PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
OMBAK


__ADS_3

Keesokkan harinya Aluna pergi ke pantai bersama Dea dan Silvi sahabat sekaligus sepupunya itu. Dengan riang Aluna berlari kecil di pantai dengan mengenakan sendal yang Evan belikan untuknya kemarin. Dia melangkah dengan riang gembira layaknya anak kecil yang baru mendapat mainan kesukaannya yaitu sendal pemberian Evan.



"Idih ... Mulai kumat lagi dia," sungut Dea yang tengah duduk di salah satu kayu tumbang yang teronggok di tepi pantai bersama Silvi dengan tatapan aneh pada Aluna. Sedangkan Aluna masih asyik berlari kecil bersama ombak pantai dengan riangnya, sesekali air laut itu berhasil menyentuh kaki mulusnya yang tengah memakai sendal kesayangannya itu.


"Biarin aja. Hidup dia, suka-suka dia. Lo nggak usah usil," ucap Silvi seraya mendorong kepala Dea dengan telunjuknya. Dea masih terus menatap Aluna dengan tatapan datar tanpa perduli dengan toyoran Silvi padanya. Tiba-tiba Aluna datang menghampiri mereka berdua dan menarik kedua sahabatnya itu untuk berlari bersamanya di pantai.


Silvi dan Dea yang awal nya kaget dengan tarikan Aluna secara tiba-tiba akhirnya juga bisa menikmati permainan ombak bersama Aluna. Mereka bermain terus bermain sambil tertawa dan berteriak lepas tanpa perduli dengan tatapan orang-orang sekitar pada mereka, mereka juga membicarakan banyak hal, termasuk tentang Evan.


"Ngapain Lo sama Evan kemaren?" tanya Silvi.


"Jalan-jalan. Habis kalian ninggalin kita, yaudah gue sama Evan aja yang keliling pasarnya. Dan ... Liat. Gue di beliin sendal. Cantikkan?" pamer Aluna bangga pada sandalnya. Silvi hanya mengerutkan keningnya, menatap sandal yang tengah Aluna kenakan.


"Dia itu tunangan orang!" ingat Dea seraya mencipratkan air laut pada Aluna, Aluna pura-pura menulikan telinganya. Dia masih sibuk mengagumi sandal barunya. Bagi Aluna, dia hanya ingin menikmati hari-harinya bersama Evan saja.


Sesaat kemudian ombak terlihat mulai meninggi dengan angin yang semakin kencang. Silvi yang menyadari itu segera menghampiri Aluna dan Dea mengajak mereka pulang


"Eh udah yuk. Udah mulai kenceng anginnya," ajak Silvi seraya beranjak dari sana. Mereka pun bergegas untuk kembali ke penginapan. Baru beberapa langkah mereka berjalan sudah terdengar teriakan aluna secara tiba-tiba.


"Sandal gue!" teriak Aluna. Dea dan Silvi menoleh ke arah Aluna yang tengah berlari mengambil sandalnya yang terseret ombak menuju laut.


"Lun! Bahaya! Biarin aja," teriak Silvi berusaha mengingatkan. Tapi Aluna tetap terus mengejarnya.


"Nggak. Itu sendal kesukaan gue," serunya seraya berlari mengejar sendal nya ketengah lautan.


"Lun! Jangan gila. Ombak lagi tinggi. Lo bisa keseret ombak!" teriak Dea pula. Aluna tidak perduli. Dia tetap mengejar sendalnya itu hingga menuju laut yang tampak mulai mengganas.


Aluna terus berlari ke laut untuk mengambil sendalnya yang pelan-pelan semakin jauh terbawa ombak. Silvi dan Dea pun segera menyadari Aluna tengah dalam keadaan bahaya. Dea terus berteriak memanggil Aluna untuk kembali, tapi tidak di gubrisnya.


"Gila! Dia bener-bener ketengah," seru Silvi mulai merasa bahaya tengah mengancam Aluna. Mereka pun segera berlari mencari bantuan. Dea langsung berlari mencari Evan ke penginapan.


"Van! Evan! Evan!" teriak Dea. Evan segera keluar mendengar teriakan Dea.


"Van! Aluna keseret ombak," teriak Dea lagi. Sedangkan Silvi sedang mencari bantuan lain.


Evan tanpa pikir panjang dengan cepat berlari menuju laut, tampak Aluna yang masih dengan keras kepala mengejar sendalnya hingga dia berhasil mendapatkannya kembali walau harus bersusah payah.

