
Keesokkan harinya, Tari berjalan didekat kantor Evan karena habis mengantar pesanan. Dia melihat Aluna tengah berjalan di luar kantor. Dia baru pulang dari kerja, karena ini memang sudah pukul 5 sore, sudah waktunya para karyawan pulang. Tari pun menghampirinya.
"Aluna!" panggilnya.
Aluna pun menoleh ke sumber suara. Dia melihat Tari berjalan cepat kearahnya. Aluna menatapnya dengan tatapan datar. Mereka tidak begitu akrab, karena memang Tari selalu memperlihatkan expresi tidak sukanya pada Aluna tiap kali mereka bertemu. Karena itu mereka berdua sering terlihat seperti terlibat perang dingin.
"Kenapa kamu selalu mengganggu hubungan saya dengan Evan? Jangan mencoba membuat Evan seperti milik kamu lagi. Kalian sudah bercerai. Apa tidak bisa kamu melepaskan Evan? Apa kamu tidak bisa menghargai Aku di samping Evan? Kenapa kamu seolah di ikat dengan Evan? Apa ini tujuan ayahmu memperkerjakan Evan di perusahaan nya!? Apa agar kalian bisa bersama!? kalian habis liburan bersama kan!?" ucap Tari penuh amarah.
Dia melihat jari manis Aluna. Sudah lama dia tidak menyukai Aluna yang masih saja mengenakan cincin kawinnya, Itu seolah memperlihatkan bahwa Aluna tengah mengikat Evan dengannya.
Tari meraih tangan Aluna dan ia segera melepas paksa cincin itu dari jari manis Aluna. Aluna mencoba menahannya, tapi dia kalah kuat dengan Tari. Hingga Tari berhasil melepaskannya.
"Apa-apaan kamu Tari!" seru Aluna tidak terima. "Kembalikan cincinku! Kamu tidak berhak mengatur hidup aku. Aku sudah meminta izin Evan. Kembalikan!" teriak Aluna tidak terima.
"Tidak. Cincin ini membuat kau selalu berkhayal seolah-olah Evan masih suamimu. Karena itu kamu selalu menggoda nya. Iya kan?!" teriak Tari seraya mengacungkan Cincin kesayangan Aluna itu. Dan tanpa Aluna duga, Tari membuang cincin itu hingga terjatuh kedalam selokan di seberang jalan. Aluna menatap marah pada Tari. Tari tidak peduli, dia segera pergi meninggalkan Aluna yang berlari mengejar cincinnya ke seberang jalan.
Tari menangis di sudut bangunan itu, beberapa saat dia merasa sangat jahat. Tapi dia berusaha meyakini dirinya, bahwa dia hanya sedang mempertahankan hubungannya. Hanya itu tidak lebih, lalu dia pun pergi.
Aluna berusaha keras mengambil cincinnya yang masuk kedalam got kotor. Dan sialnya got itu di tutupi teralis besi pengaman, hingga Aluna kesulitan mengambilnya. Dia terus berusaha dengan berbagai cara, tapi tetap gagal.
...***...
Evan yang kebetulan juga baru pulang, melihat Aluna tengah berusaha mengambil sesuatu di dalam got dengan sebuah ranting kecil. Ia tampak kesulitan, dari expresinya dia juga terlihat tengah menangis. Evan kembali mengunci mobilnya dan segera menghampiri Aluna.
"Lagi ngapain?!" tanya Evan. Aluna menoleh kearah Evan.
"Cincin aku jatuh ke dalam," tunjuk Aluna pada cincinnya seraya menyeka air matanya, Evan hanya menatapnya sekilas, lalu ia berjongkok dan mendongak melihat kedalam got. Ternyata benar, ada sebuah cincin di dalam got itu.
__ADS_1
"Kok bisa?!" tanya Evan heran seraya melihat cincin tersebut yang tengah berada di dalam got kotor diantara tumpukan sampah.
"Tadi nggak sengaja ke lepas, terus jatuh kedalam," ucap Aluna yang tidak menceritakan tentang Tari.
"Kamu itu memang ahli bikin masalah," seru Evan yang heran dengan Aluna yang selalu membuat masalah. "Pegangin ini! Tarok dalam mobil," Perintah Evan seraya menyerahkan tas dan jasnya kepada Aluna, Aluna pun segera melaksanakannya. Dia mengambil tas dan jas Evan itu dan segera menaruhnya kedalam mobil Evan yang tidak jauh dari sana.
Evan segera menyingsingkan lengan baju panjangnya. Ia berusaha mengambil cincin itu dengan berbagai cara, tapi dia kesulitan seperti Aluna tadi. Dia pun terus berusaha, dan Aluna yang baru datang setelah mengantar tas Evan tadi segera menghampiri Evan lagi.
"Susah, ya?" tanya Aluna khawatir akan kehilangan cincinnya.
"Susah lah kalo jatuhnya kedalam got kek gini, mana kotor lagi," keluh Evan, tapi tetap berusaha mengambilnya. Aluna melihat Evan berjuang deminya, itu membuat dia tersenyum bahagia tanpa sepengetahuan Evan.
