
Evan menjemput Tari sepulang kerja. Dia menemuinya di Toko rotinya. Mereka berjalan berdua menyusuri taman kota. Mereka duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman kota tersebut.
"Gimana menurut kamu sama pertunangan ini!? Apa kamu beneran setuju?" tanya Tari.
"Apa salah nya untuk saling kenal dulu. Nanti kita putuskan mau sampai mana?" ucap Evan seakan mulai lelah dan mulai tidak mau berpikir dulu.
"Maksudnya?" tanya Tari.
"Kayak yang mereka bilang. Kita akan saling kenal, kan! Ini bukan jaminan bahwa kita akan ke pernikahan," ucap Evan. Seakan tanpa dia sadari malah menyakiti Tari.
"Ooo... " ucap Tari. Seperti nya Evan mulai menunjukkan pemberontakannya.
"Aku harap kamu jangan kecewa nantinya. Karena aku ...." ucap Evan terputus, dia menatap Tari. "Tidak bisa mencintai orang lain," ucap Evan datar, tapi terdengar tajam oleh Tari. Evan memang keras, dia tidak mudah di tundukkan.
"Aku akan berusaha menjadi yang terbaik, Van. Kamu akan melihat keberadaanku," ucap Tari dalam. Evan menatap Tari dalam pula
"Jangan menyakiti diri sendiri," gumam Evan tajam. Tari hanya tersenyum.
'Aku siap untuk terluka!' batin Tari.
***
Hari itu pun tiba, semua orang tampak senang. Evan hanya diam, dia tidak banyak bicara. Dia juga tidak terlihat bahagia, Tapi Tari terlihat sangat bahagia. Anto dan Brian menghampirinya.
"Kenapa lesu?!" tanya Brian.
"Ini hari bahagia. Seneng, donk!" semangat Anto seraya merangkul bahu Evan. Evan hanya tersenyum kecut. Tidak lama Alice pun datang dan bergabung bersama mereka.
"Eh, Aluna bulan depan wisuda lo. Dia udah selesai S2 nya," ucap Alice memberitahu. Itu membuat Evan tertarik, Anto melihat reaksi itu.
"Udah. Lo kan mantan sama dia. Biar gue lagi yang deketin dia," goda Anto.
"Anjir," sontak membuat Evan melayangkan satu pukulannya kepada Anto. Brian dan Alice hanya tertawa melihatnya.
Tari menyaksikan 4 orang sahabat itu tengah asyik bercengkrama, sedangkan dia sibuk dengan temannya.
__ADS_1
***
Selesai acara pertunangan itu, Evan menemui ayah dan ibunya yang tengah duduk santai sambil menonton TV. Dia ingin menyampaikan keinginannya untuk tinggal di rumah sendiri. Itu sontak membuat ayah dan ibunya kaget, mereka saling pandang tidak percaya.
"Kenapa mendadak?!" tanya ibunya.
"Nggak mendadak, kok. Udah lama rencananya. Sebab rumah kita jauh dari kantor, jadi agak kejaran sama waktu kalo pagi, apa lagi kalo pulang. Kadang udah capek, tapi masih ke jebak macet," ungkap Evan.
"Apa karena kamu kesal mami maksa kamu tunangan sama Tari?!" tanya ibunya merasa Evan tengah berusaha menghindari mereka.
"Nggak. Emang karena kejauhan. Lagian, kadang aku suka pulang malam. Nggak enak kalo mesti bangunin orang lagi tidur!" ucap Evan memberi alasannya.
"Kapan kamu mau pindah?!" tanya Ayahnya.
"Minggu depan. Apartemen itu udah siap huni. Sebab penghuni sebelumnya bule, dia pindah ke negara asalnya, jadi nggak bisa bawak perabotannya, dia jual sekalian perabotannya... Cuman ranjangnya aku ganti... Udah aku beli tadi... Ada juga beberapa perabotannya yang aku ganti," ucap Evan.
"Kapan kamu beli pun kita nggak tau. Kenapa kamu suka memutuskan apa-apa sendiri!? Kamu itu masih punya orang tua. Kalo mau memutuskan sesuatu yang besar, kamu bisa diskusi dulu sama kita," ucap ayahnya yang merasa Evan kurang melibatkan mereka dalam hidupnya.
"Kemaren orangnya jual juga mendesak. Dia punya masalah jadi buru-buru mau dijual," terang Evan mencoba menjelaskan situasinya.
