
Hari itu Aluna dan Evan kembali ke kediaman Aluna, setelah beberapa hari menginap di rumah Evan. Aluna merasa rumahnya yang besar itu sangat sepi dan dingin. Berbeda dengan rumah Evan yang hangat dan ramai. Dia merindukan suasana kekeluargaan di rumah Evan.
"Di sini sepi. Nggak suka," keluh Aluna.
"Nanti sore daddy kamu pulang. Nggak enak kalo dia pulang kita nggak ada di rumah. Lain kali kita nginep lagi di sana, ya!" bujuk Evan seraya memeluk istrinya yang cemberut itu. "Udah, donk Jangan cemberut," bujuk Evan lagi dengan mencubit pipi Aluna yang mulai terlihat cuby. Aluna pun tersenyum dan memeluk suaminya, Evan hanya tersenyum seraya membalas pelukan Aluna.
...***...
Tiba-tiba ada pesan masuk, Aluna pun melihat handphone nya. Ada pesan dari nomor tidak di kenal. Alangkah kagetnya dia saat melihat pesan apa yang masuk.
Foto Evan bersama Jamia. Tampak Evan yang tengah memeluk Jamia dan begitu pula Jamia, yang tampak mencengkram lengan Evan dengan posisi mereka saling pandang. Di foto kedua tampak Evan yang tengah memasangkan sepatu pada kaki Jamia yang sepertinya di sebuah toko sepatu. Jamia menatap ke arah Evan dengan senyuman yang dalam dan penuh arti. Seperti tatapan seseorang terhadap kekasihnya. Di foto selanjutnya terlihat Evan dan Jamia tengah memakaikan Baju batik couple dan keduanya terlihat sangat serasi. Di akhir foto terdapat pesan.
'coba kamu lihat laci dashboard mobil suamimu. Kamu akan temukan buktinya.' isi pesan itu.
Tidak ada nama kontak pengirim, hingga Aluna tidak tau siapa yang mengirimnya. Aluna segera bangkit dari ranjang dengan dada yang bergemuruh dan darah yang naik sampai ke ubun-ubun, rasanya kepalanya akan meledak melihat foto barusan. Sedangkan Evan masih sibuk di kamar mandi.
Aluna berjalan cepat dengan langkah tidak sabar, menuju mobil yang biasa di pakai oleh Evan. Saat sampai dia segera membukanya. Alangkah kagetnya dia menemukan 3 bungkus ****** bekas yang hanya tertinggal bungkusnya dan ada juga struk seperti bekas pembelian sesuatu. Ternyata benar itu struk pembelian sepatu.
"Dasar murahan!" Aluna nampak sangat murka. "Kamu mau berencana merebut suamiku! Tampang saja suci, tapi ternyata obralan," rutuk Aluna marah seraya meremas barang temuannya itu.
Aluna kembali ke kamar dia mendapati Evan tengah berada di depan meja laptopnya tengah bersiap mengerjakan sesuatu. Dengan rambut basah yang masih acak-acakan dengan handuk yang masih di kepalanya.
Dia melihat Aluna berjalan cepat ke arahnya.
DAN...
PLAK...
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Evan, seketika membuat wajah Evan memerah.
Evan menatap Aluna dengan tatapan bingung seraya mengusap pipinya yang terasa sakit dan memerah bekas tamparan Aluna barusan. Aluna menangis sejadi-jadinya dan mulai memaki Evan.
"LAKI-LAKI MUNAFIK! Aku pikir kau benar-benar laki-laki sabar dan pengertian. Bersedia menunggu ku, dan ternyata... Selama ini kau punya pemuasnya!" teriak aluna histeris . Evan semakin bingung tidak mengerti dengan ucapan Aluna.
"Apaan? Aku nggak ngerti!" ucap Evan bingung sambil terus mengusap pipinya yang sakit. "Duduk dulu. Ceritain ini kenapa? Kamu tiba-tiba main gampar aja." Evan berusaha menenangkan Aluna.
Tapi Aluna menolak saat Evan akan menyentuh bahunya, lalu Evan pun mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kepala, kode bahwa dia tidak akan menyentuh Aluna jika Aluna tidak mau. Sekarang mereka duduk di ranjang, Evan menunggu Aluna tenang. Tapi kelihatannya sulit. Itu terlihat dari expresi Aluna yang tegang dengan nafas yang memburu.
Aluna melempar beberapa bungkus ****** bekas dan struk pembelian sepatu wanita flatshoes. Evan semakin bingung dengan apa maksud Aluna. Evan memungut itu dan menatap Aluna "Aku nemuin itu semua dari laci dashboard mobil kamu. Terus ada orang kirim foto ini ke aku!" Evan melihat deretan foto yang ternyata diambil saat dia pergi bersama Jamia waktu itu. Sekarang dia mulai paham.
