
Beberapa hari kemudian, Nindi mengajak Rima bertemu. Dia ingin membahas tentang perjodohan Tari dan Evan. Dia merasa takut jika keduluan orang lain.
"Gini, Ri. Setelah aku pikir-pikir ada benarnya juga, buat jodohin Tari sama Evan secepatnya saja. Tari kan sekarang ini sudah 26 tahun, Evan udah 27. Ya, aku fikir, mereka sudah sepantasnya berumah tangga. Jadi kalau memang Evan belum siap, tunangan dulu sekedar mengikat mereka supaya proses perkenalan mereka nggak di ganggu sama orang lain. Aku setuju kayak gitu, Ri. Tapi Evan nya jangan di paksa juga. Kalo dia nggak mau. Aku nggak mau kalo Evan sampe cerein Tari waktu mereka udah nikah," ucap Nindi agak khawatir.
"Hahaha ... Pasti kamu takut gara-gara kejadian kemaren. Evan banyak di tanyain ibuk-ibuk, ya? Tenang saja kamu. Aku tetap pilih Tari, kok. Tapi kemaren buk Aida sempat telfon aku nanyain Evan. Kamu tau kan buk Aida pemilik usaha property jual beli apartement itu. Dia kan ada juga anak gadis yang sekarang lagi kerja di kementerian keuangan. Dia tanya aku minat cari istri Evan nggak! Aku jawab, tunggu Evannya siap dulu saja," cerita Rima membuat Nindi semakin khawatir.
"Ya udah kalo gitu, percepat aja pertunangan mereka," ucap Nindi mulai tidak sabar.
"Tapi kamu kasih kesempatan aku ngomong sama Evan dulu, ya! Anak itu nggak bisa kalo di paksa-paksa. Kita harus main pintar kalo mau ngomong sama dia," ucap Rima, Nindi pun setuju.
"Malam besok kamu makan malam ke rumah aku, ya. Buat coba ngomong sama Evan pelan-pelan. Kalo aku yang ke rumah kamu, dia pasti nggak mau. Jadi kamu sekeluarga aja yang ke rumah. Biar dia nggak enak buat nolak, apa lagi dia itu adabnya bagus. Dia nggak akan ninggalin meja makan kalo lagi makan. Jadi itu kesempatan yang bagus buat ngomongin ini sama dia. Apalagi dia kan udah kenal Tari, dia tidak akan berani nolak Tari di depan kita semua," ucap Rima memberi ide. Nindi pun setuju.
***
Keesokkan sorenya di rumah Rima tidak sabar menunggu Evan pulang. Dia terus melihat jam. Masih pukul 4 sore, Evan biasanya akan sampai rumah pukul 5 atau pukul 6 sore atau Magrib. Dia terus mempersiapkan menu kesukaan Evan. Evan paling suka kalio ayam. Setelah jam 5 lewat. Terdengar ada mobil yang datang, Rima segera berlari keluar. Ternyata suaminya yang pulang. Rima segera menyambut kepulangan suaminya, dia memberi salam pada suaminya dan membawakan tas suaminya. Tidak lama di ikuti oleh Evan yang juga baru pulang. Rima menoleh pada mobil Evan, dan dia menunggu hingga Evan keluar.
Tidak lama Evan pun keluar, dia melihat ibunya yang terlihat tengah menunggunya, karena ayahnya sudah masuk tapi ibunya terlihat masih berdiri di luar.
"Mi?!" sapa Evan seraya mengunci mobilnya.
"Kamu baru pulang juga, Van?!" sapa Rima ramah. Evan hanya tersenyum dan menghampiri ibunya. Mereka masuk bersama. Rima tampak kikuk karena dia tengah mencari celah untuk mengatur strateginya.
"Mami udah masak kesukaan kamu. Kalio ayam. Jadi malam ini kamu jangan kemana-mana makan malam di rumah, ya!" seru Rima agak grogi. Evan menatap ibunya itu, insting nya mengatakan bahwa ibunya merencanakan sesuatu. Sebelum Evan mengetahui semuanya, dia lebih memilih pergi meninggalkan Evan.
