PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
JADI REBUTAN


__ADS_3

sejak saat itu Evan dan Tari menjadi semakin dekat. Apa lagi Tama memesan roti buatan Tari untuk pernikahannya, sebagai menu di acara pernikahannya dan juga kue pengantinnya.


Tari sekarang lebih sering bertemu Evan. Itu membuat Rima berfikiran kalau Evan mulai tertarik pada Tari. Dia mulai berencana akan mengundang keluarga Tari ke rumah sesudah pernikahan Tama. Dia ingin segera menikahkan Evan dan Tari.


Rima pun mengajak Nindi ibunda Tari untuk membicarakan ini.


"Apa nggak kecepatan, Ri. Kan kamu sendiri yang bilang, Evan itu nggak suka di atur-atur. Apa kamu yakin Evan setuju?" tanya Nindi ragu.


"Nin. Aku lihat sendiri gimana Evan nyaman sama Tari. Evan suka curhat sama Tari, bahkan dengan istri pertamanya Aluna aja dia nggak pernah curhat. Itu menunjukkan kalau dia nyaman sama Tari. Dan itu artinya Evan suka sama Tari. Aku takut kalau mereka terlalu lama kayak gini nanti omongan orang jadi lain, sebab Evan itu bagaimana pun sudah duda. Bawak anak gadis orang kemana-mana, nanti omongan gimana," ucap Rima mengemukakan pendapatnya.


"Ya ... Nggak papa sih sebenarnya Evan sama Tari sama-sama dulu sebagai teman. Biar mereka kenal lebih jauh dulu, biar mereka yakin dulu. Aku takutnya kalau mendesaknya nanti mereka malah nggak mau, malah kabur lagi. Apa lagi Evan anaknya sopan, kalau masalah status dia, ya ... nggak masalah juga, dia masih muda juga, nggak terlalu keliatan lah kalau dia pernah nikah. Malahan aku takutnya orang kayak Evan itu kalau di desak dia akan nolak, sebab dia pernah gagal. Dia pasti akan sangat hati-hati sekarang," ungkap Nindi yang terdengar lebih pengertian.


Rima pun mulai berfikir, ada benarnya ucapan Nindi. Evan bukan tipe yang suka diatur, apa lagi orang yang keras dan mandiri sejak kecil. Dia terbiasa sendirian dalam memutuskan sesuatu di hidupnya.


***


Malam itu Rima mencoba membicarakannya dengan Evan. Dia pergi mengunjungi Evan yang kebetulan baru pulang dari kerja. Dia baru selesai mandi dan baru saja selesai mengganti pakaiannya saat Rima masuk.


"Kamu sibuk nggak?" tanya Rima sebelum bicara.


"Nggak. Ada apa, Mi?" tanya Evan.


"Van, menurut kamu Tari gimana?" tanya Rima membuka topik pembicaraan.


"Baik," ucap Evan singkat. Dan dia belum begitu paham dengan arah pembicaraannya.


"Kamu suka sama Tari? Mami lihat kamu sering jalan sama Tari akhir-akhir ini," ucap Rima memancing.


"Karena bantuin persiapan mas Tama juga, kan. Makanya aku sering pergi sama dia. Lagian Tari itu ngerti banyak hal, jadi kalo di mintak tolong beli apa-apa dia bisa," ungkap Evan.

__ADS_1


"Hmmm... Perempuan kayak Tari itu, bisa jadi pendamping yang baik lo, Van," ucap Rima mulai ke inti pembicaraannya. Evan mulai berubah raut wajahnya.


"Maksudnya?" ucap Evan mulai merasa tidak enak.


"Maksud mami. Kamu kan udah lebih dari 2 tahun cerai dari Aluna, apa lagi sebelum cerai kamu juga lama pisah dari Aluna. Nggak baik lama-lama sendirian. Kamu butuh pendamping buat ngurusin semuanya. Tari itu anaknya dewasa dan terampil dalam mengurus rumah tangga," ucap Rima terputus, sedangkan Evan mulai menatap tajam ke arah Rima. "Apa salahnya kalau kamu sama Tari coba lebih serius lagi. Nggak harus nikah, tapi setidaknya ada ikatan yang buat kalian bisa lebih saling mengenal satu sama lain. Tunangan misalnya!" ucap Rima mencoba memasuki alur fikiran Evan dengan hati-hati. Evan terdiam beberapa saat.


"Maaf Mi, tapi aku belum siap. Aku masih mau fokus dulu sama kerjaan aku," ucap Evan mematahkan semangat Rima, Rima pun terdiam.


"Mih. Maaf ya, aku capek," tukas Evan mulai ingin berhenti membicarakan tentang ini. Rima tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia tidak mungkin memaksa Evan. Dia keluar kamar Evan, mungkin lain kali saja. Pikirnya.


***


Hari pernikahan Tama pun tiba, semua orang tampak sibuk. Semua bergembira dan bersuka cita.



