
Sampai lah ia di salah satu bangku panjang di sebuah taman kota. Ia berdiam diri di bangku tersebut, menatap ke sekeliling. Tidak ada rumah yang akan ia tuju. Ia merasa seperti sebatang kara sekarang, ia ingin pulang menemui ayah dan ibunya.
Dia rindu rumahnya sekarang, kamar sempit dan pengap, mbak Minah baik hati yang selalu merawatnya seperti adik sendiri, Mas Tama sang pelindungnya saat maminya marah, Mbak Syahila yang selalu mengajaknya bermain dan omelan maminya.
Dia ingat betul bagaimana dulu dia selalu menunggu kepulangan ayahnya walau sang ayah tak pernah menggubris kehadirannya.
Entah kenapa kenangan menyakitkan itu, terasa indah sekarang. pada kenyataannya, sesakit apapun masa lalu ia di rumah itu, akhirnya di sana juga lah tempat ia kembali.
(Bangku taman tempat pemberhentian Evan)
Evan mengambil handphone nya di dalam tas. Ternyata dia tidak mengaktifkan handphone itu sedari kemarin. Saat dia mengaktifkannya kembali handphonenya, ternyata terdapat hampir ratusan kali panggilan masuk dari ayahnya. Dia tersenyum, mendapati fakta bahwa masih ada orang yang menginginkan ia sebesar itu. Sekarang ia yakin untuk pulang.
Dia mulai mencari nomor ayahnya dan menekan nomor yang terdapat tulisan 'papa'. Tidak lama mulai terdengar sambungan teleponnya terhubungi. Tidak butuh waktu lama sudah diangkat dengan cepat. Mungkin si ayah pun sudah lama menunggu kabar dari nya.
"Halo!" ucap seseorang dari seberang sana. Evan terdiam beberapa saat, ini pertama kalinya ia menelpon sang ayah seumur hidupnya. Saat ia di Inggris slalu ayahnya yang menelponnya terlebih dahulu. Kali ini dia lah yang menelpon.
Evan menyerap suara itu di telinganya. Tiba-tiba suara itu terdengar sangat menyentuh baginya. Setelah bertahun-tahun dia tidak pernah mendengar suara ayahnya di telfon, kali ini ia kembali mendengar nya lagi. Dan itu membuat dia tidak sanggup berkata-kata.
"Van!" gumam seseorang pelan dari seberang sana setelah beberapa saat mereka terlibat keheningan. Evan masih terdiam. Dia menarik nafas panjang hingga udara memenuhi rongga dadanya, ia menyiapkan diri untuk menjawabnya. Dia memejamkan matanya sesaat memantapkan hatinya bahwa kali ini dia benar-benar sudah siap memulai hubungannya kembali bersama keluarganya.
"Iya, Pah!" ucapnya mantap beriringan dengan air matanya yang telah berusaha keras ia tahan. Sekarang ia tau, ia butuh ayahnya. Dia benar-benar membutuhkan keluarganya.
"Iya, nak. Di mana kamu? Pulang lah!" lirih ayahnya yang juga terdengar sesak. "Pulanglah nak," lirihnya lagi.
"Pah! Aku.... pah....!" ucapnya terpenggal-penggal, dia masih tengah berusaha keras menahan gejolak di dadanya.
"Papah jemput, ya! Kamu di mana, nak?" tanya ayahnya lagi dengan lembut. Dia mengangguk pelan seraya menutup mulutnya dengan kepalan tangannya yang bergetar menahan tangisnya yang tak tertahankan lagi, hingga ia merasa tercekat di ujung tenggorokannya.
__ADS_1
"Cepat lah!" lirih Evan seperti berbisik, ia sudah mulai tak sanggup menahan rindunya yang sangat ingin pulang.
***
Setelah mengatakan alamatnya kepada ayahnya, dia pun menunggu di sana. Dia berjalan mencari bangku yang tempatnya lebih terbuka, agar ayahnya dapat segera menemukannya. Setelah mendapati posisi yang ia inginkan. Dia duduk di bangku taman itu sambil menikmati panas mentari pagi dengan pemandangan para pengunjung yang tengah berolah raga.
Pikirannya terus menerawang jauh, bagaimana reaksi maminya nanti. Apakah dia akan menerimanya, bagaimana dia akan menghadapi ayahnya. Kenangan masa kecilnya kembali menerawang. Saat si ayah mengacuhkannya, saat si ibu selalu menyalahkannya. Akankah dia di perlakukan begitu lagi.
Aaahhhh... Pergi sejauh apapun, semarah apapun dia tetap tidak bisa pungkiri, dia tetap membutuhkan mereka. Seburuk apapun tetap hanya itu lah tempat ia kembali.
Dia menikmati dingin pagi sambil duduk bersandar di di bangku taman. Tiba-tiba ada beberapa orang gadis yang duduk di sampingnya. Evan yang tidak begitu perduli karena kemelut permasalahan yang tengah menggangu. Tidak begitu peduli dengan bisik-bisik mereka di sampingnya dengan tatapan curi-curi yang seolah mengagumi sosok tampan Evan.
Tidak Lama ayahnya pun datang. Evan menatap kedatangan ayahnya. Dia datang dengan langkah tidak sabar dan cepat menuju ke arah Evan. Momen ini sudah ditunggu nya bertahun-tahun. Akhirnya putranya bersedia kembali.