...***...
Sesampainya di kamar, Evan segera mandi dan selesai dia segera rebahan sebentar sekedar mengurangi rasa penatnya di kamar. Evan membuka handphone nya. Berselancar ria di media sosial.
Karena bosan, dia pun membuka folder handphonenya. Terselip sebuah folder rahasia di dalamnya. Sebuah folder berisi foto Aluna bersamanya, masih tersimpan rapi di sana. Sengaja Evan simpan di tempat tersembunyi agar tidak di ketahui oleh orang lain.
__ADS_1
Evan tersenyum menatap setiap potret itu, yang terlihat begitu bahagia saat itu. Dia terus memperhatikannya dengan perasaan rindunya pada Aluna. Pikirannya terus memikirkan sosok Aluna, bagaimana dia tersenyum, dia bicara, tingkah manjanya, dan gayanya saat sedang kesal. Terselip sebuah potret saat Aluna tengah hamil besar, raut wajah Evan seketika berubah sedih. Dia langsung terpaku, pikirannya kembali ke kenangan itu lagi.
Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang dan ibunya pun masuk.
"Van. Kamu pakek baju yang rapi ya, kita makan malam bareng mas Tama, sama istrinya. Mami undang mereka tadi buat makan sekalian sama kita," ucap Rima yang masih menyembunyikan kedatangan Tari sekeluarga. Evan mengangguk mengerti. Dia segera mengganti pakaiannya dengan baju kemeja dan celana panjang.
***
Malam itu Evan, ayah, dan ibunya sudah siap menunggu Tama dan istrinya di ruang keluarga. Sekarang Tama dan Istrinya menepati rumah mereka sendiri sejak mereka menikah. Jadi di rumah hanya ada Evan sendiri yang masih tinggal bersama orang tuanya.
Tidak lama Tama datang bersama istrinya. Mereka menyambutnya dengan gembira. Sebelum makan malam, mereka mengobrol terdahulu di ruang keluarga.
Rima sengaja mengulur waktu untuk menunggu kedatangan keluarga Tari. Evan yang sedari tadi sudah kelaparan terus mengkode ibunya agar segera makan malam. Tapi ibunya selalu menjawab tunggu sebentar.
Tidak lama terdengar ada yang baru datang. ya... Itu Tari sekeluarga. Rima dan ayahnya segera menyambut kedatangannya. Evan mulai merasa tidak enak, karena ibunya tiba-tiba mengundang Tari, walau begitu dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Tari terlihat sangat bahagia, adiknya pun ikut datang, ayah Tari terlihat seperti laki-laki berkelas layaknya pebisnis sukses. Ibunya pun terlihat anggun malam ini.
Melihat tampilan rapi semua orang, tentu ini sudah di rencanakan. Evan merasa di jebak di sini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak mungkin bertingkah di depan banyak orang seperti ini. Apa lagi ada Tama dan istrinya, itu akan membuat istri Tama berpikiran buruk tentang keluarganya.
"Ini anak laki-laki mu Wisnu?!" tanya ayah Tari.
"Iya, ini Evan," jawab Wisnu seraya tersenyum bangga, sedangkan Evan hanya tersenyum tipis penuh keterpaksaan sekedar basa-basi.
"Kerja di mana sekarang, Van?!" tanya ayah Tari.
"Di Perusahaan Brahmana, om," jawab Evan sopan sekenanya.
"Wah, perusahaan besar itu! Jadi apa kamu di sana?!" tanya ayah Tari lagi.
"Direktur cabangnya, om,"
"Tapi kalo Richard lagi keluar, dia yang menggantikan posisi Richard," ucap Wisnu menambahkan dengan expresi yang berbinar-binar dan tampak bangga.
__ADS_1
Membuat ayah Tari terbelalak tidak percaya.
