PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
Jangan Tinggalkan Alasan


__ADS_3

Setelah puas bermain di timezone. Aluna dan Caroline kembali berjalan-jalan di mall tersebut. Mereka berbelanja banyak barang dengan gembira bersama dengan Manuela, Liam dan Kyu. Mereka begitu bahagia hari itu. Tanpa sadar hari sudah mulai sore tapi Aluna dan Caroline masih asyik bermain di mall.


Aluna sangat senang saat bersama Caroline. Dia merasa Aura yang sama antara Caroline dan Evan, Aluna sangat nyaman di sampingnya. Dia seperti Evan, bisa membuat seseorang merasa aman saat bersamanya. Ketulusan yang sama dengan yang Evan miliki. Dan tatapan mata yang sama hangatnya juga.


Mereka mulai merasa lelah dan memutuskan untuk duduk sementara di sebuah bangku yang ada di mall tersebut sambil menikmati pesanan mereka. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga mereka berhenti di sebuah toko perhiasaan yang terlihat cukup menarik bagi Aluna. Aluna menatapnya beberapa saat. Tiba-tiba Caroline berseru.


"Kita masuk, yuk," ajak Caroline dengan menggandeng tangan Manuela dan Liam menuju sebuah toko perhiasan tersebut. Di sama mereka melihat perhiasan yang tengah di pajang di etalase toko tersebut


"Ini cantik ya, Buk," tunjuk Aluna pada salah satu model gelang yang bermata kan berlian tersebut.


"Cantik, sayang. Kamu suka?" tanya Caroline. Di jawab Aluna dengan anggukan dan senyum.


Caroline tanpa banyak bicara lagi langsung memanggil pelayan toko perhiasan tersebut untuk mengeluarkan gelang tersebut dan memantaskan di tangannya.


"Saya ambil 2," ucap Caroline yang membuat Aluna mengernyitkan keningnya.


"Untuk kamu 1, untuk Ibuk 1. Kita pakai sama," jelasnya yang membuat Aluna tersenyum setuju. Dia mulai menyukai ibu kandung suaminya ini. Ternyata dia orang yang baik. Aluna merasa nyaman saat bersamanya. Dia tidak banyak bicara seperti Evan. Tapi kalau sudah dekat dia baru bisa banyak bercerita.


Seharian ini Aluna dan Caroline sangat menikmati waktu kebersamaan mereka. Begitu pula dengan Manuela, Liam dan Kyu. Caroline sangat baik dan sangat menyayangi ke tiga cucu nya itu.


Sesaat Aluna mendapat vidio call dari Evan. Aluna bingung harus bagaimana. Jika dia angkat dia takut Evan akan marah. Tapi di matikan juga tidak mungkin. Evan pasti khawatir karena dia pergi tanpa izin hingga magrib begini. Dengan ragu Aluna mengangkat video call tersebut. Dia mencari tempat yang agak jauh dari sana.


"Iya, sayang," jawab Aluna.


"Kamu lagi dimana? Kok nggak ada di rumah" tanya Evan. Sesaat Evan sadar dengan keberadaan Aluna. "Kamu di mall? Kamu bawak anak-anak? Sama siapa?" tanya Evan khawatir mengingat Aluna adalah orang yang sangat riweh jika harus membawa ketiga anaknya sendirian. Mengingat pengasuh anak-anaknya ada di rumah semua.


"Aku ... Aku ... Sama ...," ucapan Aluna terpotong saat Caroline tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Yuk, Lun. Semua udah, kan," ucap Caroline yang membuat Evan di seberang sana kaget saat menyadari dengan siapa Aluna pergi.


"Tunggu aku di sana. Aku jemput kamu," tukas Evan cepat dan mematikan sembungan vidio call nya.


Aluna langsung panik. Tapi Caroline masih tampak tenang.


Tidak lama Evan pun datang. Aluna segera menghampiri nya hendak menjelaskan semua, dia tidak ingin Evan marah.


"Van, aku nemuin ibuk hari ini karna besok dia akan pulang," terang Aluna. Evan tidak perduli dia menarik Aluna pergi tanpa perduli dengan keberadaan Caroline, tepat saat Evan akan pergi Caroline memanggilnya kembali.