"Ok, Aku memang beliin Jamia sepatu. Tapi ...," ucap Evan terputus.
"kamu ngakuin nya, kan?" Potong Aluna memukul Evan dan melempari Evan dengan barang apapun yang ada di kamar. Itu membuat Evan kesulitan menjelaskannya.
***
Sedangkan Aluna buru-buru pergi ke rumah sakit tempat Jamia bekerja. Dia segera mencari Jamia ke seluruh penjuru rumah sakit. Dia tidak peduli dengan geraknya yang kurang leluasa karena dia yang tengah hamil. Perutnya pun mulai terasa kram, tapi nafsu amarahnya lebih besar menguasai dirinya sekarang. Rasanya sekarang Aluna ingin sekali ******* Jamia si dokter muda itu.
"Berani-beraninya kau menyentuh suamiku. Aku bunuh kau Jamia," amuk Aluna geram penuh amarah seraya terus mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita ayu yang berhijab itu.
(Dr.Jamia Anissa)
Karena sudah masuk waktu istirahat, tampak Jamia tengah mengobrol dengan rekannya sesama dokter. Dia tampak tidak menyadari kedatangan Aluna. Tapi saat dia menoleh dia melihat Aluna tengah berjalan terburu-buru kearahnya. Aluna pun segera menghampirinya dengan expresi yang terlihat sangat marah dan nafas nya tampak memburu. Jamia belum tahu maksud tujuan kedatangan Aluna. Melihat senyum manis Jamia membuat Aluna semakin muak. Aluna tampak tidak bersahabat. Sesampainya dia di depan Jamia, dia langsung mendaratkan pukulannya ke wajah Jamia.
__ADS_1
PLAK...
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Jamia. Jamia menatap Aluna bingung, apa salahnya hingga Aluna menamparnya.
"PEREMPUAN MURAHAN. DASAR PELACUR. BERAPA KALI KAU TIDUR DENGAN SUAMIKU, HAH? APA TIDAK ADA LAKI-LAKI LAIN LAGI, SAMPAI HARUS REBUT SUAMI ORANG?" Teriak Aluna histeris yang segera di tahan oleh orang-orang yang ada di sana.
"Sudah, sudah. Ini rumah sakit, Buk. Kalo ada masalah jangan ribut disini!" Nasehat salah seorang pengunjung.
Dia terus mencoba menenangkan Aluna. Tapi Aluna tampak sudah sangat marah. Jamia yang merasa sangat malu karena menjadi pusat perhatian, segera menghindari Aluna. Sebelum dia pergi Aluna berusaha menahannya. Tapi naas bagi Aluna, dia tersandung dan kebetulan mereka tengah berada di tangga yang tidak terlalu tinggi tapi tetap berbahaya bagi Aluna. Secara reflek Jamia menahan Aluna agar tidak terjatuh. Dia menahan tubuh Aluna tapi karena tidak kuat dia pun terjatuh. Sebisa mungkin Jamia menepatkan Aluna di posisi paling aman, hingga dia rela memposisikan dirinya di posisi paling berbahaya. Kepala Jamia menghantam lantai cukup keras dan tangannya pun ikut keseleo karena berusaha menahan jatuh mereka. Sesaat Aluna merasakan ketulusan Jamia, Jamia merangkulnya dengan erat hanya untuk melindunginya.
Semua orang disana sudah berusaha juga untuk menahannya, tapi tidak ada yang berhasil. Hanya Jamia yang berhasil menahan Aluna, hingga dia rela mengorbankan dirinya.
Keduanya terjatuh bersamaan, dan segera di tolong oleh orang-orang sekitar.
...***...
Di rumah Evan di telfon tentang Aluna yang terjatuh, dengan wajah panik dan Tergesa-gesa Evan berlari ke rumah sakit.
"Jamia gimana?" tanya Evan jadi juga mengkhawatirkan Jamia.
"Tangan dia terkilir gara-gara nahan istri anda yang ngamuk tadi," sahut rekan Jamia. Tampak Pak Haji dan orang tua Evan yang baru datang juga.
"Ini ada apa sebenarnya?!" tanya Wisnu yang tidak tau apa-apa.
"Ada yang kirim foto ke Aluna. Terus Aluna marah nyamperin Jamia ke rumah sakit, sampe jatuh," terang rekannya lagi.
"Brian!" gumam Evan. Membuat Wisnu menoleh ke arah Evan. Evan langsung pergi, dia sudah tidak bisa mentolerir perbuatan Brian lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...