PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
PEMBALASAN SONI


__ADS_3

Hari pertama Evan masuk kerja. Setelah menandatangani surat kontrak kerja dan menyetujui syarat kontrak kerja.


"Ingat, ya. Kamu tidak bisa mengundurkan diri dalam 3 tahun ini tanpa alasan. Atau kamu harus mengganti uang dispensasi nya." Ingat si HRD. Evan mengangguk tanda setuju.


Evan pun diantar ke ruangannya dan di perkenalkan dengan rekan kerjanya. Dia di sambut dengan gembira oleh rekannya karena memang penampilan Evan yang good looking membuat dia mudah di terima.


Dia menyalami satu persatu rekan kerjanya yang datang untuk berkenalan dengannya. Semua menyambut Evan dengan ramah dan terbuka. Dan Evan pun mencoba ramah dan membaur dengan lingkungan baru nya itu.


Mereka membantu Evan mengenalkan lingkungan kerjanya, juga membantu Evan dalam pekerjaan. Evan yang cerdas cepat sekali untuk paham semuanya. Itu membuat semua orang di kantor bertambah simpati padanya. Apa lagi Evan juga rendah hati. Itu terlihat saat dia yang juga tidak segan bergaul bersama OB dan OG yang ada di Pantry.


***


Suatu hari mereka kedatangan atasan mereka. Semua orang pun berdiri untuk menyambutnya, Evan sebagai orang baru yang baru 1 bulan bekerja pun ikut berdiri.


"Itu CEO kita. Dia jarang datang," tunjuk Ari pada seorang pria paruh baya yang terlihat berkharismatik itu, dan di ikuti oleh beberapa orang karyawan di belakangnya. "Dan di belakangnya itu, yang pakek jas abu-abu, itu anaknya yang juga kerja di sini, cuman, Biasa lah anak bos. Jarang datang dia. Dia cuman namanya aja ada disini, datangnya seenak jidatnya. Kerjaannya juga nggak jelas apa! Banyak diserahinnya sama kita buat ngerjain," terang Ari lagi. Seraya menunjuk seorang laki parlente di belakangnya.


Saat menatap lelaki dengan stelan modisnya itu, Evan jadi ingat sesuatu. Evan merasa mengenali wajah itu, terasa tidak asing baginya. Tapi dia agak lupa. Dia terus berusaha mengingatnya. Beberapa saat ia kembali ingat. Evan membelalakan matanya dan ternganga.


"Soni?!" gumam Evan. Ari pun menoleh kepada Evan. Kaget karena Evan mengenali Soni. Ia menatap heran dari Evan tahu tentang Soni.


"Kamu kenal sama anak bos?!" tanya Ari penuh selidik.


"Nggak. Cuman tau aja," ucap Evan dengan senyum kecut.


Sepertinya Evan salah pilih perusahaan untuk bekerja. Sekarang dia terjebak disini. Dia tidak bisa mengundurkan diri, karena sudah terikat kontrak kerja selama 3 tahun. Evan hanya bisa tertunduk dan mencoba menyembunyikan identitasnya dari Soni, saat Soni melewatinya. Tapi, cepat atau lambat Soni pasti akan mengetahui tentangnya. Menghindar seperti ini pasti tidak akan bisa bertahan lama.


Untung saja Soni tidak menyadari keberadaannya. Entah sampai kapan dia bisa menghindari Soni. Untuk saat ini Evan masih bisa bernafas lega tapi mungkin tidak lain kali.



(Soni, Mantan tunangan Aluna. Si parlente yang manja)



(Brian, Sahabat Aluna dan Evan. Seorang pengusaha sukses yang keras. )



Alice, kekasih Brian.

__ADS_1



Aluna Jeanela, putri tunggal Richard sekaligus istri Evan Pratama.



Evan Pratama, putra wisnu Pratama sekaligus Suami Aluna Jeanela.


...***...


Sekarang saatnya waktu makan siang. Mereka makan siang bersama. Dan saat Evan datang teman-teman nya yang merupakan rekan kerjanya itu memanggil Evan. Karena terlalu fokus dengan panggilan dari temannya Evan tanpa sengaja malah menabrak seseorang. Secara sepontan dia pun meminta maaf.


"Maaf, maaf. Saya tidak senga ... ja," ucap Evan sedikit panik. Dia menatap orang yang di tabraknya.


DEG...


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat tahu siapa orang yang di tabraknya.


"Soni?!" bisik Evan hampir tidak terdengar.


"Lo?!" seru Soni tidak kalah kagetnya seraya menunjuk Evan.