__ADS_1


Tanpa dia sadari dia sudah berada di tarikan ombak ke tengah. Barulah dia panik. Dan berusaha berenang ke pinggir, tapi tidak bisa, ombak terus menariknya ketengah.


Sedangkan Evan dan beberapa orang di pinggir pantai mulai berfikir, hingga ada seorang kakek membawa tali panjang. Karena cukup berbahaya berenang di laut dengan ombak yang mulai mengganas, mereka butuh alat bantu. Evan tanpa pikir panjang langsung menawarkan diri untuk berenang menyelamatkan Aluna.


"Biar saya saja yang berenang ketengah...!!" Ucap Evan yang langsung mengikatkan tali itu ke pinggang nya. Dan beberapa orang memegang ujungnya. Mereka akan menariknya saat Evan berhasil meraih Aluna nanti.


Aluna melihat Evan yang dengan panik tengah mengikat tubuhnya dengan tali dan mencoba mengejar Aluna ke tengah lautan. Dia terus berenang menghampiri Aluna yang terombang-ambing oleh ombak di lautan.


"EVAN!" teriak Aluna ketakutan dengan sendal yang ia pegang. Dia terus mencoba berenang ke pinggir, tapi ombak cukup kuat hingga terus menariknya ke tengah. Dia mulai lemas karena kelelahan berenang. Dia mulai sangat takut. Dia menatap Evan dengan putus asa.


Evan mencoba berenang ketengah mengejar Aluna. Aluna berusaha meraih tangan Evan dengan tenaga yang tersisa dan Evan terus berenang mengejar Aluna sekuat tenaga. Aluna tengah ketakutan, dia sangat takut. Begitu pula Evan dia seakan merasakan akan kehilangan Aluna selamanya.


Tidak, dia tidak bisa kehilangan Aluna dengan cara seperti ini. Dia melihat Aluna yang ketakutan dan sangat berharap Evan akan meraihnya sesegera mungkin.


'Tunggu Aluna. Sedikit lagi. Jika kau pergi aku pastikan, kau tidak sendirian. ' Batin Evan. Dia terus mencoba meraih Aluna.


'Evan aku takut. aku takut. cepat lah,' batin Aluna.


Evan terus mencoba meraih Aluna. Sampai pada titik Evan berhasil meraih tangan Aluna dia segera menariknya dan mereka yang melihat Evan berhasil meraih Aluna segera menarik tali yang di ikatkan pada Evan. Aluna sudah mulai lemas, tapi dia senang akhirnya Evan berhasil menyelamatkannya tepat waktu. Evan mendekap Aluna, Aluna masih menggenggam Erat sendalnya Tiba-tiba sebongkah kayu menghampiri mereka. Evan dengan sigap melindungi Aluna dengan dekapannya, hingga dia rela membuat tubuhnya menjadi tameng bagi Aluna agar tidak terkena bongkahan kayu itu. Kayu itu menghantam punggung Evan cukup keras, tapi tidak apa bagi Evan asal Aluna terlindungi. Tapi naas kayu tersebut masih sempat mengenai kaki Aluna. Membuat Aluna merasakan sakit.


Dengan bersusah payah dan penuh perjuangan mereka berhasil menyelamatkan Aluna. Mereka sampai ke pinggir pantai dengan selamat. Aluna menangis sesegukan.


"Aku hanya mau mengambil sendalku," ucap Aluna pelan masih dalam keadaan menangis.


"Itu sendal murah yang bisa di beli lagi. Nggak sebanding sama nyawa," bentak Evan masih kesal.


"Tidak! Ini milikku. Tidak berarti di mata orang lain, sangat berharga untukku. Ini milikku," isak Aluna memeluk sendalnya dengan erat seolah memeluk sesuatu yang berharga dan pernah hilang dari hidupnya, kini ia temukan kembali. Air matanya terus membasahi wajahnya dengan mata terpejam dan terus terisak.


Evan luluh melihat Aluna menangis, Evan tahu betul bagaimana rasanya kehilangan barang yang berharga. Evan mengerti perasaan Aluna. Ia pun kembali teringat akan masa lalunya, perasaan sakit saat ia kehilangan barang berharga miliknya yang di renggut ayahnya darinya. Sayangnya saat itu dia berbeda dengan Aluna, ia tak mempertahankan miliknya tersebut seperti Aluna saat ini. Sesaat Evan tersadar dan menyeka air matanya yang sempat berkaca-kaca.


