
Setelah menemui Anto, Evan menelpon Dea dan Silvi untuk bertemu. Ternyata mereka masih di kampusnya, karena tidak sabar ingin segera menemui mereka. Evan pun menyusul mereka di kampus. Evan mengajak Dea dan Silvi mengobrol di restoran yang cukup Elite. Evan sengaja memilih tempat itu untuk membujuk Silvi dan Dea mau bicara.
Sambil menunggu pesanan mereka datang Evan mulai melancarkan aksinya.
"Kenapa nih tiba-tiba ngajak ke temuan trus traktir segala? Ada tujuan apa?" tanya Dea curiga.
"Nggak. Cuman mau nyenengin kalian aja. Nggak enak aja, Aluna sering nyusahin kalian kan," ucap Evan sambil tersenyum manis
"Gue yakin lo punya tujuan tertentu," ucap Silvi curiga.
"Kalo curiga, kenapa mau ikut?" ucap Evan yang ikut terpancing kesal.
"Kita tau lo punya misi ngundang kita kesini. Tapi, kita yakin lo bukan orang jahat. Jadi ngomong aja mau apa? Asal jangan yang aneh-aneh," ucap Silvi menengahi.
"Gue cuman mau tau tentang Brian. Kalian cerita apa tentang hubungan gue sama Aluna ke Brian?" tanya Evan yang lantas membuat Dea dan Silvi saling pandang. Evan masih menunggu jawabannya, dia menatap Dea dan Silvi bergantian menunggu siapa diantara mereka berdua yang akan buka suara. "Gue janji nggak marah... Cerita aja" ucap Evan meyakinkan, setelah menunggu beberapa saat tapi Dea dan Silvi tampak takut mengatakannya.
"Janji, ya," ucap Dea meyakini lagi.
"Iya!" jawab Evan singkat.
Mereka pun menceritakan apa yang Aluna ceritakan pada mereka.
"Tapi waktu Aluna cerita, Brian lagi ada bareng kita, terus dia desak kita buat cerita. persis kayak lo. Tapi dia bujuk nya enak, nggak kayak lo yang marah-marah. Berasa di intimidasi kita," ucap Dea agak kesal.
"Untung mau gue traktir. Masih banyak tingkah lagi. Kalian bertiga itu sealiran, satu server. Sama-sama suka bikin kesel kalo di ajak ngobrol. Aluna persis kayak kalian, di ajak ngobrol bentar, pasti ujung-ujungnya malah ngajak berantem," ucap Evan kesal, tapi Dea dan Silvi malah terkekeh mendengarnya.
"Ok, Intinya dia tau Aluna trauma sama gue?" tanya Evan mencoba meyakini lagi.
Dea hanya mengangguk seraya menikmati makanannya. Sedangkan Silvi sudah asyik dengan makanannya dan sudah tidak peduli dengan apapun "Haaahhh... Dasar mulut ember. Apa harus dia curhat semua hal ke orang lain? Apa dia nggak bisa nyisain sedikit aja buat privasi nya dia," umpat Evan kesal.
"Kita itu sahabatan udah dari SMP. Jadi wajarlah kalo kita terbuka untuk semua hal." Silvi menimpali.
"Sahabat macam apa kalian!? Buka aib temen sendiri ke orang lain?" sungut Evan tajam, tapi tidak membuat Dea dan Silvi takut. Gaya Evan yang lepas dengan mereka itu membuat mereka nyaman bersama Evan, Seperti seorang teman dekat.
__ADS_1
"Itu keceplosan, PAK!" seru Dea membela diri. "lagian. Brian kan, juga sering bantu Aluna juga. Dia udah kayak kakak laki-laki buat Aluna. Jadi wajarkan kalo kita cerita ke dia," tambah Dea lagi.
"Brian itu orang baik. Jadi nggak usah khawatir," tambah Silvi. Mendengar ucapan Silvi barusan membuat Evan tersenyum sinis seraya geleng-geleng kepala.
"Cemburu boleh, tapi jangan sampe cemburu buta. Nanti bisa baku bunuh kalian." Ingat Silvi, tapi Evan tampak cuek dan tidak perduli.
"Kalian juga jangan terlalu dekat dengan Brian. Udah om-om. Ntar di bilang kalian simpanan om-om lagi," ucap Evan yang tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya.