"Kenapa lo kerja di perusahaan gue!? Bukannya lo punya perusahaan besar!?" sindir Soni mengejek.


"Hmh... Anak manja mana paham," ucap Evan tidak mau kalah. Itu sontak mengundang reaksi dari Soni.


"Lo?!" tunjuk Soni kesal. "Habis makan siang lo ke ruangan gue," ucap Soni lalu pergi meninggalkan Evan.


Evan memejamkan matanya. Dia seperti menyesali ucapannya barusan, dia sadar ucapannya barusan seperti membangunkan macan lapar dari tidurnya.


"Habis gue!" bisik Evan menyesal. Seraya memukul pelan kepalanya dan mengusap wajahnya.


"Kalian saling kenal?!" tanya Dodi.


"Kita sempat punya masalah," ucap Evan datar dan singkat.


"Masalah apa?!" tanya Dodi lagi.


"Masalah perempuan," ucap Evan datar menatap kepergian Soni.

__ADS_1


"Mampus lo. Dia bakal habisin, lo. Apa lagi lo bawahan dia sekarang," seru Ari yang mulai paham situasi Evan sekarang. Evan menatap Ari. Ari benar, Soni akan memanfaatkan keadaan ini untuk balas dendam. Dan naas nya lagi, itu akan berlangsung minimal 3 tahun. Rasanya Evan ingin berteriak saja sekarang.


***


Sehabis makan siang Evan ke ruangan Soni. Di sana dengan gaya parlente nya dan kaki yang terangkat di atas meja serta senyum penuh kemenangannya dia melempar berkas-berkas satu persatu ke atas mejanya. hingga berjumlah sangat banyak.


"Kerjain itu. Dan ... selesein hari ini juga, harus selesai sampai waktu pulang kerja atau lo lembur. Yang jelas laporan itu besok harus ada di atas meja gue. Kerjain sekarang!" perintah Soni.


Evan tanpa berkata-kata segera memungut berkas-berkas itu dari atas meja Soni. Dan kembali ke meja kerjanya. Dia menghempas berkas-berkas itu ke atas mejanya dan menghempas dirinya di atas kursinya dan tertunduk di atas berkas-berkas tersebut.


"Waahhhh.... Kayaknya dia benar-benar bakalan balas dendam!" seru Ari yang kebetulan duduk di depan Evan.


"Sabar, Van. Namanya juga bawahan. Kita musti sabar kalau mau sukses," ucap Tari yang di sebelah Evan mencoba menyemangati.


"Gue rasanya pengen punya pintu kemana saja, buat kelaut... terus buang tuh makhluk satu ke antartika... " Gumam Evan yang tengah terpaku duduk bersandar di kursinya dengan tatapan kosong. Yang lain hanya terkekeh mendengarnya.


Evan mengerjakan itu semua seharian, bahkan saat semua orang sudah pulang dia masih di kantor untuk bekerja. Badannya mulai terasa pegal dan matanya juga mulai terasa perih karena melihat layar laptop seharian ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Evan masih saja berkutat dengan laptopnya.


"Sedikit lagi," gumam Evan sendirian dan kembali mengambil berkas lagi untuk di selesaikan di tumpukkan berkas yang tampak menyisakan beberapa map lagi.


Seorang OB datang mengantarkan Evan kopi. Evan kaget mendapati OB itu belum pulang padahal sudah larut.


"Kok belum pulang, Pak?!" tanya Evan seraya menyeruput kopinya.


"Saya tidur di sini, pak Evan. Di belakang kantor ada gudang, saya minta ijin pak Wibowo buat bikin tempat tinggal saya. Sekalian kalo ada yang lembur saya suka bikinin kopi. Ya, kayak pak Evan gini," ucap OB paruh baya itu. Evan tersenyum mendengarnya. Dan dia oun pergi meninggalkan Evan untuk kembali bekerja.


Sudah Jam 12 malam, Evan baru dapat menyelesaikannya. Dia merentangkan tangannya ke atas untung melonggarkan ototnya yang terasa tegang karena duduk seharian. Dia bukan hanya capek, tapi juga sangat mengantuk sekarang.


Sebelum pulang Evan memberi tahu OB tadi di pantry. Tampak OB itu yang tengah tertidur di kursinya dengan membaringkan kepalanya di atas meja.


"Pak, saya sudah selesai," ucap Evan membangunkan OB itu yang langsung terbangun.


"Eh, iya, Pak," ucapnya yang baru bangun.


Lalu Evan pun permisi untuk segera pulang karena sudah sangat larut juga.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2