PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
RENCANA YANG GAGAL


__ADS_3

Malamnya Aluna tidak mau pulang, dia ingin menginap di rumah Evan. Akhirnya di kamar Evan yang memang memiliki size ranjang single itu, membuat mereka tidur harus sempit-sempitan. Keadaan yang sangat tidak nyaman bagi Evan tapi tidak bagi Aluna.


"Ini ranjang buat satu orang!" keluh Evan.


"Nggak papa," jawab Aluna santai.


"Tidur di kamar tamu aja," ajak Evan. Aluna menolak keras dengan alasan tidak mau memakai kamar bekas orang lain.


"Nggak mau. Itu kamar di pakek sama orang asing. Aku nggak suka dan nggak nyaman," tolak Aluna keras. Evan hanya bisa menarik nafas dalam dengan tingkah istrinya ini. Akhirnya Evan mengalah juga karena malas untuk berdebat lagi.


Aluna tampak menyukai tidurnya malam ini, karena sepanjang malam Evan hanya bisa tidur memeluknya, dengan lengan Evan sebagai tambahan bantalnya. Tapi bagi Evan ini penyiksaan karena dia menjadi tidak leluasa untuk bergerak. Aluna seolah memang sengaja mengukungnya sepanjang malam.


Saat tengah malam Evan terbangun, mendapati tangannya kram karena di jadikan Aluna bantal sepanjang malam. Evan mencoba menggeser Aluna untuk mengangkat tangannya. Saat sudah terlepas Evan pun segera mengibas-ibas tangannya karena kesemutan dan pegal.


Dia menatap Aluna yang masih terlelap. Evan dengan perlahan mencoba turun dari ranjang untuk ke kamar mandi.


"Nyusahin," rutuk Evan setelah berhasil turun dari ranjangnya. Ia segera menuju kamar mandi.


***


Hari ini Evan beristirahat dari semua pekerjaannya untuk beberapa hari. Ia di minta Jamia untuk istirahat total dulu dari semua pekerjaannya sampai keadaannya membaik.


Sejak kemarin mereka belum pulang ke kediaman Aluna. Mereka masih menginap di kediaman Wisnu Evan. Aluna menolak untuk pulang karena sepi katanya. Padahal di rumah ada puluhan pelayan yang siap melayaninya dan ada fasilitas lengkap.


Tapi bagi Aluna rumahnya tetap kosong seperti tak berpenghuni, jika bibi dan ayahnya tidak ada di rumah. Karena itu dia sangat nyaman tinggal di rumah Evan yang mana semua orang selalu ada di rumah, apa lagi Syahila juga sedang ada di rumah.


Syahila di tinggal suaminya untuk bekerja, anaknya sedang di asrama. Jadi dari pada sendirian di Singapura, dia lebih memilih untuk pulang ke Indonesia. Karena itu rumah Evan semakin ramai jadinya.


Karena hari ini hari Sabtu, mereka pun sedang berkumpul semua. Aluna yang sedang keranjingan memasak, terus saja belajar masak dengan menu barunya. Evan yang menjadi korban kelinci percobaannya. Semua orang tidak berani mencobanya. Selain karena bentuk irisan sayurnya yang sering aneh, bumbunya pun Aluna sering ngasal.


Evan sekuat tenaga berusaha mencicipinya, dia terpaksa bersedia mencicipi masakan Aluna, karena itu permintaannya juga yang ingin Aluna untuk belajar bisa mengurus rumah tangga, terutama masak. Jadi lah Evan senjata makan tuan.


"Udah, cukup!" ucap Evan mulai tidak tahan.


"istri belajar masak harus di dukung, donk, Van!" seru Tama seraya terkekeh.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Aluna datang dengan menu barunya lagi. Ini sudah menu keempat yang Evan coba. Tama terus memperhatikan expresi adiknya yang lucu itu setiap kali istrinya datang membawa makanan.


"Udah sayang masaknya. Nanti aku bisa mati keracunan. Kita ke Mall lagi , yuk. Ada tas terbaru di toko langganan kamu. Kamu mau liat nggak?" bujuk Evan pada Aluna seraya pelan-pelan menyingkirkan masakan Aluna dari hadapannya.


Tidak apa-apa dia kehilangan uang jutaan untuk mentraktir istrinya itu, yang penting Aluna bisa berhenti masak dan meracuninya dengan masakan nya.


"Beneran? Kapan kamu liatnya?!" tanya Aluna antusias dan langsung melepas celemek nya.


"Iya, Kemaren aku ajak Silvi sama Dea ke Mall. Ada urusan aku sama mereka," terang Evan.


"Urusan apa?" tanya Aluna heran.


"Udah, nggak usah di bahas. Yang penting sekarang, kamu mau pergi nggak?" tawar Evan lagi.


"Ok. Tapi bareng Silvi sama Dea, ya!" seru Aluna.