"Wah. Hebat kamu bisa jadi wakil laki-laki garang itu? Kita sesama pebisnis kalo ada pak Richard, pasti pada diem. Sebab kalo ada dia pasti kita ketar-ketir semua. Dia itu memang punya kharisma yang kuat. Jadi semua orang segan sama dia, apa lagi dia itu raja bisnis yang handal. Semua dia pegang. Hotel, restoran, PT, sampe resort di Bali itu banyak juga atas nama saham dia," terang ayah Tari.
"Heh. Kamu tau tidak? Evan ini di mentori oleh Richard langsung. Mungkin karena bisnis dia sangat besar, agak kewalahan juga dia. Jadi dia minta Evan buat pegang perusahaan dia. Tapi mau dia bimbing dulu katanya. Sekarang masih direktur cabangnya Evan," terang Wisnu yang tak henti-hentinya membanggakan Evan.
"Pantesan kamu tidak mau kerja di perusahaan ayah kamu, ya! Sudah dapat tempat yang lebih hebat ternyata" puji ayah Tari lagi dengan senyuman bangga.
"Tuh, Van. Nunggu apa lagi? Mapan sudah, umur juga udah cukup, sekarang tinggal kamu pikirkan yang urus rumah lagi. Biar kalo pulang kerja ada yang nungguin, kalo mau makan ada yang masakin. Kayak kakak kamu Tama, tuh," tembak ibu Tari. Evan mulai menangkap gelagat aneh dari arah pembicaraan ini.
"Iya, nih, Evan. Susah kalo diajak ngomongin pendamping," seru Tama. Evan segera menatap tajam ke arah Tama. Tiba-tiba dia merasa sekarang tengah disudutkan oleh semua orang.
"Belum siap, Tante. Nanti dulu, lah. Biar fokus sama kerjaan aja dulu," ucap Evan tetap berusaha tenang dan menjaga perasaan semua orang dengan seulas senyuman kaku.
"Kalo kamu belum siap buat nikah. Tunangan saja dulu. Ada Tari, tuh. Cantik, mandiri, telaten lagi ngurus rumah tangga. Kalo bisa kalian coba saja kenalan dulu," ucap Rima ikut menambahkan. Tari hanya tersenyum malu di samping Evan. Evan menatap Tari dengan penuh curiga.
Evan mulai tidak menyukai topik pembicaraan ini. Tapi dia tidak mungkin pergi. Ada banyak orang di sini. Jadi dia hanya diam, dengan senyuman dingin. Rima mulai menangkap gelagat tidak enak dari Evan.
***
Di sisi lain Aluna tengah menjadikan Dea dan Silvi sebagai tester masakannya. Kali ini Aluna sangat berharap masakannya tidak gagal lagi. Dia menanti dengan penuh harap dari hasil masakannya. Dua piring nasi goreng panas sudah terhidang di hadapan Dea dan Silvi.
"Gimana?" tanya Aluna tampak tidak sabar menanti respon kedua sahabatnya ini atas masakannya.
"Hmmmm... Udah enak, Lun," seru Silvi dengan senyuman sumringahnya seraya mengacungkan jempolnya. Sekarang tinggal bagaimana reaksi Dea. Si ceplas-ceplos yang sangat cerewet.
"Lumayan. Dari pada yang awal-awal dulu. Udah kayak racun rasanya. Mau mati rasanya kalo nyampe tenggorokan. Kalo yang ini udah mendingan," komentar Dea membuat Aluna berseru senang Dan Silvi pun menghembuskan nafas lega. Rasanya jantung Silvi akan copot saat menanti jawaban Dea. Dia takut jika ceplas-ceplos Dea akan membuat Aluna mengamuk lagi.
"Masakan lo udah enak kok, Lun. Tapi, ya itu. Apa lo yakin Evan bakalan ma....," ucapan Dea terpotong tatkala Silvi segera membungkam mulut Dea karena takut Dea kembali membuat ulah lagi dengan komentar anehnya.
"Udah, Lun. Cukup sekian aja komentar kita. Yang ini nggak usah di dengerin lagi," timpal Silvi masih membungkam mulut Dea dengan Dea yang terus memberontak ingin lepas. Sedangkan Aluna hanya mendengus nafasnya kasar dengan tingkah Dea dan Silvi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...