PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
KEPUTUSAN


__ADS_3

Sebelum tidur Evan menatap anting milik Aluna yang tertinggal di hotel waktu itu. Dia memandang anting tersebut sambil tersenyum mengingat kejadian malam itu. Padahal malam itu Evan tidak benar-benar ingin menyewa wanita panggilan tersebut. Dia hanya berniat membalas Aluna, tapi saat tahu kalau yang datang ke kamarnya malam itu adalah Aluna, itu membuatnya tak bisa menolak. Setelah malam itu dia berniat mendatangi Aluna, tapi saat dia mendapati foto Aluna bersama Soni, itu membuat dia berubah pikiran.


***


Di lain sisi, Aluna tengah bersama Dea dan Silvi di kamarnya.


"Sorry ya, Lun. Gue nggak niat jahat, kok. Gue cuman mau kalian balikan. Kali aja kalo lo cemburu jadi termotivasi buat balikan. Eh malah kalian makin parah ributnya," sesal Silvi.


"Itu makanya jangan ikut campur urusan rumah tangga orang. Mertua aja suka salah ikut campur rumah tangga anaknya. Apa lagi ini lu yang pacaran 3 bulan aja bisa putus. Mau sok ngurusin rumah tangga orang. Urusin tuh hidup lo dulu," omel Dea.


"Kenapa lo yang sewot, mau ngalahin bu Tejo lo?!" tukas Silvi tidak terima.


"Udah. Nggak papa, kok," lerai Aluna. "Gue yang salah, kurang dewasa menyikapinya. Seharusnya gue tau itu rekan kerjanya Evan, gue yang bereaksi berlebihan," ucap Aluna bijak. "Lagian keadaan gue udah di manfaatin si Soni. Itu yang bikin gue kesal. Pakek acara di kirim sama Evan lagi," Aluna Mulai kesal mengingat si biang kerok Soni.


"Eh bokapnya labrak lo, ya?" tanya Silvi. Di jawab dengan anggukan oleh Aluna.


"Ya Ampun! Anaknya yang punya kelakuan Dajjal kenapa lo yang jadinya di labrak?!" sungut Dea ikutan kesal.


"Dia di hajar sama Evan. Itu yang bikin gue takut. Lo kan tau Evan orangnya sabar. Kalo sampe dia pakek kekerasan sama Soni apa kabarnya sama gue. Gue bisa di cerein sama dia," ucap Aluna menangis dan mulai takut.


"Udah. Ntar kita bantuin jelasin sama Evan," bujuk Silvi dan di setujui dengan anggukan oleh Dea.


"Nggak bisa. Malam itu kan emang gue dateng sama Soni. Mau alibi kayak gimana coba? Gue yang salaaaahhhh ...." histeris Aluna dengan tangisnya. "Gue mau mati aja rasanya. Gue kehilangan semuanya ... Anak, Suami. Gue nggak punya apa-apa lagi sekarang. Sindrom ini bikin perasaan gue kacau. Seharusnya gue sadar, kalo gue sayang sama Evan bukan karena sindrom Stockholm ini aja. Tapi karena gue beneran sayang sama dia," ucap Aluna mulai menyesali semuanya, dia mendekap wajahnya di bantalnya dengan tangis sesalnya yang tidak henti-hentinya.


"Udah, Lun. Kalo jodoh, nyampe ujung dunia pun dia bakal balik lagi. Kalo bukan jodoh mau di genggam seerat apapun tetap aja akan lepas. Ikhlasin aja, Lun," ucap Silvi mencoba menenangkan Aluna. Aluna mengangkat wajahnya dari dekapan bantalnya dan menatap sahabatnya itu, lalu ia pun tersenyum seraya mengangguk.


"Udah jangan nangis lagi," ucap Dea mengusap air mata Aluna dan memeluknya, Silvi pun ikut berpelukan, mereka bertiga berpelukan dengan hangat.

__ADS_1


Malam itu mereka tidur di kamar Aluna, karena Aluna di tinggal sendirian. Auntynya sudah pergi bersama suaminya, semenjak dia rujuk dengan suami pertamanya dia kembali ke tempat suaminya di Surabaya bersama anak tunggal mereka di sana. Sedangkan ayah Aluna memang jarang di rumah.


"Hmmhhhh... Kamar lo masih ada bau Evan nya, ya. Apa Evan pernah tidur di sini sejak kalian pisah?" tanya Dea mulai kumat. Aluna dan Silvi memandangnya.


"Aaaaa..." teriak Aluna yang semakin menjadi merindukan Evan.


"DEA!" teriak Silvi melempar bantal pada Dea dan mendekap Aluna. Dea hanya tersenyum nyengir.