"jangan bawak mereka, ah. Ntar mintak di beliin juga, makin bengkak pengeluaran aku," keluh Evan.


"Kamu pelit, ya, sama sepupu aku?" sungut Aluna.


"Sepupu jauh jugak," rutuk Evan meremehkan.


"Oke, oke. Kita ajak mereka juga!" Akhirnya Evan menyerah.


...***...


Mereka pun segera menuju Mall tersebut, sesampainya di pintu masuk mall terlihat Dea dan Silvi sudah sampai duluan.


"Hmhhh... Kalo belanja aja, dateng nya ngalahin kecepatan cahaya," rutuk Evan.


Aluna segera teriak kegirangan saat bertemu 2 sahabatnya itu. Dia meninggalkan Evan di belakang yang sedang tekanan batin karena akan mentraktir trio heboh itu. Mereka bertiga tampak sangat gembira dan selalu tertawa, entah apa yang dibahasnya. Evan hanya menjadi pengikut mereka di belakang. Sejenak kemudian Aluna tersadar dengan keberadaan suaminya itu.


"Oh, Iya." gumam Aluna menoleh kearah Evan yang sedang cemberut. "Sini, sayang," ajak Aluna. Evan dengan malas berjalan kearah mereka.


'Ini kayak lolos dari ular kobra, malah kelilit anaconda namanya,' batin Evan kesal.

__ADS_1


...***...


Aluna, Dea dan Silvi tampak asyik memilih barang-barang di toko yang terkenal dengan barang-barang branded nya. Evan hanya bisa menunggu di salah satu bangku di mall tanpa bisa berbuat apa-apa. Entah sudah berapa lama mereka berbelanja, seperti tidak akan selesai. Dari satu toko ke toko lain sudah mereka masuki, tapi tampak masih belum puas.


"Eh tau nggak? Sekarang ... gue sama dia udah .... " bisik Aluna ke pada ke dua sahabatnya itu. Yang sontak membuat mata kedua sahabatnya terbelalak tidak percaya.


"Hah? Yang serius? Beneran?" seru Dea tidak percaya.


"Berarti lo nggak trauma lagi, donk?" seru Silvi. Aluna hanya menjawab dengan mengangguk seraya tersenyum.


Evan melihat dari luar toko, hanya bisa menatap dengan tatapan kesal. Mereka bertiga tampak heboh dan kegirangan tidak jelas sedari tadi.


"Ceritain, donk. Kok bisa gitu?" tanya Dea penasaran dan di setujui dengan anggukan oleh Silvi.


"Nggak bisa... Ntar gue di marahin sama dia lagi. Yang gue cerita kemaren aja gue di omelin sama dia," ucap Aluna takut di marahi Evan.


"Yah, Nggak seru. Laki lo tuh, Lun, suka ngomel tau nggak. Kita juga di omelin sama dia gegara cerita sama Brian, trus di larang bareng Brian lagi. Katanya Brian itu udah om-om," cerita Dea.


"Tauk, tuh. Dia benci banget kayaknya sama Brian. Kayak ada kesumatnya gitu dia sama Brian," ucap Aluna.


"Lo, sih. Kalo sama Brian dempetan mulu. Jadinya dia cemburu. Padahal Brian itu tiket makan gratis kita. Ya, nggak Sil?" Dea meminta persetujuan Silvi dan di iyakan oleh Silvi.


Tiba-tiba terdengar suara rak gantungan baju yang di gebrak, sontak membuat ke tiga nya kaget. Evan hanya terkekeh melihat reaksi kaget trio itu. Entah sejak kapan dia sudah berada di belakang mereka.


"Apaan, sih! ngagetin aja! Nggak tau istri lagi hamil apa? Kalo terjadi apa-apa gimana?" omel Silvi.


"Udah apa belum. Gue keburu laper nungguin kalian belanja," omel Evan balik.


"Udah. Udah limit juga kartunya," ucap Aluna seraya menyerahkan 2 kartu kredit suaminya itu santai sambil berlalu. Evan hanya ternganga mendengar 2 kartu kreditnya limit oleh tiga orang itu.


"Gila! Kalian beli apa sampe limit?!" teriak Evan masih tidak percaya. Di sambut ketiganya dengan memamerkan kantong belanjaan mereka yang tidak terhitung jumlahnya itu.


"Astaga!" gumam Evan lemas. Mereka bertiga membuat Evan membayar hutang di bank bulan ini.


Tanpa mereka sadari Brian memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi. Dia tampak tidak suka melihat kebersamaan Aluna dan Evan.

__ADS_1


"Ternyata aku tidak berhasil menghancurkan hubungan kalian? Baik, lah. Kali ini kamu lolos, tapi coba kita lihat apa kamu masih bisa lolos untuk yang berikutnya?" seringai Brian dari kejauhan dengan senyuman penuh arti.


BERSAMBUNG...


__ADS_2