PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
DATANG LAH DENGAN CEPAT


__ADS_3

Siang itu Brian segera menemui Aluna untuk meluruskan semuanya, keluarga tampak kaget dengan keterangan Brian. Mereka tidak menyangka Brian akan lakukan itu terhadap Aluna yang notabene nya sangat peduli pada Brian.


"Masak mas Brian tega sih," ucap Aluna kesal, marah dan kecewa semua perasaan bercampur Aduk di dada Aluna.


"Saya, tidak bermaksud mencelakai Aluna. Saya cuman ngerjain Evan. Ini semua sungguh di luar dugaan. Sekarang saya benar-benar menyesal. saya minta maaf untuk semuanya," Ucap Brian bersungguh-bersungguh. Akhirnya semua anggota keluarga sepakat untuk berdamai, Brian juga menemui keluarga Jamia untuk minta maaf. Brian juga bersedia menanggung semua biaya rumah sakit Jamia dan Aluna.


Sekarang abi dan umi Jamia bisa bernafas lega. Mereka sangat malu terhadap keluarga Malik seandainya itu benar-benar terjadi. Karena sudah lama mereka mengetahui, Jamia punya perasaan terhadap Evan, itu lah kenapa mereka sangat takut dan marah saat ada berita ini.


***


Evan mendapat telpon dari Brian perihal kedatangannya ke rumah sakit untuk menjelaskan semua kepada keluarga Evan sesuai dengan janjinya. Dan sekarang dia mengajak Evan bertemu di salah satu kafe yang berada tidak jauh dari rumah sakit tempat Aluna di rawat, yang kebetulan sebenarnya Evan dari tadi ada di rumah sakit. Hanya saja dia belum berani masuk takut di omeli lagi. Walaupun sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Aluna.


"Saya tidak bilang alasan sebenarnya, saya hanya bilang iseng ngerjain kamu. Saya tidak mau memperumitnya lagi. Yang penting kesalahpahaman di antara kita berdua bisa terselesaikan. Saya benar-benar minta maaf," ucap Brian penuh penyesalan. "Terimakasih ya kamu sudah ngasih tau semuanya. Sekarang saya sudah bisa bernafas lega. Saya juga sudah nemuin Alice. Saya mau memperbaiki hubungan saya sama dia. Saya akan nikahi dia," ucap Brian pelan. Evan hanya tersenyum mendengarnya.


"Ya udah lah. Setidaknya atas kejadian ini semua, kita bisa mendapat kan hal yang baik," Ucap Evan seraya tersenyum. "Contohnya. Elo bisa baikan dengan Alice. Dan gue juga bisa tau kalau kakak gue penghianat semua. Bukannya belain gue malah belain Aluna," ucap Evan kesal. Brian malah terkekeh mendengarnya.


"Mulai sekarang kamu Van dapat satu kakak lagi. Yaitu... saya. Kalo kamu punya masalah, kamu bisa cari saya. Saya akan bantu sebisa mungkin," ucap Brian tulus seraya menepuk pelan bahu Evan. Evan menjawabnya dengan anggukan seraya tersenyum dan menepuk balik bahu Brian tanda persetujuan.


Tidak lama Aluna menelpon. Evan pun segera menjawabnya.


"Hmmm... Udah nelpon," gumam Evan yang masih bersama Brain.


"Sayang...kamu dimana? Kenapa nggak kesini? " ucap Aluna dari seberang sana. Brian hanya tersenyum melihat semua akan baik-baik saja sekarang.


"Ngapain aku ke sana? Bukannya aku di usir?" jawab Evan masih kesal.


"Nggak lagi. Ayok ke sini. Mas tama sama mbak Syahila udah nggak marah lagi, kok," ucap Aluna.


"Nggak." Evan masih ngeyel.


"EVAN!" teriak Aluna. Evan malah tersenyum mendengarnya berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


"Aku nggak mau pulang. Semua orang udah usir aku. Aku sakit hati," ucap Evan yang tanpa sepengetahuan Aluna mati-matian menahan tawanya. Lalu mematikan teleponnya.


Brian hanya bisa mengernyitkan keningnya bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang Evan lakukan. Karena sebelumnya dia yang terus menerus meminta untuk segera menemui keluarganya agar dia dapat pulang. Tapi saat dia di minta pulang, dia malah menolaknya.


"Bukannya kamu pengen pulang, terus kenapa di tolak waktu di minta pulang?" tanya Brian seraya menyeruput kopi panasnya.


"Gue mau hukum mereka semua dulu," ucap Evan. Brian hanya bisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala.


***


Tiba-tiba semua orang tampak panik di rumah sakit karena Aluna tiba-tiba mengalami kontraksi dadakan. Ia akan melahirkan. Dia terus bertanya dimana Evan? tapi Evan sedang tidak bisa dihubungi, handphonenya tengah tidak aktif. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Semua orang menjadi panik. Terutama Richard karena melihat keadaan Aluna putri kesayangannya yang tengah berjuang antara hidup dan mati.


Aluna mengalami kontraksi padahal kandungannya baru berusia 8 bulan. Ini terjadi karena insiden jatuhnya 2 hari lalu, hingga tiba-tiba ketubannya pecah hari ini dan dia melahirkan di luar waktu seharusnya.


Aluna terus menunggu Evan hingga dia menahan persalinannya dengan dorongan kontraksi. Dia sudah di ingatkan untuk tidak lakukan itu karena akan berbahaya bagi dia dan bayinya. Tapi Aluna tetap ingin menunggu Evan sampai akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi.


