PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
APA AKU IBU YANG JAHAT!!?


__ADS_3

Pagi itu Rima datang ke kamar Evan, untuk membangunkannya. Biasanya Evan akan bangun siang saat libur. Tapi sekarang dia harus membangunkan Evan segera agar tidak terlambat datang ke tempat pembukaan toko kue Tari. Saat dia masuk, dia mendapati Evan tengah bermain laptop di atas ranjangnya.



"Udah donk, udah jam 8 nih. Siap-siap, Van," ucap Ibunya. Evan menoleh dan segera menutup laptopnya.


"Baru jam 8, Mih," ucap Evan seraya menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal karena duduk cukup lama menatap laptopnya. Sedangkan Rima segera membuka jendela kamar Evan dan mengambil beberapa pakaian kotor.


"Udah. Siap-siap cepetan," seru Rima sebelum keluar kamar Evan. Diapun keluar dengan sekeranjang pakaian kotor, sedangkan Evan hanya tersenyum dan masih di ranjang.


Dia heran kenapa ibunya sangat bersemangat untuk pergi, padahal hanya acara pembukaan toko kue. Puas menggeliat dan bermalas-malasan Evan pun segera turun dari ranjangnya, walaupun dia masih malas.


Padahal dia berencana mau bermalas-malasan seharian, tapi malah ada acara. Karena seminggu ini Evan sangat sibuk di perusahaan Richard, hingga dia kurang waktu beristirahat.


Selesai mandi, dia sarapan pagi. Di meja sudah ada nasi goreng dengan telur mata sapi serta segelas susu hangat yang di siapkan Minah dan ibunya. Evan menikmatinya seraya mendengarkan musik melalui headset nya.


Ibunya masih berdandan di kamar. Tampak Rima bersenandung riang di kamar. Wisnu hanya memperhatikan tingkah istrinya itu.


"Ingat ya ... Kalo Evan tidak mau, jangan di paksa. Evan itu keras. Kalau sudah dia bilang tidak, yaudah. Kalo di paksa juga dia lakuin tapi tidak tanggung jawab dia. Nantik anak orang di sakitinnya," ingat Wisnu.


"Iya, ah ... Cerewet," ucap Rima agak kesal. Dia terus menyelesaikan make up nya. Dan Wisnu masih memperhatikan istrinya berdandan dengan tatapan khawatir. Dia tau betul bagaimana Rima yang suka keras dengan kehendaknya.



Selesai berdandan, dia segera turun ke ruang makan bersama Wisnu. Evan dan Tama sudah ada di sana, mereka sudah selesai sarapan lebih dulu.


Evan heran kenapa Wisnu tidak bersiap-siap. Begitu juga Tama.


"Mas Tama sama Papah nggak ikut?!" tanya Evan seraya melepas headset nya.


"Nggak. Aku mau jalan sama Sherin," ucapnya. Sherin adalah tunangan Tama. Evan mengangguk mengerti, lalu dia menatap ayahnya.

__ADS_1


"Papah mau main golf sama Richard dan pak Wibisono," ucap Ayahnya.


Sebenarnya mereka berdua menghindar, karena tidak mau ikut dengan rencana Rima. Evan menoleh pada ibunya dengan tatapan penuh curiga. Dia menangkap gelagat aneh dari ibunya.


"Apa?! Emang kalo kita berdua saja yang pergi kenapa?!" tanya Rima berusaha untuk tidak di curigai.


"Jangan yang aneh-aneh, Mih!" seru Evan.


Rima menatap Evan dengan tatapan kagok, takut ketahuan. Sedangkan Tama dan ayahnya hanya tersenyum melihat Rima hampir ketahuan, mudah bagi Evan untuk menangkap gelagat aneh. Seperti nya Rima lupa siapa Evan, dia tidak mudah di tipu.


"Apa sih?!" tukas Rima yang mulai merasa di curigai.


"Udah, ah," ucap Evan akan beranjak pergi.


"Iya, iya. Mami nggak maksa, kalo kamu suka lanjut sama Tari. Kalo nggak cocok juga nggak papa. Kalian bisa berteman saja, kan. Mami juga udah bilang. Semua terserah kamu. Sama bundanya Tari." Rima menyerah dan mengungkapkan semua.


"Yang kayak gini aku, Mih. Bisa merusak hubungan nantinya," ucap Evan kesal.


"Ok, kita datang aja. udah terlanjur janji mami semalam sama bunda Tari. Kamu dateng aja, kita nggak bahas apa-apa. Ok?!" ucap Rima membuat kesepakatan.


"Evan, jangan bikin mami malu. Apa salah nya kita pergi saja sebentar, terus kita pulang," ucap Rima mulai panik saat Evan terlihat berniat membatalkan kepergiannya. "Beneran, cuman sebentar, nggak lama. Ya ....," bujuk Rima seraya menarik lengan Evan.


Evan menghentikan langkahnya. Melihat wajah memelas ibunya Evan jadi luluh. Tama dan Wisnu hanya tersenyum menyaksikan tingkah ibu dan anak itu.


***


Sesampainya di sana, sudah banyak tamu yang datang, mereka datang jam sudah menunjukkan pukul 10.45 Wib. Evan dan Rima masuk ke toko baru buka tersebut. Di sambut hangat Nindy ibunda Tari. Saat melihat yang datang adalah Evan, Tari segera permisi dengan teman-temannya untuk menghampiri Evan dan ibunya.