"EVAN!" seru Wisnu dengan mata berkaca-kaca. Evan melambaikan tangannya seraya tersenyum atas seruan ayahnya. Sesampainya di hadapan Evan, dia segera memeluk Evan erat, tangisnya pecah seraya memeluk putranya untuk pertama kalinya. Perlahan tangan Evan terangkat membalas pelukan hangat itu, baru kali ini dia merasakan hangatnya pelukan ayahnya. Pelukan yang selama ini hanya dia lihat saat ayahnya baru pulang bekerja. Ayahnya selalu memeluk hangat Tama dan Syahila, tapi melupakannya di sudut belakang.
'Sebentar lagi pah. Peluk aku sebentar saja agar aku bisa lupa kan sakit ku, kesendirianku dan **amarah**ku. Sebentar saja, pah. Agar aku bisa mengampuni semua ini. Sebentar lagi, pah. agar aku bisa melupakan kenangan buruk itu. Agar aku bisa ingat yang aku miliki adalah ayah yang mencintaiku, bukan mengasingkanku' batin Evan.
"Kita pulang, nak! Jangan pergi lagi," bisik Wisnu seraya mencium wajah putranya hangat. Evan mengangguk. Wisnu mengambil tas Evan, lalu melangkah pergi bersama Evan. Evan melangkah pelan luka di perutnya masih sedikit ngilu. Mungkin karena dia berjalan cukup jauh tadi.
"Masih sakit?" tanya Wisnu khawatir.
"Sedikit!" tutur Evan tidak mau membuat khawatir.
"Minah sama mami masak banyak buat menyambut kamu," ucap ayahnya lagi, Evan hanya tersenyum. Mereka pun berjalan menuju mobil mereka.
Ayahnya tak henti-hentinya menatap putranya itu. Dia tidak percaya akhirnya Evan bersedia untuk pulang. Akhirnya setelah bertahun-tahun ia menunggu putranya memaafkannya hari ini pun tiba, sekarang dia berjanji akan menebus semuanya. Dia akan memperlakukan putranya dengan layak.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah Evan langsung turun dari mobil di sambut ibunya dengan senyum yang sumringah. Evan turun berlahan.
(Kediaman keluarga Wisnu Pratama, tidak sebesar kediaman keluarga Richard tapi sangat nyaman bagi penghuninya)
Di depan pintu utama, Evan di sambut Rima dengan tangis haru dan langsung memeluknya erat. Sesaat Evan merasakan kehangatan dari ibu sambungnya ini. setelah puas memeluk Evan, ia segera mengurai pelukannya dan menatap Evan lembut seraya menyeka air matanya.
"Kamu belum sembuh sudah pergi. Kayak gini jadinya. Nanti mami panggil dokter kerumah buat cek lagi." Omel ibunya yang membuat hati Evan semakin hangat. Seketika dia merasa memiliki ibu. 'Ini rasanya memiliki keluarga yang utuh. Sangat hangat.' Batin Evan.
Minah mengintip dari pintu, dia merasa senang bertemu Evan lagi. Setelah 8 tahun Evan tidak kembali sekarang dia telah kembali.
Di rumah sudah ada Tama. Mereka mengantar Evan ke kamar yang sudah di siapkan. Kali ini bukan kamar belakang lagi, tapi kamar yang luas dengan fasilitas lengkap. Evan tersenyum melihat kamar barunya yang begitu nyaman
(Kamar baru Evan saat ini)
"Gimana kamarnya?" Tanya ibunya, Evan menoleh pada ibunya dan tersenyum.
"Aku suka, makasih, mi." Ucap Evan dengan senyum tulus. Rima tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf sayang baru kali ini mami bisa kasih kamu sesuatu yang layak." Ucap ibunya seraya mendekap kepala putra nya kepelukannya yang tengah duduk di meja belajarnya itu. Wisnu tersenyum terharu melihat kebahagiaan yang sempurna ini dari depan pintu kamar Evan bersama Tama. Tama tidak kalah bahagianya melihat mimpinya bertahun-tahun untuk melihat keluarganya lengkap lagi akhirnya terwujud, apa lagi sekarang adiknya sudah di perlakukan dengan layak.
"Ya udah. Sekarang kamu istirahat dulu. Mami mau lanjut masak lagi. Sebentar lagi kita sarapan, yaa." Ucap ibunya sambil tersenyum kearah putranya dan menyeka air mata bahagianya. Lalu dia pun pergi.
Evan berjalan menuju ranjangnya, di ikuti oleh ayahnya yang juga duduk di sampingnya.
"Nanti papah telpon Jamia biar cek bekas operasi kamu, ya!" Ucap ayahnya. Evan mengangguk seraya berbaring di ranjangnya dan ayahnya pun membenahi selimut Evan. Seraya mengelus kepala putranya. Yang hangat terasa oleh Evan, lalu ia pun pergi dan menutup pintu. Evan tertidur hingga ia terbangun sudah pukul 10 pagi.
__ADS_1
Ia segera bangkit dan turun. Di bawah sudah sepi. Hanya ada ayahnya yang sedang berada di ruang keluarga. Ia masih asing dengan rumah ini, karena dia biasanya hanya akan ke Kamar Tama dan ruang tamu, jarang ia sampai ke ruang keluarga. Apa lagi sekarang ia sudah lama tidak pulang, ia merasa menjadi orang baru di rumah, dia menatap nya seperti baru pertama kali datang.
BERSAMBUNG...