PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
APA YANG HARUS AKU LAKUKAN


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan keluarga Tari, Rima segera pulang menemui Evan. Dia sedang di Gazebo di belakang rumah, tengah membaca buku. Rima segera menghampirinya. Evan pun menutup bukunya. Dia menatap kedatangan ibunya itu.



"Eh, Mami udah ngomong sama bunda Tari tadi," ucap ibunya bersemangat. Evan tampak tidak begitu bersemangat mendengarnya. "Kita udah mutusin. Minggu depan kalian tunangan. lebih cepat, lebih baik. Jangan buang waktu lagi," ucap Ibunya seraya menepuk paha Evan yang terlihat tidak perduli itu. Rima juga tidak perduli dengan sikap cuek Evan, yang penting rencananya berhasil.


"Nggak terlalu cepat, ya? Belum juga sebulan mas Tama nikah. Sekarang udah mau di sibukkin sama acara pertunangan lagi," ucap Evan sambil membuka bukunya kembali, dia mencoba mengulur waktu.


"Nggak. Nanti kamu berubah fikiran lagi. Kamu itu nggak bisa di percaya. Kadang kamu itu licik. Pinter cari alasan," ucap ibunya.


"Mih. Hanya untuk penjajakkan aja kan! Mami jangan ngasih harapan besar sama mereka," tanya Evan untuk meyakinkan sekali lagi.


"Udah, ah. Mami mau nolongin Minah buat makan malam lagi," tandas Rima lalu pergi meninggalkan Evan, seraya bersenandung kecil. Evan malah tertawa mendengar kalau dia di sebut licik.


Rima terlihat bahagia sepanjang hari. Minah hanya senyum melihatnya.


"Napa toh, buk?" tanya Minah.


"Eh, Minah. Bentar lagi saya punya menantu baru lagi. Ah, hidup saya benar-benar menyenangkan sekarang. Anak-anak saya semuanya jadi rebutan orang-orang. Terutama Evan. Rasanya itu senang kalo anak kita banyak yang suka," imbuh Rima senang, ia terus tersenyum bahagia sepanjang hari.


...***...


Saat makan malam pun senyum itu tidak lepas darinya, dia dengan gaya centilnya melayani keluarganya. Evan melihat kebahagiaan ibunya itu. Saat menyajikan makan malam untuk keluarga kecilnya itu. Itu membuat Evan senang, melihat ibunya senang.


"Entah ibu yang mana yang menjadi surgaku tuhan, tapi mamiku juga ibu yang baik... " gumam Evan membatin.


...***...


Di Belanda Aluna menghabiskan waktu nya bersama Dea dan Silvi di kediamannya. Entah kenapa dia akhir-akhir ini sering merasa gelisah.


"Kok perasaan gue sering nggak enak ya akhir-akhir ini," ungkap Aluna. Silvi dan Dea pun menoleh ke arah Aluna.


"Bokap lo sakit kali," tebak Dea.


"Nggak. Semalam di telfon, baik-baik aja, kok. Gue ngerasa gelisah. Tapi nggak tau kenapa!" terang Aluna dengan expresi wajah bingung.

__ADS_1


"Makanya sholat biar ati tenang," timpal Dea masih cuek dan lantas pergi ke dapur meninggalkan Aluna yang masih bingung


***


Selesai makan Evan ke kamar. Evan sibuk mengerjakan sedikit pekerjaan nya di kantor tadi. Dia membuka laptopnya dan sibuk mengetik. Tiba-tiba handphone nya berdering. Evan melihatnya dan ternyata Tari menelponnya.


"Kamu lagi apa?" tanya Tari.


"Nggak. Cuman lagi ada sedikit kerjaan aja," jawab Evan.


"Ganggu, ya,"


"Nggak kok. Ini juga iseng,"


"Kamu besok kalo nggak sibuk bisa nggak kita ketemu!? ada yang mau aku omongin," pinta Tari dengan agak ragu.


"Besok aku jemput kamu...!! " imbuh Evan.


"Ok," sahut Tari dan mereka mematikan telfonnya.


Dia mencari Anto yang sedang bersama teman-teman nya. Evan segera menjemputnya. Evan memang tidak akrab dengan teman-teman Anto, jadi jika dia akan bertemu Anto, maka dia akan membawa Anto pergi dari sana. Itu merupakan kebiasaan Evan yang tidak suka berkumpul dengan banyak orang, hanya beberapa orang saja yang bisa membuat Evan nyaman. Karena itu dia punya sedikit teman akrab.


Dia suka kenal dengan banyak orang, tapi dia tidak suka berkumpul dengan banyak orang. Alasannya, terlalu berisik dan terlalu banyak tema yang di bicarakan dia tidak suka. Apa lagi konflik dalam bersosialisasi, itu paling Evan tidak sukai. Evan bukan tipikal pria yang punya trik dan intrik. Hidupnya sederhana, suka berteman, tidak tinggalkan.