"Tante udah datang?!" Seru Tari dengan senyum sumringahnya. Evan dan Rima pun menoleh ke arah Tari. Dia tampak cantik dari biasanya.

__ADS_1


"Udah. Ini baru nyampe. Bagus ya tokonya. Tante suka!" ucap Rima. Tari hanya tersenyum mendengar pujian Rima. Sekilas Tari melihat Evan yang tampak tengah melihat-lihat ke sekitar, lalu ia kembali pada Rima.


"Udah coba belum, Tan? Sini Tari tunjukkin roti yang paling rekomen di toko baru Tari," ajak Tari penuh antusias pada Rima, Rima pun mengikutinya. Evan hanya mengikuti langkah mereka dari belakang. Tari menyajikan berbagai macam roti yang terlihat lezat itu pada Evan dan Rima. Evan dan Rima mencicipi nya. Dengan tatapan berdebar dia menunggu komentar Rima dan Evan untuk masakannya tersebut.


"Wah ... Enak sekali ini, Tari. Kamu pinter bikin kue, ya. Kalo kayak gini rasanya tante mau jadi pelanggan tetap toko kamu," puji Rima. Evan hanya diam dari tadi. Walau sebenarnya dia menyukai roti buatan Tari, tapi dia lebih memilih untuk tidak berkomentar. Padahal Tari juga menunggu komentar dari Evan.


"Gimana, Van. Kamu suka?!" tanya Tari penasaran.


"Hmmm... " Gumam Evan kaget. "Oh, Iya. Enak. Enak banget," ucap Evan terlihat canggung dan seperti hanya berbasa-basi.


"Nggak ikhlas banget, sih! Kalo bilang nggak enak, juga nggak apa-apa," goda Tari pura-pura marah. Bermaksud mencairkan suasana yang terasa kaku. Evan jadi tidak enak hati.


"Beneran, enak, kok!" ucap Evan lagi berusaha meluruskannya. Rima menatap Evan seraya tertawa, begitu pula Tari. Evan malah jadinya tersenyum kecut karena malu, menyadari jika dia tengah di permainkan.


Acara masih berlangsung. Evan dan Tari sudah mulai akrab mengobrol. Rima dan Nindy juga mengobrol di tempat terpisah dari Evan dan Tari. Mereka sengaja membiarkan Evan dan Tari mengobrol berdua. Agar mereka bisa saling mengenal.


"Nin, tapi kamu jangan terlalu banyak berharap ya sama Evan. Dia nggak mau kalo di atur-atur gini. Tadi aja dia nggak mau dateng kalo nggak aku paksa," ucap Rima tidak enak hati.


"Nggak papa, Ri. Biarkan mereka berdua yang putuskan... Kita cukup memperkenalkan mereka saja... " Ucap Nindi. "Aku tertarik sama anak kamu, karena selain ganteng dia juga orang nya bertanggung jawab dan gigih. Apa lagi kelihatannya Tari juga suka sama dia... " Ungkap Nindi.


"Dia memang terbiasa mandiri dari kecil, Nin... " Ucap Rima terlihat sedih mengenang masa kecil Evan. "Dia nggak pernah nyusahin... Dia anak baik... Sangking baiknya, dia masih mau menerima ibu yang buruk seperti aku menjadi ibunya... " Ucap Rima mulai bersedih. Nindy segera menangkap guratan tak wajar itu dari wajah Rima.


"Maksud kamu apa...!? " Tanya Nindi.


"Dia bukan anak kandungku Nin... Dia anak Wisnu bersama dengan seorang model dari Meksiko... Mereka bersama saat kami bercerai... Dan Evan lahir dari hubungan mereka... Karena dia sakit dan meninggal, Wisnu membawanya pulang. Saat aku rujuk dengan Wisnu, Wisnu juga membawanya hidup bersama kami... Aku sangat membencinya dulu, aku bahkan tidak sudi untuk merawatnya... karena itu dia mengurus dirinya sendiri... Dia hidup bersama pembantu kami di rumah belakang. Bahkan aku melarangnya ke rumah utama, karena aku Tidak menyukainya. Dari SD sampai dia kuliah, dia lebih banyak membiayai hidupnya sendiri, tanpa bantuan kami... Dia bekerja keras untuk hidup dan masa depannya sendiri... " Cerita Rima yang membuat Nindi shock dan terdiam.


"Maaf Ri... Aku nggak tau...!? " Ucap Nindi merasa tidak enak hati.


"Kenapa minta maaf...!? Bukan salah kamu kok... Salah aku... " Ucap Rima seraya tersenyum ramah meyakini sahabatnya bahwa dia tidak apa-apa. " Cuman Nin... Karena kejadian itu, aku nggak terlalu berani paksa mau aku sama dia... Karena aku merasa nggak pantas jadi ibunya... " Ucap Rima lagi.


"Jangan gitu Ri... Dia juga nggak marah kok kelihatannya... Pertama kali aku liat kamu sama dia... Dia Sweet banget sama kamu... Dia mecahin kulit kepiting untuk kamu... Jarang lo ada anak yang begitu peduli dengan ibunya kayak Evan... Jadi kamu nggak perlu minder gitu sama Evan... Aku yakin Evan udah maafin kamu, Ri... " Ucap Nindi mencoba menghibur Rima.

__ADS_1


Sedangkan Evan dan Tari terlihat masih asyik mengobrol.


BERSAMBUNG...


__ADS_2