"Apa kita tidak bisa melakukan salam perpisahan sebelum aku pergi?" tanya Caroline masih tampak tenang walau sebenarnya ia tengah menahan sesak di dadanya sekuat tenaga.


Evan tercekat langkahnya. Lalu ia berbalik, ia melihat gelang yang tengah ia kenakan sama dengan yang di kenakan Aluna saat ini. Evan segera paham, bahwa gelang yang Aluna kenakan adalah gelang pemberian Caroline. Tanpa Aluna duga, Evan segera membuka gelang tersebut.


"Pergi lah, dan pastikan tidak ada yang tertinggal agar tidak ada alasanmu untuk kembali lagi," tutur Evan seraya menyerahkan gelang Aluna ke tangan Caroline langsung.


"Maaf, aku meninggalkan mu saat itu. Jika bisa aku putar waktu kembali, maka ... Aku akan tetap dengan pilihanku dulu. Karena dengan meninggalkan mu di sini kau bisa menemukan kebahagiaanmu," lirih Caroline dengan derai air mata. Seraya menarik tangannya dari genggaman Evan yang tengah menyerahkan kembali gelang pemberiannya tadi untuk Aluna.


Evan tetap tidak perduli dia kembali menarik tangan Aluna dan menggendong Liam serta Manuela yang mengikuti mereka. Caroline menatap kepergian Evan dan keluarga kecilnya. Tiba-tiba terlintas sebuah rencana dari Caroline.


"Setidaknya ucapkan terimakasih mu padaku," seru Caroline yang berhasil menghentikan langkah Evan.


Evan yang sedari tadi berusaha keras untuk tenang menjadi terpancing kembali. Dia membalik tubuhnya dan menatap Caroline kembali dengan tatapan tajam tak suka.


"Ucapkan terimakasih karena seburuk-buruknya aku, aku telah melahirkan mu. Aku telah menyelamatkan putramu. Setidaknya ungkap kan rasa terimakasih mu padaku," tantang Caroline mencoba untuk menguasai keadaan. Evan menyunggingkan senyum sinisnya.


"Terimakasih!" Ucap Evan dingin. Dan kembali berbalik bersiap akan pergi.

__ADS_1


"Aku bilang ungkapan terimakasih. Itu artinya kau harus membayar ku dengan sesuatu," tukas Caroline lagi.


Evan kembali berbalik dan mengernyitkan keningnya.


"Kau ... Tengah memerasku?" Evan mulai berpikiran buruk.


"Makan malam. Aku ingin kita makan malam. Aku yang pilih tempatnya dan aku yang akan bayar. Kau cukup datang saja," ungkap Caroline membuat Evan bingung.


"Berikan satu malammu bersamaku. Setelah itu aku akan pergi. Karena tidak ada yang tertinggal di sini yang menjadi alasanku kembali," tutur Caroline menunjukkan gelang yang Evan kembalikan kepadanya dengan suara bergetar menahan tangisnya. Hatinya sakit tapi ia tetap ingin bersama putranya, setidaknya beberapa saat saja.


Evan tidak menjawab pernyataan Caroline. Dia pergi bersama anak dan istrinya tanpa sepatah katapun. Sedangkan Caroline terduduk lemas seraya menangis sendirian di lantai mall tersebut tanpa perduli beberapa mata kini tengah memperhatikannya. Dia menjadi pusat perhatian saat ini. Hingga seorang pengunjung mall menghampirinya dan mencoba untuk menenangkannya.


***


Di mobil Evan terus menyetir tanpa sepatah katapun dari tadi. Bahkan sampai di rumah pun dia masih tak bersuara.


Aluna mulai merasa takut. Dia segera menelpon Dea.


"De', kesini, ya,"


"Kenapa lagi, Lun?"


"Kesini pokoknya. Evan lagi marah gara-gara ketemu ibuknya di mall tadi. Gue di rumah cuman sama anak-anak, Daddy lagi di Bali belum pulang."


"Ngerepotin," rutuk Dea sebelum mematikan telponnya.


Beberapa saat Dea pun datang. Aluna mulai merasa tenang. Dia menyambut Dea dengan suka cita. Walau di sambut Dea dengan wajah di tekuk.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2