
Malam sudah terlalu larut, mereka memutuskan untuk tidur di hotel malam ini.
Malam itu Aluna masih muntah-muntah. Evan dengan setia mendampinginya di kamar mandi. Aluna tengah berjongkok dan Evan yang berdiri di sampingnya seraya membelakangi Aluna dengan tangan Kanan terus mengusap punggung wanitanya itu.
Saat tidur dengan manja Aluna meminta di peluk seperti anak kucing yang tengah tertidur mencari kenyamanannya di pelukan Evan. Dia tidur di dalam dekapan Evan semalaman sambil terus mencium wangi tubuh Evan yang hangat karena parfumnya yang lembut. Entah kenapa dengan begitu rasa mualnya tidak terasa lagi. Mungkin janinnya juga merindukan sosok Evan sebagai ayahnya.
Tapi saat pagi menjelang Aluna tetap saja mual lagi. Dengan segera Aluna berlari ke kamar mandi. Evan yang mendengar suara Aluna yang muntah-muntah pun ikut terbangun. Dia segera menghampiri Aluna di kamar mandi.
Aluna muntah hingga ia terlihat pucat. Evan merasa kasihan dengan kondisi Aluna, tapi Aluna tampak tetap tegar dan berusaha untuk terlihat kuat. Dia senang sekarang setidaknya ia tidak sendirian lagi menghadapi ini.
"Kamu nggak papa?" Tanya Evan. Aluna menggeleng, Evan terus mengusap punggung Aluna. Setelah selesai mencuci mukanya Aluna pun keluar.
...***...
Evan sudah membereskan barang-barang mereka untuk segera pergi mengantar Aluna pulang. Walau Aluna tampak ragu dan takut, Evan tetap meyakini Aluna untuk pulang. Evan tidak ingin memulai hubungan mereka dengan cara yang salah.
Setelah siap mereka pun segera pergi menemui Richard. Evan dengan Hoodie nya dan Aluna dengan gaunnya. Mereka seperti habis berkencan seharian ini, dia terus menatap Evan dengan senyum bahagia, tidak pernah ia rasakan kebahagian seperti itu saat bersama seorang laki-laki. Rasanya dia ingin menghentikan waktu agar saat-saat ini tidak segera berlalu, tapi Evan terus memaksanya untuk pulang.
(OOTD Evan Pratama)
(OOTD Aluna Jeanela)
Mereka pergi di pagi hari yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Mereka sengaja pergi pagi agar mereka bisa bertemu ayah Aluna langsung di rumah, agar mereka bisa menjelaskan semuanya.
...***...
__ADS_1
Richard di rumah masih belum bisa tidur dari semalam karena memikirkan anaknya yang pergi entah kemana. Dia berdiam diri di ruang kerjanya, tampak puntung rokok yang sudah penuh di asbaknya. Tapi dia masih saja menghisap rokoknya lagi dan lagi, entah sudah rokok yang ke berapa ia hisab.
...***...
Tidak terasa mereka sampai di depan pintu gerbang kediaman Aluna yang super megah. Pintu gerbang besar itu di jaga 24 jam oleh satpam. Sehingga siapapun yang masuk harus melalui pemeriksaan si satpam.
"Bukain pintunya!" Perintah Aluna.
Mereka dengan segera membuka pintu gerbang tersebut.
Mobil itu tidak bisa masuk hingga kedalam, terhenti sampai di tempat parkir. karena Richard memang selalu melarang orang lain masuk kerumahnya, untuk menjaga privasi nya dan keluarganya agar terjamin. Mengingat tabiatnya yang keras dan statusnya sebagai konglomerat yang kaya raya mengundang banyak musuh, hingga menuntut kewaspadaan yang tinggi.
Untuk masuk pun mereka harus berjalan lumayan jauh kedalam. Aluna menggenggam erat tangan Evan sepanjang perjalanan mereka melewati halaman luas kekediaman Aluna tersebut. Sedangkan Evan tampak tegang, mengingat keadaannya yang masih sakit. Hanya perlu sedikit di hajar saja mungkin dia akan tumbang lagi. Tapi Evan dan Aluna sudah tidak punya pilihan lagi, mereka harus masuk sekarang.
Setiap langkah kaki mereka terasa sangat jauh untuk segera sampai di depan rumah besar itu. Aluna menggenggam lengan Evan dengan erat. Dia takut sekali ayahnya akan mencelakai Evan. Tapi Evan tampak tidak gentar untuk menghadapi ayah Aluna. Semakin dekat, semakin terasa menegangkan.
hingga sampai lah mereka di depan pintu utama rumah tersebut. Saat pintu di buka sudah ada Richard dan Marissa. Marissa segera menarik Aluna masuk. Aluna menatap Evan yang tengah berhadapan dengan ayahnya.
Aluna tidak bisa meninggalkan Evan seperti dulu. Dia segera melepaskan cengkaraman Marissa, dan berlari memeluk Evan. Evan kaget dengan Aluna yang berhamburan berlari ke pelukannya.
"Jangan marahin Evan, daddy. Luna yang pengen pergi. Ini uang daddy masih utuh, nggak kurang selembar pun. Luna ambil sendiri bukan karena permintaan, Evan," terang Aluna seraya membuka tasnya. Benar saja di dalam tas besar itu terdapat tumpukan uang pecahan 100 ribuan.
