PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
MEMBUNGKAM KEANGKUHAN


__ADS_3

Aluna merasa sangat khawatir dengan kekacauan barusan, dia takut Evan akan membencinya seumur hidupnya. Apa yang akan dia lakukan sekarang. Sedangkan ayahnya tengah mengurus pemecatan Evan.


Richard baru tau bahwa Evan adalah lulusan Oxford S2 dengan nilai kelulusan cumlaude. Itu sempat membuat dia terpana tidak percaya, karena penampilan Evan sangat sederhana dan terkesan biasa saja.


"Pantas bicaranya sangat cerdas," gumam Richard masih memegang data-data tentang latar belakang Evan.


***


Kejadian tersebut membuat semua staf hotel bersedih, karena harus kehilangan sosok Evan yang tampan dan berkharismatik. Mereka selalu mengagumi Evan sebagai sosok yang rajin dan ramah. Apa lagi saat Evan izin kepada semuanya, Andri pun ikutan sedih. Apa lagi saat mereka tahu alasan Evan di pecat adalah karena melindungi stafnya.


"Pak Evan jangan pergi," ucap Bella saat Evan mengemasi barangnya.


"Iya pak. Kita senang kerja sama pak Evan. Pak Evan slalu jadi atasan yang baik buat kita semua," sambung salah satu Housekeeper.


" Iya Van. Kita merasa sangat kehilangan" ucap Andri. Itu membuat Evan tersenyum ke arah Andri.


"Maafin saya pak, kalau selama ini saya suka usilin bapak," ucap Evan pada Andri dengan expresi bersahabat, berbeda dengan ia selama ini. Itu membuat Andri terharu, Evan masih mau baik padanya setelah selama ini dia terus berusaha menjatuhkan Evan.


"Nggak kok. Saya yang harusnya minta maaf, saya nyebelin pastinya, dan bikin kamu repot," aku Andri. Evan hanya tersenyum mendengar pengakuan Andri. Dia menyalami Andri seraya memberi pelukan persahabatan. Dan di ikuti yang lain.


Saat dia keluar bersiap akan pergi, dia bertemu dengan Aluna di lobi. Aluna menatap Evan, Evan malah pura-pura tidak melihatnya. Dia malah berpamitan dengan para koki di hotel yang ke betulan juga datang mengantar kepergian Evan terakhir kalinya di hotel.


Aluna menatap punggung Evan yang pergi tanpa sepatah katapun padanya. Langkah Evan di ikuti oleh staf hotel, bahkan pintu taksinya di buka oleh pak Ari sendiri untuk penghormatan kepada Evan. Evan tersenyum kearah pak Ari atas penghormatan tersebut seraya masuk mobil. Dan mobil pun berlalu meninggalkan mereka semua.


Sekarang baru Aluna tahu, betapa banyak orang yang menyayangi Evan karena sikap rendah hatinya. Mungkin saat dia pergi tidak akan ada orang yang mengantarnya pergi seperti Evan barusan. Dia mulai berfikir tentang sikap arogannya yang buruk.


Dia merasa bersalah kepada Evan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah terlanjur menjadi buruk.

__ADS_1


***


Suasana hotel jadi berbeda setelah kepergian Evan, Aluna pun merasakan kehilangan begitu juga semua orang di hotel. Dia melihat tidak ada gairah dari para karyawan dalam bekerja, seperti ada yang hilang.


"Biasanya dia kesini buat ngobrol atau sekedar usilin pak Andri." Gumam Heru.


Koki di dapur pun mengeluhkan hal yang sama.


"Biasanya dia selalu cek dapur kesini terus kasih semangat kita."


Di para Housekeper.


"Kita nggak akan pernah ketemu orang sehebat itu lagi, udah pintar, ganteng rendah hati seperti itu. Dia rela di pecat cuman biar kita nggak di rendahkan." Ucap salah seorang Housekeeper.


"Dia juga nggak segan makan bareng kita, traktir kita, dia itu bukan bos tapi teman baik kita." Tambah yang lain.


Andri yang merupakan musuh bebuyutannya pun ikut kehilangan.


"Walaupun dia nyebelin, tapi dia baik hati," puji Andri. Pak Ari hanya tersenyum melihat kearah Andri. Hubungan Evan dan Andri memang aneh, jika bertemu mereka seperti kucing dan anjing, saat berpisah malah di rindu.


***


Malam itu Aluna duduk-duduk di kamar. Dia tidak bergairah lagi dengan liburannya. Mungkin besok dia akan kembali ke Jakarta saja. Ayahnya setelah kejadian kemarin dia langsung pulang, karena ada kesibukan. Dia datang kemarin semata-mata karena Aluna saja.


Tiba-tiba pintunya diketok, dia pun segera menghampiri. Ternyata pelayan hotel yang datang mengantar makanannya. Dia pun membuka pintu. Si pelayan tampak aneh, dia memakai masker, dan gelagatnya tampak aneh, dia terlihat seperti waspada. Sambil terus menyajikan makanannya, Aluna terus memperhatikannya. Tapi dia segera menepis pikirannya. Mungkin itu hanya perasaannya saja.


Setelah selesai menyajikan dia pun segera keluar, sebelum menutup pintu dia membuat ganjaran agar pintu tidak terkunci. hanya menutup saja tanpa terkunci. Sehingga masih bisa di buka dari luar.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Aluna merasa aneh. tangan dan kakinya tiba-tiba seperti kesemutan. Handphone yang dia pegang tiba-tiba jatuh begitu saja dari tangannya. Pelan-pelan tubuhnya mulai melemah, tapi kesadarannya masih penuh. Dia berusaha memanggil seseorang tapi suaranya tidak bisa keluar. Dia mulai panik, apa yang pelayan itu lakukan padanya. Ada apa ini, kenapa dia begini. Dia mulai ingin menangis karena takut dan panik.


