
Paginya Evan terbangun, kepalanya masih berat karena mabuk semalam. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya. Dia menyadari Aluna sudah pergi. Dia tersenyum mengingat kejadian semalam.
Secara tidak sengaja ia menyentuh sesuatu. Ia melihatnya dan ternyata anting Aluna. Anting kecil bermata kan berlian itu terlihat cantik. Bukti keberadaan Aluna semalam. Evan tertawa melihatnya.
"Bodoh!" gumamnya.
Setelah membersihkan diri Evan segera pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah dia di sambut Rima yang terlihat sudah menunggunya.
"Dari mana kamu semalam?!" tanya Rima terdengar marah.
"Semalam aku agak mabuk, Mih. jadi takut bawak mobil sendiri, takutnya kenapa-kenapa. Jadi aku nginep di hotel," terang Evan.
"Kamu semenjak kenal Brian mulai nggak bener. Sejak kapan kamu suka mabuk-mabukan gini?!" omel ibunya.
"Ini bukan gara-gara Brian, Mih. Aku nya aja yang mau. Nggak lagi kok!" ucap Evan seraya berjalan lunglai ke kamarnya, karena masih merasa pusing akibat alkohol yang semalam.
"Kamu Mami aduin sama papah kamu, ya. Mami nggak suka anak Mami ada yang mabuk-mabukan," ucap ibunya masih mengomel. Evan hanya tersenyum mendengarnya seraya mengusap wajahnya. Dia sekarang benar-benar memiliki ibu yang peduli.
Sesampainya di kamar dia segera melemparkan dirinya ke atas ranjang. Dia masih sangat mengantuk, semalam dia kurang tidur.
***
Di lain sisi Aluna sudah terbangun dari tidurnya. dia bangkit dan segera bercermin. Dia baru sadar jika antingnya tidak ada sebelah.
"Anting gue," ucap Aluna kaget. Aluna mulai mengingat-ingat terakhir anting itu di rasanya ada. "Jangan-jangan lepas di kamar hotel lagi! Aduh! Gimana, nih," serunya panik. "Evan tau nggak, ya. Apa gue cek ke hotel aja. Mana mungkin ada. Pasti udah di beresin kamarnya," gumam Aluna panik.
***
Evan di kamarnya baru bangun tidur sedang memandangi anting Aluna yang tertinggal di hotel. Saat dia menoleh dia kaget ayahnya tengah duduk di meja kerjanya seraya bergelut dada. Dengan pandangan tajam kearah Evan. Sepertinya ibunya benar-benar mengadu kepada ayahnya.
"Dari mana kamu semalam?" tanya Wisnu mulai menginterogasi Evan.
"Dari klub Brian. Terus kemaleman. Jadi aku nginep di hotel," ucap Evan apa adanya.
"Sama siapa? Perempuan?" tanya ayahnya, mulai mencari tahu tentang kebenaran sesuatu. "Anting itu punya siapa?!" tanya ayahnya. Evan langsung pucat di tanya begitu. Dia tidak mungkin bilang ini milik Aluna.
"Ini ... Ini ... Punya ... Temen aku ketinggalan di mobil. Karena berlian, jadi aku simpen," ucap Evan mencoba mencari alasan yang tepat.
"Siapa?!" tanya Ayahnya.
__ADS_1
"Temen aku. Papa nggak kenal," jawab Evan masih tenang.
"Anto bilang kamu sama perempuan semalam," ucap ayahnya. Evan hanya tertunduk, dia tidak mungkin jujur. "Evan! Jangan macam-macam kamu. Kamu itu masih suaminya Aluna. Apa kata ayahnya lihat kamu kayak gini!" seru Wisnu meninggi. Evan benar-benar di sudutkan oleh keadaan. Jujur dia kena, ikuti permainan pun dia kena.
"Astaga!" gumam Evan bingung harus berkata apa.
"Menghancurkan itu mudah. Mempertahankan itu yang susah," ucap Ayahnya lagi. Ingin rasanya Evan berteriak berkata bahwa dia bersama istrinya bukan orang lain. Tapi bicara jujur tidak mungkin.
"Papa nggak mau sampe daddy Aluna tau apa yang kamu lakukan semalam. Sekali lagi kamu sewa wanita seperti itu, papa sendiri yang hajar kamu," ucap Ayahnya sangat marah. Lalu pergi dengan membanting pintu kamar Evan dengan keras.
"Penghianat si Anto," gerutu Evan kesal.
