PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
KEPULANGANNYA


__ADS_3

Suatu hari Evan di minta pak Richard untuk ke ruangannya. Evan pun segera pergi menemui Richard. Di sana sudah ada pak Richard yang menunggu. Ia tampak masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Eh, Van. Sini masuk," ucap Richard. Evan pun masuk dengan sopan, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Richard.


"Begini. Daddy mau ke Bali hari ini, ada pertemuan penting, juga sekalian jadwal cek hotel di sana. Sedangkan besok Aluna akan pulang. Jadi, tidak ada yang jemput" terang Richard yang masih belum sampai pada tujuan pembicaraannya. "Jadi ... Bisa daddy mintak tolong kamu jemput Aluna? Sebab dia sendirian. Dea sama Silvi nyusul belakangan. Mereka masih ada yang belum selesai. Jadi Aluna pulang duluan," ucap Richard.


Evan terdiam, bukan karena dia tidak bersedia, tapi ini seperti mimpi baginya. Dia pikir Richard akan menjauhi Aluna dari nya, tapi ternyata tidak.


"Bagaimana?! Bisa kan?!" tanya Richard lagi yang membuyarkan lamunan Evan. "Tenang! Dia sudah daddy kasih tau perihal pertunangan kamu. Dia bisa menerimanya. Dia tidak masalah. Dia bilang, asal itu membuat kamu bahagia. Dia tidak apa-apa," ucap Richard.


Membuat Evan semakin terdiam. Dari sekian banyak orang yang bisa di minta tolong oleh Richard, kenapa Richard memilih Evan, yang notabene nya adalah mantan suami Aluna. Itu akan membuat pertemuan yang kaku untuk mereka. Pertemuan yang akan membuat keduanya tidak nyaman.


"Evan?!" seru Richard, yang kembali mengagetkan Evan.


"Oh, Iya. Bisa," jawab Evan Seraya tersenyum kaku, Richard pun tersenyum puas mendengarnya.


***


Keesokkan harinya Evan menjemput Aluna dengan jadwal yang sudah Richard beri tahu. Dia menunggu di bandara di kedatangan luar negeri dan duduk di salah satu kursi tunggu di sana. Dia menunggu dengan jantung berdebar dan gelisah, terlihat dari duduknya yang tidak tenang dan terus menghitung waktu yang berlalu. Terasa sangat lama saat tiap detik dari waktu kedatangan terlewati. Bersama orang-orang yang juga menjemput keluarga mereka Evan terus menunggu dengan tidak sabar.


Cukup lama Evan menunggu, hingga panggilan kedatangan pesawat pun terdengar. Dia menatap setiap orang yang keluar, hingga ia pun melihat sosok cantik itu pun datang. Sesaat dia seperti terbius dengan kedatangan sosok wanita cantik yang sudah lama tak di lihatnya. Hingga tanpa dia sadari, dia terus menatap kedatangan Aluna.


Saat Aluna melihat sosok Evan tengah menatap kedatangannya, itu membuat wajah Aluna seketika merah dan kaget. Dia seakan merasakan jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat ketika tatapan mereka bertabrak pandang. Begitu pula Evan, seakan rindu nya kini terbayar. Evan menjadi orang pertama yang Aluna lihat saat pulang ke Indonesia. Dia terpana beberapa saat melihat suaminya terlihat lebih tampan dari terakhir kali dia lihat.


Dulu dia terlihat kurus dan agak tidak terurus karena tekanan dari permasalahan mereka. Sekarang Evan terlihat sangat tampan dan rapih dengan style nya yang lebih berkelas.

__ADS_1


Begitu pula Aluna di mata Evan, terlihat lebih cantik dari terakhir kali dia lihat. Mungkin karena dia baru melahirkan waktu itu. Dia terlihat lebih berisi dan sedikit tidak terlalu mengurus penampilannya. Tapi sekarang dia terlihat sangat cantik. Dan tubuhnya pun terlihat lebih kurus dan penampilannya yang terlihat lebih menarik.


Evan segera menghampiri Aluna, dia segera mengambil koper Aluna tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan terus berjalan menuju mobilnya. Aluna mengikutinya dari belakang. Mereka terjebak kebisuan walau sebenarnya banyak kata yang ingin mereka sampaikan.



(OOTD Evan menjemput Aluna)



(OOTD Aluna saat di jemput Evan ke bandara)


Terlihat jelas jika keduanya sudah mempersiapkan diri dengan maksimal untuk pertemuan pertama mereka, setelah beberapa tahun tidak bertemu. Itu membuat hasrat untuk saling memikat menjadi kuat. Mempersembahkan penampilan terbaik mereka saat ini.