***


Di pagi itu Evan bangun seperti biasa. Dia sudah biasa bangun pagi, jadi dia ikut sarapan pagi bersama walaupun dia sedang libur karena sudah berhenti bekerja.


"Kamu mau gimana sekarang?" tanya Ayahnya di sela sarapan mereka.


"Nggak tau, Pah. Liat nanti aja. Lagi malas mikir sekarang," ucap Evan, yang memang sudah mulai tidak bersemangat lagi.


"Kerja bantu mas Tama kayak dulu lagi aja. Kan lumayan juga kamu dulu. Kamu nya aja yang cari penyakit mau jadi karyawan biasa di perusahaan orang. Kalo kamu mau, kamu bisa kerja di perusahaan kita," tawar Tama.


"Hmmmhh... Buang-buang waktu namanya itu," ucap Tama.


"Udah! Kamu kerja di perusahaan Papa saja. Ada posisi manager yang kosong," ucap Wisnu.


"Liat nanti aja lah, Pah. Lagi pengen istirahat dulu," ucap Evan masih tidak bersemangat.


"Kamu sama Aluna gimana?" tanya ayahnya. "Sudah hampir 7 bulan loh kalian pisah kayak gini. Jangan gantungin pernikahan kayak gini terlalu lama, tidak baik, Van. Kalian bukannya pacaran lagi," ucap Wisnu mengingatkan.


"Dianya yang susah buat diajak ngobrol. paling kalo diajak ngomong baik-baik di ajaknya aku ribut lagi, Pah," ujar Evan dengan senyuman pasrah.

__ADS_1


"Pernikahan itu tidak seperti pacaran yang bisa putus nyambung kapan saja. Kalau sudah nikah, kamu harus tanggung jawab. Ada yang salah di tegur, diomongin baik-baik. Bukan pergi nggak balik lagi kayak gini. Kalo masih pacaran bisa kamu seenaknya. Jangan main pergi aja, terus gantung hubungannya kayak gini. Pikirkan sebelum mengambil keputusan. Kalo bisa sekali seumur hidup. Perceraian adalah jalan terakhir yang bisa kalian ambil, kalau memang sudah tidak ada jalan lain lagi," nasehat ayahnya. Evan hanya diam mendengarnya.


"Besok aku rencananya mau nemuin Aluna Pah," ucap Evan dengan senyuman yang di paksakan.


"Nah, gitu. Jangan di turutin terus ego. Nggak ada yang mau ngalah. Juga nggak akan ada yang menang akhirnya,"


Mereka pun kembali melanjutkan sarapan mereka.


Evan bukan tipe orang yang bisa terbuka. Karena itu sulit bagi ayah ataupun ibunya bisa memberi pandangan. Hanya Evan yang tau persis duduk perkara permasalahan rumah tangganya. Apalagi Richard juga tampak sibuk dengan bisnisnya hingga dia juga tidak begitu memperhatikan permasalahan antara Evan dan Aluna. Hingga tak menyadari sudah selama itu Evan tidak kembali kekediamannya.


***


Keesokan harinya, Evan bersiap akan ke rumah Aluna untuk menemui Aluna. Dia masuk menuju gerbang besar kediaman Aluna yang di buka boleh dua orang penjaga. Mereka menyapa Evan dengan senyuman ramah.


"Aluna ada di rumah?" tanya Evan.


"Ada tuan! Kayaknya lagi ada tamu juga di belakang, tuan" jawab mereka.


"Ooo... Yaudah saya masuk dulu, ya," ucap Evan dan melajukan mobilnya masuk halaman rumah besar tersebut.


Setelah memarkirkan mobil, dia segera turun dan masuk rumah yang segera di bukakan oleh pelayan di rumah. Mereka tersenyum melihat kedatangan tuan muda mereka yang sudah lama tidak mereka lihat itu.


"Aluna mana?" tanya Evan kepada salah satu pelayan tersebut.


Dengan ragu mereka menunjukkan keberadaan Aluna. yang ternyata sedang berada di taman belakang. Evan melihatnya tengah bersama seorang laki-laki. Evan tertegun melihatnya. Niatnya untuk memperbaiki hubungan mereka malah mendapati kenyataan pahit, Aluna tengah bersama Soni. Mereka terlihat mengobrol akrab, sepertinya Soni membawakan Aluna sebuah buket bunga mawar merah. Sesuatu yang tidak pernah Evan berikan kepada Aluna.


__ADS_1


Evan terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia memutuskan untuk pulang sebelum sempat menemui Aluna. Dan sebelum sempat Aluna menyadari kedatangan Evan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2