
Saat dalam perjalanan pulang mereka melewati kawasan apartemen Evan. Aluna kembali ingat dengan penjual bakmi yang yang pernah dia kunjungi saat bersama Evan dulu.
"Van, kita beli bakmi di sana lagi, yuk," ajak Aluna manja dan penuh harap. Mengingat Evan sangat menjaga makanan Aluna selama dia menyusui seperti saat ini.
"Udah, ah. Itu nggak baik buat kamu yang menyusui," cegah Evan.
"Sekali aja, Yank. Aku lagi pengen banget. Boleh ya," bujuk Aluna lagi seraya menggoncang tubuh suaminya.
"Kamu kan bilang aku kayak kecoak nggak gampang mati kalo makan makanan kayak gitu dulu. Jadi ini nggak akan pengaruh buat aku kalo cuman semangkok bakmi doank, ya," bujuk Aluna lagi.
Evan mendesah nafasnya kasar. Ia pun segera memarkirkan mobilnya. Aluna tertawa kegirangan ketika keinganannya di kabulkan oleh suaminya. Sebuah ciuman hangat mendarat di wajah Evan sebelum dia turun dari mobilnya. Evan hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu.
Sesampainya di tempat penjual bakmi. Mereka segera memesan dua mangkok bakmi. Sambil menunggu mereka mengobrol dengan di selingi canda tawa. Sesaat datang tiga orang laki-laki. Evan mulai melirik lelaki yang baru datang itu.
"Lun, duduk di samping aku," perintah Evan kepada Aluna. Aluna melirik ke sampingnya. Dia paham, pasti Evan tidak suka ada laki-laki di dekatnya. Apalagi saat ini Aluna tengah mengenakan pakaian yang lumayan pendek dengan tanpa lengan di tambah lagi lelaki di sampingnya sempat beberapa kali melirik ke arahnya. Evan dari dulu memang sangat protektif kepadanya. Tapi Aluna sangat menyukai itu, dia merasa terlindungi dengan sifat Evan itu.
Dia segera duduk di samping Evan. Evan menyambutnya dengan senyum. Dan tidak lama pesanan mereka pun datang. Mereka kembali sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Tapi sepertinya selera makan Evan tengah tidak begitu bagus. Hingga dia tidak menghabiskan semangkok bakmi tersebut.
Tangan Aluna segera terulur menyentuh wajah suaminya saat melihat Evan batuk kecil. Evan menatapnya.
"Aku nggak papa, cuman nggak selera makan aja," tutur Evan dengan seulas senyum seolah memahami kekhawatiran Aluna terhadapnya.
Aluna sering khawatir jika Evan jatuh sakit, begitu besar rasa cinta Aluna terhadap Evan. Dia begitu menjaga Evan sesibuk apapun dia di rumah keperluannya selalu ia utamakan. Tak ia biarkan pelayan di rumahnya ikut mengurusi kebutuhan Evan. Ia lebih rela menyerahkan anak-anaknya kepada suster untuk melayani kebutuhan suaminya dari pada harus melihat kebutuhan suaminya di ambil alih oleh pelayan, kecuali saat dia baru melahirkan. Hanya 3 bulan dia beristirahat lalu ia kembali turun tangan mengurusi suaminya.
Begitu pula Evan, jika itu Aluna yang meminta akan ia penuhi sepenuh hati, bahkan dia pernah terbang langsung ke Paris demi tas idaman Aluna yang limited edition nya. Atau bahkan dia ikut jaga malam saat Aluna terjaga menyusui anak-anaknya. Begitulah mereka menjalani hubungan mereka, saling menjaga dan selalu mengutamakan satu sama lainnya. Seolah mereka memang ditakdirkan untuk membutuhkan satu sama lain.
Saat melihat mie di mangkuk Aluna sudah tandas Evan pun segera berdiri hendak membayar. Saat dia selesai membayar dan bersiap akan pergi dia mendapati Aluna tengah menghabiskan mie di mangkuknya tadi yang tidak ia habiskan. Evan mengernyitkan keningnya tidak percaya dengan tingkah Aluna, Aluna hanya tersenyum kearahnya seraya menghabiskannya. Evan pun kembali duduk menemani Aluna makan.
"Sayang kalo di buang," terang Aluna memberi alasan.
__ADS_1
"Bilang aja kalo kamu memang pengen lagi tapi nggak berani pesan, kan," terka Evan membuat Aluna tersenyum nyengir kuda. Tiba-tiba Evan melihat ada sisa kuah mie di sudut bibir Aluna, Evan pun segera mengelapnya dengan jempolnya seraya tersenyum dengan hangat kepada Aluna. Betapa dia sangat menyayangi wanita ini dan tidak akan pernah siap jika dia kehilangan wanita di hadapannya ini.
***
Selesai makan mereka segera pulang. Saat pulang Aluna sempat khawatir.
"Dea pasti ngamuk liat kita pulang telat," tutur Aluna seraya terkekeh Evan pun ikut tertawa mendengarnya.