Hanya lagu itu yang terdengar diantara mereka. Lagu yang menceritakan tentang kerinduan sepasang kekasih yang saling setia menunggu itu benar-benar menggambarkan bagaimana mereka saat ini. Saling menunggu tapi tidak terikat janji, namun mereka lakukan sepenuh hati. Saling merindu tapi tak bisa mendekat, saling ingin memiliki tapi malah menjauh. Untuk menatap pun mereka tidak berani. Sungguh suasana yang sangat canggung, untuk dua insan yang pernah di mabuk asmara bersama.


Tapi ada sesuatu yang membuat Aluna penasaran. Dia melirik jari manis mantan suaminya itu, terlihat ada cincin yang mengikat di sana. 'jadi bener' Gumam Aluna membatin.


"Kamu udah tunangan?!" tanya Aluna memecahkan kebisuan mereka. Evan menoleh pada Aluna, dan melirik cincin di jari manisnya.


"Hmmm.... Iya. beberapa bulan yang lalu," jawab Evan singkat.


Itu membuat Aluna menarik nafas panjang seraya mengangguk. Dia meremas tangannya, untuk menahan gejolak di dadanya. Dia di beritahu perihal pertunangan Evan satu jam sebelum keberangkatan pesawatnya. Itu membuat dia menangis histeris di bandar Belanda, sebelum dia berangkat. Dan berlanjut saat di pesawat.


Aluna menatap wajah tampan Evan. Dia masih mempesona seperti dulu. Tidak banyak bicara, tapi itu pula daya tariknya. Dia membuat wanita penasaran padanya, penasaran untuk menaklukkan badai yang ada di dalam hatinya. Karena untuk dapat di terima olehnya. Banyak hal akan mereka lalui, termasuk sikap dingin Evan. Aluna adalah wanita pertama yang bersedia Evan peluk di depan banyak orang. Biasanya Evan akan bersikap acuh pada wanitanya saat ada orang lain. Itu lah yang membuat Aluna istimewa, dia satu-satunya wanita yang mampu menenangkan samudra di hati Evan, hingga menjadi hangat dan damai.

__ADS_1


Tapi sekarang Aluna sudah kehilangan Itu semua, karena kebodohannya yang tidak bisa menghargai itu semua di saat Evan di pelukannya. Evan tidak mungkin bisa di milikinya lagi. Evan sudah memilih orang lain.


Sesampainya di rumah besar milik Aluna itu, Evan segera berhenti. Setelah menurunkan barang-barang milik Aluna, Evan segera pergi. Aluna menatap kepergian Evan, dengan tatapan nanar. Barang-barang nya segera di bawa para pelayannya masuk.


***


Keesokan harinya Richard mengadakan rapat dadakan. Dia membawa Aluna juga beserta dengannya. Evan kaget dengan kedatangan Aluna. Aluna menatap Evan sekilas lalu kembali fokus pada rapat nya.


"Ini putri kesayangan saya, Aluna Jeanela. Dia baru saja menyelesaikan S2 nya di Belanda. Jadi dia akan bergabung bersama kita di sini. Dia akan menjadi sekretaris Evan Pratama. Mulai sekarang, Evan adalah pimpinan kalian sepenuhnya dan saya hanya akan memantau saja di sini. Jadi mulai sekarang semua yang berhubungan dengan perusahaan. Evan yang pegang kendali," umum Richard yang membuat Evan kaget. "Evan! Tolong bimbing Aluna, ya. Mulai sekarang semua yang berhubungan dengan schedule, laporan, dan semua yang berhubungan dengan pekerjaan seorang sekretaris. Serahkan pada Aluna," ucap Richard.


"I-iya!" ucap Evan masih kaget. Dia menatap Aluna, begitu pula Aluna. Dia menatap Evan. Kenapa Richard Seolah-olah sengaja ingin mendekatkan dia dengan Aluna.


***


Setelah rapat selesai, Evan segera menemui Richard ke ruangannya. Richard menyerahkan beberapa berkas penting pada Evan.


Evan penasaran dengan alasan Richard menempatkan Aluna menjadi sekretarisnya.


"Karena hanya posisi itu yang kosong saat ini. Kalau manager, tidak ada yang kosong. Dan kalau mau di tempatkan sebagai karyawan biasa, dia juga punya pendidikan yang cukup bagus. Daddy fikir, dari pada kamu susah cari orang lain buang-buang waktu. Apa salahnya kalau posisi itu di isi oleh Aluna saja," terang Richard. "Kenapa? Kamu kurang nyaman?" tanya Richard. Evan menggeleng seraya tersenyum.


"Nggak. Nggak papa, kok," ucap Evan, lalu dia pun permisi untuk pergi. Evan menyunggingkan senyumnya saat menutup pintu ruangan Richard. Jadi ini alsan sekretaris sebelumnya di pindahkan.


Entah akan menjadi partner yang baik, atau malah menjadi perang dunia.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2