Karena belum ada bukti, Evan tidak bisa menceritakan kebusukkan Brian kepada Dea dan Silvi langsung. Jadi dia menggunakan alasan lain untuk memperingati mereka
"Brian itu baik. Tapi nggak tau kenapa, kalo dekat dia sering takut ngeri gitu. Apa lagi tingkahnya terlalu manis, jadi buat kita segan dan sering takut salah aja rasanya. Padahal dia sering traktir kita dan nggak pernah marah, tapi tetap aja kita ngerasa ada batas sama dia dan nggak bisa terlalu akrab. Tapi kok sama lo beda, ya. Ngomongnya ngajak ribut, tapi kita nggak takut,malah nyaman. Apa karena lo suami Aluna, jadi kita ikut merasa memiliki juga kali, ya!" ucap Dea, membuat Evan dan Silvi saling pandang dengan kalimat terakhir Dea.
"Dia mulai nggak waras," ucap Silvi menatap aneh pada Dea.
"Gue takut," ucap Evan mulai merasa bergidik. Lalu dia buru-buru mau pergi.
"Gue mau pulang!" Evan buru-buru bersiap akan pergi.
"kok pulang? Itu belum habis!" seru Dea. Evan tidak mengatakan apa pun.
Sedangkan Dea masih tidak menyadari apa yang salah. Dia malah tampak asyik melanjutkan makannya. Silvi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah absurd sahabatnya itu.
"Di denger sama Aluna, lo ngomong gitu. Di bunuh nya, lo," ucap Silvi. Dea hanya tersenyum manis mendengar ucapan sahabatnya itu.
...***...
Di mobil Evan terus memikirkan tentang Brian. Dia mulai paham dengan motif Brian.
"Jadi dia tau tentang trauma Aluna? Jadi itu tujuan nya dia. Siapa Brian ini sebenarnya?" gumam Evan seraya terus menyetir mobilnya.
...***...
Di kediaman mertuanya, Aluna tampak asyik masak bersama Syahila dan Rima. Mereka membuat Cupcakes dengan berbagai bentuk. Aluna sangat menikmati kegiatan nya itu. Dia merasa sangat bahagia, dia seperti mendapat keluarga yang utuh. Apa lagi Syahila memperlakukan Aluna seperti adik perempuannya sendiri.
__ADS_1
Aluna tampak kesal, karena cupcake buatannya tidak secantik buatan Syahila dan mertuanya, buatan Syahila dan mertuanya tampak sempurna sedangkan buatannya malah membuat orang gagal paham dengan bentuknya.
"Kok jadi gini, sih?" ucap Aluna kesal, membuat mertuanya dan kakak iparnya itu terkekeh melihat cupcake buatan Aluna.
"Udah. Nggak papa. Nama nya juga baru belajar. Yang penting rasa, bentuknya belakangan," hibur mertuanya.
"Siapa yang mau makan. Kalo bentuknya nggak jelas gini!" seru Aluna kesal.
"Evan itu pemakan segalanya. Kasih aja sama dia," ucap Syahila sambil tertawa. Aluna pun tersenyum, dia tidak sabar menunggu suaminya itu pulang.
Tidak lama kemudian Evan pun pulang. Mendengar mobil Evan datang Aluna segera keluar dengan wajah blepotan dan masih menggunakan celemek. Melihat Aluna yang begitu berantakan Evan pun tersenyum. Aluna segera menghampiri suaminya dan merangkulnya sambil masuk rumah.
"Kamu lagi ngapain, sih?" tanya Evan.
"Aku lagi belajar masak cupcake. Cobain, ya. Aku bikin sendiri, lo," seru Aluna bangga.
Evan hanya tersenyum ragu mendengarnya. Dia di minta Aluna menunggu di meja makan. Evan pun menunggunya dengan perasaan tidak sabar.
Beberapa saat kemudian Aluna pun datang membawa sepiring cupcake. Di intip oleh Syahila dan ibunya dari dapur. Mereka ingin melihat reaksi Evan dengan kue bikinan Aluna.
"Taraaa! Ini buatan aku. Masih berantakan. Soalnya tadi baru belajar," ucap Aluna.
Memang terlihat aneh hingga membuat Evan sulit menerka gambar apa yang Aluna gambarkan.
"Ini? Krong pororo itu, ya?" tanya Evan ragu.
Sontak membuat wajah Aluna merah padam karena marah. Evan paham dengan kesalahannya. Dia segera meralat ucapannya. "O... Salah yaa... " ucap Evan mulai menangkap gelagat tidak enak.
"INI MAWAR!" teriak Aluna kesal.
"Oh, Iya, ya! Aku yang salah. Ini mawar. Oke mawar," bujuk Evan.
__ADS_1
Sedangkan Syahila dan ibunya tertawa terbahak-bahak melihat itu semua, yang membuat Aluna semakin kesal dan pergi meninggalkan Evan. Evan menatap ibunya dan kakaknya dengan tatapan bingung seraya menggaruk kepalanya dan menopang wajahnya dengan tangan kanan menatap kepergian Aluna yang tengah kesal.
BERSAMBUNG...