Aluna sudah mulai tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa menggerakkan tubuhnya sedikit saja, dia pum tidak bisa merasakan apa-apa di kaki dan tangannya. Dia tersandar lemah di atas ranjangnya.


Tiba-tiba terdengar seseorang masuk ke kamarnya. Dia menggunakan masker dan topi. Aluna penasaran dengan lelaki ini, apa yang akan laki-laki ini lakukan. Tidak, jangan sampai laki-laki ini melakukan hal buruk padanya. Dia mulai sangat takut dan panik. Dia tidak bisa berteriak meminta pertolongan, apa yang harus dia lakukan sekarang.


Laki-laki tersebut membuka masker dan topinya. Yaa... Itu sosok yang sangat di kenalnya, wajah tampannya yang dingin kini terlihat sangat menakutkan. Senyum tenangnya memberi firasat buruk bagi Aluna.


"Halo nona Aluna!" sapa Evan ramah dan tenang tapi penuh arti. Aluna yang tengah seperti orang lumpuh semakin ketakutan saat Evan berjalan mendekat kearahnya dan kini wajah mereka hanya berjarak 5cm. Aluna dapat rasakan nafas Evan yang tidak beraturan seolah tengah menahan sesuatu di dadanya. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya itu malah membuat Aluna semakin ketakutan.


"Bagaiman rasanya tidak berdaya nona Aluna? Apa kau takut?" bisik Evan di telinga Aluna. Aluna yang ketakutan terus berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, tapi tetap tidak bisa. Dia benar-benar seperti orang lumpuh saat ini.


"Itu yang kami rasakan tiap kali berhadapan denganmu. kami takut kau tidak puas, kami takut kami melakukan kesalahan. Kami takut kau akan memecat kami. Tapi kami tidak takut kau hina, kami hanya takut kau tidak membayar kami lagi. Karena jika kau pecat kami, itu artinya kami tidak bisa makan," ucap Evan sarkas dan penuh penekanan. Aluna hanya diam menangis, dia benar-benar ketakutan saat ini, dia takut Evan akan melakukan hal buruk padanya yang tengah tidak berdaya. Betapa ingin dia memohon agar Evan tidak menyakitinya, tapi dia tidak bisa bicara, hanya air matanya yang deras mengalir membasahi wajah cantiknya.


Evan mengangkat tubuh Aluna memindahkannya keatas ranjang dan duduk di sampingnya bersandar di kepala ranjang seperti Aluna saat ini. Evan menatap Aluna yang tengah tidak berdaya di sampingnya.


"Aku ingin kau rasakan bagaimana rasanya harga dirimu di cabik, dan bagai mana rasanya melayani seseorang dengan terpaksa dan penuh tekanan, nona Aluna," lirih Evan lagi. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aluna, hingga Aluna dapat melihat jelas wajah Evan yang sangat menakutkan sekarang. Raut wajahnya menggambarkan kemarahan dan dendam. Bau parfumnya tercium jelas oleh Aluna. Dia akan mengingat bau parfum itu seumur hidupnya sebagai trauma di hidupnya kelak. "layani aku!" ucap Evan dengan senyum menyeringai yang mengerikan. "Agar kau tau rasanya melayani seseorang dengan terhina," bisik Evan tajam di telinga Aluna seraya mencengkram wajah Aluna hingga Aluna menjadi gemetar ketakutan. Terlihat expresi penuh garang yang Evan tunjukkan saat ini.


Aluna kaget, apa yang dia takutkan mungkin akan terjadi. Aluna semakin panik, apa yang akan Evan lakukan padanya! Bagaimana ini!


Evan mulai menyentuhnya dengan berani. Dia membuka pakaian Aluna dengan kasar dan penuh dendam. Tidak mungkin Evan yang sangat berwibawa mau melakukan hal serendah ini, setan apa yang sedang merasukinya. Tidak, Evan tidak boleh melakukan hal serendah ini. Tapi percuma, Aluna tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa pasrah dengan yang Evan lakukan padanya. Hanya air matanya yang semakin deras mengalir. Evan tidak perduli, dia sudah seperti iblis sekarang. Dia penuh amarah dan nafsu. Tidak ada logika lagi dalam dirinya. Dia akan membungkam wanita angkuh ini selamanya dengan caranya. Aluna tidak menemukan sosok Evan yang ia kenal di mata indah itu saat ini. saat ini Evan terlihat sangat menakutkan.


Setiap detik di malam itu adalah malam yang paling menyakitkan bagi Aluna. Aluna tidak ubahnya seperti wanita kotor di luar sana. Evan benar-benar menghancurkan hidupnya. menghancurkan nya dalam semalam. Setiap jamahan itu adalah hinaan baginya. Evan sangat menikmati tangis tak berdaya Aluna. Aluna menatap Evan dengan tatapan penuh harapan pengampunan darinya, tapi Evan tidak perduli. Wanita cantik ini telah menjadi wanitanya malam ini. Aluna mendapat penghinaan terberatnya malam ini.


Raut wajah Evan terlihat jelas di matanya, menakutkan, tapi tetap menarik. Lama-lama dia seperti tersihir oleh Evan. Karena caranya yang perlahan menjadi lembut membuat Aluna tanpa sadar terdengar mendesah. Evan menatapnya dan tersenyum mendengarnya.


"Dasar murahan!" bisik Evan penuh hinaan. Aluna merasa sangat sakit dengan ucapan itu. Sedangkan Evan terus dengan aksi bejatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2