"Biarin lah," tutur Evan cuek sambil terus menyetir.
Benar saja, baru saja mereka turun dari mobil Dea sudah nampak berkacak pinggang menunggu mereka di ambang pintu utama. Evan tak gentar, hanya Aluna yang tampak tidak enakkan.
"Enak ya yang pacaran seharian, gue yang harus jagain anak kalian seharian. Apalagi si Liam tuh, habis kamarnya di berantakinnya. Pusing gue sama dia," omel Dea.
"Mana si jagoan itu," seru Evan seraya berlari ke rumah memanggil Liam yang segera di sambut Liam dengan tawa riang.
"Oya? Lee bikin apa?" tanya Evan kepada putra itu seraya menggendongnya.
"Lee nakal ayah, Lee tumpahin semua bedak tabur yang di kardus itu," adu si sulung Manuela. Evan mengernyitkan keningnya penasaran dengan hasil karya putranya.
"Iya, putih semua kayak salju. Lee yang bikin loh, Yah," tambah Liam dengan antusias seraya menunjuk dirinya. Mereka segera menuju kamar mereka dengan Liam masih di gendongan Evan.
Saat dia membuka pintu kamar segera tercium bau bedak tabur yang semerbak. Benar saja ternyata kamar itu sudah penuh dengan taburan bedak tabur. Sepertinya Liam sudah menuangkan puluhan botol bedak tabur ke seluruh ruang kamarnya. Evan tertawa terbahak melihat tapi tidak dengan Aluna, dia berteriak histeris melihat kamar Liam dan Manuela yang sudah penuh dengan bedak tabur.
"Yaa Allah Liam," keluh Aluna lemas melihat tingkah anaknya.
"Nggak apa-apa, kan cuman bedak. Nanti juga bisa di bersihin," bela Evan dan dia malah ikut bermain dengan kamar yang penuh bedak tabur itu bersama Liam dan manuela.
Aluna kesal terhadap Evan yang samasekali tidak pernah memarahi anaknya walau senakal apapun itu. Tanpa Aluna sadari, Evan hanya sedang memuaskan anaknya untuk bermain, karena masa kecilnya sangat menderita dan menyedihkan. Sekarang dia berjanji, apa yang ia alami tak akan pernah di alami oleh anak-anaknya lagi. Karena itu, mau senakal apapun Liam, Evan tak akan marah.
__ADS_1
Lelah bermain bersama bedak tabur dan kamar Manuela dan Liam pun kini tengah di bersihkan para pelayan. Sementara hingga kamar Liam dan Manuela bersih, Liam pun tidur bersama Evan dan Aluna di kamar mereka. Sedangkan Manuela bersama Dea di kamar tamu.
Seperti biasa Liam sebelum tidur selalu ingin di baca kan dongeng. Evan pun mulai mendongengkannya untuk Liam, sedangkan Aluna tengah menyusui Kyu di sofa panjang. Evan dan Liam di ranjang.
Saat baru selesai membaca dongeng, Evan dan Liam pun bercerita.
"Ayah, waktu ayah kecil punya banyak mainan jugak?" tanya Liam tiba-tiba. Seketika membuat raut wajah Evan berubah. Aluna pun menyadari itu.
"Ayah masih kecil nggak punya mainan, tapi mbok yang kerja di rumah grandmi sering bikin mainan buat ayah. Om Tama juga sering minjemin ayah mainannya," terang Evan yang sebenarnya ada rasa sedih saat dia harus menceritakan masa kecilnya lagi.
"Apa grandmi nggak beliin buat ayah juga'?" tanya Liam lagi masih penasaran.
"Ayah kan pinjemin mainan om Tama, jadi buat apa beli lagi," terang Evan masih menutupi masa kecilnya yang menyedihkan.
"Udah, Lee. Bobok lagi sayang, besok Lee sekolah pagi, kan sayang, nanti luka Liam juga jadi susah sembuh kalo nggak cepat-cepat boboknya," sahut Aluna cepat saat melihat Evan yang mulai sulit menjelaskan nya kepada Liam.
"Bunda udah marah. Tidur lagi, yok. Besok lagi mainnya," tutur Evan mulai menidurkan Liam. Evan menatap Aluna sekilas, Aluna pun tersenyum menatap Evan yang segera kembali mengasuh Liam untuk tidur lagi sedangkan Aluna masih tengah menyusui Kyu.
***
Setelah semua anak-anak sudah tertidur semua. Evan menghampiri Aluna di ranjang. Aluna tersenyum melihat kedatangan suaminya.
"Baiklah, aku akan menemuinya besok," gumam Evan. Aluna seketika tersenyum bahagia.
"Beneran?!" tanya Aluna memastikan sekali lagi. Evan mengangguk. Aluna pun memeluk suaminya.
"Aku telfon ibuk besok," gumam Aluna, Evan mengangguk. Setelah itu mereka pun memutuskan untuk tidur, malam sudah semakin larut.
BERSAMBUNG...
__ADS_1