Tidak lama kemudian, hujan mulai turun. Evan berusaha menahan cincin tersebut agar tidak hanyut terbawa air yang sebentar lagi akan memenuhi got tersebut.
"Udah. Kamu tunggu di tempat teduh aja sana," ucap Evan pada Aluna. Tapi Aluna menolaknya. "Cepetan sana," ucap Evan lebih tegas, hingga membuat Aluna mau tidak mau mengikuti perintah Evan. Sedangkan Evan terus berusaha mengambilnya di tengah deras nya hujan. Aluna mulai merasa tidak tega. Tapi dia juga membutuhkan cincin itu.
...***...
"Nih!Jangan di buang lagi kalau sayang," ucap Evan seperti biasa dan menyerahkan cincin itu pada Aluna kembali. "Sama kayak yang ngasih!" bisik Evan usil.
Aluna tidak begitu mendengarnya karena hujan yang deras. Melihat expresi wajah Evan, Aluna tau Evan mengatakan sesuatu barusan, tapi sepertinya Evan mengatakan sesuatu yang menjengkelkan, karena itu Aluna malas bertanya. Dia lebih memilih pergi.
Evan yang basah kuyup karena hujan akhirnya membuka bajunya yang basah dan menggantinya dengan baju kaos putih polos yang kebetulan dia simpan di mobil dan melapisi mobilnya dengan koran bekas agar tidak basah. Saat Evan membuka pakaiannya Aluna melihat bekas memar di punggung Evan, terlihat tinggal sedikit tapi masih menyisakan bekas biru. Aluna menghampiri Evan.
"Punggung kamu kenapa?!" tanya Aluna.
"Hmmmhh! Nggak inget kejadian di laut?! Aku namengin kamu sampe aku yang kena kayunya. Kamu kena dikit aja langsung nggak bisa ngapa-ngapain," terang Evan membuat Aluna malu dan merasa bersalah.
__ADS_1
"Kok kamu nggak pernah cerita?! Kalo kamu kena kayu juga?!" tanya Aluna.
"Buat apa bikin heboh?!" seru Evan seraya mengenakan baju kaos putih polosnya yang kebetulan sering Evan simpan di mobil lalu melapisinya dengan jasnya, agar ia yang kedinginan karena kehujanan barusan bisa tetap hangat.
Aluna terdiam, Evan memang bukan tipe orang yang suka cari perhatian. Dia lebih suka bersikap profesional, melakukan apapun yang perlu di lakukan dan tidak suka membuat orang lain memperhatikannya kalau tidak penting.
"Aku ke apartemen kamu, ya. Baju aku juga basah. Mau numpang keringin bentar," ucap Aluna seraya tersenyum.
"Jangan mancing. Kita cuman berdua di rumah," ingat Evan yang lebih bertujuan menggoda Aluna.
"Nggak akan terjadi apa-apa kalau kamu pikirannya bersih," ucap Aluna.
Evan hanya tertawa mendengarnya. Aluna memang sering memandang Evan sebagai laki-laki yang mesum, padahal hanya dengan dia lah Evan begitu. Sedangkan dengan perempuan lain, melirik pun Evan enggan, jika ia tidak kenal. Jika bersama Aluna dia seperti orang yang tidak bisa menahan diri. Karena itu Aluna selalu melihatnya seperti laki-laki yang nakal.
...***...
Di tempat lain Tari menemui ibunya di rumah sakit. Dia ingin bercerita tentang hubungannya dengan Evan. Saat menemui ibunya di ruangannya, Tari langsung memeluk ibunya.
Nindi kaget melihat Tari menangis, Tari tidak pernah seperti ini. Ini pertama kalinya dia begini.
Tari mulai menceritakan perihal hubungannya dan Evan. Nindi mengerti sekarang.
"Tari. Kalau Evan tidak mau, jangan di paksakan. Hubungan itu, ibarat genggaman. Semakin erat kamu menggenggam maka dia akan terlepas dari sela-sela jari. Jadi, kalau memang hubungan itu tidak bisa pertahankan. Lepaskan saja. Evan memang laki-laki baik. Tapi mungkin dia tidak baik untuk kamu. Bunda sering liat kamu sedih karena sikap Evan yang tidak mau di atur, Evan lebih suka melakukan sesuatu sesuai keinginannya, sedangkan kamu suka sekali mengatur karena kebiasaan kamu di rumah. Bagaimana kalau kalian sudah berumah tangga?! Sama-sama keras, maka akan hancur," bujuk ibunda Tari. "Tari, baik saja tidak cukup untuk sebuah hubungan, harus cocok juga. Itu kenapa kalian di minta penjajakan, agar kalian tau, kalian cocok atau tidak. Jangan di persulit, ya. Dari awalkan Evan memang kurang setuju. Tapi Kamu masih bisa berteman dengan dia," ucap bunda Tari bijak.
Tari mulai berfikir, mungkin ada benarnya. Evan sangat baik saat mereka berteman. Evan mulai berubah saat mereka bertunangan. Evan mulai menunjukkan sikap kerasnya, padahal sebelum itu Evan sangat lembut dengannya. Bahkan Evan sudah mengingat kan dia berkali-kali. Hanya dia saja terus berharap dan akhirnya benar, dia terluka sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...