"Kenapa kamu lakuin ini sama Daddy, Luna?" tanya Richard yang tampak kecewa dan penuh amarah merasa di khianati anaknya sendiri.
"Luna cuman mau nikah sama Evan dan membesarkan anak kami bersama. Hanya itu, Dad. Maafin Luna. Luna nggak bermaksud buruk. Luna cuman takut daddy paksa Luna gugurin kandungan Luna. Daddy ... Luna mohon izinin Luna nikah sama Evan. Evan hanya mau nikahin Luna kalau daddy izinin. Evan tulus sama Luna. Evan nggak seburuk yang Daddy pikirkan. Kalau dia ngincar uang maka Aluna nggak mungkin pulang, Iya kan?" terang Aluna dengan sesegukan.
__ADS_1
"Seperti yang Aluna sampaikan. Saya akan menikahi Aluna. Tapi jika anda izinkan. Saya tidak bisa membuat Aluna kehilangan ayah seperti anda. Karena itu saya butuh restu anda," lirih Evan dengan tatapan dalam.
"Apa kau bisa memberikan seperti apa yang saya berikan padanya selama ini?" tantang Richard tajam.
"Mungkin tidak sesempurna anda. Cinta anda sangat sempurna pada Aluna. Mana mungkin saya bisa menandingi itu. Karena itu saya tidak bisa merebut dia dari anda. Kecuali anda izin kan saya bersama dia, maka saya akan berusaha sebaik mungkin yang bisa saya lakukan!" tutur Evan lembut.
"Apa buktinya jika kau tulus pada putriku?" tanya Richard penuh selidik dengan menyunggingkan senyuman sinisnya.
"Saya akan nafkahi dia dengan hasil kerja keras saya. Jadi anda tidak perlu khawatir kehilangan harta anda karena pernikahan kami. Saya tidak akan merebut putri anda, saya hanya ingin menjadi teman hidup putri anda. Dan saya harap anda juga bisa menjadi sosok ayah bagi kami. Saya ingin kita berdua mencintai Aluna bersama, saya sebagai suaminya dan anda sebagai ayahnya. Semua itu harus ada izin dari anda sebagai ayahnya. Kami ingin pernikahan bahagia dengan kehadiran restu anda. Cinta pertama sempurna Aluna," ucap Evan lagi.
Itu membuat Richard terdiam, dia tersentuh dengan ketulusan yang Evan tunjukkan. Marissa yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu pun terpana, Aluna beruntung menemukan laki-laki setulus Evan. Dia menatap Evan dengan seulas senyuman seolah mulai bisa menerima kehadiran Evan, dia tidak pernah menemukan pria setulus Evan selama ini.
Aluna menatap ayahnya yang tampak terpana. Tanpa sepatah kata pun Richard pergi ke kamarnya, dia butuh waktu untuk berfikir. Dia meninggalkan mereka semua. Aluna pun memeluk Evan, Evan membalasnya. Tinggal selangkah lagi maka mereka akan berhasil meyakini Richard.
Evan melepaskan pelukannya pada Aluna, Aluna pun menatapnya.
"Aku pergi dulu, biarkan daddy kamu berfikir dulu, ya!" ucap Evan seraya tersenyum. Walau berat Aluna pun melepas kepergian Evan. Evan paham, pasti Richard butuh waktu untuk menerimanya yang hanya seorang laki-laki biasa bila di bandingkan dengan keluarga Aluna. Evan tidak ingin mendesak, dia pun memutuskan untuk pergi dulu. Marissa mendekati Aluna dan Evan.
"Buktikan kau mencintai Aluna," ucap Marissa sebelum Evan pergi. "ini kesempatan mu, dia laki-laki yang keras. Kalau kau ingin mendapatkan kesempatan darinya maka yakini dia dengan bukti," tutur Marissa terlihat lebih bersahabat. Evan tersenyum seraya mengangguk.
"Saya pulang dulu. Saya titip Aluna," ucap Evan sebelum melangkah pergi.
Aluna menatap kepergian Evan dengan berat hati. Betapa ingin dia bersama Evan, tapi tidak bisa dia paksakan sekarang. Seperti yang aunty nya katakan tadi, mereka punya kesempatan untuk membuktikan, jadi jangan sampai mereka mengecewakan Richard.
Evan berjalan hingga keluar gerbang rumah besar itu dengan tas ransel yang ia sandang di bahu kirinya. Aluna terus memperhatikannya dari rumah hingga hilang di balik pintu gerbang kediamannya.
...***...
Sampai lah Evan di pintu gerbang. Dan dia segera menghentikan taksi untuk pergi. Entah kemana akan ia langkahkan kakinya, tiba-tiba saat di taksi ia merasa ingin pulang. Dia ingin bersama ayah dan ibunya. Ini kah waktu baginya untuk kembali. Dia sudah tidak punya jalan pulang lagi sekarang, tidak ada rumah tempatnya kembali. Tiba-tiba dia merindukan rumahnya dulu. Evan terdiam di taksi dengan tatapan kosong dan hampa seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku belakang taksi tersebut. Dia menatap keluar jendela taksi dengan menarik nafas berat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...