Evan yang terkenal berbakat pun di minta untuk tampil sebagai pengisi acara. Dia memainkan bass dengan sangat piawai, satu lagi keahlian Evan dalam alat musik.



Seseorang datang menghampiri Rima.


"Eh jeng... Itu putranya ya... Kok saya baru tau ya.... Saya pikir anaknya jeng Rima hanya 2...!! " Ucap nya merasa kaget saat tau Evan adalah putra Rima.


"Iya, dia putra bungsu saya, jeng... Dia kuliah di London... Lulusan Oxford... Jadi baru akhir-akhir ini aja dia menetap di rumah... Dulu dia nggak tinggal di sini... " Terang Rima.


"Owh.. Pantas baru liat... Eh anaknya ganteng sekali yaaa.... Kayak artis bule... " Timpal yang lain.


"Iya lo jeng... Saya punya anak gadis boleh lah tak jodohin... " Seru yang lain. Rima hanya tertawa mendengar pujian kagum orang-orang pada Evan. Apa lagi saat mereka tahu Evan bekerja di perusahaan ayah Aluna yang terkenal besar itu, mereka semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Nindi ibunda Tari hanya memperhatikannya dari kejauhan. Ada perasaan khawatir di hatinya seandainya Evan benar-benar di jodohkan dengan orang lain. Terus terang, dia juga sangat tertarik pada Evan. Apa lagi melihat pembawaan Evan yang berwibawa membuat dia semakin yakin pada Evan.


Selesai tampil Evan kembali berkumpul bersama Anto, Brian dan Alice. Nindi cepat menghampiri Tari yang sibuk mengurus menu makanan para tamu segera di hampiri ibunya.


"Cepat kamu susul Evan sana...!! " Ucap ibunya panik.


Tari hanya bisa bingung, saat ibunya mendorongnya agar segera menghampiri Evan. Akhirnya Tari menurut, dia segera bergabung bersama Evan dan yang lain.


***


Di rumah ibunda Tari mulai membicarakan tentang Evan.


"kak... Kakak mau nggak sama Evan!? " Tembak ibunya langsung.


Tari langsung bingung di tanya begitu. Dia sebenarnya sangat tertarik pada Evan, tapi mengingat dia perempuan. Jadi dia hanya bisa menahan perasaannya saja. Menunggu Evan yang bereaksi terlebih dahulu.


"Eh.... Jawab... Malah bengong....!! " Seru ibunya membuyarkan lamunan Tari.


"Ha... o... Iya... Tari suka. Tapi Evan kayaknya masih mau fokus ke karirnya dulu... " Ucap Tari masih bingung.


"Kalo gitu, kamu mau nggak nikah sama Evan...!? " Tanya ibunya lagi. Itu sontak membuat Tari semakin bingung dan salah tingkah.


"Bunda apaan sih... Evan belum mau nikah...!! " Seru Tari kaget dengan pernyataan bundanya.


"Jawab aja... kamu mau apa nggak!? kalo kamu setuju, bunda ngomong sama mami nya Evan. Sebab maminya suka sama kamu... Kalo masalah Evan mau atau nggak, itu kita lihat saja dulu... Yang penting ada salah satu yang mau dulu... " Ucap Nindi mulai atur strategi.


Dia mulai takut jika Evan keduluan orang lain. Tari terlihat ragu karena dia takut Evan akan menolak.


 ______________________________________________

__ADS_1


(**Banyak yang bertanya, Aluna hamil kan thor sesudah kejadian malam itu... Ada beberapa alasan kenapa Aluna tidak hamil... 1.melakukannya sekali belum tentu hamil. 2.kalau pun hamil, masak Evan nggak di kasih tau sama Richard. 3.Sebelum ke Belanda ada waktu beberapa bulan Aluna di indonesia untuk merampungkan S1 nya, jadi Evan akan tahu kalau memang Aluna hamil.


Terus adegan itu untuk apa? Untuk memikat pembaca? Tidak, adegan itu untuk meyakini pada Evan bahwa Aluna juga menyukainya, buktinya Aluna bersedia menyerahkan dirinya malam itu. Malam itu terus di kenang Evan, bahwa Aluna itu perempuan bodoh yang tidak mengerti dengan perasaan nya sendiri.Dia Bilang Evan laki-laki bajingan yang merebut kesuciannya dan dia sangat membenci Evan, tapi kenapa masih mau bersamanya. Itu membuat Evan berfikir ulang tentang hubungannya dengan Aluna dalam 3 tahun perpisahan mereka, Dan Evan juga sempat mau menemui Aluna, tapi malah melihat Soni ke rumah bikin Evan pulang dan membatalkan niatnya. Berkat malam itu juga mereka menjadi terikat, lalu kenapa mereka bercerai!? Ada hubungannya dengan masa lalu Evan yang di lakukan Aluna.


__ADS_2