***


Mereka berhenti di pinggir jalan, sambil menikmati jajanan pinggir jalan.


"Kenapa?" tanya Anto.


"Hidup lo tuh suntuk mulu. Kalo nggak bermasalah mulu. Jarang gue liat tenang, badai mulu. Laut aja ada pasang surutnya, hidup lo badai mulu," gumam Anto.


"Gue mau tunangan," aku Evan sontak membuat Anto kaget.


"Sama siapa?!" seru Anto masih tidak percaya.

__ADS_1


"Tari, yang sering gue ceritain itu," terang Evan dengan tatapan hampa.


"Bagus lah. Mending sama dia, dari pada sama Aluna. Manjanya bikin ribet. Walau kata dia orang kaya, tetap aja kita hidup butuh ketenangan, Van."


Evan menoleh sekilas kearah Anto


"Gue nggak bisa," ucap Evan. "Dulu cuman karena kita kacau aja," ucap Evan lagi.


"Lo itu cuman penasaran sama Aluna. Udah deh, jangan cari penyakit lagi. Mending sama Tari, dewasa orangnya, ngemong anaknya, juga pengertian. Itu yang di butuhkan ibu rumah tangga. Nggak kayak Aluna. Ketumbar sama merica aja dia nggak bisa bedain. Lo sama Aluna yang ada ancur semuanya," cerca Anto. "Lagian, kalo lo nggak mau sama Tari, ngapain lo mau di tunangin sama dia. Jangan mainin perasaan anak orang" ucap Anto lagi dengan mengepulkan asap rokoknya ke udara "Karma itu perih Evan," seru Anto meniru dialog film G30spki. Evan menyunggingkan senyumnya dengan tingkah sahabatnya itu.


"Argh ... pusing gue," kesah Evan pasrah. "Mami yang jebak gue. Makanya gue nggak bisa nolak," terang Evan yang membuat Anto tertawa, terbahak.


"Ada juga orang yang bisa ngerjain lo, ya," ledeknya seraya tertawa keras.


Evan hanya bisa menatap kesal dan melempar kulit kacang rebus ke arah Anto. Curhat dengan Anto terkadang memang lebih banyak kesalnya dari pada solusinya. Tapi saat ini Evan tidak punya tempat lain, selain dia. "Udah ... Move on aja. Lo nungguin Aluna, kiranya dia nggak suka sama lo lagi. Yang ada lo buang-buang waktu nungguin dia. Sama yang pasti-pasti aja," nasehat Anto lagi seraya menenggak minumannya. Nasehat Anto sama sekali tidak membantu. Dia mencari cara untuk membatalkan pertunangannya, Anto malah pro dengan pertunangannya.


...***...


Di kantor, Evan menemui Richard ke ruangan nya. Tampak Richard sedang duduk di kursinya.


"Ada apa!?" tanya nya, setelah mempersilahkan Evan untuk duduk. Evan pun menceritakan rencana pertunangannya. Richard menatap Evan beberapa saat, seperti berfikir. Lalu dia pun tersenyum.


"Daddy merestui kamu, Van. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu, ya," ucap Richard tulus. Ada perasaan berat di hati Evan. Evan menatap Richard dalam seolah meminta Richard mendukungnya untuk menolak ini semua


"Jangan beri tahu Aluna dulu, Dad. biarkan dia selesaikan kuliahnya dulu," pinta Evan. Richard mengangguk setuju, lalu Evan pun pergi. Richard melihat kepergian Evan hingga hilang di balik pintu. Richard membuka kaca matanya. Rasanya dia tidak ikhlas membiarkan Evan bersama orang lain. Apa lagi Aluna nanti seandainya dia tahu. Itu akan membuat Aluna kecewa.


Richard tahu betul, Aluna sudah mempersiapkan semua untuk kembali pada Evan. Dia selesaikan kuliahnya hingga S2, dia belajar hidup mandiri di sana dengan hidup tanpa pelayanan apapun Di sana. Dia di Belanda benar-benar hidup mandiri sekarang. Seperti yang Evan bilang, dia ingin Aluna pintar dan mandiri. Bagaimana reaksinya nanti saat tahu.


"Haaahhh.... Sudah lah. Salah mu juga nak, saat dia bersama kamu. Kamu tidak menghargainya," gumam Richard seraya meminum kopi panasnya.


***


Di ruangannya, Evan masih termenung di kursinya. otaknya benar-benar buntu untuk berfikir sekarang. Ia menarik nafas dan melepasnya dengan kasar lalu mendekap wajahnya ke atas meja.


Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara handphone nya yang berdering. Dia melihat handphone nya dan ternyata Tari. Dia lupa punya janji dengan Tari hari ini.

__ADS_1


__ADS_2