tahu kalau Tari juga sudah berhenti dari perusahaan tersebut, dan memilih membuka toko kue yang akan di bukanya minggu depan.
"Eh jangan lupa dateng ya di acara pembukaannya," ingat Tari kepada Evan sebelum mereka pulang, Evan hanya menjawabnya dengan tersenyum "Tante juga ya, Tan," pinta Tari.
"Iya. Nanti Tante dateng bareng Evan. Kalo perlu semua Tante ajak," ucap Rima seraya terkekeh dan yang lain pun ikut tertawa.
Akhirnya mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Di mobik Rima masih membicarakan Tari.
"Tari cantik, ya, walau agak cubby, tapi Inerbeuty nya keluar. Dari pada terlalu kurus, mending agak berisi gitu, keliatan sehat dan kuat," ucap Rima dengan gaya konyolnya Evan hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah ibunya itu. Rima memang berusaha untuk dekat dengan Evan, dia berusaha menebus kesalahannya pada Evan selama ini.
"Maafin Mami, ya. Waktu kecil mami nggak peduliin kamu. Sekarang malah kamu anak yang sering nemenin mami. Memperlakukan maminya dengan manis. Mami menyesal udah jahat sama kamu dulu," ucap ibunya seraya merangkul lengan putra nya itu.
"Apaan sih, Mih. Udah lah, jangan ngomongin itu lagi," ucap Evan malas membahas masa lalunya.
***
Di sisi lain Tari dan Nindi juga membicarakan Evan.
"Anak Rima itu ganteng sekali ya, kak. pertama kali bunda liatnya, bunda sampe nggak bisa ngedip lo," ucap Nindi di mobil.
"Dia itu emang banyak yang bilang ganteng. Di kantor dia juga terkenal, selain ganteng, dia juga pinter, Bund. Terus nggak sombong lagi. Jadi banyak yang suka. Sayang aja atasan kita resek banget sama dia. Makanya dia sampe ngundurin diri," ucap Tari.
"Kamu naksir juga, ya!" tebak ibunya yang melihat gurat suka di wajah anaknya saat membicarakan Evan.
"Apaan sih, Bunda," ucap Tari malu.
"Diet dulu. Baru dia mau sama kakak," celetuk adiknya dari belakang.
"Diem, nggak!" gerutu Tari marah.
__ADS_1
"Udah, ah. Nggak usah ribut lagi," ucap Nindi yang mulai terlihat kesal saat anaknya mulai terlihat akan bertengkar lagi.
BERSAMBUNG...