***
Pagi itu Evan ke kantor lebih awal karena hari senin jadi dia sudah cukup beristirahat. Itu membuat dia bersemangat untuk bekerja. Satu persatu rekannya mulai datang dan menyapa nya. Evan mengobrol dengan rekannya sebelum berkutat dengan pekerjaannya.
"Tumben pagi banget datengnya?!" tanya Tari rekannya.
"Hari senin harus semangat, donk," ucap Evan seraya tersenyum.
"Gue minggu sibuk sama pertemuan keluarga. Libur sama aja boong," keluh Dodi.
Tiba-tiba Soni datang bersama seorang wanita yang sangat Evan kenal.
"Silvi?!" gumam Evan.
Dia mengekori Soni dari belakang. Saat dia melewati Evan dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Evan hanya tersenyum tipis kearahnya. Evan merasa Aluna mengirim Silvi untuk memata-matainya.
"Ini Silvi. Dia mahasiswa magang yang akan magang disini selama 3 bulan ke depan. Tolong kalian bimbing dia, dia ini teman saya, jadi kalian jangan macam-macam," ingat Soni di akhir pidatonya.
Setelah memperkenalkan dirinya Silvi pun mencari tempatnya. Dia melihat ke arah Evan dan berbisik pada Soni.
"Ari!" seru Soni.
"Iya pak, saya," sahut Ari.
"Kamu geser kesamping, ya. Biar Silvi di samping Evan," ucap Soni.
Evan kembali tersenyum. Sekarang Silvi benar-benar seperti seorang stalker. Dia dengan senyum yang mengembang segera duduk di samping Evan. Di sambut Evan dengan senyuman kecut.
__ADS_1
"Kenapa?! Tuan putri kalian minta lo buat nguntit gue," ucap Evan dengan wajah datar.
"Bukan karena dia. Ini mau gue juga,"
"Hah... Terserah lah," Evan malas untuk berdebat, dia kembali fokus pada pekerjaannya. Silvi hanya duduk manis di samping Evan.
"Ada info panas. Mau tau nggak?!" tanya Silvi. Sengaja memancing rasa penasaran Evan.
"Apaan?!" ucap Evan yang terpancing.
"Eh, katanya aunty Marissa sama om Kevin mau balikan lagi. Om Kevin itu suami pertama aunty. Jadi Aluna sering sendirian di rumah sekarang. So, elo sebagai suami yang baik, Jenguk kek. Atau bawak pulang sama lo atau gimana gitu," ucap Silvi mempengaruhi.
"Kalo dia bisa diajak ngomong juga nggak akan ada masalah kitanya," ucap Evan agak kesal.
"Kalian berdua itu sama-sama keras kepala, Sama-sama gengsi," tukas Silvi tidak kalah sengitnya.
"Heh! Kerja!" seru Dodi dari belakang. Itu membuat kedua nya diam dan lanjut dengan pekerjaannya.
Dan tiba-tiba seperti biasa, Evan di panggil Soni ke ruangannya. Dan keluar dari sana Evan membawa tugas Soni yang seabrek untuk di kerjakan. Silvi hanya bisa membelalakkan matanya melihat berkas laporan yang banyak itu.
"Itu kerjaan lo!? " tanya Silvi.
"Bukan! Ini kerjaan pacar temen lo. Dia kesumat sama gue. Tiap hari gue ngerjain ini buat dia. Mau ngundurin diri gue nggak bisa, terikat kontrak sama perusahaan," keluh Evan. Silvi kasihan pada Evan. Sebagai magang dia hanya bisa membantu sedikit karena dia masih baru.
Sesaat ada Tari yang menghampiri Evan untuk sebuah urusan. Wanita itu cukup menarik perhatian Silvi, selain cantik dia juga terlihat pintar. Dan saat bersama Evan dia terlihat cocok. Diam-diam sebagai mata-mata yang handal Silvi memotretnya dan mengirimnya pada Aluna.
***
Aluna segera membuka pesan tersebut. Dia tampak panas melihat foto itu.
"Dasar buaya! Di lepasin dikit langsung nemplok ke cewek lain," gerutu Aluna cemburu.
***
Sedangkan Silvi tampak tersenyum puas berhasil mengerjai Aluna. Dia terkekeh sendiri. Misi pertamanya mulai di laksanakan.
"Maaf, Lun. Habis kalo lo nggak di giniin lo nggak ngaruh sih," ucap Silvi seraya terkekeh.
"Selamat cemburu zeyeng!" gumam Silvi sambil tersenyum. Evan melirik Silvi sejenak lalu lanjut dengan pekerjaannya lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...