"Minggu depan!" jawab Evan.
"Tuh kan. Kamu mendesak. Kamu menghindar, Van!" ucap Ayahnya.
"Nggak. Beneran, Pah. Aku cuman cari yang deket tempat kerja," ucap Evan masih bersikukuh.
"Oke. Tapi harus sering ke sini. Papah tidak mau kamu menjauh" ucap ayahnya, Evan mengangguk. Setelah mengobrol sebentar, Evan kembali ke kamarnya.
Di saat dia mengambil buku di rak. Evan melihat cincin yang mengikat di jari manisnya, cincin pertunangannya. Evan ingat dengan cincin pernikahannya dulu. Evan mengambilnya di salah satu kotak kecil di dalam lemarinya. Dia kembali mengenang bagaimana dulu cincin itu mengikat dia dan Aluna. Apa Aluna masih memakainya!? Dulu Aluna sempat meminta izin untuk mengenakannya.
***
Di sisi lain Aluna tengah belajar dengan giat untuk persiapan ujian Tesisnya. Ya... Sebentar lagi Aluna akan menyelesaikan kuliahnya di Belanda dan dia akan kembali ke Indonesia.
Aluna tidak sabar untuk kembali ke Indonesia. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Evan dan berharap akan mendapatkan kesempatan ke dua dari Evan.
__ADS_1
***
Hari ini Evan akan mempersiapkan kepindahannya. Evan mulai mengangkut semua barangnya yang ada di rumah ke apartemen barunya.
Evan bersama kedua orang tuanya melihat apartemen yang di beli Evan. Apartemen cukup mewah itu terlihat bersih dan rapi. Evan sudah menata ulang semuanya, menjadi lebih ke stylenya.
"Bagus juga apartemen ini. Terus barang-barang yang nggak ke pakek, kamu apain?!" tanya ayahnya.
"Ada yang diambil orang, ada juga yang masih di gudang belakang!" ucap Evan sambil sibuk mengemasi barang-barang yang baru di bawanya dari rumahnya tadi.
"Tinggal sendirian kek gini, harus pintar mawas diri!" ingat ibunya memperingati. Evan tersenyum sambil terus menyusun barang-barang nya.
Mereka pergi ke lantai atas dan di sana terdapat kamar yang cukup besar, rapi dan bersih. Kamar utama milik Evan. Dan ada 2 kamar tamu. Mereka mencoba memasuki kamar Evan.
Kamar milik Evan selalu terdapat rak buku dan meja kerjanya. Menunjukkan diri Evan yang selalu suka membaca dan bekerja.
"Nggak nyangka dia akan sesukses ini. Tadinya dia hanya Evan kecil yang bahkan tidak pernah kita anggap. Tapi tuhan terlalu kaya untuk kita ragukan rizkinya untuk Evan. Tanpa apapun dari kita dia dapat memiliki semua ini," ucap Ayahnya seolah-olah masih mengingat kesalahan masa lalunya, Rima menggenggam lengan suaminya Seakan-akan ikut merasakan kesalahan itu.
"Kita harus menjadi orang tua yang baik untuk dia mas. Untuk menebus semua kesalahan kita!" ucap Rima. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat, karena memang pintu kamar yang terbuka membuat suara dari luar terdengar jelas dari kamar. Mereka segera menyeka air mata mereka.
"Kenapa?!" tanya Evan, saat mendapati kedua orang tuanya seperti aneh begitu menatapnya.
"Nggak. Kamar kamu besar juga, ya!" gumam ibunya yang masih duduk di atas ranjangnya.
"Ingat, ya. Jangan cuman karena kamu tinggal sendiri, uang ada, terus rumah ada, kamu jadi macem-macem. Inget Van. Jaga nama baik keluarga," ingat ibunya khawatir. Mengingat bagaimana kehidupan anak muda zaman sekarang.
"Apa'an sih, Mih. Ya, nggak lah. Aku bukan orang yang kayak gitu. Lagian bisa ngamuk Tari kalo aku kayak gitu," bantah Evan yang bersamaan dengan kedatangan Tari yang memang mengikutinya tadi.
"Hai, Om, Tante!" sapa Tari dari belakang Evan.
"Eh, Tari! Kapan kamu datang?!" sambut Rima ramah.
Mereka berempatpun mengobrol dengan akrab.
__ADS_1
BERSAMBUNG...