"Aku nggak bisa. Cariin Evan," teriak Aluna di ruang bersalin.


"Hk.... Nggak... Aku mau Evan di sini dulu," ucap Aluna seraya terus menahan kontraksinya.


"Aluna ini bahaya buat kamu juga bayi kamu," ingat mertuanya ikut tidak sabar dengan keadaan.


Hingga akhirnya Aluna tidak bisa menahannya lagi. Aluna melahirkan Bayi laki-laki, yang sangat tampan. Wajahnya mirip seperti Evan, hidungnya mancung persis seperti Evan, begitu pula wajahnya. Tapi tiba-tiba hal buruk terjadi, bayi itu tidak menangis dan nafasnya tiba-tiba terhenti. Semua tim dokter berusaha menolong bayi mungil itu. Semua usaha telah dokter itu lakukan. Hingga Aluna dan keluarga harus menerima kenyataan bahwa bayinya tidak terselamatkan.


Hal yang paling menyakitkan adalah Aluna melaluinya tanpa Evan. Itu sangat menyakitkan baginya. Sampai detik ini pun Evan masih belum datang. Semua orang tidak ada yang tahu keberadaan Evan dan Evan tidak dapat di hubungi karena handphone nya mati dari tadi.


"Kemana anak ini!? Dia benar-benar cari masalah," gerutu Wisnu ayah Evan yang terus mencoba menghubungi Evan. Dia berkali-kali mencoba menelfon tapi tetap tidak aktif. Sedangkan Richard dan yang lain tampak mulai sibuk mengurus semuanya. Wisnu merasa malu dengan tingkah Evan saat ini.


"Kenapa anak ini bisa kayak gini saat genting. Bisa-bisanya dia matiin handphone nya seharian," kesah Wisnu tak habis pikir.


***

__ADS_1


Di sisi lain, Evan sedang tertidur di kamar hotelnya, karena memang semenjak Aluna di rawat dia tidak bisa tidur nyenyak karena selalu tidur di bangku luar ruang Aluna di rawat. Sekali menyentuh bantal dan selimut yang nyaman, buat dia langsung tertidur lelap dan nyenyak.


Dia terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dia segera mandi. Selesai mandi, dia menghidupkan Handphone nya yang lupa ia hidupkan semalaman. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk. Evan membuka pesan tersebut.


'Evan Aluna akan melahirkan.' Itu isi pesan dari Tama. Seketika wajah Evan berubah menjadi pucat dan panik, dia segera pergi terburu-buru dengan langkah cepat menjangkau kunci mobilnya dan berlari mengambil langkah seribu. Tak ia hiraukan rambutnya yang basah masih meneteskan air. sepatu pun ia kenakan sambil berlari. Ia segera ambil langkah seribu dengan panik berharap dia tidak akan terlambat.


***


Di sana di kamar Aluna sudah ramai sekali dengan orang-orang. Saat Evan datang semua mata tertuju padanya. Wisnu tampak menatap nyalang kepada Evan yang masih belum sadar dengan keadaan. Dia dengan langkah cepat menuju Evan dan...


PLAK...


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Evan, semua orang terdiam melihat ke marahan Wisnu. Richard segera menghampiri Wisnu untuk menenangkan Wisnu yang tampak marah besar. Ia menahan Wisnu yang masih tampak geram dan nafasnya terlihat memburu.


Evan pun hanya bisa diam tertunduk tidak berani mengatakan apapun. Dia masih belum paham dengan apa yang terjadi. Semua pikiran buruk mulai menyelimutinya. Apa yang terjadi kepada Aluna dan anaknya. Kenapa ayahnya bisa semurka ini kepadanya.


"DARI MANA SAJA KAMU!" teriak Wisnu penuh amarah, sekarang Tama ikut berdiri berusaha menahan Wisnu yang tampak sulit menahan diri. "Dari semalam Aluna berjuang sendirian. Dia menunggu kamu," bentak ayahnya lagi. Tama dan yang lain menarik Wisnu agar dapat mengendalikan dirinya. Wisnu menatap Evan dengan tatapan tajam dan dengan nafas yang tersengal-sengal. "Anakmu sudah meninggal," seru Wisnu terbata-bata dengan mata berkaca-kaca. Seketika wajah Evan terangkat. Dia menatap ayahnya seolah-olah tidak yakin dengan yang baru saja ia dengar.


"Apa?!" gumam Evan masih tidak yakin.


"Anakmu sudah tidak ada... PUAS?!" teriak Wisnu emosional.


Evan segera berlari menghampiri Aluna yang tengah terbaring lemas. Dia menggenggam tangan Aluna, hingga Aluna terbangun dan membuka matanya dengan lemas. Dia sudah menangis dari semalam dan menunggu Evan. Berharap dia datang, tapi Evan sangat mengecewakan. Dia tidak datang sampai anaknya meninggal pun dia tidak datang.


Sekarang dia datang. Sudah terlambat, mereka sudah kehilangan bayi mereka. Itu membuat Aluna sangat kecewa dan marah kepada Evan. Dia menatap Evan dengan tatapan nanar dan dengan linangan air mata. Dia melepaskan genggaman Evan perlahan tanpa menatap Evan. Hanya air matanya yang tidak bisa berhenti menetes dari semalam.


"Maaf!" bisik Evan pelan.


Aluna masih mematung dengan air mata yang mengalir deras dan membasahi wajahnya. Aluna tidak tahu untuk apa lagi hidupnya bersama Evan. Semua alasan kebersamaan mereka seolah sudah tidak ada lagi bagi Aluna.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2