Perlahan Evan berjalan mendekati Aluna dan membawanya ke dalam pelukannya, Aluna pun membalas pelukan itu tanpa melepas sendal tersebut dari pelukan nya.


"Iya. Milikmu," bisik Evan pelan penuh makna dengan menahan rasa sesak di dadanya.


Silvi yang melihat itu hanya terdiam, begitu pula dengan yang lain. Tapi Silvi sekarang seolah menangkap sesuatu dari kejadian ini. Dia terus menatap kedua insan anak adam yang pernah saling jatuh cinta itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Evan pun menggendong Aluna ke penginapan. Aluna terus mendekap wajahnya di dada bidang Evan dengan kedua tangannya bergantung di leher Evan.

__ADS_1


"Milikku!" bisik Aluna dengan dengan satu tetes air mata yang untuk kesekian kalinya lolos dari mata indahnya. Ia terus mempererat pelukannya pada Evan dengan mata terpejam. Dia masih dengan setia menenteng kedua sendalnya.


***


Aluna masih di kamarnya Dea dan Silvi tampak tengah menemaninya. Evan hanya duduk diam di ruang tamu. Dia melihat ke kamar Aluna, dia masih belum keluar. Tidak lama kemudian Silvi keluar dan menghampiri Evan.


"Gimana dia?!" tanya Evan.


"Udah tenang, cuman masih shock. Ini baru tidur," terang Silvi.


"Udah hubungin daddy nya!? " tanya Evan lagi.


"Nggak di bolehin," ucap Silvi lagi.


"Dia sakit?!" tanya Evan tampak khawatir.


"Nggak! Cuman kakinya agak memar, mungkin sempat kena apa gitu di laut tadi," ucap Silvi.


Melihat kekhawatiran Evan yang begitu besar, ingin rasanya Silvi bertanya tentang perasaan Evan pada Aluna, apalagi dengan kejadian di pantai tadi. Dia semakin yakin, ada sesuatu antara Aluna dan Evan. Tapi dia terlalu segan hingga dia putuskan untuk tidak bertanya dan pergi dari sana.


Tidak lama Dea datang.


"Van! Luna nyariin lo!" seru Dea. Evan bangkit dan pergi menemui Aluna di kamarnya.


"Ada apa?!" tanya Evan saat masuk. Aluna hanya diam. Evan duduk di samping Aluna di atas ranjang Aluna. Aluna menatap laki-laki yang sangat di cintainya ini, tapi bukan miliknya lagi.


"Apa aku masih bisa memilikimu?!" tanya Aluna. Evan terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Kita pernah saling memiliki. Tapi kita gagal. Apa kita bisa memperbaikinya ... Yang salah di masa lalu!" ungkap Evan dengan menatap Aluna dalam.


"Akan aku temukan jalan kita untuk kembali. Kau ingin aku memperjuangkan mu?!" tanya Aluna. Sorot matanya terlihat serius. "Saat aku di laut tadi, hanya kau yang aku takuti. Aku takut akan pergi sebelum bersamamu. Sebelum sempat aku tunjukkan. Bahwa kau berharga. Sangat berharga bagiku," ucap Aluna dengan tetesan air matanya. Evan masih mendengarnya. "Van! Aku mencintai mu. Bolehkah aku memperjuangkanmu!? Memperjuangkanmu di hadapan Tari. Apa aku egois jika aku mengatakan ini!? Tapi Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bisa kehilanganmu," ucap Aluna lagi seraya menangis dan menggenggam tangan Evan yang membuat Evan terpaku. Bersamaan dengan kedatangan Dea.


"Kayaknya air laut terlalu banyak di dalam otaknya," seru Dea tiba-tiba. Evan segera melepaskan tangannya dari genggaman Aluna, ia menoleh pada Dea dengan senyum tipis. Lalu dia bangkit dari ranjang Aluna dan berdiri, dia berbalik bersiap akan pergi.


"Van, jawab aku! Agar aku tahu yang aku perjuangkan nanti tidak sia-sia!" seru Aluna lagi.


"Lakukan apapun yang kamu suka, kau tidak bisa di larang. Istirahatlah!" ucap Evan seolah tidak melarang juga tidak mengizinkan secara gamblang. Silvi yang juga berdiri di ambang pintu hanya menatap kepergian Evan dengan tatapan penuh arti. Lalu ia pun menatap Aluna. Ini tidak benar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2